
Esok harinya berita tentang kematian Crisella pun tersebar luas, keluarga Bell tahu akan hal tersebut. Mereka semua pergi ke pemakamannya, tangis pilu di rasakan oleh kedua orang tua Crisella sama halnya dengan Wiliam yang menangis dalam diam dan raut wajah yang kusam.
Sekilas Wiliam lihat keluarga Bell dari tengah-tengah kerumunan, ia tatap wajah mantan istrinya yang kini menatapnya balik.
Tatapan mereka seakan menyiratkan isi hati mereka. Jane merasa berduka atas kematian Crisella, ia juga merasa kasihan pada William. Lain halnya dengan William yang merasakan perasaan rindu pada wanita yang kini sedang ia tatap.
Tak lama setelah itu Jane berbalik dan akhirnya keluarga Bell pergi dari sana bersamaan dengan yang lain.
Takdir yang tak akan pernah kita tahu mungkin bisa membuat kita kehilangan segalanya. Berjuanglah dan terus hidup walau dunia tidak berpihak padamu. ~Jane
Kebersamaan kita dulu tidak akan pernah ku lupakan, kini aku hanya bisa berjuang untuk masa depan yang akan datang. ~Wiliam
Malam hari di kediaman rumah Bell.
Semua anak-anak sedang berada di ruang tv sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Viola dengan hpnya, Reva dengan buku matematika nya, Rava dengan game-nya, dan Hana dengan bonekanya serta Jane yang fokus menonton tv.
Tak ada suara apapun yang terdengar di sana, obrolan ria tak lagi di ucapkan oleh mereka mengingat hari ini mereka ke rumah duka membuat suasana pun terasa aneh. Hingga Hana pun memulai obrolan mereka.
"Ibu, ayah baik-baik aja kan di sana?" Tanya Hana dengan wajah polosnya.
Jane tersenyum singkat lalu menjawab dengan pelan sembari ia mengusap kepala Hana.
"Iya, ayahmu itu kuat dan kita sebaiknya doa'kan saja yang terbaik."
Reva yang sedang menuliskan ikut berbicara tanpa menghentikan tangannya yang sedang bergerak. "Padahal mereka mau punya bayi."
Jane terdiam tak tahu harus menjawab apa, akhirnya Rava pun bertanya pada Jane.
"Ibu pernah mikir gak? Berita itu ada yang janggal, masa iya meninggalnya karena jatuh dari jendela." Ucap Rava yang sudah menyelesaikan gamenya.
Jane yang mendengar itu pun segera memperingati Rava agar tak berbicara sembarangan.
"Rava kamu gak boleh gitu, berita gak pernah bohong lagipula itu semua kesaksian dari keluarga. Walaupun keluarga tidak mau memberitahukan alasannya, alangkah baiknya kita berdo'a yang terbaik untuk mereka bukannya menduga-duga." Jelas Jane.
"Kalau gitu Rava minta maaf janji gak bakal ngomong gitu lagi."
Di samping itu Viola yang melirik ke Rava sekilas namun tidak dengan Reva dan Hana yang menatap Rava penuh makna.
__ADS_1
Jane pun bangkit lalu berjalan melewati Rava, ia usap kepala Rava sembari berkata "Iya, jangan di ulang lagi."
Rava mengangguk lalu Jane mengambil remot mematikan televisi, ia naik tangga untuk segera tidur tak lupa ia juga mengingatkan anak-anaknya agar tidak begadang.
"Ibu mau tidur, kalian jangan begadang! Tidur sebelum jam 9. Hana mau ikut ibu gak?" Ucap Jane sembari mengajak Hana tidur.
Hana menurut, gadis kecil itu bangkit lalu berlari menghampiri sang ibu yang sudah di anak tangga. Mereka berdua pergi meninggalkan mereka bertiga.
Setelah kepergian Jane, Reva segera mengingatkan Rava juga.
"Denger kata ibu! Mulut tuh di jaga, resleting sekalian."
Rava terlihat kesal dengan ucapan kembarannya itu, ia pun menjawab kembali "Dih lho juga kadang begitu."
Mendengar si kembar adu mulut lagi di hadapan Viola, gadis cantik itu pun risih merasa telinganya terganggu oleh suara mereka. Ia pun bangkit sembari berkata sinis pada adiknya itu.
"Lu pada berdua sama aja, gak usah ngerasa paling baik deh." Jane pun pergi meninggalkan si kembar.
Merasa di perlakukan sama oleh kakak perempuannya itu, mereka berdua pun bekerja sama melawan balik ucapan si kakak.
"Dih kakak juga sama! Nikah aja tuh sama hp, setiap hari men hp mulu." Sindir Reva.
Mendengar itu Viola geram ia kembali menghampiri mereka lalu di ambilnya bantal sofa hingga melemparkannya tepat ke wajah si kembar.
Adu bantal pun tak bisa di hindari, mereka bertiga pada akhirnya bermain lempar bantal satu sama lain.
Dan singkat waktu mereka pun sudah tertidur di kamar masing-masing.
Rumah yang sangat luas itu terasa seram karena hanya di tempati oleh beberapa orang saja, itu juga mereka semua tidur di lantai dua sedangkan di lantai pertama kosong.
Di saat semua orang tidur, ternyata dari luar sana ada dua orang pria yang berpenampilan seorang maling sedang mengendap-endap masuk ke dalam rumah tersebut. Wajah mereka tertutup layaknya seorang ninja membuat mereka tak mudah di kenali.
Dengan bantuan suatu alat, mereka congkel jendela depan yang menjadi sarana keluar masuk mereka.
"Cepetan! Keburu pagi." Ucap temannya saat yang lainnya sibuk membuka jendela.
"Berisik lu, baru juga jam 11."
__ADS_1
Tak
Jendela pun berhasil di buka, mereka akhirnya masuk dan mulai mencari barang-barang yang bisa di curi.
"Kalau gak ada barang berharga gimana? Ini rumah baru di pake dua hari." Bisik temannya.
"Sst, diem! Fokus nyari barang aja, lu bawa pistol kan?" Tanya rekan satunya.
Temannya pun mengangguk sembari memperlihatkan sebuah pistol yang ada di saku kanannya. Rupanya mereka berdua sudah mempersiapkan segalanya kalau-kalau si pemilik rumah bangun dan mengetahui keberadaan mereka.
Di lantai pertama, mereka berdua tak menemukan barang berharga apa pun hingga pada akhirnya mereka berjalan ke lantai dua. Di sana satu persatu berpencar masuk ke setiap kamar yang ada.
Kamar nomor satu di tempati Reva, kamar nomor dua di tempati Hana, kamar nomor tiga di tempati Jane, kamar nomor empat di tempati Rava dan kamar nomor lima di tempati Viola.
Kamar Reva tidak ada apa-apa, hanya ada buku dan barang-barang sekolah lainnya. Untuk uang ternyata Reva menyelipkannya di tempat rahasia yaitu di dalam buku-buku. Lanjut ke kamar Rava, si pencuri mengambil jam tangan dan juga hp khusus game yang di letakkan di atas meja nakas.
Kamar yang lainnya belum di periksa dan sebelum itu Hana sudah terbangun karena sebelumnya ia sudah di bisikkan oleh kakak cantik di telinganya. Kalau ada dua orang pencuri sedang berada di rumahnya. Gadis kecil itu sudah mengunci pintu dan juga di tutupi oleh meja dan kursi. Hana hanya bisa berharap keduanya mampu menahan dobrakan pintu kalau-kalau kedua pencuri itu ambis memasuki kamarnya.
Setelah para pencuri selesai di kamar satu dan dua kini keduanya ke kamar Jane, mereka berdua mencari-cari keberadaan harga Jane. Sayup-sayup Jane mendengar suara-suara ornag mencari barang namun ia tahan dan berpura-pura tidur.
Namun saat kedua pencuri itu berbincang untuk ke kamar lainnya, Jane langsung teringat dengan Hana.
Tidak! Anak-anak! Pikir Jane.
Akhirnya saat kedua pencuri itu keluar kamar Jane keluar memergoki mereka dengan tangan memegang tongkat pemukul. Alat pertahanan diri Jane.
Dari belakang kedua pencuri itu, Jane dengan keras memukul belakang kepala satu pencuri lainnya. Rekan si pencuri sadar dengan keberadaan Jane, matanya melotot dan tanpa sadar ia mengambil pistol lalu menarik pelatuknya tepat ke arah Jane.
Dor
Suara tembakan berhasil membangunkan yang lainnya, Viola bergegas keluar dari kamar dan betapa terkejutnya ia melihat dua orang pria berbaju hitam berada di depan Jane yang sudah tertembak di bagian dadanya.
"IBUUU." Teriak Viola sejadi-jadinya.
Pencuri yang masih memegang pistolnya itu pun melirik ke arah Viola dengan cepat ia menuruni tangga meninggalkan rekannya dan pergi dari sana. Viola melihat sang ibu ambruk segera ia menghampirinya, si kembar yang melihat itu bergegas mencari hp. Rava yang kehilangan hpnya pun cemas, untungnya masih ada hp Reva.
"IBU IBU TAHAN, BUU..." Teriak Viola saat Jane mulai menutup matanya.
__ADS_1
Gadis itu mulai meneteskan air matanya bersamaan dengan adik-adiknya yang juga menangis. Hana keluar setelah berhasil menyingkirkan meja dan kursi.
Gadis kecil itu menangis sembari memeluk boneka Lili.