
Pram telah sampai, ia segera menuju kantor Atikah yang sudah ia hafal letaknya. Mata mahasiswi mengikuti langkah kaki Pram.
Decak kagum mereka melihat tentara gagah dan ganteng membuat diantara mereka senyum-senyum dan berbisik-bisik.
Pram sampai di kantor Atikah, ia menyapa dan bersalaman dengan teman-teman satu devisi Atikah. Mereka tak hentinya menggoda calon pengantin itu.
Pram dan Atikah langsung pamit undur diri kepada semua orang yang ada di kantor. Mereka melangkah keluar beriring sambil bercanda. Kemesraan dan aura bahagia mereka terpancar nyata bagi siapa saja yang melihatnya.
Kumpulan mahasiswi yang tadi melihat Pram kembali memperhatikan dan mereka bersorak ketika mengetahui bahwa cowok ganteng itu kini berjalan dengan mesra dengan dosen favorit mereka.
"Yahh bu saya patah hati nih, kirain pak tentaranya masih jomblo ternyata eh ternyata sudah ada yang punya." Seloroh salah satu bimbingan Atikah.
Atikah hanya menanggapi dengan senyuman dan melambaikan tangan kepada mahasiswinya tersebut.
Pram dan Atikah segera menuju parkiran dan langsung menaiki motor gede Pram. Atikah sengaja memakai setelan celana panjang ketika tadi pagi Pram mengabari bahwa Atikah akan di jemput menggunakan motor. Mobil Atikah masih dipihak asuransi, memperbaiki mobil dengan asuransi memang lebih lama dan ribet.
Pram melajukan motornya agak cepat karena sing hari yang terik, ia merasa kasian juga pada Atikah yang kepanasan.
Mereka akan menuju perumahan anggota yang di sediakan batalyon, setelah Atikah kecelakaan sambil mengurus sisa pengajuan pernikahan mereka Pram menyempatkan mencari rumah untuk nanti mereka tinggal.
Sebelumnya Pram dan Atikah sudah saling menyetujui bahwa mereka akan tinggal di asrama. Salah satu syarat pernikahan mereka adalah persetujuan tinggal di lingkungan asrama batalyon. Atikah harus mengalah, ia merombak jadwal mengajarnya menjadi padat dalam satu hari hingga ia hanya perlu waktu tiga hari untuk mengajar semua kelas yang diampunya.
Rumah mereka masih kosong, jendelanya pun belum ada tirainya, mungkin sebelum resepsi pernikahan mereka harus berbelanja untuk mengisi rumah asrama. Pram bilang bahwa mereka hanya akan membeli kebutuhan dasar saja jadi jika nanti akan pindahan tidak ribet oleh barang yang tidak perlu.
Pram sudah membersihkan rumah kemarin jadi sekarang sudah siap pakai, paling untuk hari iji Atikah hanya memerlukan kamar mandi dan tempat istirahat. Pram sudah mencicil membeli sofa yang bisa ia jadikan kasur untuk istirahat Atikah jika sedang berada disini.
Atikah memasuki rumah asrama nya, ia merasa akan betah tinggal disini, lingkungannya sejuk dan rindang. Ada pohon mangga, jambu dan rambutan di depan asramanya.
__ADS_1
Sudah bisa dipastikan rumah ini akan menjadi base camp ibu-ibu tetangga Pram nanti. Bunga buah mangganya begitu lebat jika sudah berbuah pasti akan sangat seru jika para ibu-ibu ngrujak bersama.
Kebetulan rumah Pram ini dekat dengan lettingannya sehingga nantinya Atikah tidak akan canggung karena sudah kenal sebelumnya.
Pram meninggalkan Atikah di rumah asrama, ia akan mengikuti apel terlebih dahulu, ia sudah menghubungi ajudan dari Ibu wakil dan Ibu ketua persitnya mereka berkenan setelah ashar jadi masih punya banyak waktu.
Atikah menyapu rumah yang sebenarnya sudah bersih itu, ia merasa bosan karena belum ada apa-apa di rumah.
Saat adzan ashar ia segera sholat dan bersiap, tidak selang lama Pram sudah datang dengan pakaian PDH rapinya.
"Dek, udah siap?" Panggil Pram dari luar.
"Ia mas, sudah." Atikah berjalan keluar dan memakai sepatunya.
"Mas, kok Tikah deg-degan ya?" Atikah merasa tangannya dingin akan menghadapi ibu ketuanya.
"Sudah mas, hayuk!" Atikah sudah siap di atas motor.
Ternyata ibu wakil dan ibu ketuanya sangat baik, walaupun atasan mereka sangat ramah dan membuat Atikah nyaman. Pram dan Atikah hanya mendapat wejangan bagaimana menjalani kehidupan rumah tangga sebagai seorang prajurit dan istri prajurit.
Sekarang masih jam 16.30 mereka sudah membuat jadwal bertemu dengan Wadanyon dan Danyon setelah Magrib, Atikah mengajak pram untuk keluar jalan-jalan sebentar sambil makan malam yang kepagian.
Mereka berganti baju dulu, ia tidak ingin keluar dari lingkungan asrama dengan pakaian dinas. Pram mengajak Atikah ke taman dekat asrama yang menjual banyak makanan.
"Dek mau makan nasi atau mau makan cemilan?" Tanya Pram sambil menunjuk deretan penjual makanan.
Taman itu jika waktu sore sangat ramai oleh orang yang sedekar mencari cemilan, bersantau atau berolahraga karena ada jalan melingkari taman tempat orang berlari.
__ADS_1
Atikah mengedarkan pandangannya mencari makanan yang menarik hatinya.
"Tikah pengen es cendol itu mas." Atikah menunjuk penjual cendol di ujung.
"Ok! Terus mau makan apa?" Tanya Pram lagi.
"Mau somay yang di sebelahnya aja, jangan terlalu pedes." Atikah duduk di salah satu bangku taman.
Pram menuju penjual cendol dan somay memesan 2 porsi untuk masing-masing.
Tak berapa lama pram sudah kembali dengan cendol di gelas dan somay di sterofoam. Ia mrnyerahkan masing-masing satu kepada Atikah.
Mereka menikmati somay dengan ngobrol santai, ada aja perkataan Pram yang membuat Atikah tersipu.
Pram mempunyai hobi baru menggoda calon istrinya ini, Atikah sangat menggemaskan saat dirinya tersipu, muka merahnya karena menahan malu membuat Pram ingin mencium pipinya yang menggemaskan itu.
Tapi walaupun mereka sering mempunyai kesempatan berdua, Pram tidak melakukan hal-hal yang belum boleh mereka lakukan, Pram akan sabar memetik buah jika sudah waktunya agar lebih manis.
Pram tak hentinya bersyukur kepada Tuhan dan kedua orang tuanya yang mempunyai ide menjodohkan mereka. Kesopanan dan ketaatan Atikah beribadah walaupun ia wanita yang mapan adalah suatu kelangkaan.
Ia bertekad akan membuat bahagia calon istrinya ini dengan apapun caranya.
Pram melirik jam tangannya, tidak terasa sudah hampir Magrib, Pram mengajak Atikah kembali ke rumah, ia akan meninggalkan Atikah disana sementara Pram akan mandi di barak dan sholat Magrib di masjid.
"Dek, mas tinggal dulu ya, ga apa-apa kan disini sendiri? Kalau takut nanti telpon mas aja." Pesan Pram, rumah mereka memang di tengah yang kanan kirinya masih kosong.
"Ia mas, lagian rame gini anak kecil di depan rumah, ya sudah sana keburu adzan." Atikah masuk ke dalam rumah setelah Pram melaju dengan motornya.
__ADS_1
Atikah tak hentinya tersenyum mengingat perkataan Pram. Sebenarnya walaupun ia tidak pernah pacaran tapi ini bukan kali pertamanya Atikah dengan dengan pria, tapi entah kenapa Pram berbeda dengan laki-laki lain yang mendekatinya.