Lembah Hijau

Lembah Hijau
Episod 33


__ADS_3

Pram selesai upacara langsung menghubungi ojeg online yang akan mengantarkan paketnya ke kampus Atikah, karena hari Senin di rumah Atikah tidak ada orang.


Ia tersenyum melihat paket itu. Perasaannya berbunga-bunga. Seperti baru pertama jatuh cinta walaupun bukan cinta pertamanya.


Pram segera menyerahkan paket dan menunjukkan alamat kampus Atikah tidak lupa memberikan nomor HP Atikah untuk nanti menghubungi Atikah jika sudah sampai.


Beberapa jam kemudian Pram menerima pesan dari Atikah. Ucapan terima kasih. Pram lalu menyimpan HP-nya kembali.


••••


Atikah membuka paket itu dengan sedikit gemetar. Dia belum percaya bahwa dia akan menjadi ibu persit istri dari seorang prajurit yang dibanggakan masyarakat.


Ia menyimpan kotak paketnya kedalam laci di mejanya, Atikah tidak mau teman-temannya ribut. Ia ingin membuat kejutan dengan surat undangan nanti pada waktunya.


Begitu kelasnya selesai Atikah langsing meninggalkan kampus tidak menunggu waktu pulang, Atikah langsung melajukan mobilnya ke tempat penjahit langganannya.


"Assalamualaikum..." ucap Atikah ketika sampai di sebuah tempat yang banyak terdapat baju tergantung dan kain perca.


P


"Waalaikumusalam..." jawab seseorang dari dalam.


"Mbak Nisa, apa kabar?" sapa Atikah pada pemilik tailor itu.


"Eh mbak Atikah to, baik mbak. Lama sekali tidak datang kesini." ucap Nisa, penjahit yang p langganan Atikah.


"Hehehe iya mbak, lumayan sibuk. Saya mau bikin baju nih mbak bisa agak cepet kan?" Atikah menunjukkan kain yang dibawanya.


"Wah sepertinya ada yang mau meried nih?" goda Nisa setelah melihat kain yang disodorkan Atikah.


Atikah hanya tersenyum, Nisa memang penjahit profesional jadi sudah hafal baju-baju seragam untuk siapa saja.


"Selamat ya mbak Tikah akhirnya, Saya pasti di undang kan?" ucap Nisa sambil menerima kain dari Atikah.


"Iya mbak, masih proses doain ya! Masih lama kok." jawab Atikah tersenyum malu.


"Ini biasanya dipakainya pas badan, jangan bilang kamu minta longgar!" jelas Nisa karena tahu Atikah selalu memakai baju longgar.

__ADS_1


"Yah mbak jangan terlalu pas juga lah, malu saya. Longgarin dikit ya?" pinta Atikah karena tidak PD jika memakai baju yang ketat.


"Ok deh hanya sedikit ya soalnya modelnya udah gitu mbak Tikah. Wah pasti mbak Tikah bakal cantik pake seragam ini." goda Nisa lagi.


"Ah... Mbak Nisa bisa aja. Ya sudah ukur mbak, takutnya badan saya membesar hehehe." Atikah berdiri dari duduknya mendekat ke arah Nisa.


Setelah selesai mengukur badannya Atikah pamit.


••••


Pram sudah melaporkan bahwa ia akan mengajukan nikah. Ini adalah langkah awal pengajuannya.


Setelah ditanya-tanya oleh bagian staff Pram mulai menyiapkan berkasnya sendiri. Dan menghubungi Atikah untuk bersiap-siap juga.


Tut...tut...tut...


Pram menelepon Atikah namun belum ada jawaban sampai nada sambung habis.


Pram meletakkan HP-nya dan pergi mandi. HP-nya berdering namun Pram tidak mendengar.


Selesai mandi dan sholat Pram mengambil HP-nya Kembali, ternyata Atikah telepon balik, ia kemudian menghubungi kembali setelah tersambung langsung di angkat.


"Waalaikumusalam, lagi apa Dek? Sibuk kah?" tanya Pram karena tadi teleponnya tidak diangkat.


"Engga Mas, maaf tadi Atikah tidur ga kedengeran hehehe, ada apa Mas?" tanya Atikah.


"Gini Dek, Adek sama orang tua Adek harus membuat SKCK buat persyaratan nanti. Kalau ada waktu Adek tolong bikin ya?" Pram menjelaskan maksudnya menelepon.


"Oh gitu Mas, ok nanti hari Rabu Tikah kosong jam ngajarnya. Biar Tikah ajak mamah sama papah bikin ya Mas. Terus ada syarat lain?" tanya Atikah lagi.


"Untuk sementara baru Akte, SKCK, ma ijazah terakhir Dek. Nanti kita ke KUA nya bareng aja buat nyari surat N1-N5 biar Mas kenal juga dengan KUA disana." terang Pram.


"Oh baik Mas, nanti Tikah siapkan." jawab Atikah lemah lembut.


"Makasih ya Dek, maaf merepotkan." Pram merasa tidak enak karena syarat mereka menikah lumayan ribet.


"Tidak apa-apa Mas, sudah seharusnya dengan begini kan kita jadi semakin saling mengenal. Mas Pram jangan sungkan ya!"

__ADS_1


"Ia Dek, nanti mas insya Allah besok mampir ke rumah buat bawain buku AD ART Persit juga untuk Adek pelajari." Pram masih merasa tidak enak karena pernikahan mereka Atikah yang harus repot.


"Iya Mas Tikah tunggu."


"Ya sudah Dek, mas matikan dulu teleponnya ya, nanti kita sambung lagi. Adek jangan lupa makan malam ya. Assalamualaikum." Pram mengakhiri obrolannya.


"Iya Mas, makasih. Waalaikumusalam." Pram menutup sambungan setelah Atikah menjawab salamnya.


Pram kembali membolak-balik kertas yang ada ditangannya. Ia tidak tega membuat Atikah harus menyiapkan berkas yang sangat banyak itu. Belum lagi harus menghafal hymne dan mars Persit, juga NRP dirinya yang dia sendiri saja butuh beberapa waktu untuk hafal NRP sendiri.


Maaf ya Dek persiapan ini akan membuat Mas yakin dengan Adek yang sebenarnya. Walaupun banyak dan melelahkan tapi kalau kita menjalani dengan senang semua akan berlalu. Batin Pram dengan senyumnya.


Ia menyimpan kembali kertas dan buku yang tadi didapatnya dari staff kompi, Pram membaringkan tubuhnya sambil menunggu waktu Magrib tiba.


••••


Tiba hari Rabu, Atikah sedang siap-siap untuk membuat SKCK dengan orang tuanya. Ia menyiapkan segala persyaratan seperti KTP, KK, foto dan surat pengantar yang kemarin telah ia minta mulai dari tingkat RW sampai ke kecamatan hingga Polsek.


Hari ini tinggal ke Polresta untuk mengambil sampel sidik jari dan menunggu hasil SKCK nya keluar.


Mereka berangkat bersama menggunakan mobil Atikah.


"Tikah, sudah siap kan menjadi istri prajurit?" tanya mamahnya Atikah tiba-tiba.


"Insya Allah Mah, kenapa bertanya begitu? Kan Mamah yang meyakinkan Atikah untuk siap." jawab Atikah.


"Iya Nak, insya Allah kalian akan hidup bahagia. Walaupun melalui proses yang rumit insya Allah akan sesuai dengan kebahagiaan kalian nanti." nasehat mamahnya.


"Iya Mah, doain Atikah selalu ya Mah, Pah." Atikah tersenyum pada kedua orang tuanya.


Walaupun mereka dijodohkan tapi Atikah menerima dengan senang hati. Ia berdoa dalam sholatnya mudah-mudahan pria yang akan menjadi suami nya ini adalah pilihan terbaik yang tak akan pernah disesalinya.


Setelah sampai di Polresta ia segera menuju tempat pembuatan SKCK. Beruntung karena antrian tidak begitu banyak sehingga prosesnya cukup singkat dengan bantuan polisi yang bertugas sangat ramah dan cekatan. Hanya butuh waktu kurang dari satu jam ketiga SKCK itu telah jadi.


Mereka mengucapkan terima kasih kepada polisi yang telah membantunya dan segera pulang kembali ke rumahnya.


Atikah bersyukur karena selalu mendapat kemudahan dalam segala urusannya membuatnya semakin yakin bahwa Pram adalah jodoh yang baik untuknya.

__ADS_1


Insya Allah mudah-mudahan akan selalu mendapat kemudahan dalam mempersiapkan niat baik aamiin. doanya dalam hati.


__ADS_2