LILI

LILI
EPISODE 6.3


__ADS_3

Ngiung-ngiung


Suara sirine ambulan meramaikan tempat itu, Viola menjadi salah satu orang dewasa yang akan bertanggungjawab. Adik-adiknya yang masih kecil mengikut ia dari belakang. Hari itu juga semuanya berdoa akan keselamatan sang ibu.


Bergegas mereka membawa Jane ke ruang operasi sedang anak-anak menunggu di luar. Viola mulai menghubungi sang kakak yang ada luar sana.


"Halo Vio, ada apa malam-malam begini nelpon?" Tanya Viandra dengan suara lemah seperti baru saja bangun tidur.


"Kak, ibu..."


Viola lalu menjelaskan panjang lebar di telepon, hingga saat Viandra mengetahui hal tersebut ia bergegas membereskan sesuatu.


"Yaudah kamu jaga adik-adik dulu, kakak bakal pulang sekarang."


"I-iya kakak hati-hati di jalan."


Panggilan pun di tutup, kini mereka hanya tinggal menunggu operasi Jane selesai dan menunggu kepulangan kak Viandra.


Malam itu menjadi malam yang kelam, Viola tak bisa tidur begitu pun dengan yang lain. Raut wajah mereka sama-sama layu, ingin rasanya tidur lelap tetapi rasa takut melebihi rasa kantuk.


"Reva Rava tidur gih, bahaya kalau di bobo-in." Ucap Viola menyuruh adik kembarnya itu tidur.


Walaupun harus tidur dengan posisi duduk, asal mereka dapat tidur sebentar itu sudah cukup untuk mereka.


"Hana juga, nih nyender aja di sini."


Puk Puk Puk


Viola menepuk bahu kanannya agar Hana tidur dan menyandar di bahunya, samping kiri Viola ada Reva dan di sebelah Reva dan Rava.


"Terus kak Viola kapan tidurnya?" Tanya Reva yang juga mengkhawatirkan si kakak.


"Nanti bergiliran." Jawab Viola.

__ADS_1


Mendengar itu Rava yang di ujung sana mulai menyandarkan kepalanya ke dinding sedang Reva menyandarkan kepalanya ke bahu Rava. Begitulah ketiga adik Viola tidur dengan rasa khawatir dalam hati mereka.


Takut ada apa-apa pada ibu mereka, sudah cukup mereka kehilangan seorang ayah tak mau lagi kehilangan orang yang paling di sayangi.


Viola sangat berharap kedatangan Kak Viandra, agar beban dalam pikirannya sedikit terangkat dan di bantu oleh sang kakak.


Setelah operasi selesai dokter mengatakan kondisi Jane saat ini masih belum stabil, akan membutuhkan waktu yang lama agar cepat sembuh sekitar satu sampai dua Minggu.


Peluru yang masuk ke dada sebenarnya sangat beresiko tinggi seperti kelumpuhan atau kematian, bahkan ada beberapa gejala yang akan di alami pasien setelah operasi pengambilan peluru. Saat ini Jane masih belum sadarkan diri akibat efek dari obat bius.


Pagi harinya kak Viandra datang ke rumah sakit, pemuda tampan itu ternyata hanya membawa satu tas saja berisi dompet, laptop, obat-obatan pribadi, dan setelan pakaian yang sedikit.


Setelah bertemu dengan keempat adiknya, Viandra langsung memeluk mereka melepas rindu. Mengingat sudah lama mereka tak bertemu kembali.


Setelah kedatangan Viandra barulah ia yang mengurus semuanya menggantikan Viola. Kali ini Viola bisa bernafas dengan lega, rasa bahagia juga di rasakan olehnya.


Agam pun segera menemui Viola setelah mengetahui kejadian tersebut, ia datang setelah Viandra datang beberapa puluh menit lalu.


"Vi lho gak apa-apa kan?" Setelah memeluk sahabatnya itu, Agam segera menanyakan keadaannya.


Viola mengangguk ia juga memberitahu bahwa kak Viandra juga datang kemari. Mendengar hal itu Agam tersenyum bahagia, ia juga rindu dengan Viandra. Dulu sebelum kak Vian belum kuliah Agam juga sering bermain dengannya.


Beberapa saat kemudian Viandra datang kembali setelah dari depan sana, rupanya ada dua orang polisi yang ikut bersamanya dari belakang meminta penjelasan pada Viola terkait kejadian malam itu.


Kemarin malam polisi belum bisa bertemu dengan Viola, mengingat gadis itu masih trauma dengan kejadian tersebut. Namun dikarenakan sudah ada kakaknya Viandra, raut wajah Viola sudah berbeda dari sebelumnya.


"Nona Violla Bell bisa ikut dengan kami sebentar bersama kakaknya juga boleh." Kata pak polisi dengan senyum yang ramah.


"Agam kan?" Sapa Viandra sebelum ia pergi bersama pak polisi.


Agam mengangguk dengan full senyum. "Hehe iya kak ini Agam."


"Udah lama ya kita gak ketemu, tapi Gam maaf ya sebelumnya boleh jagain dulu adik-adik gak nanti kita ngobrol lagi." Ucap Viandra sembari berjabat tangan dan juga menepuk ringan bahu Agam.

__ADS_1


"Oh iya kak siap." Jawab Agam dengan semangat.


Mereka bertiga yang masih kecil itu rupanya ada di dalam ruang pasien, duduk di pinggir ranjang pasien di mana Jane masih menutup matanya belum sadarkan diri.


Lantas setelah Vian dan Viola pergi, Agam masuk menghampiri mereka bertiga. Menyapanya dan mulai melakukan pendekatan, terlebih dahulu ia basa-basi pada mereka.


Di sela-sela obralan mereka, Vian mengetikan sesuatu di hpnya. Ia menyuruh bodyguardnya untuk membeli beberapa makanan dan juga buah-buahan lalu bawakan ke sini segera.


"Kak Agam gak pacaran sama kak Vio?"


Agam tersentak mendengar pertanyaan dari Reva yang memasang raut wajah biasa saja tapi tidak dengannya.


"Kakakmu itu jutek tapi kak Agam lagi berusaha, kalian beri restu kan kalau kami berdua bisa nikah?" Agam terkekeh kecil mendengar ucapan dirinya sendiri.


Dikarenakan ia juga tak tahu harus bagaimana melanjutkan obrolan mereka, lantas ia pun hanya bisa bergurau seperti itu.


"Iya kak iya pasti itumah." Jawab Reva.


Suara notifikasi berbunyi dari HP Agam, pesan singkat dari bodyguardnya itu membuat ia merasa bahagia. Makanan yang ia pesan sudah ada dan kini bodyguardnya itu sedang menunggu di depan sana.


"Bentar ya."


Agam lalu keluar mengambil makanan-makanan tersebut, ia kembali dan memberikan kejutan pada mereka bertiga.


Terlihat bahagia dari raut wajah mereka, semangat mereka kembali muncul melihat makanan enak kini ada di hadapan mereka. Akhirnya mereka berempat pun bersama-sama menyantapnya sembari membicarakan hal lucu lainnya. Agam semampunya mungkin membuat obrolan mereka tidak pada kejadian kemarin malam, biarlah mereka melupakannya agar tidak membuat mereka trauma.


Di samping itu, Viola dan Viandra kini sedang bersama para polisi. Viola ceritakan apa yang terjadi saat malam itu. Ceritanya sangat singkat karena Viola hanya tahu saat kejadian itu sudah di detik-detik terakhir.


Rekan pencuri yang di tinggalkan oleh temannya itu kini sedang di interogasi selepas sadarkan diri, memang benar ia dapat pukulan keras akibat hantaman dari Jane tapi itu tak membuatnya sampai di operasi seperti Jane saat ini.


"Kami akan melakukan yang terbaik agar menangkap satu pelaku lagi, kami juga berusaha semaksimal mungkin agar barang-barang yang di curi bisa kembali lagi " Jelas pak polisi.


Pada akhirnya Viandra dan Viola menyerahkan kasus itu sepenuhnya pada kepolisian, dikarenakan ia juga tak mampu melacak di pelaku. Mereka berdua hanya bisa berdoa orang yang menembak ibu segera tertangkap.

__ADS_1


"Ayo Vi kita kembali ke rumah sakit." Ajak Viandra.


Viola mengangguk dan akhirnya mereka berdua kembali ke rumah sakit bersama. Berita tentang perampokan itu akhirnya tersebar luas. Paman Dani, bibi Laura, keluarga Chen, bibi Romlah dan Vincent serta kakek toko antik pun tahu tentang kejadian itu.


__ADS_2