
Walaupun Linda telah bilang bahwa ia yang akan menlaktir nyatanya Pram tidak tega. Ia kembali mencabut kartu debitnya dan menyerahkan kepada pelayan yang membawa bill mereka.
Pram menerima kembali kartunya dan juga struk pembayaran makan mereka Pram melirik sekilas. Sedikit melotot karena angkanya sama dengan biaya hidupnya satu bulan.
Pram dan Linda membereskan barang belanjaaanya dan kali ini Linda mau diantar pulang.
Pram mengantarkan Linda ke kost dekat dengan kampusnya. Kawasan kost Linda terbilang cukup mewah untuk ukuran mahasiswi. Ada AC dan dapur di dalam kamar. Kata Linda sebulan ia membayar satu juta rupiah. Cukup mahal untuk sebuah kamar kost di kota kecil mereka.
Pram tidak mampir ke dalam karena tidak ada penghuni lain lagi selain Linda, semua kamar kost tertutup sehingga Pram tidak mau orang berpikiran aneh-aneh pada dirinya.
Pram segera pamit dan pulang menuju rumahnya. Pram ingin mampir menengok dan membelikan ibu dan bapaknya sesuatu. Sudah lama Pram tidak membelikan hadiah kecil untuk orang tuanya.
Gesekan kartu debit Pram hari ini membuat Pram merasa bersalah jika tidak teringat dengan kedua orang tuanya.
Pram mampir ke sebuah toko muslim, ia membelikan sarung premium untuk bapaknya dan mukena sutra untuk ibunya. Tak lupa pram juga membelikan sandal yang nyaman untuk keduanya.
Pram tersenyum, ia merasa puas dan bangga dapat membelikan sesuatu untuk orang tuanya. Walaupun apa yang dibelikan Pram belum dan tidak akan pernah sebanding dengan perjuangan orang tuanya dalam mengasihi dan mendidik Pram sehingga bisa seperti sekarang.
Pram melajukan motornya kembali membelah keramaian kota yang sudah mulai menyuram. Senja menggantikan siang menuju malam.
Tak lupa Pram mampir di sebuah tempat makan sate kesukaan bapak dan ibunya. Juga membelikan martabak telur spesial untuk ibunya. Ibu Pram sangat suka dengan martabak.
Pram kembali melajukan motornya, ia memperkirakan sampai rumah sebelum orang tuanya makan. Karena jika mereka sudah makan, makanan yang telah dibeli oleh Pram akan mubadzir.
Sampai di depan rumah tepat saat suara adzan Maghrib berkumandang. Pram segera masuk rumahnya, bapaknya sudah siap berangkat ke masjid. Pram bergegas menyimpan barangnya di meja, ganti baju dan wudhu lalu menyusul bapaknya.
__ADS_1
Setelah pulang dari masjid Pram membongkar barang belanjaannya, memberikan sate dan martabak kepada ibunya untuk dihangatkan dan disiapkan dimeja makan.
Acara makan dan sholat Isya telah selesai Pram duduk di ruang keluarga seperti biasa. Pram menyerahkan hadiah kecilnya kepada bapak dan ibunya.
"Apa ini Pram?" Tanya bapak saat menerima bungkusan dari Pram.
Begitupun ibunya memandang penuh tanya.
"Buka ya pak. Semoga bapak suka hadiah kecil dari Pram." Ucap Pram tersenyum hangat kepada bapaknya.
Bapak dan ibunya segera membuka bungkusan itu. Bapak dan ibunya terkejut karena hadiah yang mereka terima adalah barang mahal.
"Pram kamu tak perlu membelikan ibu barang seperti ini. Simpan uang kamu untuk kebutuhanmu nak, jangan menghamburkan untuk hal yang tidak perlu." Nasihat ibu Pram tapi memeluk anaknya bahagia. Ibunya sangat suka tapi ia juga tak mau membebani anaknya dengan barang-barang mewah seperti itu.
"Bapak, ibu. Hadiah itu tidak ada apa-apa nya dibanding dengan yang telah ibu dan bapak lakukan pada Pram. Pram tidak akan pernah bisa membalas pengorbanan kalian." Pram kulai meneteskan air matanya.
"Terima kasih pak, bu. Terima kasih untuk kasih sayang kalian." Pram sungguh beruntung memiliki orang tua yang sederhana dan penuh cinta.
Bapak dan ibunya mencoba sandal pemberian Pram. Sangat pas dengan kaki mereka. Pram tahu ukuran kaki orang tuanya karena mereka sering belanja bersama saat lebaran tiba. Pram memperhatikan semua yang disukai orang tuanya beserta ukurannya. Waktu masih sekolah dulu Pram ingin suatu saat setelah kerja nanti Pram membelikan banyak hadiah untuk orang terkasihnya ini.
Mereka ngobrol hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Pram pamit Kembali karena besok harus upacara. Pram tidak mau pagi-pagi terburu-buru kalau menginap di rumah orang tuanya.
Pram bersalaman dengan kedua orang tuanya dan segera melaju motornya meninggalkan rumah orang tuanya tersebut.
Pram kembali ke asrama dengan perasaan bahagia. Pram tidak menyangka bahwa hadiah kecil darinya membuat orang tuanya begitu bahagia. Selama ini Pram hanya memberikan uang pada orang tuanya Pram pikir biarlah mereka membeli barang yang mereka ingini, nyatanya uang itu hanya disimpan.
__ADS_1
Ternyata kebahagiaan orang yang amat disayanginya sangatlah sederhana.
Pram telah sampai kembali di asrama, dia segera mencuci tubuhnya dan berganti baju tidur. Pram mematikan HP-nya sejak pulang dari mall tadi siang.
Pikirannya kini telah terbuka kembali. Ia tidak akan bermain-main dengan cewek lagi atau ia akan kena imbasnya seperti tadi siang.
Pram sudah berbaring di ranjang sambil memainkan game di ponselnya ketika tiba-tiba ponselnya berdering, panggilan dari Linda lagi.
Kali ini Pram tidak mood mengangkat telepon dari cewek manapun. Ia mensilent HP-nya setelah layarnya berhenti berkedip ia kembali memainkan game yang tadi sempat tertunda.
Pesan singkat masuk dari Linda. Pram tidak berniat membuka pesan tersebut, ia masih asyik dengan game nya. Tapi pesannya tidak cuma sekali hingga akhirnya Pram membuka juga pesan itu.
Linda : Makasih ya Bang, atas belanjaannya.
Dan mengirim beberapa foto dengan seoatu dan baju yang tadi dibelinya.
Pram menjawab singat dengan kata "ya" dan tak berniat membuka pesannya Kembali.
Tak berapa lama Lia juga meneleponnya, malam ini dia benar-benar ga mood untuk meladeni cewek-cewek itu. Pram mematikan ponselnya kembali dan menyimpannya di atas meja.
Pram mengambil posisi untuk tidur karena sudah jam sebelas malam. Tapi matanya enggan terpejam. Pram membolak balik badannya mencari posisi yang nyaman, tapi tetap tidak bisa memejamkan matanya. Akhirnya ia keluar bergabung dengan teman-temannya.
Pram mengambil gitar dan memainkan beberapa lagu untuk mengusir bosannya. Entah kenapa sekarang ia cepat sekali bosan dengan permainannya sendiri.
Pram merasa jika memang jiwanya bersih. Tidak bisa mempermainkan wanita yang ada malah dia yang akan dipermainkan.
__ADS_1
Pram meletakkan kembali gitarnya dan masuk kembali ke barak. Ia mengambil sepatu larinya. Entah apa yang dipikirkannya sehingga ia ingin lari pada jam dua belas malam.
Pram memakai sepatunya dan mengganti kaosnya. Setelah itu ia berlari mengelilingi beberapa barak di dalam asramanya.