LILI

LILI
EPISODE 5 LEMBARAN BARU


__ADS_3

Malam itu di sebuah rumah yang sangat besar tepatnya kini para anggota keluarga sedang menikmati makan malam, di sana William juga ikut dalam acara tersebut.


Tak ada suara sedikit pun yang membuat tempat itu sangatlah sepi dan hanya terdengar suara garpu dan sendok yang beradu. Wiliam yang tak terbiasa dengan kesunyian itu ia malah terlihat kaku seolah makan satu suap nasi pun ia tak bisa menelannya dengan baik.


Tiba-tiba saja ayah Crisella memulai suatu pembicaraan, pria tua itu akan menjadi calon mertua baru William. Padahal wajah keduanya hampir tak berbeda jauh dikarenakan usia.


"Ingat Crisella udah hamil anak kamu jadi jangan macam-macam di luar sana." Ucapan menohok dari ayah pun membuat Wiliam yang hendak menelan nasinya pun malah jadi mengganjal di tenggorokan.


"JAWAB!!"


Brak


William kaget bukan kepalang hingga ia terbatuk-batuk, Crisella yang duduk di sampingnya pun segera membantu ia minum. Sedang ayah dan bunda diam dengan tatapan tak peduli.


Bukannya menunggu William tenang dulu bunda kembali menimpali ucapan sang suami membuat jantung William berdebar kencang tak pernah ia rasakan sakit dan nyeri seperti ini di dadanya.


"Udahlah ayah pasti juga William susah payah cari uang di luar sana, kan gajinya gak seberapa gak kayak kamu."


Sama halnya dengan sang anak yang acuh tak acuh dan kembali menyantap makanannya. Tak ia lirik sedikit pun bagaimana raut wajah Wiliam saat ini yang tersenyum getir.


Orang tua Crisella rupanya sudah mempersiapkan rencana akan pesta pernikahan anaknya agar nanti status bayi dalam perut Crisella sah dalam mata hukum. Wiliam dengarkan semua perencanaan itu karena ia tak bisa menyanggah apapun yang sudah di siapkan oleh mereka.


Ada daftar tamu undangan dan saat William lihat isinya tak ada nama mantan istrinya. Yah tidak apa kalaupun tidak di undang tapi hatinya malah terasa kosong William sadar kalau dirinya masih mencintai mantan istri tapi setelah semua kejadian hari itu ia tak bisa berbuat apa-apa.


Dan begitulah kisah William yang berakhir bersama keluarga Crisella tanpa ia tahu bahwa ia tak akan bahagia dengan kehidupan barunya tersebut.


Beralih kini ke tempat Jane berada, hidupnya kini mulai tertata kembali. Kerja seperti biasa, menghantar anak-anak sekolah bersih-bersih rumah dan pekerjaan lainnya yang biasa ia lakukan setiap hari.

__ADS_1


Hari itu adalah hari Sabtu rupanya Agam menelpon Jane untuk membantu ia mencari orang yang dapat mencarikannya rumah baru, tepat pukul 9 pagi mereka bertemu dengan Viola ikut bersama Jane sedang Agam bersama seorang pria seumuran Jane namanya Vincent.


Mereka bertemu di salah satu tempat yang waktu itu pernah Jane temui, tempat dimana Hana membeli boneka Lili. Yap daerah yang lumayan sepi itu.


Seperti pertemuan awal yang biasanya mereka berkenalan dan mulai membahas inti akan tetapi karena masalah itu hanya untuk orang dewasa saja, pada akhirnya Viola dan Agam segera pergi dari sana karena mereka pun ternyata masih ada tugas lainnya yaitu bermain.


"Kalau begitu kami pergi dulu."


Setelah ijin pamit, Viola dan Agam segera pergi dari sana menggunakan motor Agam. Dan kini tinggal tersisa Jane dan Vincent.


"Agam, dia langsung memberitahu ku kalau ada orang yang mau membeli rumah dan kebetulan ada orang yang mau menjualnya." Ujar Vincent bercerita tentang si Agam.


"Saya sangat berterimakasih padanya." Ucap Jane dengan formal.


Vincent yang mendengar itu pun malah sedikit kaku karena ia tak pernah lagi mengurusi pembelian dan penjualan rumah, hari ini pun ia lakukan karena Agam toh Agam adalah anak dari orang yang cukup terkenal.


"Jangan terlalu formal saya sebenarnya sudah lama meninggalkan pekerjaan ini."


Vincent terkekeh, senyum di wajahnya kini terlihat menampakkan sosok manis di sana karena ada lesung di pipinya.


"Baiklah mari ikut saya." Ajak Vincent membawa Jane berjalan ke suatu tempat.


Sambil berjalan mereka berdua mengobrol ringan tentang rumah yang ingin di belinya, berapa jumlah anggotanya dan lain-lain tapi tidak sampai ke informasi pribadi.


Hingga mereka berdua pun sampai di depan sebuah toko antik dan toko itu toko yang sama yang pernah ia kunjungi bersama Hana.


Jane terheran dan ia merasa aneh mengapa Vincent membawa nya ke sini dan bukan ke tempat yang seharusnya seperti rumah yang akan di jual. Tapi rupanya pemilik toko antik inilah yang ingin menjual rumah saudaranya yang sudah lama tak di tinggali.

__ADS_1


Kakek toko antik itu menyapa Jane yang ia kenal sebagai pelanggan pertamanya.


"Oh Halo, nice to see you again." Sapa si kakek kalau ia sangat senang bertemu Jane kembali. Jane menjawabnya dengan ramah.


"Yeah nice to see you sir."


Vincent pun menjelaskan kalau Jane lah orang yang ingin membeli rumah baru segera si kakek pun bersiap-siap untuk menunjukkan rumah yang akan ia jual, mereka bertiga pun bergegas pergi tak lupa toko antik itu pun segera di tutup untuk hari ini.


Menggunakan mobil Jane mereka bertiga pun pergi ke tempat tujuan, Vincent memang tak membawa kendaraan apapun tadi datang pun ia bersama Agam naik motor.


Kakek terus menerus memberi arahan jalan yang benar hingga tak lama sampailah mereka di tempat, Jane merasa ia sudah pernah ke sini sebelumnya. Rumah besar dengan taman yang luas serta pagar yang di rantai. Rumah yang di kalaupun di jual Jane tidak akan tertarik.


"I-ini rumahnya?" Tanya Jane, ia terkejut serta khawatir mungkin ia tak bisa membayar biaya rumah itu.


"Iya benar hanya rumah ini yang akan di jual, mari ikut saya." Ujar Vincent mempersilahkan Jane untuk masuk karena kakek sudah bisa membuka pagar itu.


Jane mengekor mereka berdua dari belakang, ia lihat ke kanan ke kiri tempat itu benar-benar luar biasa luasnya. Walau tak terurus tapi keindahannya masih bisa di lihat. Kakek mulai menceritakan dari awal mengapa saudaranya itu menjual rumah ini.


"Dulu sekali saudara saya itu orang yang sangat kaya, rumah ini ia bangun hasil pekerjaannya. Waktu itu pun karena kamu jarang komunikasi kamu tidak pernah sekali pun berkunjung sampai satu ketika ada berita." Kakek berhenti karena ia perlu bernafas dengan baik.


Jarak pagar dengan rumah pun sangat jauh sehingga mereka bertiga masih berada di tengah jalan karena kakek yang jalannya lambat Vincent dan Jane pun ikut berjalan lambat.


"Anak dari saudara kakek menelpon, katanya sudah meninggal dunia dan rumah ini pun mau di jual tapi tidak ada yang mau karena harganya terlalu mahal. Zaman dulu uang sepuluh juta pun terasa uang satu milyar jadi rumah ini sudah kosong terlalu lama."


"Saya lihat rumah ini beberapa hari yang lalu, padahal sudah lama saya tinggal di daerah sekitaran sini tapi ternyata saya tidak tahu apa-apa." Jelas Jane.


Vincent dan kakek pun mengangguk bersamaan, lalu si kakek kembali menjelaskan tentang rumah itu.

__ADS_1


"Orang-orang memang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, kakek juga baru tahu rumah ini beberapa tahun yang lalu padahal sertifikatnya sudah diberikan pada kakek sejak lama untuk di jual tapi tidak terjual-jual. Banyak orang tidak tertarik dengan rumah ini dikarena biaya yang mahal padahal kakek akan menjualnya dengan harga murah."


Sontak mendengar penjelasan kakek, Jane dan Vincent melongo terkejut tak percaya.


__ADS_2