Lembah Hijau

Lembah Hijau
Episod 25


__ADS_3

" Pram makanan di aduk-aduk terus kapan mau dimakan?" Bapak melihat Pram mengaduk makannya dan tidak menyuapkan satu sendok pun menegur Pram.


"Eh iya Pak." Jawab Pram gugup, Pram segera memakan makanan dalam piringnya.


"Jadi gimana? Papah ingin segera punya cucu Tikah, kamu satu-satunya anak papah. Kapan kalian akan siap menikah?" Tanya papah Atikah tiba-tiba


Uhuk...


Pram dan Atikah batuk bersamaan.


"Papah..." Atikah benar-benar malu.


"Kalian saling lah mengenal dulu, kalau di rasa cocok kita para orang tua akan sangat senang. Tapi jika memang kalian tidak mau kami tidak akan memaksa. Kalian yang akan menjalani, kami hanya mengarahkan." Nasihat Bapak Pram.


"Hari ini kalian pergilah ke kota berdua, papah ingin dibelikan baju untuk acara perkumpulan pensiunan besok Tikah." Ucap Papah Atikah. Mereka ingin mendekatkan Atikah dan Pram.


"Nak Pram mau kan mengantarkan Atikah?" Tanya mamah Atikah.


"Tapi pah, Tikah bisa bawa mobil sendiri. Takutnya mas Pram sedang sibuk." Jawab Atikah akhirnya membuka suara setelah diam dari tadi.


"Nak Pram sibuk?" Tanya Mamah Atikah.


"Tidak Tante, hari ini Pram libur. Nanti malam baru pulang ke Batalyon." Jawab Pram.


Sebenarnya mereka berdua ragu antara ingin tapi juga malu. Mereka tidak pernah bertemu lebih dari 15 tahun.


"Ya sudah sana, ini kunci mobilnya Papah dan Mamah nunggu disini ya Tikah. Kami rindu ingin ngobrol sama bude dan pakde." Papah Atikah menyerahkan kunci kepada Pram dan menyuruh mereka berdua berangkat.


Pram menoleh pada Atikah meminta persetujuan.


"Hmm baiklah Tikah berangkat." Atikah tahu bahwa dia tidak bisa membantah kemauan Papahnya.


"Maaf ya mas, merepotkan mas Pram." Atikah tersenyum pada Pram.


Masya Allah manisnya. Batin Pram.


"Mas? Ayo berangkat?" Atikah memanggil Pram ketika dilihatnya pria itu malah bengong.


"Oh iya maaf ya Dek." Jawab Pram sambil berdiri.


"Om, tante, pak, buk Pram berangkat dulu." Pamit Pram pada semua yang ada.


"Iya Pram hati-hati" jawab mereka hampir serentak.


Pram menuju mobil diikuti oleh Atikah. Pram membuka kunci mobil dan masuk kedalamnya disusul Atikah di depan.

__ADS_1


Walaupun canggung tapi Atikah tahu etika, dia harus duduk di depan agar Pram tidak dianggap supir.


Pram mulai menyalakan mobilnya dan keluar dari halaman rumah Pram melajukan mobil Atikah menuju jalan raya.


"Kita mau kemana Dek?" Tanya Pram pada Atikah.


"Saya belum hafal kota ini mas, tapi Papah minta kita beli baju kalau ga kemeja ya batik untuk acara perkumpulan pensiunan di kantornya dulu. Mas Pram mungkin lebih tahu?" Jawab Atikah sopan. Sebagai seorang dosen ia segera menguasai perasaannya. Atikah tidak mau terdengar gugup.


"Oh mau di butik atau di mall?" Tanya Pram lagi.


" Terserah mas, baiknya aja gimana saya ikut." Jawab Atikah lagi.


"Ya sudah kita ke mall saja biar banyak pilihan." Akhirnya Pram memutuskan.


Mereka terdiam dalam perjalanan yang cukup jauh. Pram juga Atikah bingung mau mulai percakapan tentang apa.


Biasanya Pram selalu bisa mencairkan suasana dan cepat akrab dengan orang baru. Tapi ada perasaan aneh ketika bersama dengan Atikah. Rasa canggung dan segan.


"Adek sudah berapa lama di kampus?" Tanya Pram memecah kesunyian. Akhirnya ia memberanikan diri memulai obrolan.


"Baru tiga bulan mas, masih adaptasi lagi dengan kota ini. Karena sudah lama sekali kami meninggalkan kota ini dan baru balik lagi. Sudah banyak yang berubah." Jawab Atikah panjang lebar.


Ternyata Atikah tidak sesombong kelihatannya. Dia baik dan sopan walaupun awalnya cukup terlihat sombong. Batin Pram.


"Ah engga mas, biasa aja. Saya melanjutkan kuliah memang keinginan papah, karena Atikah anak satu-satunya. Jadi papah membiayai kuliah Tikah. Mas Pram jadi abdi negara pasti keren ya? Aku suka sama tentara mas, mereka engga sombong. Engga memakai jabatannya untuk menakuti masyarakat justru melindungi." Kata Atikah panjang lebar.


Pram tersenyum ternyata Atikah cerewet juga.


"Bisa aja kamu dek, ga gitu juga kok. Ada oknum yang tidak bertanggung jawab juga. Bukan pekerjaan yang membuat kita baik, tapi diri kita sendiri." Jawab Pram


"Iya juga mas semua memang kembali ke pribadi masing-masing." Atikah setuju dengan pendapat Pram.


Tanpa terasa mereka ngobrol panjang lebar sudah sampai di mall di tengah kota.


"Sudah sampai Dek, kamu turun sini saja biar mas yang parkir mobilnya ke basemen." Jawab Pram menghentikan mobilnya di lobby mall.


"Iya mas, terima kasih. Tikah tinggu disini ya?" Jawab Atikah dan segera turun dari mobilnya.


Pram memarkir mobilnya di basemen yang terdekat agar tidak terlalu jauh jalan kaki.


Ia kembali ke tempat dimana ia meninggalkan Atikah. Gadis itu masih menunggu disana.


"Ayo dek masuk." Ajak Pram.


Atikah segera menyusul langkah Pram dan jalan berdampingan.

__ADS_1


" Kita mulai dari lantai ini ya." Ajak Pram memasuki sebuah butik yang menjual pakaian khusus pria.


Atikah dan Pram mengelilingi butik dan mencari pakaian yang cocok untuk dikenakan Papah Atikah.


"Mas sepertinya baju yang di manekin itu bagus untuk orang sepuh seperti papah. Coba kita lihat yuk!" Ajak Atikah ke manekin yang terpajang di tengah butik.


Pram mengikuti langkah Atikah menuju manekin itu.


" Iya Dek, bagus coba minta mbaknya untuk mengambilkan baju yang ini." Jawab Pram setelah melihat dekat baju di manekin itu.


" Mbak minta tolong baju yang sama dwngan baju ini ya? Sekalian celananya." Pinta Pram pada SPG yang bertugas menunggu butik itu.


"Baik pak, silahkan tunggu sebentar." Jawab SPG pergi berlalu meinggalkan mereka berdua untuk mengambil barang yang mereka inginkan.


"Mas mau membeli sesuatu ga?" Tanya Atikah pada Pram.


"Engga Dek, baju begini mah mas jarang pakai." Jawab Pram menolak, karena memang dia tidak pernah memakai baju formal maupun semi formal.


"Ehm iya ya, mas kan kerjanya udah ada seragamnya semua. Maaf ya mas jadi merepotkan mas Pram." Atikah merasa tidak enak karena Pram harus mengantarkan Atikah ke kota yang lumayan jauh dari rumah Pram.


"Tidak apa-apa Dek, anggap aja liburan." Jawab Pram tersenyum.


"Maaf Pak, Bu menunggu lama. Ini bajunya." SPG tadi datang kembali membawa baju dan celana yang masih terbungkus plastik.


"Coba liat Dek! ukurannya pas ga buat om?" Pram meminta Atikah melihat baju itu karena Atikah yang tau ukuran baju mereka.


Setelah dirasa pas Pram ingin membayar baju itu tapi ditolak oleh Atikah.


"Jangan mas, biar Tikah saja. Mas udah repot mengantar Tikah kesini." Jawab Tikah menolak kartu yang akan Pram berikan pada kasir.


"Tidak apa-apa Dek, ini saja." Kata Pram memaksa tapi Atikah tetap menolak.


Bagi Atikah tidak baik meminta sesuatu pada pria yang bukan suaminya.


Pram dan Atikah meninggalkan butik setelah mendapatkan apa yang mereka cari.


"Dek kita beli minum dulu yuk sambil nyari cemilan disitu." Ajak Pram kesebuah caffe di dalam mall.


Mereka menuju tempat memesan menu dan memilih beberapa minuman dan makanan ringan.


Setelah membayar Pram dan Atikah menuju kursi yang telah disiapkan menunggu pesanan mereka.


Mereka sedang mengobrol tiba-tiba seorang wanita menyapa Pram.


"Bang lagi disini? sudah lama tidak bertemu" sapa gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2