LILI

LILI
EPISODE 3.2


__ADS_3

Pukul 10.00 Malam


Tepatnya di ruangan yang sepi di sebuah kantor, di sana terdapat salah satu orang yang sedang mengetik cepat dengan komputer. Hanya perempuan itu sajalah yang ada di ruangan tersebut, walau sunyi ia terlihat tak takut dan fokus di depan layar monitor.


Hingga saat pekerjaannya hampir selesai, suasana yang ada di sana terasa semakin dingin, semakin sunyi bahkan keributan kendaraan di jalanan pun hampir tak terdengar lagi. Jane, ia segera menyelesaikan pekerjaannya dan buru-buru akan meninggalkan tempat itu.


Sesudah mematikan komputernya, Jane segera mengambil tas lalu berjalan menuju pintu keluar. Akan tetapi saat sudah beberapa langkah saja langsung terdengar suara cup atau gelas plastik yang jatuh dari tempatnya. Sontak Jane berbalik melihat cup itu menggelinding pelan akibat terjatuh dari ketinggian meja rak yang ada di ruangan itu.


Hingga cup itu berhenti menggelinding barulah Jane menghampirinya untuk mengambil dan membuangnya ke tempat sampah. Ia pikir cup itu milik temannya yang lupa di simpan kembali kalau tidak di pakai, Jane juga tak berfikir aneh-aneh tentang cup jatuh itu karena ia pikir dengan logika mungkin saja itu karena angin.


Setelah mengembalikan cup itu ke tempatnya, tiba-tiba saja dari arah belakang terdengar suara wanita berbisik padanya dan suara itu terdengar dari jarak yang lumayan dekat.


"Boneka di rumahmu sangat lucu."


Lantas mendengar bisikan yang mengerikan itu Jane berbalik dengan cepat akan tetapi tak ada siapa-siapa di ruangan itu dan hanya dirinya saja. Nafasnya mulai tidak teratur disertai degup jantung yang cepat, kembali Jane menenangkan diri hingga ia pun buru-buru pergi dari sana.


Akan tetapi, sekali lagi kejadian aneh menghantuinya dan tepat saat dirinya akan melewati meja kerjanya yang tadi layar komputer yang sebelumnya mati tiba-tiba saja menyala tanpa ada seorang pun yang menyalakannya.


Pikirannya mulai kacau, ia benar-benar tak tahu kejadian mistis ini akan menimpanya. Ia sisirkan rambutnya ke belakang agar pikirannya kembali fokus.


Tek


Dimatikannya komputer yang menyala itu hingga saat pintu perlahan-lahan terbuka membuat Jane kembali berdebar tentang apa yang akan menimpanya kali ini. Jane tatap pintu itu dengan mata terbuka lebar serta dalam kondisi benar-benar sadar.


Krieeeettt


Sosok itu mulai terlihat jelas, semakin terbuka pintunya semakin jelas pula sosoknya akan tetapi tak sesuai dengan apa yang ia pikirkan saat ini sosok itu ternyata adalah Bibi Romlah rekan sekantornya. Melihat itu Jane bernafas lega lalu tersenyum dan menghampiri Romlah.


"Bu Jane, saya datang ke sini karena mengkhawatirkan Bu Jane pasalnya bos nyuruh saya buat cek ibu takut kemalaman kerja lemburnya." Jelas Romlah dengan wajahnya yang sangat ramah.


Romlah adalah salah satu ibu rumah tangga seperti Jane yang harus mengurusi anak-anaknya di rumah akan tetapi suaminya sudah meninggal dunia dan karena itulah Romlah harus bekerja untuk menghidupi keluarga. Untungnya sang ibu yang masih sehat membantu ia mengurus anak-anak di rumah.


Mendengar Romlah sangat mengkhawatirkan dirinya Jane merasa sangat senang "Terimakasih Bu Romlah saya sangat senang sekali di perhatikan seperti ini, tapi bukankah Bu Romlah juga sibuk saya jadi tidak enak."


Romlah yang memang tipe orang yang ramah dan suka bergaul itu segera menepis rasa ketidaknyamanan Jane padanya.

__ADS_1


"Ish tidak apa-apa, jam segini anak-anak sudah tidur."


Dan begitulah mereka berdua berbincang-bincang sampai tak terasa mereka sudah berada di luar kantor. Dan tiba-tiba saja Romlah mengajaknya di suatu acara nanti di rumahnya.


"Bu Jane saya tahu ibu berbeda agama, akan tetapi saya sangat senang kalau ibu mau berkunjung kerumah saya nanti pas ada acara syukuran. Alhamdulillah, anak saya baru saja di sunat walaupun tidak mengadakan acara besar-besaran tetapi tidak apa-apa kalau hanya sebatas syukuran kecil-kecilan."


Jane melihat ketulusan Romlah mengajaknya ke rumah dia, dan karena itulah ia tak bisa menolaknya.


"Ibu juga bisa ajak anak-anak ibu, kebetulan anak-anak saya juga ada yang seumuran anak ibu Jane." Lanjut Romlah membuat Jane mengangguk dan mau pergi ke sana nanti.


"Baiklah kalau begitu Bu saya mau, acaranya mulai kapan?" Tanya Jane saat dirinya sudah bersiap melambai tangan mencari taksi di jalan.


"Besok malam, saya benar-benar berharap ibu berkunjung ke rumah saya, anggaplah itu silaturahmi." Ucap Romlah


Dan saat itulah sebuah taksi datang menghampiri mereka segera Jane mempersilahkan Romlah masuk ke dalamnya.


"Baik saya nanti akan datang."


"Di tunggu ya Bu." Ujar Romlah dari dalam taksi.


Setelah itu taksi melaju meninggalkan Jane di pinggir jalan, karena Jane membawa mobil sendiri ia jadi tak harus menggunakan taksi.


Esok paginya


Kesibukan di rumah dengan aktivitas pagi membuat suasana di sana terlihat sangat ramai, tak ada lagi gangguan aneh seperti saat itu akan tetapi Jane masih belum percaya kejadian kemarin malam yang hampir membuatnya ketakutan.


Ada hal positif hingga akhirnya kejadian malam itu Jane mulai benar-benar percaya serta yakin kalau apa yang menimpa anak-anak beserta keluarga Chen itu nyata dan bukan rekayasa.


Sesaat dirinya akan berangkat bersama anak-anak, terlebih dulu Jane melirik ke arah suaminya yang terkadang senyum manis saat sedang menelpon seseorang. Namun lagi-lagi ia tak mau berprasangka buruk pada sang suami, hingga ia tepis semua pikiran negatif yang terlintas di otaknya. Terkadang ia bertanya-tanya 'Apakah ada wanita lain selain dirinya'.


"Ayo anak-anak kita berangkat." Seru Jane segera melajukan mobilnya sedang Wiliam masih menelpon di depan pintu rumah yang sudah tertutup.


Tepat jam 09.00 pagi


Romlah hari ini ijin tak masuk kerja, ia hari ini benar-benar sibuk mempersiapkan acara nanti malam. Setelah pergi dari pasar terlebih dahulu ia mampir ke sebuah kantor tempat temannya kerja.

__ADS_1


Rupanya kantor tersebut adalah kantor tempat Wiliam kerja, dan benar saja hari sial William baru saja dimulai hari ini. Kebetulan setelah Romlah memarkirkan motornya saat itu juga William sedang bermesraan dengan Crisella.


Romlah tahu dan yakin seratus persen kalau yang ia lihat sekarang ini adalah Wiliam suami Jane, karena memang di kantor Jane selalu menceritakan keluarga termasuk sang suami bahkan Jane tak segan-segan memberikan foto suaminya ke teman-temannya dan juga membangga-banggakannya.


Romlah yang bukan istrinya saja benar-benar dibuat kesal, marah dan ingin sekali mencabik-cabik wajah Wiliam saat ini juga. Akan tetapi ia diam dia tidak akan mencari keributan melainkan membuat sebuah bukti kuat dengan foto.


Romlah pergi ke tempat yang sepi lirik sana lirik sini takut ada cctv yang menyorotinya, karena memang biasanya orang selingkuh selalu jaga jarak dengan cctv.


Setelah berhasil mengambil foto yang tepat barulah Romlah berlagak seperti biasa masuk ke kantor untuk menemui temannya. Rupanya temannya adalah wanita hijab umur 20an namanya Riana (Episode sebelumnya).


Riana adalah tetangga Romah, wanita muslimah yang sangat sopan ramah dan juga cantik. Gadis itu bahkan jadi incaran Romlah untuk menjodohkannya dengan anak sulungnya yang laki-laki padahal umurnya masih 19 tahunan.


"Bibi." Panggil Riana.


Mereka berdua pun pergi ke tempat yang sepi agar lebih nyaman mengobrol berdua. Romlah yang baru saja tahu mengenai perselingkuhan Wiliam ingin sekali bertanya-tanya tentang pria itu, kerja dan siapa selingkuhannya serta pertanyaan lainnya. Akan tetapi yang harus ia pastikan sekarang ini adalah apakah Riana tahu Wiliam rekan kerjanya itu selingkuh.


"Bibi mau bicara tentang acara malam nanti ya? Tenang aja Bu, Riana pasti datang kok."


Riana segera berbicara karena ia merasa yakin kedatangan Romlah kali ini pasti mengenai acara syukuran nanti malam.


"Ah benar nak, karena masakan kamu selalu enak " Ucap Romlah dengan mulutnya yang gatal ingin bertanya tentang Wiliam. Terlebih dahulu ia basa-basi.


"Oh iya tadi bibi liat ada cowo ganteng di sana? Itu temen kerja kamu ya? Pacar di sampingnya cantik." Lanjut Romlah pura-pura tak tahu tentang Wiliam.


Raut wajah Riana terlihat berubah seolah gadis itu tak tahu harus menjawab apa. Mungkinkah sebenarnya Riana juga tahu kalau Wiliam itu sedang selingkuh dari istrinya?


"Iya Bi, namanya pak Wiliam dia rekan kerja saya." Jawab Riana dengan nada tak enak hati


Romlah mengangguk dengan mulut berbentuk O bulat.


"Cantik juga ya pacarnya." Romlah kembali memancing Riana agar memberitahukan nya suatu informasi dan benar saja Riana jujur pada Romlah.


"Mm sebenernya bi, pak Wiliam itu sudah punya keluarga dan perempuan yang bibi lihat tadi itu bukan istrinya."


"Astaga, jadi dia selingkuh?" Romlah kembali menunjukkan akting profesional yang ia miliki.

__ADS_1


"Riana gak tahu pasti Bu, tapi memang benar wanita itu bukan istri nya pak Wiliam dan juga sudah satu bulan ini pak Wiliam selalu ijin gak masuk ke kantor dengan berbagai macam alasan. Riana gak mau su'udzon tapi teman kantor sepertinya juga berfikir seperti itu." Jelas Riana.


__ADS_2