
"Kok di sana ada polisi Bu?" Tanya Hana.
Mendengar hal tersebut Jane mulai mencari alasan yang tepat untuk Hana yang masih kecil ini. Walau terdengar tak nyambung setidaknya ia sudah mencari alasan yang baik untuknya.
"Ah itu mall nya mau di tutup dengan cepat hari ini tapi masih banyak orang yang mau masuk ke dalam jadi harus di jaga sama polisi." Jawab Jane sambil dirinya menggigit jari.
Jane menghela nafas di saat Hana mengangguk dan mempercayai ucapannya.
"Oh begitu pantesan kita di suruh cepat-cepat keluar, ternyata mallnya mau tutup dulu."
"Hm iya." Jane hanya bisa tersenyum kecut karena sebenarnya ia juga trauma melihat kejadian tadi.
Di samping itu Bonekanya kini masih sama seperti awal duduk manis dengan mata menatap ke depan. Ternyata di balik tatapannya itu tersirat makna tersendiri apalagi senyumnya yang sedikit mengerikan kalau di lihat dari sudut pandang yang lain.
Sesampainya di rumah Jane segera bercerita pada William yang kebetulan di rumah sedang menonton tv. Si kembar sedang mengisi pr dan Viola masih belum pulang.
"Gimana jalan-jalannya sayang seru gak?" Tanya Wiliam dengan romantis akan tetapi Jane bereaksi berbeda, wajahnya khawatir namun berusaha di tutup-tutupi.
"Akan ku ceritakan nanti. Aku akan membawa Hana ke kamarnya dulu dia pasti capek." Kata Jane.
"Bawa oleh-oleh gak Bu?" Tanya Rava saat dirinya selesai menulis di buku.
"Ada di mobil."
Reva dan Rava pun segera pergi ke garasi dan mengambil barang-barang yang ada di sana, dan bahagianya mereka saat melihat banyaknya barang yang dibeli. Dan yang menarik perhatian Reva adalah boneka.
"Ini boneka siapa?" Tanya Reva sambil mengambil boneka itu.
"Punya Hana mungkin, tuh kotaknya di sana kayaknya dia baru beli deh." Ucap Rava.
__ADS_1
"Gak biasanya Hana beli boneka, dia seringnya beli buku gambar." Reva dan Rava pun mulai terheran-heran akan tetapi mereka pun acuh dan membawa masuk semua barang ke dalam rumah.
Jane membawa Hana masuk ke dalam kamar lalu menyuruhnya untuk beristirahat saja, saat ingin pergi tangan Jane dicegah oleh Hana.
"Bonekanya mana Bu? Tadi Hana lupa gak bawa bonekanya ke sini." Hana bertanya pada Jane sambil memegang tangan Jane.
Jane tersenyum lalu ia pun menjawab dengan lembut "Iya nanti ibu bawain ke sini, kamu tidur gih nanti ibu bangunin kalau udah sore."
Sembari mengusap kepala Hana, gadis kecil itu pun segera mengangguk dan mulai memejamkan matanya. Jam masih menunjukkan pukul 1 kurang, masih ada tiga jam untuk Hana tidur siang.
Setelah itu Jane pun kembali turun ke bawah, di sana Reva dan Rava sudah sangat berbunga-bunga melihat barang bawaan yang baru di beli. Terutama roti yang empuk dan enak rasanya.
Jane melihat boneka Hana di simpan dan di dudukan di sofa menghadap televisi yang sedang menyala. Diambilnya boneka tersebut lalu di bawa ke atas ke kamar Hana.
Melihat Hana sudah terlelap dengan cepat Jane lalu membaringkan boneka itu tepat di samping Hana yang sedang tidur. Tak ada yang aneh hingga Jane pun kembali ke bawah. Setelah Jane pergi dan pintu kamar di tutup barulah sorot mata boneka itu terlihat jelas sangat mengerikan dengan mata bulat dan senyum di wajahnya.
Kini kembali ke lantai bawah, Jane lalu memanggil dan menyuruh Wiliam untuk berbincang berdua saja di belakang. Reva dan Rava sibuk menyantap roti yang tadi di beli, keduanya juga melanjutkan aktivitas mereka yang tadi sempat tertunda sedangkan tv di biarkan nyala begitu saja.
"Duduk dulu." Titah Jane dan Wiliam pun menurut saja.
"Tadi aku sama Hana jalan-jalan ke toko roti terus ke toko antik dan beli boneka."
"Boneka yang ada boxnya itu?"
Jane mengangguk cepat dan ia pun melanjutkan kembali ceritanya.
"Iya pemilik tokonya ngasih gratis karena katanya kita pelanggan pertama dia." Jelas Jane.
"Mm, pasti orangnya baik."
__ADS_1
"Iya dari penampilannya juga terlihat sederhana, tapi bukan itu yang mau aku omongin." Jane mulai memasang wajah seriusnya terlihat juga ia cemas, dan takut untuk melanjutkan omongannya.
"Kamu kok gemetaran gitu sih, emangnya ada masalah apa? Jangan takut, ada aku." Digenggamnya tangan Jane dan Wiliam meyakinkan Jane untuk tidak takut membicarakannya.
"Setelah itu kita berdua ke mall, awalnya baik-baik aja gak ada masalah sama sekali tapi tiba-tiba saat kita berdua lagi duduk di tempat minuman orang-orang pada lari. Pas tahu lagi ada apa ternyata ada orang yang bunuh diri di sana."
Sontak Wiliam kaget hingga terdiam sejenak.
"Saat itu aku jadi panik dan segera bawa Hana pergi dari sana tapi aku liat mayatnya, ngeri banget mas trauma aku sampe bawa mobil pun itu sedikit gemetaran." Lanjut Jane dengan nafas yang mulai tak teratur dan juga tersengal-sengal.
Wiliam yang melihat itu pun segera memeluk sang istri dan menenangkannya menyuruhnya untuk melupakan kejadian itu dan pikirkan hal yang baiknya saja.
"Tenang Jane, lupakan kejadian itu pikirkan saja hal baiknya saat kamu berhasil membawa Hana dari sana."
Jane mengangguk cepat walau tak terasa air matanya mulai menggenang akan jatuh ke bawah.
Di sisi lain di sebuah cafe terdapat satu perkumpulan remaja yang di sana Viola juga tergabung dalam kelompok tersebut. Seperti biasa dirinya sedang sibuk sendiri dengan hpnya, di samping ia duduk ada Agam.
"Vi, kayaknya Agam jatuh cinta deh sama lho." Tiba-tiba saja salah satu dari mereka mulai membicarakan Viola membuat Viola berhenti bermain handphone.
Agam diam tak membalas ataupun melawan, sepertinya laki-laki itu sedang menahan amarahnya.
Munafik mereka semua, gue tau kok lu mau provokasi Viola. Batin Agam sembari matanya melirik Viola yang menatap tajam teman yang ada di depannya itu.
"Yang lain semuanya tau kok masalah di kantin pas Jum'at kemarin, lho ngehajar Bino gegara si Caca pacarnya itu nyebarin rumor tentang Viola." Ucapnya sembari menekan nadanya dan menunjuk dengan jari telunjuknya ke arah Agam.
"Gak ada teman laki yang mau ngelakuin itu kecuali pacarnya." Lanjutnya dengan nada meremehkan.
"Dan gak ada yang namanya pel*cur kalau gak ada dua cewe di sampingnya." Viola menyindir balik laki-laki yang di hadapannya itu sambil Viola pergi dari tempat tersebut diikuti Agam di belakangnya sembari menarik simpul senyum di wajahnya.
__ADS_1
"Berani juga si Viola sama lu Fik." Timpal yang lain yang ternyata nama playboy itu adalah fikih panggilannya Fik saja.