
Sudah sepuluh menit keduanya di kamar dan melakukan hal yang tak senonoh, sosok hantu perempuan itu dengan mata tajamnya mengintip dari lubang pintu yang sedikit terbuka.
Bunyi jam di dalam kamar hampir tak terdengar oleh suara mereka hingga mereka yang dimabuk asmara pun tak sadar kalau pintu perlahan-lahan terbuka menampakkan sosok perempuan itu.
Butuh waktu yang sedikit lama mereka menyadarinya hingga akhirnya kesadaran mereka kembali setelah barang-barang di kamar tiba-tiba bergerak sendiri. Buku buku terbuka dengan membuka halamannya sendiri, meja dan kursi bergerak tanpa ada seorang pun yang menggerakkannya. Ranjang pun kini mulai bergoyang-goyang dan Crisella yang posisinya sedang berada di bawah Wiliam kini menyadari keberadaan sosok itu di depan pintu.
Ia mulai gemetar, bibirnya kelu tak mampu membuka suara sedikit pun hingga Wiliam yang sada akan raut wajahr Crisella mulai mengikuti pandangan wanita itu. Dan betapa terkejutnya ia sosok perempuan itu tiba-tiba saja sudah berada di samping mereka menatap tajam Wiliam yang juga menatapnya.
Sekencang-kencangnya mereka berdua berteriak namun teriakan mereka berdua kalah dengan teriakan nyaring sosok itu.
"Aaaaaaa." Begitu nyaring suaranya hingga semua barang-barangnya yang terbuat dari kaca pecah terutama jendela kamar.
Pranggg
Larilah keduanya terbirit-birit dari tempat sana di tatap santai oleh sosok itu seolah mengejek mereka berdua, hantu tak bisa menyentuh tapi ia bisa bertambah kuat saat lawannya ketakutan seperti Wiliam dan Crisella.
Kini mereka menuruni tangga sambil tergesa-gesa menutupi tubuh telanjang mereka dengan selimut, di lantai satu tepatnya di ruang TV tiba-tiba saja tv itu menyala mempertontonkan acara tv yang penuh komedi dan tawa.
Kini wajah mereka berdua benar-benar pucat di sertai rasa penuh takut, Crisella bahkan sudah mengeluarkan air matanya tak kuat melihat semua itu. Saat mereka akan pergi keluar, kini di sofa di ruang tamu bergerak menghalangi jalan mereka dan tepat di saat itu terjadi sosok perempuan yang tadi kamar tiba-tiba saja sudah berada di belakang mereka sembari berbisik-bisik.
"Sshhh HA..."
"Aaaaaa....." Crisella kembali berteriak dan kemudian pingsan di pangkuan Wiliam, sedang sosok itu mundur terkekeh-kekeh melihatnya.
"Get Out." Titah perempuan itu dengan tatapan penuh kebencian.
William segera mengangkat tubuh Crisella dan pergi dari rumah itu, akan tetapi sebelum tangannya meraih gagang pintu sebuah tangan panjang dan kering memegang kedua bahunya seolah menekan Wiliam hingga membuatnya sejenak berhenti.
__ADS_1
Lalu, sosok di belang itu berbisik halus di telinga kirinya.
"Ingat! Kau dan kekasihmu itu pasti akan hancur karena sudah menghancurkan keturunan ku." Setelah berbisik seperti itu tiba-tiba saja pintu terbuka dan tangan itu mendorong kuat tubuh Wiliam hingga terperosok di tanah.
Sedang ia tak sadar kalau para tetangga sudah berkumpul di jalan dan kini terbongkar lah semua perbuatan busuknya. William segera menutupi tubuh telanjangnya tak lupa dengan Crisella yang masih pingsan.
Mulailah orang-orang berbisik-bisik di hadapannya sedang paman Dani segera menelpon polisi, begitu pun paman Chen yang membantu mengamankan Wiliam agar tak kabur.
Hancurlah ia, kini hanya ada tatapan kosong di wajahnya dan Wiliam perlahan-lahan mendongak ke arah jendela kamar atas yang terbuka karena pecah tadi, di dalamnya ada sosok baru yang sudah tua wajahnya menatap balik dengan penuh makna yang tak bisa di jelaskan secara langsung.
Di samping itu acara syukuran di rumah Bu Romlah sudah di mulai, anak-anak bersama anak-anak yang lain sedang Jane bersama dengan Bu Romlah di pekarangan luar rumah.
Suasana ramai dengan orang-orang mulai membaca ayat-ayat suci Alquran dan juga dzikir bersama. Jane hanya diam, hingga akhirnya Bu Romlah mengajaknya ke dapur lewat jalan samping rumahnya.
Di sana agak gelap karena kurangnya cahaya lampu, akan tetapi sesampainya di dapur ada beberapa ibu-ibu yang lain yang masih sibuk mengurusi berkat para tamu. Jane yang mengekor dari belakang tiba-tiba saja dari arah toilet di sampingnya, keran kamar mandi tiba-tiba menyala.
Sepertinya keran itu digunakan untuk berwudhu. Pintunya tidak tertutup sehingga Jane dapat melihatnya langsung lalu ia pun segera masuk ke toilet itu dan mematikan keran tersebut.
Bu Romlah kembali dengan membawa nampan berisi makanan, ia pun segera meminta Jane membantunya membawa nampan itu ke depan.
"Ibu Jane tolong bantu saya bawa nampan ini ke depan."
Jane berbalik lalu tersenyum membantu bu Romlah membawa nampan tersebut, kali ia dan Bu Romlah melewati pinggir rumah yang gelap. Hawa dingin mulai di rasakan Jane serta telinganya kembali mendengar suara keran yang menyala, Jane melirik sejenak sebelum akhirnya ia tetap melanjutkan jalannya mungkin ia salah dengar.
Setelah menghidangkan makanan itu pada para tamu, saat itu juga hp di sakunya bergetar.
Setelah dilihat ternyata ada panggilan dari nyonya Chen, di angkatlah telepon itu setelah ia menghindar agak jauh dari rumah.
__ADS_1
"Halo nyonya Chen ada apa?" Tanya Jane dengan hati-hati, ia masih mengingat bagaimana kejadian waktu itu. Ia pikir nyonya Chen tidak akan berbicara dengannya lagi setelah hari itu.
"Kembalilah, ada polisi di rumahmu." Tanpa banyak basa-basi nyonya Chen segera mematikan telponnya membuat Jane khawatir. Ia pun bergegas menyuruh anak-anaknya masuk ke dalam mobil, setenang mungkin Jane membawa mereka agar tak mengacaukan acara di sana. Bu Romlah yang melihat kekhawatiran di wajah Jane segera menghampirinya.
"Bu Romlah maaf saya dan anak-anak harus pergi sekarang, ada masalah di rumah." Jelas Jane meminta maaf dengan nada sedikit menyesal, Jane pikir meninggalkan acara di tengah jalan sangatlah tidak sopan tapi mau bagaimana lagi ia benar-benar khawatir setelah mendengar kabar kalau ada polisi di rumahnya sekarang.
"Tidak apa-apa, pergilah dan hati-hati di jalan." Bu Romlah menepuk-nepuk punggung Jane, memeluknya sebelum akhirnya Jane masuk ke dalam dan menjalankan mobil itu.
Di tengah-tengah perjalanan Viola bertanya pada sang ibu, karena raut wajah Jane yang tidak normal membuatnya jadi khawatir.
"Ibu ada apa? Ada masalah kah?" Tanya Viola yang duduk di samping kursi pengemudi.
"Nyonya Chen bilang sekarang di rumah kita ada polisi."
Lantas mendengar jawaban tersebut semua orang di dalam mobil itupun kaget, tak hanya Viola si kembar pun mulai ribut bertanya-tanya kenapa hal itu bisa terjadi?!
"Hah! Polisi? Sekarang? Kenapa bisa? Gak mungkin kan rumah kita kemalingan, toh pintunya juga kunci. Ayah juga pasti masih kerja sekarang." Jelas Viola.
"Iya-iya, dari dulu juga rumah gak pernah kemalingan." Timpal Reva dan Rava.
"Sudah-sudah, ibu juga masih belum tahu kenapa tapi yang penting nanti kalian semua harus tenang, diem, gak boleh banyak tanya, kalau bisa ikut dulu di rumah paman Dani atau nyonya Chen." Jelas Jane berusaha mengatur anak-anaknya nanti di sana.
"Di paman Dani ajak gak sih? Nyonya Chen gak bakalan nerima kita." Usul Reva teringat waktu dulu menginap di rumah nyonya Chen, penuh hal menyeramkan yang menyeramkan terjadi pada hari itu.
"Lo bener banget Re." Ucap Rava mendukung usulan Reva kembarannya.
Sedang Viola menggeleng, ia pikir akan lebih baik menginap di rumah nyonya Chen karena rumahnya besar tapi kalau adik-adiknya tidak setuju ia sendiri bisa apa.
__ADS_1