
Minum obat membuat Pram tidur dengan nyenyak, sehingga pagi sebelum subuh ia sudah terbangun dengan badan yang segar kembali, pengaruh obat membuat badannya lengket dengan keringat Pram mengambil peralatan mandinya dan bergegas mandi sebelum ke masjid untuk sholat subuh berjamaah.
Pram jalan kaki menuju masjid sambil olahraga ringan agar tubuhnya rilex, dia bersenandung kecil. Perasaannya sangat baik akhir-akhir ini.
Alhamdulillah aku telah menemukan tambatan hatiku, lancarkan jalan kami ya Allah. Permudahlah niat baik kami. Doa Pram dalam hati.
Selesai sholat ia segera menyelesaikan tugas kompi yang semalam tertunda karena tidak enak badan. Kini dia sudah siap dengan apel bersama anggota kompi yang lain.
Tak lupa Pram mengabari Atikah bahwa 2 jam lagi Pram sampai di rumahnya. Pram akan menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu sebelum meninggalkan kompi dengan begitu ia bisa leluasa saat menjalani litsus nanti.
Pekerjaan Pram yang selalu rapi dan tepat waktu membuat Danki selalu mengandalkan Pram dalam segala urusan.
Sebagai Batih Pram sangat cekatan menyelesaikan tugasnya bahkan terkadang tugas Bintara lain akan dia cover jika ada yang belum beres.
Pram pamit pada Danki untuk mengurus litsus, ia segera berganti pakaian PDH dan berangkat menuju rumah Atikah.
Sejam kemudian mereka sudah bersama menuju Korem tempat kesatuan Pram berada.
Atikah begitubanggun mengenakan seragam PSK persit lengkap dengan sepatu dan tas yang sesuai dengan ketentuan.
Riasan wajahnya yang flawless membuat kecantikan Atikah terpancar alami, membuat pram menatap kagum calon istrinya itu.
"Mas, kok malah ngalamun sih! Ayo berangkat. Udah siang nih." Atikah menepuk tangan Pram membuat Pram tersadar dari lamunannya.
Pram tersenyum "Subhanallah, calon istri mas ini emang luar biasa cantiknya." Pram lalu melajukan mobilnya menuju Korem yang tak jauh dari rumah Atikah.
Atikah hanya tertunduk malu mendengar ucapan Pram.
"Mas pagi-pagi udah gombal. Jangan fitnah deh!" Atikah mencubit kecil tangan Pram.
"Auww sakit dek! Orang beneran cantik kok. Untung mas yang akan jadi suamimu." Pram mengelus tangannya yang dicubit Atikah.
__ADS_1
"Emang kenapa mas? Apa untungnya?" Tanya Atikah.
"Ya kalau bukan mas, trus nanti kita ketemu pasti mas bakal iri sama suami kamu." Jawab Pram.
"Ah mas bisa aja, udah yang bener nyetirnya." Atikah meminta Pram untuk fokus menyetir lagi.
Saat litsus Pram dan Atikah akan mengerjakan soal-soal yang berkaitan dengan wawasan kebangsaan dan hal-hal yang menyatakan bahwa Atikah dan keluarganya tidak pernah terlibat dengan organisasi yang memberontak kepada pemerintah RI, misalnya PKI.
Setelah hampir tiga jam mereka mengisi soal yang sangat banyak Pram dan Atikah diberi waktu untuk istirahat sejenak.
Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 mereka memilih menuju mushola dan sholat dhuhur sebelum makan siang.
Selesai sholat Pram dan Atikah mencari tempat untuk makan siang, Atikah melihat ada penjual soto yang ramai di seberang Korem ia mengajak Pram untuk makan disana.
"Dek itu cuma soto lo menunya ga ada yang lain. Yakin mau makan disana?" Pram sudah langganan soto itu karena murah dan rasanya yang lumayan enak.
"Emang kenapa mas? Tikah suka soto kok." Atikah berjalan mendahului Pram.
"Astaghfirullahaladzim..." Atikah kaget karena hampir saja terserempet motor itu.
"Ya ampun dek, ga apa-apa kan?" Pram khawatir.
"Ga apa-apa mas, cuma kaget kenapa motornya kenceng sekali. Makasih udah narik Atikah." Jawab Atikah masih dengan jantung berpacu cepat.
"Makanya jalannya pelan-pelan sini deket mas, ampun kamu tuh ya, ibu dosen kok nyebrang aja masih ga bisa." Pram meledek Atikah dengan menyeringai.
"Apaan sih mas, kok bawa-bawa dosen sih, Tikah lapar tau belum sarapan tadi pagi." Atikah langsung masuk ke warung soto itu dan memesan 2 mangkok soto dengan banyak pendampingnya.
"Dek itu pesan banyak amat? Emang bisa ngabisin? Kenapa tadi pas berangkat ga bilang kalau belum sarapan? Tau gitu kan kita mampir sarapan dulu." Pram gemes dengan tingkah calon istrinya itu.
"Hehehe mas akan tau, calon istri mas ini makannya banyak. Nanti beras sekarung ga cukup buat satu bulan? Apa mas berubah pikiran?" Senyum Atikah menggoda calon suaminya itu.
__ADS_1
"Ya ampun Dek, kalau cuma makan mau sehari sekarung juga pasti mas kabulin. Tapi jangan banyak-banyak juga kasian petaninya." Jawab Pram asal.
"Emang kenapa mas? Kok kasian petani? Bukannya untung ada yang beli berasnya?" Protes Atikah.
"Ya emang ga capek tiap hari nanem padi buat adek? Udah makan pelan-pelan." Setelah makanan datang Pram menyiapkan piring Atikah terlebih dahulu.
Mereka makan dengan lahap karena sejujurnya Pram juga belum sempat sarapan dari pagi. Tanpa mereka sadari makanan dalam piring dan mangkok mereka telah tandas.
"Dek, kamu beneran lapar? Mau nambah?" Tawar Pram saat melihat Atikah makan dengan sangat lahap.
"Engga Mas, cukup Alhamdulillah." Jawab Atikah sambil mengnangkupkan sendok dan garpunya diatas piring.
Pram tersenyum gemas melihat tingkah Atikah yang begitu polos dan cantik.
"Ya sudah Mas bayar dulu." Pram membayar dan mengajak Atikah kembali ke ruangan untuk di wawancara terkait hasil test yang mereka kerjakan tadi.
Atikah dan Pram bergantian menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Pasintel Korem, Atikah dapat menjawab dengan lugas dan tegas. Pasintel yang memberikan pertanyaan puas dengan jawaban-jawaban yang dilontarkan Atikah.
Saat ada pertanyaan tentang kenegaraan ada perbedaan pendapat antara Pasintel dan Atikah, Atikah merasa bahwa sebagai warga negara ia berhak mengeluarkan pendapatnya untuk negara, namun Pram segera menengarai dan menggenggam tangan Atikah dan tersenyum.
"Istri saya memang dari sipil pak, dia boleh berpendapat sendiri, namun saya yang akan mengarahkan bahwa sebagai istri prajurit yang menjaga NKRI ia akan selalu mendukung apapun kebijakan yang pemerintah keluarkan." Jawab Pram tegas.
"Baiklah, sesi wawancara sudah selesai, selamat untuk kalian berdua teruslah bekerja sama saling mendampingi dan sekoga menjadi keluarga yang damai sampai maut memisahkan." Ucap Pasintel
Atikah masih bingung dengan jawaban yang diberikan Pram tadi, ia masih belum terima kenapa dia tidak boleh berbeda pendapat dengan kebijakan pemerintah.
Setelah keluar dari ruangan dan mendapat semua surat yang mereka butuhkan mereka kembali ke mobil.
Pram mulai menjelaskan jawaban yang ia berikan pada Pasintel tadi.
"Dek karena suamimu ini adalah prajurit yang melindungi NKRI, maka apapun yang diputuskan oleh pemerintah dan itu hasil kesepakatan, harus kita setujui. Kenapa? Karena suamimu ini adalah TNI, kalau kamu sebagai istrinya mau menentang negara trus demo masak Mas harus mengamankan istri mas sendiri?" jelas Pram panjang lebar.
__ADS_1
"Oh jadi gitu mas maksudnya. Ya Tikah paham sekarang. Terimakasih ya!" Atikah tersenyum.