LILI

LILI
EPISODE 5.1


__ADS_3

"Murah kek?" Tanya Jane dengan raut wajah yang tak percaya.


Namun kakek segera mengangguk dan memberitahukan nominal uangnya beserta dengan harga semurah itu sudah termasuk dengan tanah, sertifikat dan bangunan di atas tanah itu.


"30 JT saja termasuk dengan semuanya."


Kembali mereka berdua ternganga lebar begitu pun dengan Vincent yang sebagai agane properti.


"Tapi kek, itu terlalu murah untuk rumah yang seluas ini." Vincent mulai membuka suara.


Tapi kakek kembali menjawabnya "Tidak ada ruginya kakek menjual dengan harga semurah itu, rumah ini sudah terlalu tua dan harus di renovasi tamannya pun juga kotor sekali. Harga dulu yang 10 juta saja di anggap satu milyar apalagi sekarang 30 juta pasti semua orang mengira nilai rumah ini 3 milyar."


Kini mereka bertiga sudah sampai di depan pintu utama rumah itu, kakek segera membuka pintu itu dengan kunci yang ia bawa dari sakunya. Setelah terdengar bunyi...


Ceklek


Pintu pun segera terbuka memperlihatkan seisi rumah mewah itu. Penuh Ramat, laba-laba, lantai kotor dan berdebu serta gelap karena jendela yang tidak terbuka.


Barulah setelah kakek membuka semua jendela yang ada rumah menjadi lebih terang dan lebih terlihat jelas isinya.


Bagus, nuansa rumah zaman dulu ada tangga yang besar seperti istana serta dinding yang menjulang tinggi. Tepat saat memasuki rumah mereka mendapati sebuah lantai yang kosong melompong luas sedang di tempat lain penuh dengan barang-barang yang tertutup kain putih.


Jane lihat ke atas sana ada lantai lagi, benar-benar bagus pikirnya. Jane mulai tertarik apalagi setelah mendengar jumlah nilai yang di keluarkan begitu murah.


"Bagaimana? Tertarik tidak dengan rumah ini?" Tanya kakek sedang di sampingnya Vincent menatap sedih karena ia juga mulai tertarik dengan harga rumah ini.


Tanpa pikir panjang Jane segera mengangguk menerimanya, mereka berdua pun berjabat tangan dan segera kakek memberikan kunci rumah itu saat ini juga membuat Jane kembali terkejut.


"Ambillah, uang bisa dikirimkan bersamaan dengan surat tanahnya." Jelas Kakek sembari memberikan kunci rumah itu pada Jane.

__ADS_1


Jane menerimanya dengan tatapan yang masih tak percaya ia mendapat rezeki yang besar ini.


Singkat cerita Jane sudah kembali ke rumah membawa kabar gembira pada anak-anaknya, ia ceritakan dengan raut wajah yang sangat senang. Senyum bahagia itu selalu terlihat di wajahnya setelah mendapat rumah itu.


Si kembar Reva dan Rava ikut bahagia kegirangan tak sabar melihat rumah barunya nanti, beda halnya dengan Hana yang seperti biasanya tak memberikan ekspresi apa pun. Hana diam dan fokus pada coretan gambarnya saat ini.


Viola belum pulang gadis itu masih bermain dengan Agam di luar sana. Omong-omong soal Agam teringat dengan Vincent yang harus pulang menggunakan taksi, awalnya mau pakai bajai karena harga lebih murah namun karena tubuhnya yang tinggi ia akhirnya memilih taksi.


Vincent memang bisa dibilang orang yang mampu dengan penghasilan banyak tapi pengeluaran kecil, terutama dirinya yang masih lajang. Kedua orangtuanya sudah bebas mengurusi dirinya yang sudah dewasa itu tinggal mereka menunggu anak tunggalnya itu menikah.


Kini di tempat wahana bermain rupanya Viola dan Agam sedang menghabisi waktu berdua mereka menikmati wahana yang ada.


Banyak sekali permainan yang mereka mainkan saat ini, membeli barang-barang dan lain sebagainya. Sering kali Agam memaksa Viola agar dirinya saja yang mentraktirnya tapi Viola menolaknya.


"Gua laki Vi, gue lah yang harus bayar." Agam kembali memulai debat saat keduanya kini sedang berada di depan toko es krim. Padahal yang mereka perlukan saat ini hanyalah membayar pesanan mereka.


Viola berdecak kesal, sudah berkali-kali ia ingatkan bayar pesanan masing-masing dan tidak ada namanya traktir.


Saat Viola hendak memberikan uangnya, Agam segera memberikannya uangnya pada pelayan toko itu segera ia menarik lengan Viola pergi dari sana.


Pada akhirnya mereka pun bertengkar dengan jangka yang pendek karena keduanya kembali melakukan hal aneh lainnya dan menikmati semua permainan yang ada.


Hingga tepat jam dua siang saat keduanya sedang melihat foto-foto yang di ambil, datang dua orang pria bertubuh kekar menghampirinya mereka. Rupanya itu adalah bodyguard suruhan ornagtua Agam.


"Tuan muda, kami di perintahkan segera membawa anda kembali ke rumah." Ujar salah satu dari mereka.


Tanpa Viola sadari ia terkekeh geli mendengar ucapan pria itu sebab memanggil Agam dengan sebutan tuan muda.


"Pfft tuan muda...Hahaha."

__ADS_1


Sadar dirinya sedang di ejek, Agam segera menyuruh merek berdua pergi dari sana dan menunggu di parkiran. Rupanya tak hanya Viola yang tertawa mendengarnya, orang-orang di sekitarnya pun ikut tersenyum.


Agam memerah, ia segera menarik pergelangan tangan Viola pergi dari sana meninggalkan keramaian yang ada.


"Vi lho kenapa ketawa sih?! Orang-orang jadi ketawain gue juga."


Viola mulai menghentikan tawanya berusaha fokus "Iya deh iya."


Kini kedua pria itu kembali menghampiri mereka berniat membawa Agam pulang, lantas Agam pun menurut ia akhirnya membawa motor dan juga Viola sedang para bodyguard itu mengawasi dari belakang.


"Vi lho mau ikut gue ke rumah ga?" Ajak Agam.


Viola yang senggang waktu pun segera mengiyakannya dan akhirnya ia ikut pulang ke rumah Agam, entah sebenarnya Agam akan di suruh apa oleh orangtuanya.


Sesampainya di pekarangan rumah Agam yang luas, Viola sempat terkagum melihatnya dan hingga masuk ke dalamnya ia di sambut oleh beberapa pelayan yang ada. Agam segera membawanya ke dalam dan rupanya sekretaris ayahnya sudah menunggu Agam sedari tadi.


Berniat menyelesaikan jadwal Agam yang padat, ia yang sebagai pewaris dari anak orang kaya sudah seharusnya ia belajar. Akan tetapi melihat Viola ada di sampingnya membuat raut wajah sekretaris yang awalnya tajam berubah jadi normal.


"Gue yang ngajak dia ke sini jadi jangan usir!" Kata Agam sebelum sekretaris itu menyuruh Viola pulang ke rumah.


"Tuan muda!" Seru sekretaris itu dengan nada yang menekankan.


Tata Krama yang di ajarkan di rumahnya adalah berkata sopan dan tidak dengan bahasa informal.


"Iya-iya harus pake bahasa formal, saya mengerti."


Melihat hubungan mereka Viola mengerti bagaimana Agam tak betah di rumah nya yang luas tapi terasa tak seperti rumah, orang-orang di sini sangat kaku dan lebih menekankan pada aturan dan tata krama yang ada.


Orang tua Agam saja tidak terlihat, mereka selalu saja sibuk seperti biasanya.

__ADS_1


Jadi anak orang kaya juga kadang gak enak ya? sabar ya gam...


__ADS_2