
Anak-anak keluarga Bell kini sudah bisa mengatasi masalah mereka masing-masing, tak lagi mereka penasaran akan masalah sang ibu yang pasti mereka akan selalu mendukung Jane apa pun pilihan Jane nanti.
Tak ada lagi orang yang berani menghujat si kembar, Viola maupun Hana. Terutama Hana yang selalu menakuti teman-temannya dengan membawa Lili bersamanya.
Waktu itu pernah kejadian seperti ini..
"Anak-anak, lain kali kalian gak boleh ketawain teman sendiri apalagi itu teman sekelas kalian. Itu perbuatan yang tidak baik loh, nah sekarang kalian semua minta maaf sama Hana ya." Ucap Bu guru menyuruh anak-anak muridnya meminta maaf langsung pada Hana yang kini berdiri bersama sang guru.
Untungnya mereka nurut pada Bu guru hingga bersama-sama mereka semua meminta maaf pada Hana.
"Baik Bu guru..."
"Hana maafkan kami..." Serentak anak-anak meminta maaf.
Lalu guru pun menyuruh Hana untuk duduk ke tempatnya hingga pembelajaran pertama pun di mulai, tak lama kemudian bel istirahat sekolah pun berbunyi menandakan waktu istirahat telah tiba.
Semua anak-anak keluar kelas, beberapa anak bermain di taman beberapa anak lain pergi ke kantin. Sedangkan Hana duduk sendirian bersama Lili di teras kelas dan di sampingnya ada pot-pot bunga yang indah warnanya.
Hana hanya bisa menatap teman-temannya yang berbahagia bermain bersama-sama. Di ayunan, perosotan, jungkat-jungkit dan wahana permainan lainnya.
Begitupun pun dengan Lili menatap lekat ke wahana ayunan yang sedang dimainkan oleh dua anak perempuan. Tawa mereka seolah terdengar olehnya mengingatkan kembali suara-suara dulu yang pernah ia alami sebelumnya.
Jeritan bukan tertawa, tangis pilu yang begitu menyayat hati seolah merenggut satu kebahagiaan terakhir seseorang.
Krieeeettt Krieeeettt
Suara ayunan itu terdengar jelas membawa terbang kedua anak perempuan itu, maju mundur terus berulang-ulang layaknya apa yang Lili lihat saat ini. Tiba-tiba baut yang terpasang kuat di ayunan itu perlahan-lahan keluar akan lepas yang nantinya berakibat ayunan itu jatuh bisa membahayakan siapa saja yang memainkannya saat ini.
"Hahaha seru ya.." Ucap salah satu dari mereka yang bermain ayunan tersebut.
Satu..
Baut ayunan semakin keluar menggoyahkan kekuatan ayunan yang sebenarnya.
__ADS_1
Dua...
Semakin lama semakin kencang ayunan bergerak maju mundur hingga akhirnya...
Brakkkk
"Aaaaaaa Ibuuuuu....."
Jeritan dan teriakan anak-anak mulai terdengar sangat kencang, suasana di taman kini ramai dengan anak-anak yang berlarian ke sana kemari lari melihat dua anak perempuan yang terlempar jatuh dari tempat ayunan.
Satu anak pingsan karena terbentur batang pohon yang ada di depan ayunan sana. Sedang yang satunya lagi masih sadar namun tubuhnya luka-luka terkena tumbukan baru kecil.
Guru-guru yang ada di kantor pun mulai berdatangan, mereka terkejut hingga suasana ricuh penuh teriakan yang ketakutan dan lain sebagainya.
Hana yang menyaksikan semua itu hanya bisa bangkit dari duduknya melihat orang-orang berlarian, berteriak histeris sedangkan Hana hanya memeluk Lili erat-erat padahal ia juga ketakutan.
Hari itu sekolah pun di bubarkan segera dan Jane segera di hubungi untuk segera menjemput anaknya tak lupa guru memberitahu singkat kejadian yang terjadi.
Tepat saat Jane kembali ke kantor polisi, orang tua dari Crisella datang bersamaan dengan Jane berniat mengeluarkan anaknya dari sel penjara.
Dengan ekspresi manja Crisella di depan orangtuanya membuat Jane benar-benar merasa jijik. Tak hanya Crisella yang di keluarkan dari jeruji besi, William juga.
Tak banyak bicara, Jane sudah tak ingin bertatapan dengan wiliam apalagi berbicara dengannya.
"Ayah, bolehkan kak Wiliam tinggal di rumah kita. Boleh ya boleh? Em?" Crisella kembali mengeluarkan suara manjanya di depan sang ayah.
Tanpa di tanya pun sudah jelas ekspresi ayahnya yang merasa malu apalagi kelakuan anaknya yang seperti itu di kantor polisi.
"Diamlah Crisella!" Ucap ayahnya pelan.
"Iya nak tenangkan dirimu, bisa jadi ada bayi di perut mu." Ujar bundanya Crisella membuat hati Jane terasa di tusuk oleh puluhan jarum di hatinya.
Sakit rasanya tak kuat hanya mendengar kata bayi! Sudah berapa Wiliam melakukan itu di belakangnya?!
__ADS_1
Tak hanya Jane yang kaget mendengar ucapan bunda Crisella, William juga tak bisa menerima hal itu. Ia juga merasa sakit, menyesal, apalagi saat melihat wajah sang istri yang terlihat sangat kelelahan.
William tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa menunduk menekan ludahnya sendiri mengingat Jane sudah tak mau menatap dirinya lagi.
Keputusan Jane sudah bulat akan menceraikan Wiliam, ia bahkan sudah menyewa pengacara untuk membantu mengurusi surat-surat perceraian. Kini ia hanya menunggu waktu saja sampai pengadilan benar-benar memisahkan mereka berdua.
Permasalahan di kantor polisi pun selesai dengan keputusan bahwa : perceraiannya Wiliam dan Jane akan dilaksanakan sesegera mungkin di pengadilan, untuk sementara William akan tinggal bersama Crisella karena Jane sudah tak menerimanya lagi. Orang tua Crisella pun menyetujui Wiliam tinggal di rumah mereka serta mereka juga akan memeriksa kondisi Crisella yang mungkin saja sedang hamil muda saat ini.
Di parkiran pun Jane bersama sang pengacara pergi tanpa memandang Wiliam satu kali pun, Jane benar-benar tak akan memaafkan Wiliam.
Rumah pun kini serasa tak seperti rumah, Jane pun berniat akan menjual rumah ini dan membeli rumah yang baru. Rumah yang tak akan lagi mengingatnya dengan kenangan bersama Wiliam, hanya tinggal satu masalah yang ada yaitu persetujuan dari anak-anak.
Dari siang sampai sore, Jane membereskan kembali rumahnya yang sementara hancur itu. Jendela kamar atas yang pecah di biarkan pecah, toh ia akan segera meninggalkan rumah ini juga.
Hanya untuk sementara mereka akan tinggal di rumah ini dan jane hanya menunggu waktu saja. Ia kembali mengatur keuangan yang ada yang mungkin bisa ia atur untuk semuanya nanti.
Bu Romlah datang untuk membantu Jane, terlepas berita itu menyebar Romlah segera membantunya apa saja yang Jane butuhkan. Termasuk membereskan rumah, ia juga sering kali menyemangati Jane dan tidak membiarkannya putus asa. Selalu ia usahakan agar Jane tersenyum walau hanya satu garis senyum saja.
Hingga tak terasa waktu pun sudah mulai sore, anak-anak yang pulang sekolahnya sore mulai kembali ke rumah. Hana yang tertidur pulas di rumah bibi Laura sudah mulai bangun dan bersiap-siap mandi.
Semakin sore juga semakin para tetangga berdatangan memberikan semangat, hadiah untuk anak-anak Jane dan beberapa bantuan lainnya.
"Tidak apa-apa Jane, itu bukan salahmu! Teruslah kuat agar anak-anak mu bangga memiliki ibu hebat seperti mu." Ibu RT yang juga datang ke rumah Jane pun menyemangati mereka, memberikan semangat kepada anak-anak.
"Terimakasih saya benar-benar berterimakasih untuk kalian semua yang hadir di sini."
Satu tetes air mata jatuh dari kelopak mata Jane di hadapan para tetangganya yang datang berkumpul di ruang tamu sedang anak-anak di ruang TV.
Mereka mengusap punggung Jane memberikan ketabahan untuknya.
Hingga tak terasa juga malam pun tiba dan semua orang yang hadir pun kembali ke rumah mereka masing-masing. Kini waktunya semua orang untuk tidur dan rupanya ada satu keinginan anak-anak pada ibunya, Jane.
"Bu, bisakah kita semua tidur bersama hari ini?"
__ADS_1