
Setelah makan malam selesai, Wiliam dan Crisella segera masuk ke kamar. Masih dengan raut wajah tak bahagia Crisella segera tidur dengan membelakangi William.
Hari itu adalah hari dengan malam yang penuh kelam untuk mereka, semua pelayan sudah tidur begitupun dengan majikannya. Sesuatu yang besar berdering nyaring namun tidak menggangu mereka yang sedang tidur.
Jam besar itu terus berbunyi seperti lonceng, pukul 12 malam tepatnya. Di ruangan yang besar dan luas itu seorang wanita berjalan perlahan-lahan menaiki tangga. Menyanyi pelan dengan nada yang menyakitkan.
"Hmm...Hmm...na..na..na..na..di..malam..ini.."
"Malam..sunyi.."
Tak tak tak
Gaun hitam dengan perpaduan warna putih itu menyapu lantai, jari tangannya menyusuri pinggiran tangga dengan kepala menunduk ke bawah. Terus wanita berjalan ke arah sebuah pintu dan sesampainya ia depan pintu tersebut perlahan-lahan tangannya naik mengetuk pintu dengan pelan.
Tok, Tok, Tok.
Wiliam sayup-sayup mendengar ketukan itu, matanya mulai terbuka dan bangunlah ia sembari melihat ke arah pintu. Dan sekali lagi ketukan pintu itu terdengar namun sedikit cepat.
Tok Tok, Tok.
Tubuh William menegang, ia lirik ke arah Crisella yang ternyata masih tertidur pulas. Ia tepuk pelan bahu Crisella dari belakang berusaha membangunkannya lantaran ketukan itu kembali terdengar namun sangat kencang.
TOK TOK TOK
Suara itu lebih mirip ke suara dobrakan pintu, membuat William menggoyangkan tubuh Crisella agar segera bangun.
"Sayang bangun cepetan bangun yang." Ujar Wiliam dengan pelan.
Perlahan Crisella mulai bangun dengan mata yang masih tertutup hingga kemudian rasa kantuknya hilang setelah keduanya mendengar seseorang berbicara pada mereka dari luar.
"Buka pintunya! aroma janin itu sangat kuat baunya manis." Suara serak itu terdengar seperti suara nenek-nenek yang sudah tua.
Crisella mulai ketakutan gadis itu segera memeluk Wiliam dari belakang dengan raut wajah takut.
__ADS_1
"Itu siapa yang ngomong di luar." Rintihan suara Crisella terdengar tepat di telinga William. Hingga ketukan keras di pintu itu kembali terdengar hingga berulang kali.
TOK TOK TOK
DUG DUG DUG
TOK TOK TOK
Suara itu sangat banyak seolah ada banyak orang di depan pintu tersebut, hingga kemudian suara itu menghilang dan tak terdengar lagi.
"Udah berhenti suaranya." Jantung Crisella kembali berdetak normal sebelumnya tubuhnya sudah gemetar mendengar suara nenek-nenek.
Hingga menit kemudian suara angin di luar jendela terdengar sangat kencang hingga mampu membuat jendelanya terbuka dan gorden yang ke sana kemari terbawa angin. Tak hanya itu hawa dingin pun menyeruak di seluruh ruangan tersebut.
Shhhhhh
TOK TOK TOK TOK
Ketukan itu kembali terdengar dengan sangat kencang hingga pintu yang terkunci itu tiba-tiba terbuka dan perlahan-lahan pintu tersebut terbuka.
Saat nenek itu maju, Wiliam dan Crisella mundur ke belakang. Rupanya masih ada orang di belakang nenek mereka orang-orang berbaju putih seperti jubah dengan di tangan mereka ada lilin yang menyala.
Crisella mulai menangis di belakang tak mampu melihat sosok mengerikan itu, sedangkan Wiliam mulai membuka suaranya walau terdengar serak.
"Siapa kamu? Pergilah jangan ganggu kami!!"
Ucapan Wiliam itu malah di jawab dengan nada mengejek, nenek bahkan tertawa kecil melihat dua insan itu gemetar ketakutan.
"Tuhan tidak memberkati mereka yang berbuat dosa! Anak haram itu tidak akan bertahan lama!"
Crisella menangis tanpa mengeluarkan suaranya sedikitpun, ia menggeleng sembari tangannya menyentuh perut yang masih kecil.
"PERGILAH DASAR IBLIS!" Teriak William saat anaknya di katakan seperti itu.
__ADS_1
Lalu tiba-tiba semua lilin pengikut nenek padam mengeluarkan asap sisa pembakaran lilin, angin dari jendela berhembus sangat kencang masuk ke dalam kamar. Setelah itu para pengikut nenek berbondong-bondong mengelilingi Wiliam dan Crisella sembari mengucapkan mantra-mantra aneh.
"APA-APAAN INI, WILLIAM LAKUKAN SESUATU!!" Teriak Crisella, gadis itu ketakutan setengah mati. Tepat di hadapan mereka berdua nenek itu tertawa mengerikan sedang di belakang mereka ada jendela yang terus bergerak mengeluarkan bunyi tabrakan.
Crisella mundur dan semakin mundur, sorot matanya tak kuat menahan para pengikut nenek yang sedang membaca mantra.
"Jangan bunuh kami!" Wiliam seolah tak kuat dengan nada yang saat ini mulai melemah.
Nenek kembali tertawa "Hahaha ITU TIDAK BISA!! Wanita itu dan janin yang di dalamnya harus mati!"
"Hanya satu cara menyelamatkan mereka berdua." Lanjut nenek. Wiliam dan Crisella menengadah bersamaan ke arah nenek tertarik dengan ucapan si nenek.
"Orang tua itu harus mati mengganti hidup anak dan cucu mereka."
"TIDAK!! TIDAK BISA!!" Crisella berteriak sangat kencang menolak usulan si nenek.
"BUNDA AYAH." Teriakan Crisella kembali terdengar membuat keduanya terbangun dari tidur lelapnya, namun nihil tiba-tiba saja saat mereka bangun lemari dalam kamar bergerak sendiri dengan sangat cepat menghadang pintu keluar.
"Crisella! Ayah, Crisella ayah.." sang istri mulai khawatir segera sang suami bangun dan berusaha memindahkan lemari tersebut.
Di samping itu para pengikut yang tadi sedang membaca mantra kini mulai menciptakan sebuah tanda iblis di lantai sedang di tengah-tengahnya ada Wiliam.
Crisella mundur dan mulai mendekati jendela, dan tiba-tiba saja nenek menghampirinya tanpa kaki yang menyentuh lantai nenek melayang di udara sembari tersenyum tepat di hadapan Crisella.
Wajah nenek tiba-tiba berubah menyerupai wajah Crisella, hingga nenek mulai membisikkan sesuatu pada Crisella yang saat ini ketakutan melihatnya ada di hadapannya saat ini.
"Kau masih muda tapi sayang sekali sudah punya anak haram! Menolak saran dariku maka rasakan saja akibatnya!" Selepas membisikkan hal seperti itu nenek mulai mendorong bahu Crisella ke belakang, refleks Crisella mundur beberapa sampai tak sadar kalau tubuhnya jatuh dari atas jendela padahal tangan nenek itu menembus tidak bisa menyentuh tubuhnya.
Setelah Crisella jatuh dari lantai dua itu, semua sosok tadi di kamar hilang dalam sekejap. Tubuh Wiliam tumbang masih tak percaya istrinya kini berada di bawah sana.
Di samping itu, ayah dan ibunda di buat terkejut saat mereka mendorong kemari tiba-tiba kemari tersebut tumbang dan hancur di lantai dengan pecahan kaca lemari yang berserakan di mana-mana.
Ayah segera membuka sedikit pintu yang masih bisa terbuka walau setengah pintu tersebut terhalang oleh lemari.
__ADS_1
Sembari tubuhnya di paksa ke luar bergegas mereka berdua ke kamar sang anak. Dan betapa terkejutnya mereka melihat jendela terbuka sedang Wiliam terduduk di lantai dengan pandangan kosong.
Sang ayah dan istri berteriak kencang melihat ke bawah sana putrinya sudah tergeletak bersimbah darah. Tubuhnya hancur dan remuk.