LILI

LILI
EPISODE 3 : Tak Ada Yang Tahu


__ADS_3

Berkat doa dari anak-anaknya, Jane dan Wiliam kembali ke rumah dalam keadaan baik-baik saja. Bahkan saat mereka tahu kalau ketiga anaknya mendapat masalah dirumah Jane merasa sangat bersalah, ia terus menangis sembari memeluk erat ketiganya.


Sedangkan Wiliam mengobrol dan berbincang-bincang dengan nyonya Chen dan paman Chen.


Hingga tak terasa fajar pun mulai terlihat, Reva Rava dan Hana tidur di pelukan sang ibu semalaman terlihat juga raut wajah mereka yang tenang tanpa beban tanpa rasa khawatir seperti kemarin.


Saat pagi tiba, keluarga Bell pun keluar dari rumah keluarga Chen dan mereka pun meminta maaf karena sudah menyusahkan nyonya Chen beserta suaminya.


"Sekali lagi kami minta maaf dan saya sangat berterimakasih karena kalian telah membantu anak-anak." Ucap Jane saat mereka sudah diluar rumah Chen.


Nyonya Chen masih terlihat trauma walau akhirnya ia pun mengerti kejadian yang terjadi kemarin. Ia hanya mengangguk setelahnya ia kembali masuk ke dalam rumah untuk beristirahat.


Singkat cerita mereka semua sudah bisa masuk ke dalam rumah, di dalamnya terasa sangat sepi seolah rumah itu telah di tinggal lama oleh pemiliknya seperti rumah kosong.


"Semua baik-baik aja, kita akan tinggal di sini seperti biasa jadi lupakan yang kemarin." Kata Jane sembari dirinya menyimpan barang-barang dan duduk di sofa depan TV. Sedangkan si kembar terdiam masih berdiri tepat di pintu, Hana di pegang oleh sang ayah Wiliam.


Rava membuang nafasnya kasar namun pada akhirnya ia masih bisa melupakan kejadian itu, akan tetapi tidak dengan Reva gadis itu terlihat sangat depresi hingga saat Jane sadar akan hal itu ia pun segera menghampirinya lalu memberinya semangat.


"Kemari." Titah Jane sembari ia memeluk gadisnya mengusap punggungnya dan menenangkannya.


"Sekarang ada ibu, jangan takut kamu gak sendirian lagi."


Setetes air mata pun berhasil jatuh dari kelopak mata Reva, gadis remaja itu mampu menahan tangisnya dalam ketenangan.


"Ibu akan mengirim surat ke sekolah, istirahat saja di rumah."


Mendengar kata rumah, Reva segera menolak ucapan sang ibu pikirnya lebih baik ke sekolah daripada harus tinggal di rumah.


"Gak bu, Reva mau sekolah aja masih ada jadwal yang penting." Begitulah Reva yang akhirnya pergi dan naik ke atas sana.


Hari ini cuaca terlihat sangat cerah tak seperti kemarin yang terasa kelam dan dingin, kali ini lebih hangat dari sebelumnya.

__ADS_1


Pukul 7 Reva dan Rava pergi ke sekolah dan begitupun dengan Hana yang juga di antar oleh Jane. Karena hari ini adalah hari Senin Wiliam dan Jane pun harus masuk ke kantor seperti biasa akan tetapi Jane menyempatkan diri untuk mengembalikan Reva ke rumah karena kondisinya yang terlihat sudah baik.


Di Rumah Sakit


"Kemarin gimana Bu, adek-adek gakpapa kan?" Tanya Viola sesaat mereka berdua sudah di luar pintu masuk rumah sakit, kondisinya sehat tetapi tidak dengan kaki kirinya yang di perban sehingga membuatnya haru memakai tongkat.


"Mereka baik-baik aja, cuma Reva kayaknya trauma banget." Ujar Jane sambil membuka pintu mobil membantu Viola masuk ke dalamnya.


Setelah itu Jane mengitari mobil dan ia pun masuk, mobil pun di jalankan tanpa obrolan keduanya terhenti karena banyak sekali hal yang harus di bincangkan.


"Tapi Reva gak sekolah kan?" Pikir Viola Reva tak mungkin masuk ke sekolah setelah mengalami kejadian seperti itu.


Akan tetapi Jane menggelengkan kepala "Gak, Reva kekeh masuk sekolah gak mau absen katanya jadwalnya padat."


"Ouh kirain."


Pandangan Viola kini beralih ke kaca samping melihat semua yang di lewati oleh mobil mereka.


"Emang beneran ada hantu ya Bu di rumah kita?" Kembali Viola bertanya tanpa mengalihkannya tatapannya dari kaca.


"Doakan saja mereka tidak ada." Hantu yang di maksud Jane.


"Tadi Agam duluan pulang di jemput sama bodyguardnya, dia udah mendingan kayak kamu jadi gak perlu khawatir." Jane mulai mengalihkan pembicaraan.


Viola melirik sebentar lalu berkata "Syukurlah." Sebatas itu Viola mengucapkan kalimat syukurnya.


Akhirnya pembicaraan mereka pun terhenti sampai di depan rumah, Jane terlebih dahulu membantu Viola sebelum akhirnya ia pergi ke kantor dengan sangat-sangat terlambat.


Di sisi lain di kantornya Wiliam


"Permisi Pak, ada yang nyariin bapak di luar." Seorang wanita berhijab dengan umur sekitar 20an menghampiri Wiliam dan memberitahunya kalau ada seseorang yang sedang menunggunya di luar.

__ADS_1


Wiliam mengangguk dan segera keluar dari tempatnya bekerja, di bukalah pintu utama kantor dan terlihatlah saat ini dengan jelas seorang wanita muda yang cantik dengan pakaian yang minim.


Wanita itu terlihat masih berumur 26an, penampilannya yang seksi serta dandanannya yang agak tebal membuat wanita itu benar-benar percaya diri. Tak lupa juga kacamata hitam bertengger di hidungnya.


Lenggak-lenggok wanita itu menghampiri Wiliam dengan heels nya dan tanpa malu ia segera memeluk mesra Wiliam. Sadar mereka masih berada di kantor Wiliam segera membawa wanita itu pergi dari sana naik mobil merah si wanita.


Di dalam mobil itu, William terlihat menelpon bosnya untuk meminta cuti dengan alasan kalau anaknya sedang tidak sehat. Bosnya yang tidak tahu kebenarannya pun mengizinkannya akan tetapi dengan peringatan kalau ia tidak bisa cuti lama-lama.


"Gak kok pak, saya cuma mau cuti hari ini saja."


"Baiklah......"


"Baik pak terimakasih banyak." Kata Wiliam dan panggilan mereka berdua pun berakhir.


Di sepanjang jalan Wiliam dan wanita itu terlihat seperti sepasang kekasih yang baru saja di mabuk asmara dengan panggilan keduanya yang terdengar menjijikan.


"Honey aku pengen." Dengan nada centil wanita itu merayu Wiliam dengan wajahnya tak lupa tangannya bergerak ke mana-mana.


Raut wajah Wiliam jelas terlihat tergoda dengan wanita itu, dengan senyum merekah di wajahnya ia meladeni wanita itu dengan kasih sayang dan nada lemah lembut.


"Nanti ya sabar."


Yang hanya mereka yang tahu arah pembicaraannya, dan setelah itu wanita itu kembali merengek meminta di ajak ke mall.


"Honey pengen ke mall beli tas." Rengek wanita itu.


Wiliam terkekeh seolah rasa takut dan bimbang mulai menyelubunginya karena ia bingung dengan keuangannya yang mulai menipis akibat pertengahan bulan dan bukan hanya itu beberapa kejadian yang di alami di rumah membuatnya sedikit menghabiskan banyak uang di rekeningnya.


"Honey lagi gak punya duit ya."


Sontak mendengar itu Wiliam kaget dan panik seketika, ia tak ingin terlihat pecundang oleh selingkuhannya. Akan tetapi wanita itu juga terlihat agak bodoh karena kalau di lihat dari kekayaan wanita itu, dia adalah seorang wanita kaya raya sebagai ahli waris anak terkaya di sana.

__ADS_1


"Gak, gak, aku punya kok cuma..." Wiliam berusaha mengelak akan tetapi tak bisa.


"Yaudah gakpapa, temenin aku aja ya soalnya yang bayar tetep aku sendiri." Ucap wanita itu dengan bahagia. Wiliam hanya bisa mengangguk dan menuruti wanita itu.


__ADS_2