
Tik Tik Tik
Suara Jam dinding di atas terdengar jelas namun tidak terdengar oleh mereka yang kini sedang tidur nyenyak di atas kasur. Begitu tenang dan sunyi kamar berisi tiga orang itu sampai pada akhirnya semua lampu di rumah Chen mati mendadak.
Lantas nyonya Chen yang tersadar akan hal itu akhirnya bangun dan mengambil senter, di ambilnya juga beberapa lilin untuk anak-anaknya. Suaminya Chen ikut terbangun saat terdengar suara bisik dari istrinya.
"Aduh kok bisa mati lampu." Ujar paman Chen.
Srrrrrr (Suara korek api menyala)
"Padahal kita sudah bayar listrik tapi cuma kita yang mati lampu tetangga yang tidak." Nyonya Chen mulai membuka jendela kamarnya melihat rumah-rumah di seberang sana dan memang benar hanya rumah mereka yang mati lampu.
"Sudahlah lebih baik kamu bantu temui anak-anak."
Lalu mereka berdua pun keluar kamar membuka semua pintu kamar anak-anaknya dan mulai menyalakan lilin untuk masing-masing kamar.
Tak berbeda jauh dengan Reva yang mulai merasakan kegelapan di kamar, awalnya ia sedikit terkejut dengan lampu di kamar mati sehingga membuatnya agak kesulitan untuk mencari-cari keberadaan hpnya.
Ia mulai sedikit takut bukan hanya karena yang ia alami sebelum-sebelumnya, akan tetapi ia juga tak mau mengulangi kejadian mengerikan itu. Sembari mencari hpnya Reva berbisik berusaha membangunkan Rava.
"Rava bangun Rav, ish Rava.."
Pelan-pelan mata Rava terbuka, dan di saat itu juga Reva menemukan hpnya dan ia segera menyalakan senter di hpnya lalu cahaya tersebut langsung di arahkan ke muka Rava.
"Uhh." Refleks Rava menutup wajahnya dengan telapak tangan.
Reva yang melihat itu pun segera menggeser senternya ke arah lain, menyusuri dinding kamar yang gelap. Hana masih tidur terlelap sambil memeluk Lili bersamanya.
"Kok bisa mati lampu." Rava mulai membuka suara.
Sedangkan Reva kembali was-was dengan jantung yang sudah berdebar-debar tak karuan.
"Kita harus pergi ke nyonya Chen." Usul Reva.
Namun di saat itu juga tiba-tiba saja terdengar suara seorang wanita menyanyikan lagu pengantar tidur di kamar itu, suaranya terdengar lembut sangat lembut.
"Nina Bobo🎶oh Nina Bobo🎶kalau tidak bobo di gigit kerbau🎶"
__ADS_1
Sontak saja keduanya pun kaget bahkan Reva yang sudah deg-degan pun kini bertambah trauma atas kejadian ini. Tangannya yang memegang hp pun gemetar membuat senternya bergoyang-goyang ke atas ke bawah.
"Siapa pun kamu tolong jangan ganggu kami." Rava berkata demikian dengan nada yang berani membuat sosok yang sedang bernyanyi itu terhenti.
Walau tidak tahu hantu itu sedang di mana sekarang tapi Reva dan Rava yakin kalau ia sekarang sedang ada di kamar ini. Dan tepat setelah Rava memperingati hantu itu bunyi kuku yang bergesekan dengan kayu meja belajar terdengar sangat keras seolah hantu itu sedang marah pada mereka.
Kretek kretek
"Pergilah! Jangan ganggu kami lagi!" Rava mulai meninggikan suaranya membuat hantu itu membalas dengan berteriak keras.
"DIAM KAMU DASAR KETURUNAN PENGHIANAT!!"
Barulah sosok itu nampak jelas dengan menunjukkan wujudnya tepat di cahaya senter sana, Reva dengan jelas melihat sosok itu sedang hantu itu menatap tajam Rava yang ada di sebelahnya.
Tepat saat wujudnya muncul pintu kamar terbuka dengan nyonya dan paman Chen ada di sana melihat jelas hantu perempuan itu berwajah jelek dan menyeramkan.
Sosok itu segera melirik ke arah mereka melotot membuat nyonya Chen ketakutan begitu pun dengan paman Chen. Mereka berdua sekarang benar-benar percaya dengan adanya hantu seperti yang di ceritakan Rava sebelumnya.
Sosok perempuan yang sedang marah itu hendak menghampiri nyonya dan paman Chen sembari tubuhnya bergerak seperti zombie. Perlahan-lahan kakinya melangkah maju sedangkan yang di depannya mundur.
"Jangan ganggu mereka!"
Suaranya juga lembut terdengar seperti malaikat hingga akhirnya hantu itu pun pergi setelah di peringati namun sayang kepergiannya malah menghancurkan barang-barang yang ada di sana hanya dengan teriakan histeris darinya.
"Aaaaaaa Dasar Jahanam...."
Prang
Prang
Prang
Klik Klik
Terlihat kini rumah kembali menjadi terang dengan lampu yang kembali menyala, nyonya Chen masih berdiri gematar dengan pandangan kosong seolah trauma melihat sosok tadi. Suaminya menahan tubuhnya agar tidak jatuh padahal ia juga terlihat sama takutnya.
Di samping itu ternyata Hana sudah terbangun melihat semua kejadian tadi dengan lili yang menatap tajam ke arah depan sana.
__ADS_1
"Hana." Panggil Reva yang terkejut melihat Hana sudah terbangun. Bukan hanya dia, Rava pun juga sama kagetnya terlihat mereka berdua khawatir Hana akan trauma sepertinya Reva.
"Aku gakpapa kak." Ucap Hana sambil menempelkan tubuhnya kepada Reva.
Nyonya Chen dan paman segera masuk ke dalam kamar setelah mereka kembali sadar, dengan wajah yang masih ketakutan nyonya Chen berkata akan menelpon Jane dan Wiliam. Tak peduli pokoknya orangtua dari anak-anaknya harus mengetahui kejadian ini, kini nyonya Chen lebih tegas karena ia juga memikirkan keselamatan anaknya yang masih kecil.
"Saya harus menelpon orang tua kalian, tidak peduli kalian suka atau tidak dan ini juga untuk keselamatan kalian berdua." Segera nyonya Chen menelpon ke nomor Jane.
Paman Chen mulai membujuk mereka bertiga karena sebenarnya ia juga takut saat menghadapi sosok perempuan yang seperti tadi. Itu bukan hal yang biasa baginya, ia juga menganggap masalah ini tidak bisa di sepelekan begitu saja apalagi di biarkan.
"Dengan adanya orangtua kalian, mungkin kalian akan lebih aman dari pada bersama kami. Saya juga harus memikirkan anak-anak saya, tidak mau kalau hantu tadi kembali kesini dan menyakiti kami."
Rava tidak bisa menolak apalagi memaksa mereka untuk membantu, akhirnya ia pasrah dan menunggu saja kedatangan ibu dan ayah.
"Hana, Reva, ibu dan ayah bakalan ke sini kita doakan saja mereka agar selamat di jalan." Ucap Rava pada adik-adiknya. Ia pun mulai memimpin doa dan mulai menyatukan kedua telapak tangan mereka lalu memulai berdoa bersama-sama.
Jam di dinding menunjukkan pukul 1 malam yang suasana jalan di malam sulit untuk di lewati makanya Rava dan yang lain berdoa agar Jane dan Wiliam sampai kemari dengan keadaan selamat.
...New Scene...
Jingle bells jingle bells 🎶
Jingle all the way 🎶
Oh, what fun it is to ride 🎶
In a one horse open sleigh 🎶
Seorang kakek tua berjalan melewati perumahan dengan ria sambil menyanyikan lagu hari natal, walau sebenarnya hari ini bukanlah hari natal namun sepertinya kakek itu sangat senang menyanyikannya.
Sembari berjalan menyusuri trotoar di malam hari kakek itu terus bernyanyi sampai akhirnya sesuatu menarik perhatiannya di salah satu perumahan besar namun terlihat sudah kosong dan tua.
Sebuah kotak berwarna hitam mengkilap menarik perhatian si kakek karena kebetulan pantulan cahaya di jalan sana menyoroti kotak tersebut. Si kakek awalnya tak ingin mengambil kotak tersebut karena berada di dalam pekarangan rumah yang berpagar besi itu, ia yang hendak pergi dan membiarkannya tiba-tiba berhenti setelah ada bola pohon natal menggelinding ke arahnya dari arah kotak tersebut.
Seolah ada orang yang sengaja melemparnya ke arah kakek itu. Lalu di ambilnya bola itu membuat si kakek tertarik untuk masuk ke dalam perumahan tersebut lalu menghampiri kotak hitam yang di atasnya ada pita berwarna pink cantik.
Di atasnya juga terdapat satu surat bertuliskan "Untuk Keturunanku."
__ADS_1
Dalam hati si kakek enggan mengambil kotak itu, namun tangannya berkata lain dan malah mengangkat kotak itu lalu membawanya pulang ke rumah.