Lembah Hijau

Lembah Hijau
Episod 35


__ADS_3

Pram dan Atikah sama-sama sibuk dalam mengurus pernikahan mereka.


Pram bolak-balik kompi untuk mengurus surat permohonan ijin nikah yang harus do ketahui oleh danton dan danki nya. Surat ini untuk diajukan beserta syarat lainnya nanti untuk mendapatkan surat ijin menikah dari Danyon.


Sedangkan Atikah sibuk bolak-balik kantor desa dan KUA untuk mendapat surat keterangan N-1 sampai N-5 yaitu surat yang berisi tentang domisili calon dan surat keterangan belum menikah.


Selain itu Atikah dan orang tuanya harus menandatangani beberapa surat diatas materai diantaranya surat menyatakan sanggup menggunakan alat kontrasepsi, surat sanggup tinggal di asrama, surat sanggup mengikuti kegiatan Persit dan surat kesanggupan orang tua.


Walaupun prosesnya begitu rumit karena harus bolak-balik ke kantor desa, kecamatan dan KUA serta koramil dan kodim, tapi Atikah dengan senang hati dan tanpa beban melakukan semuanya.


Pram telah mendapatkan surat pengantar untuk rikes (pemeriksaan kesehatan kedua calon pengantin) di rumah sakit dan test litsus (penelitian khusus) di korem.


Hari ini Pram dan Atikah janjian bertemu untuk test kesehatan di rumah sakit. Mereka berangkat pagi-pagi agar tidak antri terlalu lama.


Mereka sedang duduk di ruang tunggu untuk menunggu dokter yang akan memeriksa mereka.


"Mas, aku takut nanti kita akan di periksa apa saja ya?" tanya Atikah yang takut dengan jarum sama halnya Pram itu.


"Tenang saja Dek, cuma diambil darah sedikit, urin, dan rontgen dada. Sama sebenarnya ada test keperawanan juga. Tapi karena Mas percaya sama Adek mas akan bilang sama dokternya kalau test itu tidak perlu." Pram menjelaskan test apa saja yang akan mereka jalani nanti.


"Tapi Mas, Tikah takut sama jarum. Tikah belum pernah disuntik tau." Atikah agak memucat membayangkan jarum yang akan menusuknya nanti.


"Hehehe nggak sakit kok, mas dulu pernah. Tenang saja." hibur Pram meyakinkan.


"Kata siapa ngga sakit. Orang Tikah oernah ambil darah juga waktu test kesehatan PNS dulu. Sakitnya ga ilang seharian hmm." akhirnya Atikah ingat bahwa dulu saat akan menjadi PNS Atikah pernah menjalani test kesehatan seperti ini.


"Ya itu pernah berarti ga terlalu sakit dong. Udah tenang aja ada Mas ga bakal kerasa sakitnya." Pram mengerlingkan matanya pada Atikah.


Bersamaan dengan perawat memanggil nama mereka. Mereka menuju perawat yang memanggil tadi dan alangkah terkejutnya Pram ketika dia mengenali perawat itu yang tak lain adalah Linda.

__ADS_1


Linda tak kalah terkejut, dia tidak tahu nama yang dipanggilnya adalah Pram kenalannya dulu mereka tidak pernah tahu tentang nama panjang masing-masing.


Pram diam saja pura-pura tidak kenal karena tidak ingin Atikah salah paham.


Mereka bergantian melakukan serangkaian test dan terakhir test keperawanan.


"Dokter untuk test yang satu ini saya minta di skip saja. Saya percaya bahwa calon saya masih virgin dan saya tidak mau ada orang yang melihatnya sebelum saya." Kata Pram tegas membuat Atikah malu-malu.


"Oh begitu? Bagaimana kalau ternyata istri anda nanti tidak perawan apakah anda tidak akan menyesal?" tanya dokter meyakinkan.


"Tidak Dok. Saya yakin dan percaya pada calon istri saya." jawab Pram mantab. Hal itu membuat Linda tersenyum getir.


Mana ada jaman sekarang gadis masih perawan. Batin Linda yang mendampingi mereka saat menjalani test.


Mereka segera pamit setelah surat keterangan sehat berhasil mereka dapatkan dan segera meninggalkan rumah sakit menggunakan mobil Atikah.


Pram kaget karena Atikah memperhatikan Linda.


"Kenal dari mana Dek?" tanya Pram balik.


"Ya Tikah tidak tahu. Tadi pas ganti baju dia nanya kenal darimana sama Mas, dia sampe tahu nama mas kok." Pram tambah kaget karena ternyata Linda lancang bertanya pada Atikah tentang dirinya.


Pram merasa lebih baik dia jujur daripada nanti Atikah berpikiran macam-macam.


"Iya Dek, mas pernah kenal sama dia. Cuma kenal tidak pernah pacaran. Sempet ketemu dua kali yang pertama untuk pertama kali bertemu dan kedua dia ngajak mas nemenin belanja dan akhirnya malah ATM mas dikuras sama dia makanya Mas ga mau temenan lagi, masak baru kenal sudah berani minta ini itu. Jangan marah ya semua terjadi jauh sebelum Mas kenal Adek." jawab Pram


"Oh begitu. Padahal kita kenal sudah dari kecil Mas." jawab Atikah singkat tapi membuat Pram tersentak.


Ia juga ya memang aku mengenal Atikah dari kecil. Saat Atikah bayi malah tapi kan kita berpisah lagi dan baru ketemu beberapa bulan yang lalu. Batin Pram frustasi.

__ADS_1


"Iya bener. Mas yang salah." Aku Pram supaya Atikah tidak manyun lagi.


"Dek mas perlu jujur sama adek karena nanti ini akan dipertanyakan saat kita menghadap ke pasi-pasi dan danyon. Mas punya mantan pacar 2, yang satu putus karena dia hamil saat mas pendidikan. Yang kedua yang kita ketemu di mall saat beli baju papah itu. Selain itu hanya sebatas kenalan tidak pernah pacaran." Pram menjelaskan masa lalunya agar nanti tidak akan terjadi kesalahpahaman diantara mereka.


Atikah diam entah kenapa hatinya berdesir saat Pram mengatakan semua itu. Atikah cemburu pada masalalu Pram karena dirinya belum pernah pacaran sama sekali dan berjanji menjaga cintanya hanya untuk suaminya kelak.


"Dek kenapa diam saja? Semua hanya masa lalu mas Dek, dan mas hanya sebatas pacaran dengan mereka. Mas tak pernah sekalipun menyentuh mereka. Percayalah." Pram meyakinkan bahwa dia tidak sama dengan pria lain yang suka main perempuan.


"Iya mas tidak apa-apa." jawab Atikah dengan lemas.


"Ya sudah kita makan dulu yuk. Ada soto enak di ujung jalan ini." ajak Pram setelah perutnya terasa perih karena belum makan pagi padahal sudah menjelang sholat Dzuhur.


"Iya boleh." jawab Atikah singkat.


Pram tahu Atikah masih kecewa tentang masa lalu Pram tapi Pram berjanji akan menjadi yang terbaik untuk Atikah. Walaupun mereka tidak pacaran toh akhirnya mereka akan menikah dan Atikah satu-satunya yang akan memiliki dirinya seutuhnya hati dan jiwanya.


"Dek," panggil Pram


"Iya Mas," jawab Atikah masih tidak melihat pada Pram.


"Maukan Adek menikah dengan Mas? Menjadi ibu dari anak-anak Mas kelak? Menjadi satu-satunya wanita yang akan Mas lihat setiap hari?" Pram melamar Atikah secara pribadi setelah pernikahan mereka memang direncanakan orang tua mereka.


Pram telah berhenti di pinggir jalan dan mengeluarkan sesuatu dari kantongnya.


Sebuah cincin.


"Maaf ya Dek, seharusnya Mas dari awal mengatakan ini." Pram mengambil tangan Atikah dari pangkuannya.


Atikah terharu. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa Pram akan mengatakan hal ini. Ternyata Pram adalah pria yang sangat romantis.

__ADS_1


__ADS_2