
Rupanya hari itu Agam akan mengikuti kelas tambahan yang sangat banyak, Viola hanya bisa menemaninya sampai sore hari sebelum akhirnya gadis itu pun di antarkan oleh pak sekretariat bersama sopirnya karena Agam masih harus melanjutkan kelasnya.
Tidak kira bagaimana pusingnya jadi seorang Agam, pewaris perusahaan mamah papanya.
Di malam harinya Jane menceritakan tentang rumah baru yang akan mereka tinggali, sebelum itu ia akan fokus terlebih dulu pada renovasi rumah. Butuh biaya yang banyak karena harus menyewa jasa konstruksi tak hanya biaya ia juga harus sabar menunggu rumah itu benar-benar bisa di pakai.
Paling cepat rumah itu siap di pakai sekitar 4-6 Minggu kemudian, dan sebelum itu mereka harus sabar.
Tak hanya rumah baru yang akan di renovasi Jane juga memperbaiki rumah yang sekarang agar nanti orang mau membeli rumah itu. Rencananya di 4 Minggu itu Jane akan mengajak anak-anaknya pergi berlibur mengingat mereka tak melakukannya sejak lama.
"Ibu punya rencana nih, kalau kita libur di hari Sabtu sama Minggu mau gak jalan-jalan keliling kota sekalian nginep di hotel nyobain tidur di hotel tuh kayak gimana." Dengan semangat Jane mengajak anak-anaknya.
Reva dan Rava bersamaan menyaut dengan sumringah sekali, akan tetapi berbeda dengan Viola dan Hana. Satu anak yang sudah besar itu menjawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari hp sedang Hana hanya mengangguk kecil dengan raut wajah yang datar seperti biasanya.
"Iya Bu nanti Viola liat jadwal dulu takut ada kegiatan." Jawab Viola.
Yah bagus menjawab tapi kebiasaannya yang kecanduan hp itu tak bisa di ubah, lain halnya lagi dengan Hana. Jane tak bisa merubah anak bungsunya itu menjadi ceria, entah sifat dari mana Hana menjadi pendiam seperti itu.
Jane mengingat dirinya sewaktu kecil yang sangat ceria penuh senyum dan tawa di wajahnya, bahagia bermain bersama teman-temannya tanpa ada beban sedikit pun.
Ia juga mengingat dan tahu betul bagaimana masa kecil mantan suaminya William. Anak nakal yang penuh semangat yang menggelora berjiwa bebas seperti ia tak di kekang oleh orang tua.
Jane segera menepis pikirannya yang tiba-tiba mengingat William, setelah itu ia segera mempersiapkan uang dan juga jadwalnya.
Dan singkat cerita hari itu pun tiba, libur dua hari bersama keluarga tanpa ayah tentunya. Jane hari-hari ini selalu tersenyum dan terlihat sangat bahagia mungkinkah karena mendapatkan rumah besar itu dengan harga murah sehingga ia sering tertawa seperti ini.
Viola yang selalu cuek pun sebenarnya ia peka dan memahaminya tanpa orang tahu kalau sebenarnya gadis itu sangatlah perhatian dan peduli pada keluarganya.
__ADS_1
Untuk liburan yang pertama Jane mengajak ke sebuah studio terkenal yang memanjakan anak-anak dengan wahana yang ada. Mereka semua bermain bersenang-senang bersama tanpa ada lili di dekat Hana. Selama mereka di studio, Jane menyuru Hana untuk menyimpan lili di tempatkan bersama barang-barang.
Tanpa Jane sadari hal itu mengundang sedikit kemarahan dalam diri Lili yang merasa di abaikan oleh majikannya.
Hingga singkat waktu mereka sudah berada di hotel, Jane memilih hotel bintang empat jadi sudah sangat bagus untuk mencobanya. Jane hanya memesan satu kamar namun dengan fasilitas yang banyak terutama kasurnya.
Terdapat dua kasur besar di sana, satu untuk Jane dan Hana. Dan satunya lagi untuk mereka bertiga yang tersisa. Ketiganya akan sibuk mengobrol tentang sesuatu sedangkan Jane hanya akan menemani Hana sampai ia tertidur tak lupa di sampingnya ada lili.
Sudah jam 8 malam TV yang terletak di atas dinding itu masih menyala karena ketiga anak Jane yang besar itu masih menonton TV, mereka kini tak lagi fokus pada hp yang ada tapi sedang menikmati fasilitas kamar hotel.
Hingga jam 9 malam si kembar sudah mulai tertidur sedang Jane dan Hana tidur di jam sebelumnya tapi tidak dengan Viola yang masih setia dengan hp miliknya. Gadis itu mulai mematikan TV tapi tidak langsung tidur karena ia masih ingin bermain hp.
Begadang sudah menjadi hal biasa untuknya tapi kali ini kelopaknya matanya sudah terasa berat alih-alih di tidurkan Viola malah mempertahankan kesadarannya hingga suara gedoran keras dari dinding sebelah membangunkan kesadaran Viola seutuhnya.
Anehnya suara itu tak membuat yang lain bangun, ia kembali berfikir mungkinkah suara itu hanyalah halusinasinya?!
Akan tetapi lagi-lagi ia di ganggu oleh suara gedoran yang keras tapi bedanya kali ini suara itu berasal dari pintu kamar bukan dari dinding.
Deg Deg Deg
Tak wajar kalau Viola tak kaget, jantungnya berdebar kencang dengan bulu kuduknya yang mulai berdiri sendiri. Hawa dingin menyeruak di daerah sekitarnya.
Namun Viola harus berdiri, gadis itu bersiap-siap mengecek pintu kamar. Hal yang membuat ia menjadi berani yaitu memikirkan kemungkinan terbesar siapa yang berani menggedor pintu sekeras itu. Pikiran positif nya berkata kalau itu adalah seseorang yang iseng atau juga suruhan pelakor ayahnya.
Dengan posisi kuda-kuda, Viola melangkahkan kakinya menuju pintu sana.
Tap tap tap
__ADS_1
Tak di buka pintu itu! Ia intip dari lubang kecil di tengah pintu itu dan lihat siapa yang ada di luar sana. Tidak ada siapa-siapa di sana!
Tapi tiba-tiba....
Duarrrrr
Sesosok mata berwarna putih menatap ke arah lubang itu sontak Viola terkejut bukan kepalang, kakinya tiba-tiba lemas. Susah payah ia bangun dengan bantuan dinding tapi ia kembali di buat takut setelah ada terdengar bunyi kunci pintu kamar di buka.
Larilah ia terbirit-birit hingga membangunkan Jane yang sedang tertidur pulas, gadis itu langsung menyelimuti tubuhnya sendiri sedang Jane yang melihatnya jadi kaget.
"Vi, Vi ada apa Vi?"
Di tepuklah punggung Viola yang tertutup selimut itu, Viola pun menjawab tanpa membuka selimut tersebut.
"Itu Bu ada hantu di depan pintu."
Jane yang mendengarnya pun tak percaya, ia tak habis pikir mana mungkin ada hantu di hotel berbintang ini. Kalaupun ada mana tugas keamanan dan cctv yang ada.
"Hah hantu?! Vi jangan ngada-ngada dong, gak mungkin ada hantu." Sanggah Jane.
Viola kesal karena sang ibu tak mempercayainya hingga pun menyuruh Jane untuk mengeceknya sendiri.
"Ibu gak percaya cek aja sendiri." Dengan nada yang ketakutan itu Viola terdengar seperti akan menangis.
Jane mengangguk segera ia cek pintu kamar tapi tak ada siapa-siapa di sana, hingga ia pun kembali dan betapa terkejutnya ia melihat Lili yang sudah dalam posisi duduk di ranjang tepat di samping Hana yang sedang tertidur.
Viola masih berbalut selimut tak berani melihat keluar sana, hingga akhirnya Jane pun menepuk-nepuk Viola dan membuatnya keluar dari balutan selimut itu.
__ADS_1
"Viola bangun udah gak ada apa-apa kok di luar, itu juga boneka Lili kamu yang dudukin dia?"