
Dalam Kelas
Viola yang sudah duduk di kursinya kini sedang di tatap oleh teman-teman sekelasnya, walau mereka masih tak berani secara terang-terangan melawan Viola akan tetapi Viola tahu mereka sedang menggosipkan dirinya saat ini.
Namun Viola punya sifat acuh tak acuh, tak peduli asal rumor itu tidak sampai membuatnya dikeluarkan itu masih di anggap sebagai batas normal.
Hingga tiba-tiba saat dirinya sedang bermain HP, seseorang menelponnya dan tertera nama di sana yaitu "Viandra Bell." Kakak sulungnya. Segera Viola keluar dan mengangkat telpon tersebut, hatinya senang karena sang kakak menelponnya dari sekian lama ini.
"Halo."
"Halo Vi." Jawab Viandra dari seberang sana.
"Iya kak, ada apa? Viola pikir kakak sibuk, kakak baik-baik aja kan?"
"Iya Vi, walaupun di sini kakak lagi kuliah untungnya masih ada waktu buat telpon. Kakak juga di sini baik, kamu sama yang lain gimana? Kakak sempet khawatir denger kabar Hana masuk ke rumah sakit."
"Kondisi Hana udah mendingan sekarang, ibu baru aja chat tadi."
"Syukurlah, kirim sapa ya dari kakak soalnya tugas di sini belum selesai udah dulu ya, Dah." Viandra mulai menghentikan obrolan mereka berdua dan Viola terlihat sedih karena mereka hanya mengobrol sebentar padahal selama ini kakaknya selalu saja sibuk.
"Iya kak, jangan lupa jaga kesehatan, dah."
"Hm, iya dah."
Klik
Telpon pun berakhir dan setelah itu Viola kembali masuk ke dalam kelas. Lalu, saat baru saja ia masuk seseorang datang dengan membawa kabar heboh dari kantin.
"WOY WOY ADA YANG BERANTEM DI KANTIN."
"SIAPA WOY SIAPA?"
"ITU SI AGAM ELVANO."
Sontak Viola yang mendengar nama Agam temannya itu ia segera berlari ke kantin di ikuti puluhan anak-anak di belakangnya yang juga ikut penasaran.
Dan benar saja, sesampainya ia di kantin terlihat Agam sedang berkelahi dengan seorang laki-laki yang seumuran dengannya. Agam yang dengan wajah penuh amarah itu membabi buta memukul wajah lawannya sampai berdarah-darah.
__ADS_1
"AGAM." Panggil Viola berusaha menghentikan Agam akan tetapi sepertinya Agam kehilangan akalnya dan tak peduli walau orang-orang sudah berkumpul melihat aksinya tersebut.
Tak lama penjaga sekolah datang dan segera memisahkan mereka berdua, lantas keduanya pun di bawa ke ruang BK, Viola pun ikut menemani Agam sedangkan lawannya yang bernama Bino itu di temani Caca teman yang tadi menghasut Viola.
Kini sesampainya di ruangan BK, mereka berdua pun di interogasi layaknya seorang pidana.
Guru BK sekaligus wakil kepala sekolah yang menginterogasi bernama Pak Johan, wajahnya tegas dan badannya kekar menjadi bulan-bulanan para siswi bergosip tentangnya. Gosipnya bisa berbagai hal entah itu tentang postur tubuhnya, tentang kedisiplinannya, tentang wajah sangarnya dan cara ia mendidik siswa-siswinya.
"Berani-beraninya kalian buat keributan di sekolah ini apalagi di waktu istirahat!"
"Sudah merasa so paling di kasta tinggi kalian ya! Mentang-mentang sudah kelas 3!"
"Dengan reputasi yang baik di sekolah ini beraninya kalian mencoreng nama sekolah dengan tindakan kalian berdua! Tidak tahu malu!!"
"Pokoknya hari Senin bawa orangtua kalian ke sini, biar tau kelakuan anaknya gimana!!"
Suasana pun seketika hening saat pak Johan menghentikan sejenak ucapannya.
"Kenapa kalian berantem seperti itu hah, apalagi kamu Agam sampe buat temanmu bonyok seperti itu?!"
Kini terlihat jelas kondisi Bino yang babak belur namun tak kunjung di obati di biarkan begitu sampai interogasi selesai.
Agam menghela nafasnya kasar membuat pak Johan yang melihatnya pun marah padanya.
"AGAM, saya sedang bertanya sama kamu sekarang! Bukannya jawab malah diem!"
"Bapak gak adil, kenapa cuma saya yang dimarahi tapi Bino gak."
Lantas mendengar Agam mengeluh seperti anak kecil itu membuat mereka semua yang ada di sana terdiam dengan wajah terkejut namun juga terasa aneh.
Pak Johan kebingungan ia pun segera membentak Bino dengan menyebut namanya secara lantang, "BINO, saya juga tidak bisa mentoleransi kamu ya! Bisa jadi kamu biang keroknya."
"Nah itu pak bener, si Bino biang keroknya." Agam segera mengeluarkan suaranya kini auranya berbeda dengan yang di kantin tadi.
Bino yang ingin membela diri sendiri malah kesulitan berbicara akibat mulutnya yang bengkak serta giginya yang terlihat akan copot.
"N-n-gga pa b-u-kan saya." Ucap Bino terbata-bata hingga nyaris terdengar hanya sebuah erangan saja.
__ADS_1
"Sudahlah biar hari Senin tanggal penentuan kalian di scors atau tidak! Atau mungkin salah satu dari kalian di keluarkan atau bisa jadi dua-duanya. Ingat! Tanda tangani surat ini dan dua hari ke depan kalian akan di awasi."
Suatu pengawasan yang biasa di lakukan kalau ada dari siswa-siswi nya yang melanggar aturan sekolah, biasanya pengawasan ini dilakukan oleh siswa lain yang terorganisasi dan bergabung bersama OSIS.
Setelah keduanya bertanda tangan di surat panggilan orang tua, semuanya pun kembali ke kelasnya masing-masing. Namun ternyata tak terasa hari sudah mulai siang menandakan waktu sebentar lagi akan pulang sekolah.
Kebetulan Viola dan Agam satu kelas namun berbeda kelas dengan Caca dan Bino. Hingga mereka tak akan ribut di kelas.
Sesampainya di kelas orang-orang pada melihat keduanya apalagi Agam, pemeran utama hari ini sebagai salah satu kandidat utama calon ketua geng paling seram kalau menyangkut masalah tonjok-menonjok.
Kini mereka tak berani melawan Agam setelah melihat kejadian di kantin tadi, sungguh Agam benar-benar sangat kejam dan tak berperasaan saat memukul Bino di wajahnya.
Singkat cerita selesailah sekolah hari ini dan mereka pulang jam 11, Viola dan Agam kembali pulang bersama tak lupa Agam mengantar Viola ke rumahnya.
"Gak ada yang sakit kan Gam?" Tanya Viola saat mereka berdua di atas motor.
"Kagak cuma bingung masalah orang tua." Jawab Agam, mengingat orangtuanya sibuk bekerja di luar kota yang ada di rumah cuma bibi dan pelayan rumah lainnya.
Bisa di bilang Agam adalah anak orang kaya dengan semua fasilitas yang ada di rumahnya, bahkan sering ganti merk motor tidak jadi masalah untuknya hanya saja ia jarang bertemu dengan kedua orang tuanya sehingga ia kekurangan kasih sayang dari orang tua. Walau ada bibi, pengasuh dari ia sejak bayi namun tetap saja terasa berbeda dengan kasih sayang ibu yang sebenarnya.
Viola yang tahu masalah itu ia mengangguk dan segera ia pun mencari solusi "Kalau orang tua lho gak bisa datang, gue bisa minta tolong sama ibu. Toh orang tua kita juga udah kenal lama." Ujar Viola.
"Makasih ya Vi, tapi gue gak enak sama bibi Jane dia juga pasti sibuk."
"Sesibuk apapun ibu, kalau tentang membantu teman anaknya pasti ia bakal luangin waktu." Jelas Viola.
Agam tersenyum dalam hatinya ia sangat senang punya teman yang ibunya sangat baik dan ramah berharap ibunya juga seperti itu padanya.
"Thanks."
"Yoi."
Mereka pun akhirnya sampai di rumah Viola dan berpisah di sana, namun sebelum mereka benar-benar berpisah Viola masih punya pertanyaan di benaknya.
"Gam, lho masih belum kasih tau kenapa bisa berantem sama Bino." Ucap Viola sembari dirinya melepas helm.
"Nanti aja Vi, sekarang gue mau istirahat di rumah." Agam pun mengambil helm yang di pakai Viola lalu menyimpannya di bawah.
__ADS_1
"Yaudah gue tunggu, hati-hati di jalan."
"Oke." Agam menatap Viola dengan lembut sebelum akhirnya ia pergi dari sana.