
Setelah berbincang dengan kedua orang tuanya Pram masuk ke dalam kamarnya. Pram berbaring di tempat tidur. Ia ingin tidur tapi pikirannya masih melayang memikirkan keinginan orang tuanya agar ia segera menikah.
Hah menikah bahkan sampai saat ini saja aku tidak bisa mengenali gadis yang pura-pura baik. Batin Pram kesal mengingat kembali kelakuan gadis-gadis itu.
Sudah sejam lebih Pram membolak balikkan dirinya di tempat tidur tapi matanya enggan terpejam. Hingga akhirnya ia menyalakan musik klasik di HP-nya sampai tertidur.
••••
Empat tahun berlalu
Kini Pram sudah baik pangkat menjadi Sertu (Sersan Satu) sejak 3 tahun yang lalu. dengan pangkat yang sekarang Pram sudah menjabat menjadi Batih (Bintara Pelatih) di kompinya.
Jabatan Pram bisa dengan cepat naik karena kegigihan dan kedisiplinannya. Pram tidak pernah melakukan pelanggaran dan selalu tepat waktu. Dia tidak pernah mencari alasan untuk menolak tugas yang diberikan atasannya. Pram semakin dewasa dan tampan.
Pram semakin sibuk dengan karirnya hingga tak sempat memikirkan cewek lagi. Setiap ibunya bertanya kapan ia akan menikah Pram selalu bilang ingin menikmati masa-masanya dengan ibu dan bapak dulu.
Hari ini Pram sedang libur dan pulang ke rumahnya. Seperti biasa Pram selalu dimanjakan keberadaannya. Makanan favorit dan cemilan yang Pram sukai telah tersedia di meja makan.
Setelah sholat isya selalu dan selalu mereka menyempatkan untuk bercengkrama melepaskan kerinduan walaupun setiap minggu Pram pulang.
Setelah larut Pram dan kedua orang tuanya masuk ke dalam kamarnya masing-masing.
Pram sudah masuk kamar dari dua jam yang lalu tapi matanya masih enggan terpejam. Pikirannya melayang entah kemana.
Pram keluar dari kamarnya dan duduk di sofa ruang keluarga memandangi satu persatu foto keluarga yang tertempel di dinding rumah sederhana namun sangat nyaman itu.
Mbak Fina sudah bahagia dengan suami dan anaknya, begitupun Mbak Anggi, mereka sangat kompak dengan suaminya dan terlihat sangat bahagia, apa aku kelak bisa membahagiakan istriku juga... batin Pram.
Beberapa lama ia duduk ibunya keluar dari kamar.
__ADS_1
"Nak kenapa belum tidur?" Tanya ibu Pram keluar dari kamarnya.
"Eh Ibu? Kenapa malam-malam keluar?" Tanya Pram balik menoleh pada ibunya
"Ibu mendengar ada suara diluar, ibu kira kucing di ruang makan." Jawab ibunya duduk mendekati Pram
"Maaf Bu, Pram membangunkan tidur Ibu apa bapak sudah tidur?" Kata Pram menyandarkan kepalanya di pundak Ibunya.
"Ibu memang belum tidur nak. Bapakmu sudah tidur dari tadi, sekarang bapakmu tidak bisa tidur larut, pasti nanti pusing dan masuk angin. bapakmu sudah sepuh Pram." Ibunya mengusap kepala pram layaknya masih putra kecilnya dulu.
Pram sangat dekat dengan ibunya sejak kecil. Pram sangat suka membantu ibunya dalam pekerjaan apapun walaupun ia seorang lelaki, tapi tak pernah segan untuk menyapu dan mencuci piring.
"Pram sebenarnya ibu menyuruh kamu pulang karena ibu ingin kamu berkenalan dengan dengan putri teman ibu nak." Ucap ibunya masih mengusap kepala anaknya di dalam pangkuannya, ia mengucapkan dengan hati-hati agar Pram tidak langsung menolak.
Pram hanya menoleh ke arah ibunya menunggu ibunya melanjutkan perkataannya.
"Teman ibu sangat baik, mereka sudah seperti keluarga dengan keluarga kita. Kamu pun pasti mengingatnya karena waktu kecil kalian sering main bareng. Lebih tepatnya kamu sering membuatnya menangis." Ujar ibu tersenyum mengingat kenangan masa lampau.
"Kamu ingat dulu ada sepasang ibu dan bapak guru yang sering main ke rumah kita, dia sering sekali membawa makanan dan kue kesukaanmu dan kakak-kakakmu? Juga membelikan mainan kalian saat mereka telah pulang dari bepergian jauh?" Ibu mengingatkan Pram pada orang-orang dimasa lalu.
Pram mengingat-ingat siapa saja teman-teman orang tuanya yang punya anak kecil.
"Apakah dia tante Dewi bu?" Tanya Pram mengingat seorang teman ibunya yang begitu santun dalam berbicara.
"Kamu mengingatnya nak?" Tanya ibu dengan senyum berkembang disudut bibirnya.
"Ia bu, Pram mengingat tante Dewi, tapi Pram sama sekali tidak ingat dengan anaknya." Jawab Pram sambil masih terus mengingat anak Tante Dewi tersebut.
"Kemarin mereka berkunjung kesini Pram. Mereka bercerita bahwa anaknya sangat sibuk dan belum juga mau menikah. Katanya tidak sempat untuk pacaran. Atikah itu sekarang dia menjadi dosen muda di salah satu universitas di kota sini." Jelas ibunya.
"Dia sudah menjadi PNS setelah menyelasaikan S2 nya dia langsung diangkat menjadi dosen dan sekarang melanjutkan S3 nya." Jelas ibunya.
__ADS_1
"Pram malu bu, dia seorang dosen apakah mau sama Pram?" Tanya Pram sambil mengelus tangan ibunya.
"Pendidikannya begitu tinggi bu? Apakah nanti tidak akan apa-apa? Gaji dia sudah dipastikan akan berlipat-lipat dari penghasilan Pram." Tanya Pram ragu-ragu.
"Dia gadis yang Sholehah Pram, rasanya pikirannya tidak akan sampai kesana. Insya Allah Atikah tahu bagaimana cara menghormati suaminya." Terang ibu Pram setelah kemarin mendapat penjelasan dari orang tua Atikah.
Orang tua Atikah memang sengaja bersilahturahmi ke rumah orang tua Pram dengan maksud menjodohkan mereka.
Orang tua Atikah berharap Atikah menikah dengan orang yang tepat. Keluarga Pram sudah sangat dekat dengan keluarga Atikah sudah layaknya dua saudara kandung.
Beberapa tahun mereka tidak jumpa karena pindah tugas, orang tua Atikah mengingat keluarga Pram setelah Atikah mendapat tugas di kota tempat tinggal Pram.
"Mudah-mudahan ya Bu, siapapun jodoh Pram yang pasti dia harus bisa menyayangi dan menghormati ibu dan bapak seperti orang tua kandungnya sendiri. Dan mudah-mudahan bisa diajak menuju surga dunia akherat Bu." Mata Pram menatap jauh membayangkan siapa yang akan menjadi istrinya kelak.
"Ia nak ibu selalu doakan yang terbaik. Sudah hampir pagi Pram sebaiknya kamu sholat tahajud dan langsung tidur. Supaya bisa bangun subuh." Kata ibu Pram menepuk tangan Pram.
"Baik Bu, Ibu istirahat ya." Pram bangun dan mencium kepala Ibunya. Wanita yang sangat dicintai Pram.
Pram dan ibunya beranjak dari tempat duduk Pram masuk ke kamar mandi mengambil wudhu dan ibunya masuk kamar kembali.
Pram sholat dengan khusyuk memohon yang terbaik untuk dirinya dan keluarganya. Sedikitpun Pram tidak ingin salah dalam memilih orang yang akan menjadi istrinya kelak. Harus seseorang yang menerima keadaannya dan keadaan orang tuanya. Hanya itu pinta Pram dalam doa panjang malam ini.
Pram memejamkan matanya di atas tempat tidur, setelah beberapa saat terlelap Pram bermimpi di datangi oleh seorang gadis yang sangat dewasa dan lembut prilakunya.
"Mas Pram..." Sapa gadis itu.
"Iya... Siapa ya?" Tanya Pram memandang gadis itu kagum.
Tok..tok....
"Pram bangun sudah subuh, kenapa kamu subuh-subuh begini malah asyik mengigau Pram?" Ketuk bapaknya dari luar pintu.
__ADS_1