Lembah Hijau

Lembah Hijau
Episod 30


__ADS_3

"Atikah, Pram. Kami semua sengaja mengatur pertemuan ini. Maaf jika menurut kalian kami egois dan lancang. Tapi nak, kami para orang tua sudah tidak bisa menunggu kalian lagi. Mau sampai kapan kalian saling gengsi begini?" Papah Atikah mulai membuka percakapan tentang perjodohan mereka.


"Maksud papah apa?" Tanya Atikah menatap papahnya dan menghentikan makannya.


"Jangan marah nak, kami tahu kalian saling salah paham." Lanjut mamah Atikah.


"Jadi sebenarnya Atikah perempuan yang kamu temui saat bersama Pram itu bukan pacar Pram. Mereka memang pernah pacaran tapi sudah empat tahun yang lalu." Jelas ibu Pram.


Pram malah heran bagaimana ibunya bisa menjelaskan hal demikian. Sedangkan Atikah tidak tertarik sama sekali pada dirinya.


Atikah diam, dia mendengarkan penjelasan para orang tua itu.


"Jadi nak kami ingin kalian menikah. Dan segera urus persyaratan nikah kalian. Baik nikah kantor maupun KUA." Tegas mamah Atikah.


Pram maupun Atikah masih diam. Tidak ada yang menjawab.


"Sekarang bulan Maret, papah ingin September nanti kalian sudah resepsi." Ucap papah Atikah lagi dengan tegas tidak bisa dibantah.


Pram dan Atikah masih bengong. Tidak bisa menjawab apa-apa. Mereka masih setengah sadar dengan situasi mereka.


"Gimana nak? Tikah Pram apa kalian siap?" Tanya ibu Pram.


Atikah dan Pram saling pandang. meminta pendapat dalam diam.


"Saya terserah Atikah saja pak bu." Jawab Pram antara senang, malu dan pasrah.


"Saya terserah mas Pram saja, kalau memang dia belum punya calon saya tidak apa-apa." Jawab Atikah pada akhirnya.


"Alhamdulillah" jawab keempat orang tua itu hampir serempak terlihat kebahagiaan dalam ucapan mereka.


"Kalian ini suruh pacaran aja susah sekali. Ya sudah nanti saja pacarannya setelah nikah saja biar lebih bebas." Ucap papah Pram diiringi tawa yang lainnya. Sedangkan kedua terdakwa hanya tertunduk malu.

__ADS_1


"Ya sudah habiskan makan kalian." Lanjut bapak Pram melihat anak-anaknya hanya memutar-mutar sendok dan garpu dalam piring.


Pertemuan yang dirasa kedua pasangan terpaksa namun suka itupun terasa lama, tapi tidak dengan para orang tua. Mereka ngobrol dengan asyik sehingga melupakan jika anak-anak mereka hanya saling diam dan kadang baradu pandang lalu tertunduk lagi.


"Sudah sore nih, sebaiknya kita segera pulang." Ucap bapak Pram melihat jam yang melingkar di tangan kanannya.


"Ya nanti kalian segera urus berkas kalian ya. Kalian hanya punya waktu lima bulan untuk pengajuan." Jelas papah Atikah.


"Sebenarnya kami merencanakan kalian akan menikah akhir tahun. Tapi kami rasa kami sudah tidak sabar untuk memiliki mantu nak." Ucap mamah Atikah membelai kepala anaknya.


"Baiklah om, tante nanti saya akan menghubungi Atikah untuk menyiapkan apa saja yang diperlukan. Maaf Dek pengajuan nikah ini akan sangat merepotkanmu." Ucap Pram pada akhirnya.


"Tidak apa-apa mas, nanti hubungi saya saja. Saya akan persiapkan yang saya bisa." Jawab Atikah masih tidak percaya dengan pernikahan dadakan yang diterimanya ini.


Akhirnya mereka pulang kerumah masing-masing. Atikah dengan keluarganya, bapak ibu Pram naik taksi online dan Pram naik motor gedenya kembali ke Batalyon.


Dalam perjalanan Pram masih tak percaya dengan apa yang dialaminya barusan, ia serasa mimpi. Pram suka tapi juga minder dengan keadaanya sendiri.


Sedangkan Atikah sama galaunya, dia tidak bisa mendeteksi perasaan apa yang ada dalam hatinya sekarang, senang tapi takut. Dia sama sekali belum mengenal Pram walaupun keluarga mereka sangat dekat.


"Iya mah?." Jawab Atikah.


"Jangan melamun, mamah yakin insya Allah kalian akan bahagia. Pram pria yang baik dan bertanggung jawab Tikah." Mamah Atikah meyakinkan bahwa pilihan mereka adalah benar.


"Iya mah, Tikah tidak mengkhawatirkan itu. Tikah hanya takut tidak bisa menjalin komunikasi yang baik dengan mas Pram." Jawab Atikah masih memandang ke jendela mobil.


"Tidak apa-apa Tikah, seiring berjalannya waktu akan tumbuh kasih sayang antara kalian dan semua akan berjalan baik-baik saja." Ucap papah Atikah mantab.


"Perlu kamu tahu Nak, mamah dan papah ini korban perjodohan. Kamu lihat kan kami bahagia sampai sekarang. Dan semakin hari papah semakin tergila-gila pada mamahmu yang makin tua makin cantik ini." Ucap papah Atikah sambil melirik istrinya menggoda.


"Apaan sih papah, jangan gombal didepan anak ah, malu ingat umur." Mamah Atikah merona karena dipuji suaminya.

__ADS_1


"Baiklah Tikah, masuklah ke dalam. Papah sama Mamah langsung pulang ya! Sudah sore kami lelah ingin istirahat." Papah menurunkan Atikah di rumah Atikah sendiri dan meneruskan perjalanan pulang ke rumah mereka sendiri yang jaraknya dua jam dari rumah Atikah.


"Baik pah, hati-hati ya. Tikah sayang kalian. Nanti hubungi Atikah jika sudah sampai." Atikah segera turun setelah memeluk dan mencium papah mamahnya.


Atikah segera masuk kedalam rumahnya dan membersihkan diri. Ia ingin segera tiduran karena walaupun cuma makan rasanya badannya lelah.


Ia menggulingkan tubuhnya kekanan dan kekiri. Tidur bangun lagi, semua posisi tidak dirasa nyaman baginya saat ini. Pikirannya melayang kemana-mana memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya.


••••


Pram telah sampai di Batalyon. Ia segera mandi sholat dan berakhir rebahan di kasur miliknya.


Ada Dika yang sedari tadi sudah didalam baraknya.


"Dik kamu ga ke barak kamu sendiri? Ngapain sih disini?" Tanya Pram pada lettingnya itu karena merasa terganggu.


"Kamu tu mas, kalau saya kesini kenapa sih diusir terus?" Tanya Dika cemberut.


"Ya ga apa-apa sih. Cuma saya capek aja. Mau istirahat." Jawab Pram memiringkan tubuhnya dan memejamkan mata.


"Mas kamu udah punya rencana ngajuin nikah belum sih? Aku mau ngajuin bulan depan lo." Kata Dika memberi tahu bahwa dirinya akan menikah.


"Apah??" Tanya Pram membalikkan badannya ke arah Dika.


"Kamu mau ngeduluin aku Dik?" Tanya Pram sambil tersenyum licik. Pram tidak akan memberi tahu siapapun bahwa dia juga akan menikah, dipaksa menikah tepatnya.


"Yah kamu lama ngjomblo sih, emang belum ada yang gantiin Sherly gitu mas?" Tanya Dika pada Pram.


"Hah tahu apa kamu, sudah sana pergi urusin tuh berkas-berkas nikah. Saya mah tau-tau di pelaminan aja kamu nanti." Celetuk Pram mendorong Dika pergi dan melanjutkan tidurnya.


"Awas kamu mas, kelamaan jomblo nanti karatan lo hahahaha." Dika meninggalkan Pram sambil tertawa keras.

__ADS_1


"Dasar bodoh kita liat siapa nanti yang bakal selesai ngajuin duluan huh." Guman Pram sendirian karena Dika sudah pergi jauh dari kasurnya.


Pram lelah tapi matanya enggan terpejam juga. Seperti halnya Atikah Pram hanya bisa bolak-balik badan di kasur sempitnya itu. Pram bingung akan memulai darimana nanti mengajak Atikah mengurus berkas mereka yang akan banyak itu.


__ADS_2