LILI

LILI
EPISODE 4.5


__ADS_3

Universitas Indonesia


Viandra atau yang sering di panggil Andra oleh teman-temannya itu kini sedang berlari terburu-buru menuju ruang pribadi dosennya. Ia yang harusnya mengumpulkan tugas hari ini malah telat dan tidak tepat waktu.


Lantas ia akhirnya di marahi dan di suruh buat ulang dengan catatan tidak mengcopy yang lama, dosen killer dihadapannya ini benar-benar mengurangi poin belajar Vian.


Keluar dari ruangan dosennya, raut wajah Vian lesu tak bersemangat hingga salah satu teman sekampusnya datan merangkul pundaknya seolah mereka sudah akrab.


"Yoi Andra, what's up?" Temannya itu penuh semangat dengan wajah yang berseri-seri berbanding terbalik dengan Viandra.


"Oh elo."


Melihat Viandra yang lemah menjawabnya ia pun langsung bertanya, ada apa ini sobat?


"Gue di suruh ngulang tugas." Vian pun memberitahunya kalau-kalau ia telat mengumpulkan tugas bahkan ia tunjukkan lembaran tugas yang kemarin ia selesaikan hingga larut malam tapi kini sudah rusak karena dosen itu sudah meremasnya hingga lecek.


Temannya pun menepuk pundak Vian memberinya semangat.


"Semangat bro jangan putus asa, kuliah emang gitu keras gak kayak SMA."


Mendengarnya, Vian pun tersenyum karena ia kembali mengingat masa SMA-nya dulu yang sangat bahagia saat itu Vian terkenal dengan wajah bule dan tampannya di sekolah.


"Yaudah gue cabut dulu ya, ada urusan lain soalnya." Ucapnya hendak pergi meninggalkan Vian.


Vian hanya bisa mengangguk toh ia juga masih punya urusan lain, dan setelah temannya itu pergi ia mulai merogoh hpnya di tas yang dari kemarin belum ia cek.


Betapa terkejutnya ia dengan banyaknya notifikasi yang muncul terutama pesan dari Azran. Segera ia pergi ke rumah sakit menemui Tara, jantungnya berdebar kencang dan sekencang mungkin ia berlari ke parkiran mengambil motor.


Dengan kecepatan yang sangat tinggi ia melesat di jalanan dengan pikirannya yang tertuju ke Tara saat ini, ia benar-benar khawatir. Tara memang bukan teman sejati untuknya tapi Tara sudah cukup jadi orang yang selalu ada untuknya terutama dialah yang selalu mengajaknya bermain keluar.


Sesampainya di rumah sakit lagi-lagi ia berlari mencari-cari ruang pasien, hingga saat ia menemukan nomor kamar yang di tuju ia langsung membuka kamar tersebut.


Ada Azran yang di sana sedang duduk di samping pasien, mereka berdua pun saling bertatap satu sama lain. Terlihat tatapan benci Azran tertuju pada Vian.

__ADS_1


Brak


Azran mendorong tubuh Vian ke dinding sesaat mereka sudah berada di luar rumah sakit. Tempat itu sepi dan jarang ada orang lewat.


"Ngapain aja kemarin lho Hah?" Teriak Azran dengan nafas yang menggebu-gebu.


Viandra diam tak menjawab menunggu Azran tenang dan emosinya mereda. Ia tunggu sampai beberapa saat hingga akhirnya Viandra pun menceritakan semuanya.


Azran mulai mengerti ia juga sebenarnya tak terlalu emosi di bandingkan dirinya yang kemarin malam.


"Gimana kata dokter?" Kini Vian mulai bertanya mengenai situasi Tara.


"Tara masih harus di rawat sampe bangun dari koma. Sekitar tiga Minggu dan biaya harus ada." Jelas Azran.


"Bukannya orang yang nabrak yang harus nangggung biaya rumah sakit?!"


Azran membuang nafasnya dengan kasar.


"Berapa setengah harganya itu?"


"Sekitar 30jt Ndra."


Viandra refleks mengusap wajahnya mendengar nilai rupiah yang di sebutkan. Ia yang ingin membantu malah tak bisa di karenakan uangnya tak cukup.


"Tara gak bisa bertahan kalau gak di rawat di rumah sakit Ndra. Dia sekarang lagi koma dan pengobatannya itu mahal terlebih dia gak punya keluarga yang mau bantu dia. Kita gak tahu saudara Tara siapa aja." Jelas Azran.


Alhasil mau tak mau Viandra harus memikirkan cara lain untuk mendapatkan uang lebih cepat. Otaknya kini sedang berputar keras mencari solusi yang mungkin bisa ia temukan.


Viandra berjalan ke sana kemari terus berfikir hingga satu hentikan jarinya ia pun menemukan sebuah ide.


"Azran lho jago komputer gak?" Tanya Vian.


Azran mengangguk ia memang sedikit ahli mengurus komputer dikarenakan ia anak warnet, Viandra pun segera memberitahu idenya kalau ada sebuah perusahaan yang kalau kita bisa ngehack dia dan memperbaiki masalah sistemnya kita bakal di gaji dan dapet sertifikat.

__ADS_1


Lantas Azran pun mengangguk setuju, tak hanya ide itu yang Vian temukan. Ia baru mengingat kalau dirinya juga jago bermain game lantas ia pun akan membuka joki untuk mereka yang mau meningkatkan rank game mereka.


Kini keduanya pun bekerja sama menghasilkan uang untuk membantu membayar pengobatan Tara, tak lupa Vian bekerja keras mengisi tugas kuliahnya hingga ia tak sadar akan tubuhnya yang butuh istirahat.


Scene yang berbeda


Minggu tahun 1923


Gerombolan para biarawati berangkat menuju sebuah rumah kecil di kota itu. Sering kali terdengar suara jeritan wanita, bayi dan anak-anak yang menangis kencang akibat penjajah.


Biarawati-biarawati itu tetap fokus pada jalan mereka yang di pimpin oleh pria bertubuh besar dengan senjata yang memenuhi tubuhnya. Saat itu kota ini masih bernama Jayakarta dan VOC menguasai daerah ini.


Masuklah para biarawati itu ke dalam rumah kecil namun luas tamannya. Di sana mereka di pinta untuk mengadakan ritual keagamaan yang aneh, karena ada beberapa anak kecil perempuan yang terikat di dinding serta wanita cantik berambut panjang terlihat masih remaja yang juga di ikat di sebuah tiang di rumah itu.


Terlihat tubuh wanita itu yang memar penuh luka-luka dengan gaun putih yang lusuh setinggi lutut. Rambutnya terurai panjang menutupi wajahnya yang cantik tapi sudah rusak. Beberapa anak perempuan itu menangis kecil takut di cambuk lagi kalau tangisan mereka kencang.


Para biarawati itu mulai berkumpul membuat sebuah lingkaran dengan lilin-lilin di nyalakan di tengah-tengah mereka. Membaca ayat-ayat yang tak di pahami oleh yang lainnya.


Langit di luar tiba-tiba saja menghitam setelah ayat itu di bacakan bersama-sama oleh para biarawati. Angin kencang mulai menerbangkan daun-daun yang berserakan di jalanan, orang-orang pun mulai ketakutan masuk ke rumah mereka masing-masing begitu pun para tentara yang ada di luar sana.


Hal yang paling menarik perhatian di rumah itu adalah sebuah boneka yang di letakkan di tengah ritual itu. Seolah boneka itu sedang terduduk layaknya bayi yang baru belajar duduk.


Senyum di wajahnya benar-benar sangat menakutkan hingga setelah beberapa menit ayat-ayat lain di bacakan tentara yang ikut bersama mereka mulai memaksa anak-anak berdiri di kumpulkan tepat masing-masing di depannya biarawati.


Seolah setiap biarawati-biarawati yang ada di sana mendapat satu anak perempuan, sedang para tentara itu bersiap dengan pisau yang di letakkan di leher anak-anak itu. Mengunci pergerakan dari belakang.


Tangis pilu mulai terdengar, mereka yakin akan akhir hidup yang mengerikan ini benar-benar menghampiri mereka. Berbeda dengan remaja cantik yang berada di salah satu pemimpin biarawati itu, ia di cekal oleh pemimpin tentara yang juga ada pisau menempel di lehernya.


Tak ada suara tangis kecil yang terdengar dari gadis itu, seolah ia sudah tak merasakan sakit lagi padahal pisau yang menempel di lehernya itu mulai menembus kulitnya.


Inti dari ritual itu adalah penyerahan diri pada satu iblis yang mereka kagumi yakni Appolion, malaikat jurang maut yang berkuasa atas para korbannya.


Mereka adalah manusia-manusia sesat berkedok kelompok taat pada Tuhan.

__ADS_1


__ADS_2