
Tepatnya Jam 8.30 Malam, saat ini Jane sudah berada di kantor polisi di temani Bibi Laura istri paman Dani. Sedangkan itu Wiliam sudah tak telanjang lagi, pria itu kini sedang di tahan bersama Crisella di dalam sel penjara.
Sekarang Jane sedang berbincang-bincang dengan polisi di bantu Laura di sampingnya. Jane sebenarnya masih tak percaya dengan apa yang terjadi, perselingkuhan suami dan kehancuran rumahnya.
"Kami sudah bertanya berkali-kali akan tetapi jawaban dari pak Wiliam tetap sama, semua kerusakan yang terjadi di rumah ibu Jane karena hantu di rumah itu." Kata pak polisi sambil bergeleng-geleng sebelum akhirnya ia kembali melanjutkan ucapannya.
Mungkinkah polisi mengira William sakit jiwa, Crisella masih belum bangun juga hingga sulit mencari jawaban darinya. Kalaupun dilihat lebih teliti Crisella sepertinya sudah bangun sejak tadi akan tetapi gadis itu berpura-pura tidur menutupi rasa malunya.
"Gadis itu masih belum bangun juga sehingga kami harus menunggu jawabannya saat ia sadar nanti, di lihat dari cctv rumah pun hanya ada satu yaitu cctv diluar rumah sehingga sulit menemukan siapa dalang dari kerusakan di rumah itu." Lanjut pak polisi.
Jane sudah tak fokus, pikirannya kacau dan ia hanya ingin beristirahat saja menenangkan diri dari masalah-masalah ini. Hatinya sakit, marah, benci saat melihat sang suami menatapnya dari dalam sel penjara.
Berulang kali Jane menghela nafas berusaha menahan rasa sesak di dadanya sedang bibi Laura mengusap punggungnya membantu Jane agar tetap tabah.
"Untuk itu kami meminta ijin menyelidiki kasus ini lebih lanjut kalau-kalau mereka berdua menjawab pertanyaan dengan sama, serta kami juga akan membawa psikiater untuk mereka."
Cukuplah pak polisi mengatakan semua itu sebelum akhirnya Jane memberikan pertanyaan menohok pada polisi di hadapannya tersebut.
"Tidak usah! Saya tidak akan memberikan ijin melanjutkan kasus kerusakan di rumah saya, saya hanya berharap pada pihak kepolisian mengatasi kasus perselingkuhan suami saya!" Jane meluapkan emosi di dalamnya.
"Tentu, tentu kami akan melakukannya. Tapi setelah kami cek identitas wanita itu ternyata dia adalah anak orang yang terpandang jadi kami pihak kepolisian harus berhati-hati menjalani kasus ini."
Ucapan polisi itu sontak membuat Jane bertambah emosi, akan tetapi Laura segera menenangkannya agar tak membuat keputusan yang salah.
"HANYA KARENA DIA ANAK ORANG KAYA HUKUM PUN JADI TIDAK BERGUNA!!"
__ADS_1
Brak
"Jane, Jane tenanglah tenang.."
Di ruang kepolisian, semua orang di buat terkejut dengan teriakan Jane barusan namun secepat mungkin Laura menjauhkan Jane dari sana membawanya duduk di ruang tunggu lalu memberikannya air minum.
"Tenanglah dulu, pikirkan keputusan yang paling tepat untukmu untuk anak-anak mu di masa depan! Kalau kamu cuma bisa marah-marah di sini itu hanya akan meringankan hukuman mereka." Bisik Laura memberi nasihat dengan raut wajah yang sangat serius.
Jane terdiam sejenak memikirkan kembali ucapan Laura, menenangkan diri setenang mungkin sampai ia menghembuskan nafas dengan cepat penuh yakin akan keputusan yang ia buat saat ini.
Di Samping Itu
"Kalian semua akan tidur di sini, maklum saja tidak ada kamar lain yang kosong semuanya sudah terisi dengan barang bekas." Ujar Paman Dani sembari menghamparkan karpet di lantai depan TV.
Disiapkannya Bantal, Guling, selimut, pengharum serta AC dibantu oleh anak-anak terutama Rava sebagai anak laki-laki di sana.
"Makasih banyak paman Dani, kalau tidak dengan bantuan paman dan bibi kami semua mungkin tidak bisa tidur malam ini." Reva berterima kasih pada Paman setelah tempat tidur mereka sudah siap di pakai.
Mendengar itu, paman Dani mengangguk dan setelahnya mempersilahkan mereka tidur sesegera mungkin karena waktu sudah hampir menunjukkan jam 9 malam.
"Sama-sama, nah sekarang kalian semua tidurlah ini sudah malam." Titah paman Dani dengan lembut.
"Kalau kalian mau makan di tengah malam, masak saja mie yang ada di rak dapur sana. Cemilan pun banyak di meja." Lanjutnya sembari menunjuk arah dapur di depan samping sana lalu meja dekat sofa.
"Baik paman." Serentak semuanya.
__ADS_1
Kini, Viola menghampiri paman Dani dan mengucapkan rasa terimakasihnya karena telah menampung ia dan juga adik-adiknya. Paman Dani menepuk-nepuk pundak Viola memberikan semangat pada gadis itu, mengingat permasalan keluarganya yang terlihat rumit.
Setelah itu Viola, si kembar bergegas merebahkan diri di karpet menutup diri. "Hana, sini." Seru Viola memanggil Hana untuk segera tidur.
Hana menurut saja lalu setelahnya ia pun segera di selimuti oleh Viola menepuk dahinya sebentar agar Hana cepat-cepat tidur.
Rava dan Hana segera menutup mata mereka dan tertidur setelahnya akan tetapi berbeda dengan Reva dan Viola yang sibuk sendiri dengan hpnya masing-masing.
Kali ini saat Viola membuka HP bukannya senang ia malah di buat kesal, marah setelah melihat beberapa postingan temannya yang benci padanya membeberkan kejadian di rumahnya magrib tadi. Foto dan video singkat tentang bagaimana William telanjang bersama Crisella tersebar cepat di Instagram bahkan mungkin di WhatsApp.
Puluhan chat dimulai dari WhatsApp, Instagram, telegram dan aplikasi chat lainnya terus berdatangan menimbulkan notifikasi di hpnya menjadi eror saking banyaknya pesan yang masuk.
Terutama Agam yang juga dengan cepat mengirim pesan bahkan sampai telpon berulang kali akan tetapi langsung di tolak cepat oleh Viola. Lantas Viola yang kesal melihat hp kini segera membanting ringan ke pahanya, ia masih sayang dengan harga hp yang ia pernah beli dengan harga fantastis itu.
Viola segera merebahkan diri lalu tidur agar melupakan semua yang tadi masuk ke notifikasinya. Tak berbeda jauh dengan Viola, Reva juga mengalami hal yang sama bedanya Reva masih dalam jangkauan yang pendek yaitu sebatas lewat WhatsApp saja dan tidak dengan Viola yang hampir di berbagai aplikasi media sosialnya.
Berbanding terbalik dengan kakaknya Viola yang segera mengacuhkan semua notifikasi yang masuk, Reva malah membalas semua pesan yang terkirim padanya. Hujatan yang dilontarkan padanya di balas kembali oleh Reva dengan tajam, setajam silet.
Satu jam kemudian selesai lah permasalahannya dengan teman-teman di sekolahnya, menarik nafas panjang-panjang sebelum akhirnya di buang, Reva lantas dengan santainya memulai tidur panjang malam ini.
Ternyata, paman Dani belum tidur dan ia begadang menjaga rumah di luar sambil menikmati segelas kopi dan berbincang dengan satpam yang selalu berkeliling di kompleks itu. Satpam itu bernama pak Hanip.
Perbincangan mereka berdua beragam di sepanjang malam ini, satu bungkus rokok dan kopi tak cukup untuk mereka hingga perlu juga mereka memakan cemilan yang ada di rumah.
"Semoga Allah selalu melindungi anak-anak, kasihan mereka ya Allah." Pak Hanip mulai berdo'a meminta perlindungan pada anak-anak Jane yang kini sedang tidur lelap di dalam rumah paman Dani.
__ADS_1
"Amin Amin." Ucap Paman Dani mengamini do'a pak Hanip.