LILI

LILI
EPISODE 6 DI RUMAH BARU


__ADS_3

POV Hana


Hari itu sewaktu pergi ke toko antik sebenarnya Hana gak mau pergi ke sana tapi karena bonekanya terus minta tolong buat di beli yah Hana nurut. Ada kakak cantik juga yang nemenin boneka Lili, kakak itu yang sekarang jadi temen Hana.


Katanya dia kesakitan tapi Hana gak bisa nolongin, soalnya kakak gak bisa di sentuh. Kakak cantik juga pernah bilang ke Hana kalau sebenernya dia udah meninggal dari lama. Kak Reva kak Rava dan kak Viola gak bisa liat kakak cantik padahal dia selalu ada di dekat Hana.


Waktu itu Lili pernah bilang kalau Hana itu spesial kakak cantik juga bilang begitu dan sekarang pun kakak cantik ngasih tau bakal ada hantu jahat di rumah baru tapi Hana gak bisa bilang ke ibu.


~


Hari pertama masuk rumah baru terasa sangat menyenangkan, si kembar Reva dan Rava kegirangan melihat betapa luasnya rumah baru mereka.


"Ra Ra liat deh luas banget tamannya, cocok nih buat di jadiin pertandingan olahraga." Seru Reva.


"Terserah lu Rev." Jawab Rava, dia juga sebenarnya bahagia punya rumah seperti ini serasa jadi anak orang kaya beneran.


"Dingin banget lu, gak bahagia ya punya rumah se-gede ini." Ucap Reva saat jawab Rava seperti seorang gadis yang sedang merajuk.


"Udah-udah, ribut Mulu lho berdua." Viola mulai membuka suaranya merasa terganggu dengan keributan adik kembar itu.


Viola bahkan sampai memakai headset untuk menutupi telinganya sembari ia lihat seisi rumah. Ia juga berkeliling hingga ke lantai dua. Jujur sana rumah itu sangat sepi, sunyi, dan memberikan hawa dingin sekujur tubuh.


Tepat di lantai dua di depan pintu kamar yang paling besar, Viola terhenti sejenak karena ada notifikasi masuk ke hpnya.


Ting


"Gimana rumah barunya? Bagus gak?"


Sebuah pesan singkat dari Agam mampu membuat Viola tersenyum bahagia, gadis itu kembali ke lantai pertama dan tak melanjutkan kegiatan kelilingnya tadi. Di balik itu sebuah buku yang berada di kamar dengan pintu tertutup itu tiba-tiba jatuh dari rak, dan ternyata itu adalah sebuah Alkitab.

__ADS_1


Sementara Viola kini sudah di lantai satu dan barang-barang mereka sudah di masukkan ke dalam rumah dengan Jane yang terlihat sangat sibuk.


"Vi bantu ibu dong." Panggil Jane pada anaknya Viola.


Viola segera memasukkan hpnya ke dalam saku dan langsung membantu Jane.


"Di lantai dua udah di lihat-lihat belum?" Tanya Jane sembari tangannya sibuk dengan barang-barang.


Begitupun dengan Viola, ia menjawab dengan baik "Iya Bu bagus rumahnya."


Malam harinya, setelah semua beres dan semua orang sudah memilih kamarnya masing-masing waktunya mereka makan malam.


Di lantai satu terdapat satu tempat yang kosong tanpa di letakkan barang apapun, di samping lainnya ada ruang tamu dengan banyaknya sofa yang bagus. Dekat ruang tamu ada dapur dan juga meja makan. Sedangkan di bawah tangga ada dua kamar, satunya di kosongkan untuk dijadikan gudang dan satunya lagi dijadikan perpustakaan.


Di lantai dua ada lima kamar semuanya berjajar sama namun ada satu yang beda dari kamar lainnya yaitu kamar nomor 3 kamar paling tengah sebagai kamar yang paling besar dan luas. Sisanya dua kamar mandi di lantai itu, satu WC jongkok dan satunya lagi WC duduk.


Ada banyak langkah kaki di lantai dua sana, namun semua langkah kaki itu sama sekali tidak terdengar oleh mereka yang ada di lantai satu.


Dilihat dari kaki mereka yang sangat putih, mereka memakai baju yang sangat tertutup dengan tudung yang menutupi kepala mereka seperti baju biarawati.


Orang-orang itu berbisik membaca ayat-ayat mereka berbondong-bondong menuju ke kamar nomor 3.


Tok Tok Tok


Suara ketukan pintu dari depan membuat mereka yang sedang makan itu terhenti. Jane bangkit hendak membuka pintu tersebut.


"Uh kayaknya mereka udah pada datang deh." Ucap Jane membuat Viola dan si kembar bingung karena tak tahu siapa yang datang.


"Siapa Bu? Tetangga?" Tanya Viola, namun karena Jane sepertinya sedang terburu-buru ia tak menjawab pertanyaan Viola.

__ADS_1


Dan kejutan...


Ternyata paman Dani Bibi Laura, dan keluarga Chen datang untuk mampir ke rumah baru keluarga Bell di hari pertama. Mereka bersama-sama masuk memeriahkan suasana yang tadinya sepi, Viola dan si kembar sangat bahagia akan kedatangan mereka.


Hana mengekor dari belakang sembari memeluk boneka Lili di dekapannya. Keluarga Chen yang di kira sudah tak lagi suka pada keluarga Bell ternyata tidak, waktu itu nyonya Chen tak ingin ikut campur dengan masalah berat yang di alami keluarga Bell sebelumnya.


Mengingat dirinya juga harus menjaga anak-anaknya yang banyak, dan Jane memakluminya. Hari ini dengan kedatangan mereka itu sudah cukup membuat anak-anak Jane bahagia.


Nyonya Chen memeluk masing-masing anak Jane tak lupa ia memeluk Hana dan mengusap pucuk kepala Hana dengan sayang.


"Gadis kecil kau selalu cantik." Kata nyonya Chen sebelum akhirnya ia menunjukkan barang bawaan seperti kue, roti, dan lainnya.


Kebahagiaan di rumah itu berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di rumah Crisella, di sana hanya terdengar suara garpu dan sendok.


Suasana di meja makan itu benar-benar tidak baik-baik saja, raut wajah mereka kusam setelah mengalami permasalahan akibat berita waktu itu. Orang tua Crisella tak bisa mengatasinya dan hanya bisa menunggu berita itu hilang di telan waktu.


Perusahaannya sedikit terganggu tapi gangguan itu tidak terlalu besar, namun berbeda dengan kehidupan ibunda dan Crisella. Dimana mereka berdua seolah sedang dikucilkan di pergaulan sosial mereka, sudah biasa kalau mereka di hormati tapi sejak berita itu muncul tak ada satu pun orang yang mau mengundang keduanya ke acara-acara orang konglomerat.


Dengan berbagai alasan mereka tak mengundangnya, namun ada juga yang mengundang tapi setelah ikut ke acaranya malah tidak di anggap keberadaannya.


Kejadian seperti itu membuat mereka semakin lama semakin depresi, ibunda juga tak lagi mengurusi kehamilan Crisella anaknya. Ia sudah tak memikirkan hal itu dan lebih mementingkan bagaimana kehidupan sosialnya saat ini.


"Wiliam!" Panggil ayah Crisella pada Wiliam. Wiliam menengadah lalu menatap mata ayah mertua.


"Iya pak?" Jawab Wiliam tanpa panggilan ayah pada mertuanya itu.


"Kamu tidak lupa kan kalau Crisella sedang mengandung anakmu? Rawat baik-baik awas saja kalau sampai Crisella keguguran!" Ayah mertua mulai memberikan peringatan tegas.


Sudah makanan sehari-hari Wiliam di peringati hal seperti itu di setiap makan malam.

__ADS_1


__ADS_2