LILI

LILI
EPISODE 4.7


__ADS_3

Seperti yang di harapkan mereka semua pun tidur bersama namun tidak di kamar siapapun melainkan di ruang tv yang di ubah menjadi tempat tidur yang nyaman, sepanjang malam mereka tak tidur tapi bercanda bersama. Bercerita apapun yang bisa membuat mereka tertawa, sembari menonton tv terkadang mereka mengomentari apa saja yang di tayangkan di sana.


Hari terus berganti siang malam langit terus berputar dan bumi mengelilingi porosnya. Bukankah itu indah sebuah kenikmatan dari tuhan yang tak tertandingi tapi keindahan itu tak bisa di nikmati oleh mereka yang menutup diri dari keindahan.


Ketakutan akan adanya kesedihan setelah kebahagiaan. Kau akan menemukan seseorang yang tersenyum, tertawa, seolah mereka orang yang paling bahagia. Tapi tidak! Itu hanyalah tipuan untuk menghibur diri yang sebenarnya ingin bunuh diri.


"Bu kita mau pindah rumah kemana?" Sembari memakai dasi Reva bertanya pada sang ibu yang kini bersiap-siap untuk menghadiri sidang terakhir.


"Ibu belum tahu tapi semoga aja masih ada rumah yang mau di jual dengan harga rumah." Jawab Jane dengan senyum manis di wajahnya, penampilannya saat ini rapi bersih dan sangat cantik.


"Bu, Viola berangkat." Seru Viola dari depan sana.


Begitu Viola keluar Agam masuk ijin pamit pada Jane, tak lupa ia berbicara singkat dengannya.


"Pagi Tante, Agam baru mau jemput Viola mau ijin berangkat sama Tante hehe." Agam cengengesan sembari giginya terlihat.


Jane yang memang sudah dekat dengan remaja laki-laki itu, ia langsung menepuk pundaknya.


"Iya-iya pergilah tetap hati-hati berkendara." Tak lupa Jane mengingatkan Agam akan caranya mengendarai motor yang kadang ugal-ugalan.


"Siap Tante, oh iya Viola pernah cerita ke Agam katanya Tante cari rumah baru?" Ujar Agam.


Jane yang mendengarnya pun sedikit terkejut yah walaupun sebenarnya wajar Agam mengetahui hal itu.


"Benar." Jawab singkat olehnya.


Agam tersenyum karena dirinya mempunyai sesuatu yang mungkin bisa membantu Jane menemukan rumah baru.

__ADS_1


"Kebetulan saya punya kenalan, Tante. Dia tahu betul mengenai rumah-rumah daerah sekitar sini terlebih rumah-rumah yang mau di jual. Kalau Tante mau bertemu dengannya, Agam bisa kok bantu." Jelas Agam.


Jane merasa senang mendengarnya, sedikit-sedikit masalahnya pun hilang tak menumpuk seperti dulu.


"Terimakasih nanti Tante telepon kamu, kamu berangkat gih tuh Viola udah nungguin kamu." Tunjuk Jane ke arah pintu depan dimana Viola sedang berdiri menunggunya sembari terus-menerus melihat ke arah jam tangan seolah gadis itu sedang terburu-buru.


Kembali Agam pamit dan mereka pun akhirnya berangkat bersama menggunakan motor.


Singkat cerita Jane kini sudah berada di persidangan bersama pengacaranya, menunggu hasil keputusan hakim mengenai hak asuh dan juga harga benda. Persidangan tak berjalan lama hanya beberapa jam saja hingga keputusan akhir pun berhasil di keluarkan oleh sang hakim.


Bahwasanya Jane mendapat hak asuh anak-anak sedang Wiliam akan bertanggung jawab dengan anaknya yang kini sedang di kandung oleh Crisella. Putuslah ikatan hubungan suami istri dan Wiliam hanya dapat bertemu anak-anak Jane dua kali dalam sebulan menurut waktu yang di tentukan bersama.


Dikarenakan Wiliam tak mempunyai harta benda yang banyak ia akhirnya tidak bisa memberikan apapun pada anak-anak Jane akan tetapi ia akan memberikan sejumlah uang sebagai tanggung jawabnya sebagai ayah.


Kini saat mereka di parkiran pun William beberapa kali melirik ke arah Jane dan hanya satu kali Jane melihatnya dan itu pun hanya sepersekian detik saja sebagai tatapan perpisahan mereka berdua.


"Selamat Bu Jane anda memenangkan persidangan ini." Ucap pengacaranya Jane memberinya selamat keberhasilan dan tugas ia sebagai pengacara pun selesai.


"Kalau bukan karena bantuan anda kemenangan ini mungkin tidak jatuh padaku." Jane tetap merendah diri.


Pengacara itu kembali berkata akan sesuatu yang menyentuh hati "Hukum itu adil dan kemenangan akan selalu berada pada mereka yang berbuat baik."


Begitulah akhir perbincangan Jane dengan sang pengacara, kali ini ia yang memang sedang cuti kerja pun menyempatkan diri untuk melihat rumah-rumah di sekitar yang mungkin sedang di jual.


Dengan kecepatan yang sangat lambat Jane mengendarai mobilnya di jalanan yang penuh dengan kendaraan yang melesat cepat. Jane tetap santai ia masih fokus melihat rumah-rumah yang ada, hingga pada di suatu titik ia berhenti di pinggir jalan karena ada panggilan telepon yang masuk.


Tertera di sana 'VIANDRA BELL' itu artinya anak sulungnya sedang senggang hingga bisa menyempatkan diri menelpon.

__ADS_1


Sebelumnya Jane memang sudah mengabarkan kejadian-kejadian itu pada Viandra lewat surat panjang di email. Viandra yang memang tak bisa kembali hadir mendampingi sang ibu hanya bisa memberinya dukungan penuh oleh Vian.


Walaupun sebenarnya dalam hati Viandra tak percaya akan masalah besar yang datang pada keluarganya saat ia sedang di kota yang berbeda.


"Halo Bu apa kabar?" Sapa Viandra di seberang sana.


Jane sudah memarkirkan mobilnya tepat di dekat pagar mewah yang di dalamnya terdapat rumah serta taman yang besar akan tetapi Jane belum melihat ke sampingnya karena ia fokus pada pembicaraannya dengan Viandra.


"Ibu baik gimana kabarmu nak? Makan dan tidur mu teratur di sana?" Tanya Jane.


"Iya Bu Vian di sini sehat, makan dan tidur juga teratur."


"Syukurlah, hari ini kamu senggang ya nak?" Jane takut Vian yang masih sibuk memaksakan diri untuk menelpon dirinya.


Viandra pun segera menyanggahnya karena memang ia hari ini benar-benar senggang apalagi Tara yang sudah dinyatakan boleh pulang ke rumah karena sudah lumayan sehat.


Setelah itu perbincangan mereka pun dialihkan ke video call dan pada akhirnya inti dari telpon ini adalah membicarakan tentang hasil persidangan. Jane pelan-pelan menceritakan kejadiannya dan begitupun Viandra yang sabar mendengarnya.


Pada akhirnya Viandra tetap mendukung sang ibu dan selalu mewanti-wanti agar Jane tak bersedih karena masih ada adik-adik Viandra yang membutuhkannya.


Setelah pembicaraannya selesai, Jane melirik ke arah samping melihat sebuah rumah yang megah dengan taman besar di depannya akan tetapi rumah itu di pagar dengan rantai yang sudah karatan.


Jane tak tertarik dengan rumah itu walaupun rumah itu di jual, karena yang pasti harganya pasti mahal dan luasnya akan terlalu lebar untuk jumlah anggotanya yang sedikit.


Lantas Jane pun segera menyalakan kembali mobilnya tanpa ada niatan mencari tahu rumah itu di jual atau tidak. Dan pada akhirnya ia datang ke perusahaan dan bekerja setengah hari di sana, untungnya bos di perusahaan nya itu orang baik serta rekan-rekan kerja yang selalu mendukungnya.


Di selesaikanlah pekerjaannya yang ada itu sampai benar-benar selesai dan selama setengah hari itu Jane kembali ke rumah saat hari sudah mulai sore

__ADS_1


__ADS_2