Lembah Hijau

Lembah Hijau
Episod 26


__ADS_3

Pram menoleh...


Deg


"Sherly?" Jawab Pram kaget tidak menyangka akan bertemu dengan mantannya itu.


"Oh jadi Abang udah punya kekasih toh pantesan saya di putusin?" Kata Sherly yang sudah berdiri di depan Pram sambil melirik gadis disamping Pram.


Pram tidak menjawab. Dia merasa tidak ada yang perlu dijawab lagi.


"Masih banyak bangku kosong Sher, sana duduk jangan berdiri disitu." Jawab Pram ketus.


"Mas ga boleh gitu sama cewek, kok kasar sih!" Atikah yang sedari tadi diam merasa tidak enak.


"Maaf Dek." Jawab Pram kemudian diam.


Setelah makanan mereka datang Pram mengajak Atikah untuk pergi karena Sherly malah duduk di kursi depan mereka.


"Dek makannya di mobil aja yuk sekalian pulang. Udah sore kita mampir ke masjid dulu buat sholat Ashar." Pram mengajak Atikah pergi dari caffe meninggalkan Sherly tanpa pamit lagi. Menurutnya sudah tidak perlu bicara pada mantannya itu.


"Iya mas, hayuk.." Atikah berdiri mengikuti Pram.


"Kita duluan ya dek..." Pamit Atikah pada Sherly karena merasa dari umur Atikah lebih tua jadi memanggil Sherly dengan sebutan Dek. Atikah tidak tau nama gadis itu.


Sherly tidak menjawab malah memalingkan muka.


Jadi dia yang bikin Bang Pram tidak pernah mengangkat telepon dari aku. Batin Sherly


Sherly merasa semenjak putus dengannya Pram menjadi orang yang berbeda yang tadinya selalu menjawab teleponnya bahkan sekarang membalas pesannya pun tidak. Padahal Sherly masih setiap hari mengirim pesan atau menelepon Pram. Ada rasa sakit pada hati Sherly melihat kepergian Pram dan gadis yang tak Sherly kenal itu.


"Dek sholat di mushola deket mall aja ya? Biar ga telat." Ajak Pram setelah Atikah masuk mobil.


"Terserah mas Pram saja. Mas Pram yang tau." Jawab Atikah singkat.


Pram melajukan mobilnya meninggalkan mall dan berhenti di mushola kecil tidak jauh dari mall itu.


"Adek lagi sholat ga?" Tanya Pram pada Atikah.


"Ya sholat dong mas, kan Atikah muslim." Jawab Atikah agak sewot.

__ADS_1


Pram tersenyum...


"Maksud saya kan Adek wanita, siapa tau lagi halangan." Jawab Pram menjelaskan.


"Ohh" Atikah membulatkan bibirnya.


"Sekarang aku ingat sama kamu Dek, kalau lagi sewot gitu kamu persis dengan waktu masih kecil dulu. Bikin gemes bikin pengen ngerjain soalnya cemberut kamu itu lucu." Jawab Pram setelah mengingat Atikah kecil.


"Hmmm sudah hayuk sholat dulu." Atikah turun dari mobilnya menuju mushola.


Dia benar-benar manis ya Allah


Pram ikut turun dan menuju tempat wudhu laki-laki. Dia segera berwudhu dan sholat begitupun dengan Atikah.


Setelah selesai sholat mereka kembali ke mobil dan langsung pulang.


"Ada yang perlu dibeli lagi ga Dek?" Tanya Pram setelah mereka meninggalkan mushola.


"Ga mas, langsung pulang saja." Jawab Atikah.


Mereka kembali diam dalam perjalanan. Pram bertanya tapi Atikah menjawab dengan singkat dan tidak bertanya balik. Membuat Pram keki sendiri. Jadi menurut Pram lebih baik dia diam.


Perjalanan pulang terasa sangat lama karena mereka tidak mengobrol sama sekali hanya sesekali Atikah menahan kantuknya dengan tangan.


Orang tua mereka duduk di beranda rumah menoleh mendengar suara mobil datang.


Kelihatannya para orang tua sedang sangat bahagia. Mereka tersenyum seolah sedang mendapatkan hadiah kuis.


"Kok sudah pulang Tikah? Kenapa ga main dulu di kota?" Tanya mamah Atikah menyambut kedatangan anaknya.


"Engga mah, kasian mas Pram nanti capek. Kan nanti malam dia harus kembali bekerja." Jawab Atikah.


"Oh begitu, mana dapat baju Papah?" Tanya papahnya.


"Dapat pah, ada di mobil nanti aja dicobanya di rumah ya? Sekarang kita pulang yuk pah, sudah sangat sore." Ajak Atikah.


" Ya sudah hayuk. Pamit sama bude dan pakde. Jangan lupa bilang terima kasih sama Pram karena sudah mau mengantar kamu." Ucap ibunya pada Atikah.


"Pakde, bude. Atikah pamit pulang dulu ya." Atikah menyalami orang tua Pram.

__ADS_1


"Terima kasih mas, sudah mengantar Tikah." Ucapnya mengangguk pada Pram.


"Sama-sama Dek." Balas Pram.


Atikah dan orang tuanya telah pergi meninggalkan rumah Pram.


Pram masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi ruang keluarga. Ibunya menyusul dan ikut duduk di samping Pram.


" Gimana nak? Tadi kalian ngobrol banyak kan? Apa kamu suka sama nak Tikah?" Ibu Pram memberondong pertanyaan pada Pram.


"Ibu apa sih... Kan kita baru ketemu lagi bu, masak udah di tanya suka apa tidak?" Jawab Pram menutupi perasaannya yang sebenarnya.


"Tapi Atikah benar-benar cantik dan baik kan Pram, dia tidak sombong sama sekali. Walaupun sekolah tinggi dan sudah punya pekerjaan yang mapan." Ucap Ibunya berapi-api.


"Iya bu, iya dia cantik, baik dan tidak sombong. Pram akan mudah menyukainya. Tapi Pram tidak tahu apakah dia suka sama Pram atau tidak bu. Atikah pasti tau gaji Pram berapa? Pram juga hanya lulusan SMA." Kilah Pram memikirkan kemungkinan bahwa Atikah mungkin saja tidak menyukainya.


"Ya sudah, yang penting kamu suka kan?" Desak ibunya.


"Iya bu, iya Pram suka." Jawab Pram tersipu malu mengakuinya pada ibunya.


Pram sampai lupa dia baru saja bertemu dengan Sherly tadi di mall.


Pram mengecek HP-nya yang ditinggalkannya di kamar dari tadi sebelum berangkat sholat Dzuhur. Ternyata ada banyak panggilan tak terjawab dari no tidak dikenal.


Ternyata Sherly beneran masih menelepon. Maaf sebelumnya pun aku memang sudah tidak punya perasaan sama kamu Sher. Pram memang menghapus no Sherly tapi dia mengingat ujung no nya.


••••


Dalam perjalanan pulang, Mamah Atikah pun menanyakan hal yang sama pada Atikah.


"Gimana nak, kamu menyukai nak Pram kan? Dia sudah menjadi tentara yang gagah Tikah. Dewasa dan juga sopan." Mamah Atikah tersenyum mengingat Pram.


"Belum tau mah, Atikah tidak bisa menyimpulkan seseorang dengan sekali bertemu. Pernikahan ini kan untuk seumur hidup mah." Jawab Atikah agak malas membahas tentang pernikahan lagi.


"Ya sudah kalian masih punya banyak waktu. Tapi perlu kamu ingat Tikah usiamu sudah 26 lewat. Jangan terlalu pemilih." Nasehat mamahnya.


"Iya mah, Atikah ingat. Tikah sudah tua." Jawab Atikah cemberut jika diingatkan dengan umurnya lagi.


Papah dan mamah nya hanya tertawa di depan. Atikah manyun sendirian di kursi belakang mobil.

__ADS_1


"Apapun Tikah, mamah dan papah sangat menyayangimu. Walau kamu sudah tua tapi tetep bagi mamah kamu adalah bayi cantik mamah." Ucap mamah Atikah menoleh pada anak gadis satu-satunya itu.


Atikah ikut tersenyum mendengar ucapan mamahnya. Ia tau mamah dan papahnya hanya khawatir padanya. Dan itu merupakan bentuk kasih sayang mereka.


__ADS_2