
Pram dan Atikah sudah berhadapan dengan Wadanyon, beberapa pertanyaan ditanyakan wadanyon mereka.
Seperti biasa Pram dan Atikah mendapat nasehat seputar kehidupan rumah tangga. Memang itulah tujuan pengajuan nikah kantor, selain untuk saling mengenal dengan senior dan atasan banyak pelajaran yang dapat dipetik dari pengalaman mereka yang sudah berkeluarga.
Sekitar satu jam kemudian mereka telah pamit undur diri dari kediaman wadanyon dan menuju kediaman Danyon yang tidak jauh dari situ.
Mereka berjalan kaki beriringan sambil membahas petuah-petuah wadanyon tadi. Walaupun atasan tidak ada kesan sombong namun malah merangkul.
Danyon yang terkenal tegas membuat Pram sedikit merasa tegang, namun ia harus membuat Atikah lebih tenang dengan menunjukkan bahwa Pram juga.
°°°°
Pengajuan mereka akhirnya selesai semua telah dilewati dengan sangat baik.
Kini akad nikah tinggal menunggu hari, pesta mewah namun tidak berlebihan telah disiapkan.
Atikah sibuk dengan persiapan pesta pernikahannya. Ia sibuk mencari dan menyiapkan rias pengantin, busana, fotografer dan segalanya tentu di bantu oleh mamahnya yang selalu mengawasi Atikah.
Semenjak kecelakaan yang melibatkan Atikah mamahnya tidak pernah mengijinkan Atikah keluar rumah sendirian. Apalagi sudah mendekati hari pernikahannya.
Mamahnya bisa sekalian menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan mana yang akan dipilih, walaupun kata mereka pernikahan sederhana tapi relasi papah Atikah sangat banyak dan Atikah adalah anak satu-satunya.
Pesta yang mereka sebut sederhana ini melibatkan 1000 undangan.
°°°°
Pram di batalyon tidak kalah sibuk, ia membereskan pekerjaan yang sekiranya bisa di kerjakan sekarang. Pram ingin cutinya nanti bebas dari urusan kantor jadi dia bisa menikmati masa berduanya dengan Atikah.
Sudah beberapa minggu berlangsung kesibukan Antara dua insan manusia yang akan mengikat janji suci ini. Tanpa terasa Pram sudah mengambil cuti.
Kini ia duduk diantara keluarga besarnya, orang tua Pram, kakak-kakak dan iparnya juga keponakannya yang lucu-lucu semua hadir di ruang tengah keluarga itu.
Mereka membahas Pram ketika masih kecil. Sebagai bungsu laki-laki Pram sangat disayangi oleh semua keluarganya.
__ADS_1
Kakak-kakak Pram juga ibu dan ayahnya selalu memberikan nasehat dalam setiap kesempatan. Walaupun dimanja Pram juga dilatih mandiri sejak kecil, bapaknya sangat tegas jika sudah menyangkut agama.
Pram adalah laki-laki tegas bapak, sebagai laki-laki yang akan memimpin keluarga harus punya pegangan yang kuat. Bukan harta atau jabatan tapi pegangan agama untuk menuntun istri dan anaknya kelak.
Semua Pram ingat dan akan dia terapkan dalam kehidupan rumah tangganya kelak. Pram sangat bersyukur dikelilingi oleh keluarga yang amat memperhatikannya.
Obrolan santai malam ini beberapa tahun belakangan ini sangat jarang ia temui, kedua kakaknya jarang pulang bersamaan, mereka hanya dapat berkumpul demikian saat lebaran. Itupun harus janjian dulu mau lebaran di rumah ini atau di rumah suaminya terlebih dahulu. Jika lebaran di rumah keluarga masing-masing suami maka mereka sepakat untuk kembali hari kedua atau ketiga lebaran. Semua telah atur jauh sebelum lebaran agar bisa berkumpul.
Kedua keluarga baik keluarga suami atau keluarga istri sama pentingnya, harus seimbang dan selaras. Tidak ada yang lebih banyak atau lebih sedikit dalam hal apapun itu yang selalu menjadi prinsip kakak-kakak Pram.
Mereka begitu kompak membuat bapak dan ibu Pram bahagia memiliki anak yang sholehah dan sholeh.
Malam ini adalah malam terakhir status Pram sebagai lajang, banyak yang di pikirkannya namun semua sudah ia siapkan mental dan jiwanya.
Bahwa nanti mulai besok ada seseornag yang akan menjadi tanggung jawabnya dunia dan akherat Atikah adalah tanggung jawab Pram.
Baik buruknya Atikah adalah cerminan dari diri Pram sendiri, bagaimana ia memerankan dirinya sebagai suami.
Nasehat dan pengalaman dari keluarga, senior dan atasan yang dibagikan kepadanya ia jadikan bekal untuk menghadapi lautan luas bernama keluarga.
Sudah jam sepuluh malam mereka bergegas untuk tidur karena besok harus bersiap dari pagi, terutama Pram sudah disuruh tidur oleh kakaknya,
Pram berbaring dikamarnya ia menatap setiap sudut kamar itu, selepas malam ini dia tidak akan sendiri di kamar ini jika suatu sata pulang ke rumah ini.
Ia tersenyum mengingat calon istrinya. Begitu lembut senyuman gadis yang sebentar lagi akan menjadi nyonya Pramuda Anggara itu.
Di batalyonnya nanti nama istri tidak akan sering di pakai, semua memanggil dengan nama suami mereka begitupun dengan Atikah nanti, ia akan lebih sering di panggil ibu Pram daripada ibu Atikah.
Pram segera memejamkan matanya bismillah untuk malam ini dan besok serta bismillah untuk kehidupan barunya sebagai suami setelah mengijab Kobul Atikah.
°°°°
Pram sudah memakai setelah jas yang dijahitnya itu, ia bisa saja menyewa tapi Pram ingin membuat jas ini berkesan hingga memesan khusus pada langganannya.
__ADS_1
Ia terlihat sangat tampan dan segar dengan wajah terpancar senyum dari pagi.
Kakak-kakaknya sudah sejak tadi menggoda dirinya namun Pram tak mampu membalas hanya senyuman dari setiap ledekan kakaknya.
Pram bersyukur telah tiba hari yang sangat dinantikannya, ia melangkah menuju mobil pengiring yang sudah dihias. Di iringi oleh ibu, bapak dan Mas Danu, kakak ipar dari mbak Fina. Sedangkan mbak Fina, mbak Anggi dan suami serta keponakannya berada di mobil satunya.
Lumayan banyak yang mengantar Pram hari ini, ada dua mobil perwakilan dari asrama, satu pleton yang akan sangkur pora di pernikahannya nanti.
Pram meramalkannya banyak istighfar dan bismillah dalam hatinya. Ia minta kekuatan kepada Allah agar semua berjalan lancar.
°°°°
Atikah sedang di make up oleh MUA terkenal di kotanya, ia ditemani Cindy sahabatnya dari masa SMA hingga kuliah dan menjadi dosen juga hanya di kampus yang berbeda, semenjak pisah pada saat lulus baru hari ini mereka bertemu kembali.
Atikah sangat cantik layaknya boneka berbie, ia yang jarang terpoles make up tapi tetap terawat sangat pangling saat di make up seperti ini.
"Tikah, kamu benar-benar cantik. Masya Allah" kagum Cindy.
"Kamu ngledek deh Cin, dari dulu juga kamu yang pinter make up." Kilah Atikah.
"Justru itu kelebihan kamu Tikah, kamu makin cantik karena jarang make up, jadi pangling." Puji Cindy yang dari tadi mengambil foto selfi dengan latar Atikah.
"Sudah siap mbak? Pengantin pria sudah di meja akad, nanti mbak Atikah akan masuk meja akad setelah mas Pram selesai ijab ya." Intruksi dari pengatur acara.
"Iya mbak ini udah siap." Perias menuntun Atikah untuk memakai sendal yang berkilauan hiasan namun tidak begitu tinggi.
Atikah di tuntun menuju depan pintu untuk menyaksikan Pram mengucap ijab kobulnya.
Ia gemetar sendiri banyak rasa yang ia rasakan saat ini, rasanya begitu menyesakkan dada antara bahagia, haru, sedih, takjub dan lainnya bercampur jadi satu.
Setelah terdengar kata sah hatinya begitu lega, air matanya jatuh tak terbendung, ia segera dituntun untuk duduk disamping Pram untuk didoakan dan dibacakan nasehat perkawinan.
Ia tersenyum menyambut tangan Pram dan menciumnya lama karena di dokumentasikan terlebih dahulu. Setelahnya Pram mencium kening Atikah penuh penghayatan. Untuk pertama kalinya ia mencium istrinya.
__ADS_1
Perasaan Pram dan Atikah membuncah, suasana haru dan membahagiakan membuat yang hadir turut tersenyum.
Akhirnya Pram dan Atikah resmi menjadi suami istri setelah melewati cobaan panjang.