
Di luar cafe Agam segera membawa Viola pergi dari sana membawanya pulang ke rumah. Jalan yang mereka lewati adalah jalan yang sama yang di lalui Jane sesaat ke mall.
Terjadi kemacetan di sana hal itu membuat kepulangan mereka jadi terlambat, saat melewati mall itu keduanya pun di buat terkejut akan keramaian yang ada di sana terlebih wartawan yang mendominasi.
"Ada apa sih rame-rame gitu?" Ucap Viola yang sedikit penasaran.
"Gak tahu, pasti bakal ada berita baru di internet kalau diliat dari banyaknya wartawan di sana." Pikir Agam.
Beberapa puluh menit berlalu barulah mereka berhasil lolos dari kemacetan, kini mereka berdua sudah berada di jalan yang kosong melompong dan hanya beberapa pengendara lainnya di sana.
Hingga dengan penuh percaya diri Agam mencoba untuk menaikkan kecepatan motornya, karena kali ini bawa ia bawa motor gede sehingga kecepatan yang ada pun bisa melebihi motor biasa.
Dari belakang Viola mewanti-wanti untuk terus berhati-hati sampai ia harus berteriak supaya Agam menurunkan kecepatan motornya.
"AGAM JANGAN NGEBUT." Sekencang dan seerat mungkin Viola memegang jaket dan memeluk Agam akan tetapi Agam terlihat senang menjahili Viola.
Dan benar saja kejadian buruk pun terjadi, saat di jalan yang berbelok-belok tiba-tiba saja penglihatan Agam kabur dan membuat motornya oleng sehingga terjatuh ke aspal yang panas. Keduanya menggelinding sedikit jauh dari motor serta jarak antara mereka dan motor membuat jalanan bersimbah darah.
Agam yang masih sedikit sadar itu pun berusaha bangkit untuk melihat keadaan Viola yang sepertinya pingsan. Kaki dan lengannya terluka parah sedangkan wajah kirinya tergores seperti sudah di cakar kucing.
"Vi, Vi bangun Vi! Please Vi, bangun." Agam berusaha membangunkan Viola dengan mengecek tubuhnya bagian mana saja yang terluka.
Setelah di lihat-lihat ternyata Viola hanya terluka di bagian kaki kirinya sedangkan bagian lain hanya tergores saja karena memang pada saat itu Viola menggunakan pakaian yang sedikit tertutup pasca dirinya pernah di bilang open Bo.
Di saat Agam berusaha membangunkan Viola satu mobil dari arah yang berbeda segera menepi dan membantunya. Membawanya ke rumah sakit terdekat untuk segera di obati, sesampainya di rumah sakit pihaknya pun segera membantu menghubungi keluarga di rumah termasuk orangtua Agam yang sibuk.
__ADS_1
Di sisi lain di rumah Bell, Jane yang mendapat kabar buruk itu pun segera pergi ke rumah sakit bersama Wiliam sang suami akan tetapi ketiga anaknya di tinggal di rumah agar tidak merepotkan.
Sedangkan di sisi lainnya lagi tepatnya di sebuah perusahaan besar, orang tua Agam di telpon saat kerja lembur. Ayahnya bernama Mahendra Elvano sedangkan Ibunya bernama Yulia Elvani sama-sama gila kerja, mendengar kabar kecelakaan sang anak mereka berdua hanya menyuru asisten dan bawahannya untuk mengatasi segala urusan di rumah sakit tanpa rasa ingin tahu bagaimana keadaan anaknya sekarang.
Yah walaupun Agam tahu hal itu bakal terjadi akan tetapi lagi-lagi ia merasa kecewa karena orangtuanya, kecewa itu karena ia berharap kalau saja ia tidak berharap ia tidak akan kecewa dan sakit hati seperti saat ini.
Jane dan Wiliam sampai di rumah sakit dengan cepat, mereka berdua bergegas mencari tahu kondisi putrinya saat ini. Agam yang juga sekarang ini sedang di rawat memberitahu kejadiannya dan terus menerus meminta maaf pada mereka berdua.
"Sekali lagi maafkan saya Bibi, Paman, saya benar-benar minta maaf."
Melihat ketulusan Agam Jane pun tak kuasa menolak permintaan maafnya tersebut, dirinya lebih khawatir dan kasihan pada kondisi Agam sekarang.
"Sudahlah, saya maafkan tapi saya juga memperingati kamu untuk tidak melakukannya lagi." Kata Jane dan Agam berjanji tak akan mengulanginya lagi serta akan selalu berhati-hati dalam mengendarai motor.
Di saat mereka bertiga mengobrol seperti itu datang dua orang pria utusan orang tua Agam, mereka bertugas menyelesaikan masalah di rumah sakit termasuk registrasi, biaya, kompensasi dan sebagainya.
"Kata dokter untuk sementara kakinya tidak boleh di gerakkan terlebih dahulu untuk itu kedepannya nanti Viola bakal pakai kursi sama kayak kamu Gam." Jelas Jane yang malah membuat rasa bersalah Agam semakin besar.
"Kamu jangan khawatir, Viola bakalan sembuh kok karena itu kamu juga harus cepat sembuh." Lanjutnya.
Agam hanya bisa mengangguk lemah, akan tetapi Jane pun teringat dengan satu hal.
"Oh iya Viola pernah cerita ke Tante hari Senin kamu butuh orangtua atau wali untuk datang ke sekolah itu benar Gam?" Tanya Jane memastikan.
"Iya benar Bi."
__ADS_1
"Bibi bisa bantu kamu karena bibi tahu betul orangtua kamu sibuk sekali."
Agam senang namun saat dirinya ingin menolak karena rasa bersalahnya akan tetapi Jane kekeuh ingin bantu, ia merasa kasihan pada Agam yang tidak di beri kasih sayang penuh oleh orangtuanya. Ia juga jadi sedikit khawatir Agam jadi anak nakal seperti yang biasa muncul di program TV polisi yang memberantas remaja-remaja nakal seumurannya.
Di samping itu, di kediaman rumah Bell.
Karena hanya di tinggal 3 anak saja di rumah suasana rumah pun menjadi sunyi hening dan juga sepi, terlebih si kembar Reva dan Rava jarang membuat keributan alhasil keheningan di rumah tersebut terasa bertambah horor.
"Tuhan, semoga kak Viola baik-baik aja." Reva mulai berdo'a dengan mengangkat tangannya ke atas begitu pun dengan Rava yang berdoa di dalam hati.
Langit di luar masih berwarna biru mulai menuju warna kuning jingga pertanda waktu sore, ramalan cuaca di hp memprediksikan malam ini akan hujan deras.
Hana masih tidur di dalam kamarnya, karena itu Reva lebih duluan mandi dilanjut Rava.
"Rav aku mandi duluan ya, Hana masih tidur bangunin gih udah sore." Ucap Reva menyuruh Rava yang sedang bermain game. Gadis itu sedang bersiap pergi ke kamar mandi dengan handuk tersimpan di bahunya.
"Iya nanti kalau gamenya udah selesai." Seru Rava membalas.
Hingga setelah Reva masuk ke dalam kamar mandi tinggal ia sendiri di ruang TV, keadaan di sana sangatlah sepi namun terkadang rame saat terdengar guyuran air dari kamar mandi.
Beberapa menit kemudian Rava pun selesai bermain lantas ia langsung naik tangga hendak ke kamar Hana. Membangunkan adiknya itu untuk menyuruhnya segera mandi akan tetapi setibanya di depan kamarnya hawa dingin terasa di sekujur tubuh hingga membuat Rava sedikit merinding.
Masuk ke dalam kamar terlihat Hana sedang tidur dengan posisi ke samping sembari memeluk bantal guling.
"De, bangun dek udah sore."
__ADS_1
Pluk pluk pluk