LILI

LILI
EPISODE 2.3


__ADS_3

Reva terdiam karena memang buktinya tidak ada, Rava lalu pergi dari sana meninggalkan Reva yang berkecamuk dengan kepalanya sendiri. Hana hanya bisa melihat pertengkaran kedua kakaknya tersebut, Hana merasa kasihan pada Reva karena ia tidak bisa membantu. Hana sepertinya tahu apa yang dialami Reva semuanya gegara boneka Lili.


Sepeninggalnya Rava kini giliran Reva pergi dari kamar Hana dengan rasa kesal dan sesak di dadanya. Gadis itu pun segera masuk ke dalam kamarnya dan merenung sendiri hingga amarahnya mereda.


Di samping itu Hana kini mulai menatap Lili yang sedang duduk di kursi, Hana mendekatinya lalu mengangkat boneka itu dari tempatnya.


"Lili, apa kamu yang melakukannya?" Hana mulai berbicara pada boneka tersebut.


Akan tetapi Lili tak menjawab, bertingkah seperti boneka biasa yang tak dapat berbicara ataupun bergerak. Hana pun lalu meletakkan boneka itu di pinggir ranjang sedangkan ia segera mengambil alat tulis gambarnya lalu membawanya ke atas ranjang.


"Lili, ayo kita main." Ajak Hana seolah-olah sedang mengajak bermain pada temannya.


Pintu yang tadi masih terbuka tiba-tiba tertutup dengan sangat kencang hingga membuat Reva yang di seberang sana melonjak kaget pasalnya ia sedang rebahan sambil bermain hp mengutarakan isi hati.


"Kenceng banget, bisa gak sih pelan-pelan nutup pintunya." Reva pikir semua itu ulah Rava yang kesal padanya. Akan tetapi ia kembali di buat kaget serta merinding saat ada suara yang menyautnya dari samping ranjang.


"Gak bisa." Suara tersebut terdengar sedang berbisik menghembuskan nafasnya yang dingin.


Lagi-lagi Reva ketakutan, bulu kuduknya tiba-tiba berdiri dan hawa dingin mulai terasa di ruangan kamarnya. Kali ini ia benar-benar yakin bukan halusinasi, ada sosok di sampingnya sekarang ini.


"Hiks Hiks..." Reva menangis ia takut dan tak kuat untuk lari dari sana, ia hanya mampu mempertahankan tatapan matanya ke HP saat ini.


Dirinya juga mulai membaca doa doa berharap sosok itu hilang dari sana, namun ternyata nihil sosok tersebut mulai tertawa kecil menambah kengerian di sana.


"Hihi hihi hihi."


Tangis sosok itu membuat Reva tak kuat menahan tangisnya yang membuatnya segera memberanikan diri untuk bangun dari pergi dari kamarnya, ia lari secepat mungkin dari sana berlari ke lantai bawah dengan wajah yang sudah basah dengan air matanya.


Hana yang mendengar Reva menangis di luar sana segera berhenti menggambar, ia segera membawa boneka Lili keluar dan menghampiri Reva di bawah sana. Tidak hanya Hana, Rava yang sedang mandi pun di buat kaget sesaat dirinya sedang menggunakan sampo saat ini.


Tanpa pikir panjang Rava cepat-cepat bersihkan sampo di kepalanya dan menyelesaikan mandinya itu, dan tanpa ia sedari sosok kuntilanak sedang melihatnya dari kaca namun karena Rava sedang di shower lantas ia pun tak melihat kuntilanak tersebut.

__ADS_1


Kembali lagi dengan Reva yang sudah menangis sejadi-jadinya, gadis itu sesenggukan dan sedang berdiri di ruang tamu dekat ruang TV. Reva memeluk dirinya sendiri berusaha menghentikan tangisannya dan melupakan kejadian itu.


Tak lama Hana datang dengan Lili di pelukannya lantas Reva yang melihat itu berteriak dan kembali menangis, Reva bahkan mundur beberapa langkah menghindari Hana bersama bonekanya.


Hana tak bisa berkata-kata melihat Reva seperti itu sampai Rava datang barulah Reva sedikit tenang.


"Ada apa ini ada apa?" Tanya Rava dari belakang Hana, Rava segera menghampiri Reva yang menangis ketakutan memeluknya hingga gadis itu tenang kembali.


"Ssssutt, tenang Rev tenang jangan nangis." Ucap Rava sembari ia mengusap punggung Reva.


Hingga beberapa menit berlalu mereka bertiga masih saja diam dalam suasana hening menunggu Reva tak lagi menangis. Dan setelah suara tangisnya mereda barulah Reva dan Rava duduk bersama sedang Hana masih berdiri memeluk Lili.


"Rava percaya sama gue, kali ini aja please." Reva mulai memohon pada Rava membuat Rava sedikit tak enak hati.


"Tenangin dulu diri lho, ceritain perlahan-lahan dan jangan takut. Ada gue kok dan juga Hana di sini." Ucap Rava.


Reva kini melirik ke arah Hana, matanya fokus pada boneka Lili di pelukannya Hana. Dan Hana pun seolah mengetahui arti dari tatapan Reva pada Lili.


"Lili bilang itu semua bukan karena Lili, tapi hantu jail yang udah ada di rumah ini sejak dulu." Hana mulai menjelaskan akan tetapi Reva malah jadi takut dan Rava malah bingung ucapan Hana.


"Lili sendiri yang bilang sama Hana pas ngegambar tadi." Jawab Hana.


Mau tak mau Rava yang mendengarnya harus percaya sedang Reva ingin sekali memulai ceritanya.


"Tuh kan Rav, semua kejadian yang aku alami itu bukan halusinasi. Rumah ini pasti ada penunggunya." Ucap Reva dengan nada sedikit menurun.


Selanjutnya pun Reva menceritakan semua yang ia alami barusan namun di tengah-tengah ia bercerita Rava memotong ucapannya.


"Bentar-bentar, maksud lho gue ketuk pintu kamar lho terus bilang darah lho bau anyir gitu? Mana ada, orang jam segitu gue lagi mandiin Hana di kamar mandi."


Mendengar Rava menyanggah itu, Reva kembali diam dan mulai menatap Rava dengan serius.

__ADS_1


"Serius lho?" Tanya Reva takutnya Rava berbohong padanya.


Namun saat Rava menjawabnya dengan serius dan bahkan mendapat persetujuan dari Hana yang juga bersamanya di jam itu membuat Reva kembali deg-degan.


"Serius Re, Hana juga pasti tahu itu." Dan Hana pun mengangguk cepat.


"Oke oke tenang kita lanjut." Reva mulai menenangkan diri sendiri lalu lanjut bercerita.


Cerita ketiga ini kembali di sanggah oleh Rava pasalnya ia merasa tak menyentuh hp Reva hari ini.


"Terus nih ya, tiba-tiba aja alarm bunyi di tambah nada deringnya berganti jadi alunan lagu pengantar tidur dan wajar dong kalau aku mikir kamu yang ganti jadwal alarm sama nada dering." Kata Reva bercerita dan dengan cepat Rava menyanggahnya.


"Gak Rev bukan gue yang ganti, gue bahkan gak megang hp lho hari ini."


Kali kedua Rava menyanggahnya membuat Reva sedikit stres tak habis pikir dengan kejadian aneh yang di alaminya hari ini. Reva berusaha percaya dan ia mulai meyakinkan diri kalau kejadian itu semua ulah si sosok jahil di rumah ini.


Hingga singkat cerita Reva selesai bercerita, setelah mengatakan semua kejadian barulah Reva sedikit lega dan tenang. Akan tetapi kali ini karena suasananya menjadi hening membuat mereka bertiga sedikit takut dengan suasana di rumah mereka ini.


Dan benar saja tiba-tiba televisi di ruang TV menyala tanpa ada orang yang menyalakannya, Rava yang awalnya tak mengalami kejadian horor seperti Reva mulai merasakannya. Bahkan saat ini pun ia masih dalam keadaan memakai jubah mandi tak memakai apapun di dalamnya.


Ketika televisi menyala mereka bertiga pun sontak berdiri bersamaan begitu pun dengan Hana yang langsung di suruh mendekat oleh Rava. Ruang TV tepat berada di samping ruang tamu tempat mereka sekarang berkumpul dan dari lorong belakang yaitu samping anak tangga muncul bayangan seorang wanita berambut panjang melangkah mendekati mereka bertiga.


Rava terkejut bukan kepalang jantungnya berdebar dengan sangat kencang, segera setelah melihat sosok itu mulai mendekati mereka. Rava menyuruh adik-adiknya untuk pergi dari rumah itu sekarang juga.


"Ayo kita pergi dari sini." Titah Rava dengan suara sedikit kencang.


Dengan cepat ia menggandeng tangan adik-adiknya dan bergegas pergi ke pintu luar rumah namun Rava yang gemetar ketakutan kesulitan membuka kunci pintu sampai sosok kuntilanak yang mengerikan itu hampir dekat dengan mereka.


Reva benar-benar ketakutan saat ini begitu pun dengan Hana yang terus menerus menutup matanya sedang Reva menyembunyikannya agar Hana tak melihat sosok hantu itu.


"Cepetan Rav." Dengan suara gemetar Reva menahan tangisnya.

__ADS_1


Setelah kunci pintu berhasil di buka barulah mereka bertiga keluar dari rumah itu, sedang pintu segera tertutup dan mengunci sendiri seakan sosok itu memang ingin mengusir mereka bertiga dari sana.


Rava pun segera meminta tolong pada tetangganya ada di depan rumah mereka, bukan rumah punya paman Dani akan tetapi rumah paling besar dan banyak mobil itu adalah milik keluarga Chen, orang China yang pindah kewarganegaraan dua tahun lalu.


__ADS_2