
Pram besok kamu pulang ya ada yang ingin ibu bicarakan...
Kata-kata ibu tadi di telepon terngiang-ngiang dalam pikiran Pram. Ada apa gerangan ibunya ingin dia pulang. Tidak biasanya ibunya menelepon hanya sekedar memintanya pulang.
Ibu Pram tau pekerjaan Pram seperti apa. Tanpa diminta pun Pram pasti pulang jika ia ada waktu kosong. Tapi sore tadi ibunya mendadak menelepon hanya untuk memintanya pulang besok. Ada hal penting yang harus dibicarakan kata ibunya.
Pram segera memejamkan matanya. Hari ini cukup melelahkan baik secara fisik maupun perasaan. Walaupun Pram belum punya perasaan khusus kepada Linda tapi kenyataan yang dilihatnya benar-benar membuat Pram merasa bodoh dan jijik serta muak pada gadis itu.
Astaghfirullah. Pram segera tidur dan melupakan kejadian tadi siang untuk selamanya, walaupun ia masih kesal dengan kartunya yang harus keluar banyak demi gadis rubah itu. Tapi biarlah sedekah untuk yang membutuhkan batinnya.
Keesokan harinya Pram menghadap Dantonnya untuk meminta ijin kepada tidak mengikuti apel malam karena ada urusan keluarga.Pram tak ingin mengecewakan ibunya. Apapun yang ingin disampaikan ibunya akan selalu penting untuk Pram.
Karena selama ini Pram selalu disiplin dan bekerja dengan baik Danton memberikan ijin dan akan mengambil alih apel malam yang biasa Pram ambil. Pram sangat berterima kasih karena ia tahu tidak mudah untuk ijin keluar jika alasannya tidak mendesak. Dan Pram tidak mengatakan alasan apapun hanya bilang ada kepentingan keluarga dan dengan mudah diijinkan.
Setelah menyelesaikan tugasnya selepas mandi sore Pram bersiap-siap untuk pulang.
Dia pamitan kepada orang barak bahwa hari ini ia akan menginap dirumahnya dan akan kembali ke barak esok pagi sebelum apel pagi.
Pram mengambil motornya diparkiran dan segera meninggalkan Batalyon. Tak lupa Pram mampir di toko kue untuk membelikan oleh-oleh ibunya.
Beberapa cookies keju dan kue kacang favorit keluarga Pram sudah di tangan. Pram melanjutkan perjalanan karena sebentar lagi masuk waktu Maghrib.
Pram sudah sampai di rumah sebelun adzan Maghrib berkumandang. Seperti biasa Pram selalu memeluk ibu dan bapaknya ketika baru pulang ke rumah. Walaupun baru dua hari yang lalu bertemu.
Pram meletakkan kue yang tadi di belinya di meja ruang keluarga. Dan segera berganti pakaian untuk pergi ke masjid bersama bapaknya.
Pram berjalan beriringan dengan bapaknya.
"Kamu sudah dewasa Pram sekarang" kata bapak Pram setelah mereka pulang dari masjid.
"Alhamdulillah pak, berkat didikan bapak dan ibu Pram berhasil menjadi seperti sekarang. Pram bersyukur pak, disaat orang lain sukses dengan karirnya dan hidup dengan kesenangan dunia, Pram masih selalu di ingatkan tentang akherat. Sehingga Pram mampu mengendalikan diri Pram untuk tidak mengikutu mereka yang tidak baik" ucap Pram terharu.
"Bapak percaya padamu Pram, sejak kecil bapak tau kamu bisa menjaga diri sendiri" ucap bapaknya sambil menepuk bahu Pram.
"Semua berkat bimbingan dan didikan bapak serta ibu" Pram tersenyum.
__ADS_1
"Sudah ayo pulang ibu menunggu kita untuk makan malam." Bapak melangkah menujubrumahnya yang tak jauh dari masjid.
Mereka telah bersiap makan malam di meja makan. Ternyata ibu Pram sudah menyiapkan semua lauk pauk yang Pram suka.
"Ibu kenapa masak banyak sekali?" Tanya Pram melihat masakan yang beraneka macam di meja makan. Padahal biasanya ibunya cukup masak dua menu sayur dan lauk.
"Sekali-kali tidak apa-apa nak." Jawab ibunya tersenyum hangat seperti biasa.
"Tapi bu, Pram jadi bingung sekarang karena semua makanan kesukaan Pram." Pram menunjuk-nunjuk makanan itu sambil bingung mana yang harus ia makan. Semua terlihat lezat.
"Makanlah semuanya Pram. Di asrama makanannya tidak seenak masakan ibu kan?" Jawab bapaknya.
"Sampai kapanpun tidak ada yang mengalahkan lezatnya masakan ibu pak." Jawab Pram mantab sambil menyendok balado udang kedalam piringnya.
"Ada Pram, nanti istrimu yang akan memasakkan makanan lezat untukmu setiap hari" jawab ibunya yakin.
Uhukk... Pram tersedak mendengar kata istri.
"Pelan-pelan Pram, masih banyak makanannya jangan terburu-buru." Ibunya mengambilkan Pram minum.
"Kenapa ibu tiba-tiba bilang tentang istri?" Tanya Pram heran.
"Kamu sudah dewasa Pram, tahun ini sudah naik pangkat. Sudah saatnya memikirkan istri juga." Jawab ibunya sambil duduk dan mengambil makan di piringnya sendiri.
"Sudah-sudah makan dulu keburu adzan Isya." Bapak melerai anak dan ibu itu.
Mereka melanjutkan makan dengan tenang. Pram makan sangat banyak dan sudah bilang ke ibunya bahwa besok pagi Pram akan membawa sisa lauk itu ke asrama. Ibunya mengiyakan dan membungkus dalam wadah lalu memasukkannya kedalam kulkas. Sehingga besok pagi Pram tinggal membawa ke asrama.
Bapak dan Pram sudah mau berangkat ke masjid lagi sementara ibu membereskan bekas makan mereka.
Sesuai sholat Isya mereka semua berkumpul di ruang keluarga.
Ibu memulai pembicaraan maksudnya menyuruh Pram pulang.
" Pram ibu mau melanjutkan perbincangan di ruang makan tadi." Kata ibu memulai obrolan.
__ADS_1
"Perbincangan apa bu?" Tanya Pram lupa dengan apa yang mereka bicarakan.
"Istri nak." Sambung ibunya.
"Apa ibu menyuruh Pram pulang untuk membicarakan itu?" Tanya Pram penasaran.
"Iya nak, sepertinya sudah saatnya kamu memperkenalkan calon istrimu." Jawab ibunya
" Iya Bu, kan Ibu selalu Pram kenalkan dengan gadis yang sedang dekat dengan Pram." Jawab Pram tenang.
" Sherly sekarang kemana Pram? Kamu sudah putus? Lama sekali dia tidak main kesini?" Tanya ibunya
"Hehehe iya bu, sudah lama kami putus." Jawab Pram.
"Baguslah. Ibu sama bapak memang kurang pas dengan dia" timpal bapaknya.
"Ia pak, sepertinya dia kurang pas menjadi istri Pram." Jawab Pram pelan.
"Syukurlah jika kamu menyadari, sebenernya bukan masalah besar sih, dia baik tapi sepertinya dia kurang bisa di ajak hidup sederhana" sambung ibunya.
Pram kaget bagaimana bisa ibunya menyimpulkan kebenarannya padahal Pram tidak pernah bercerita.
"Ia bu, sepertinya demikian." Sambung Pram.
"Tapi kamu putus baik-baik kan Pram?" Tanya ibunya.
"Iya Bu, kami putus dengan baik, beberapa kali Sherly pernah menelepon Pram juga. Kita masih berteman walau beberapa kali dia mengajak Pram balikan. Tapi Pram sudah menganggapnya adek sendiri sekarang." Jelas Pram.
" Baguslah. Terus sekarang bagaimana?" tanya ibunya lagi.
"Bagaimana apanya bu? Pram belum memikirkannya sekarang. Pram ingin membahagiakan ibu dan bapak dulu. Pram ingin sering-sering pulang seperti ini Pak, Bu." Jawab Pram.
"Kamu sudah membuat bapak dan ibu bangga Pram." bapak Pram tersenyum.
"Iya Pak, Bu. Nanti Pram akan bawa menantu yang baik untuk Bapak dan Ibu." Jawab Pram tersenyum memandang orang tua hangat.
__ADS_1
Mereka larut dalam obrolan hingga tak terasa malam telah beranjak.