LILI

LILI
EPISODE 4.2


__ADS_3

Orang itu lalu di perlihatkan rekaman cctv yang memperlihatkan kecepatan mobilnya di jalan saat itu, akibatnya kedua kendaraan yang sama-sama melaju kencang mengakibatkan tragedi malam itu.


Bukannya jujur, ia malah semakin membela diri dengan berbagai alasan bahwa dirinya juga mengalami luka-luka sampai di titik puncak ia malah mengancam akan membawa pengacara pribadi.


Untungnya kepolisian tak takut dengan ancaman tersebut, Tara juga memang bersalah akan tetapi setidaknya pengendara mobil itu mau bertanggungjawab membantu korban yang di tabrak nya.


Pada akhirnya pengendara mobil itu harus membayar denda dan juga biaya untuk rumah sakit Tara. Apalagi kondisi Tara yang sulit menghubungi keluarga, hp retak dan Arzan yang tak tahu apa-apa sebagai wakilnya.


Kini, di rumah sakit pun Arzan sedang menunggu di kursi depan ruang operasi. Tara yang mengalami benturan keras mengharuskan ia untuk melakukan operasi dan kini ia tak sadarkan diri sepenuhnya.


Azran sudah terlihat sangat lesu dengan wajah khawatir, setiap detik menit Azran berdo'a meminta keselamatan untuk Tara kepada Allah SWT.


Azran adalah seorang muslim yang masih bolong-bolong solat nya, akan tetapi Azran itu anak baik dan ia bukan anak nakal yang sering ikut tawuran. Keluarga Azran sedikit tidak harmonis sehingga keberadaannya pun kadang tidak di pedulikan oleh orang tuanya, sama seperti saat ia di warnet seharian penuh.


Tiba-tiba seorang wanita berusia sekitar 35an menghampiri Azran yang sedang menutup wajahnya, ibu itu menepuk pelan bahu Azran lalu menyapanya.


"Nak." Sapa ibu dengan senyum manis di wajahnya.


Pipinya gembol karena tubuhnya yang juga agak besar, ibu itu segera duduk di samping Azran lalu mengajaknya berbicara.


"Saya lihat kamu sendirian dari tadi, keluarga kamu di mana?"


Azran dengan sopan menjawab pertanyaan si ibu sembari ia meminta mencium punggung tangan kanannya.


"Saya nunggu temen Bu, dia lagi di operasi sekarang dan saya gak tahu nomor telepon orangtuanya." Jawab Arzan dengan lesu dan tak bersemangat.

__ADS_1


Setelah mendengar jawaban dari Arzan, ibu itu lalu mengeluarkan sebungkus roti dari dalam tasnya diberikannya ke Arzan. Melihat roti itu di serahkan di depannya Arzan terdiam sejenak, dirinya memang sudah lapar plus minuman yang baru ia beli pun mungkin tertinggal di jalan sana. Tapi Arzan merasa tak enak menerima roti itu dari seorang ibu yang baru ia jumpai saat ini.


"Ambil saja, saya sudah kenyang. Kebetulan saya juga lagi nunggu anak saya yang sakit di sini, itu kamarnya." Tunjuk ibu itu ke arah pintu kamar pasien yang berada di depan ujung sana.


Arzan hanya mengangguk saja mendengarnya, setelah itu ibu itu melanjutkan ucapannya.


"Saya juga gak punya saudara lain yang mau bantu saya jaga di sini, jadi saat saya liat kamu sendirian di sini, ingin sekali saya temani kamu biar gak kesepian."


Arzan sedikit terkejut, ia merasa tak perlu di temani seseorang tapi ia juga merasa kalau ia kesepian tapi bukan berarti itu di temani oleh ibu-ibu.


"Tidak juga tidak apa-apa Bu, saya gak kesepian." Tolak Adzan dengan sopan.


Ibu itu mengangguk pelan mengerti dan pada akhirnya ia tetap melanjutkan obrolannya dengan Arzan berbagai pertanyaan yang membuat obrolan mereka menarik sampai Arzan pun tak sadar kalau waktu terus berputar sampai lampu ruang operasi pun menyala berwarna hijau.


Tak terasa pula akhirnya pagi pun datang dengan suara adzan subuh yang terdengar dari masjid.


"Astaghfirullah...." Refleks Vian membaca istighfar lupa kalau dirinya bukan orang muslim.


Segera mendengar bunyi barang jatuh dari dapurnya, ia pergi mengecek takut kos-kosannya kemalingan. Walaupun dirinya miskin Viandra masih terlihat cukup kaya kalau di lihat dari barang-barang elektronik yang ia punya.


Sesaat dirinya sudah di dapur, dengan mata terbuka lebar Vian melihat sebuah panci bergerak karena jatuh dari rak atas. Dilihatnya pintu rak itu yang terbuka setengah sedang beberapa barang di dalamnya seperti panci, gelas plastik jatuh ke lantai.


Vian tak berfikir yang aneh-aneh ia menduganya kalau itu ulah tikus yang ada di rumah ini, padahal nyatanya itu perbuatan iseng sosok hantu di sana.


Setelah merapikannya kembali viandra melanjutkan tidurnya karena ia masih merasa ngantuk, satu kali pun ia tak mengecek isi HP-nya yang padahal banyak panggilan tak terjawab di dalamnya.

__ADS_1


Di sisi lain di rumah paman Dani


Viola, si kembar, dan juga Hana kini mereka semua sudah terbangun dengan tv yang menyala menayangkan saluran tv anak-anak. Dari raut wajah mereka yang sama-sama datar membuat tayang tv itu terlihat tak seru padahal animasi di dalamnya sering tertawa.


Paman Dani yang melihat itu tak bisa berbuat apa-apa, ia yang tak pandai menghibur anak-anak jadi agak sulit membuat mereka tertawa seperti yang ada di TV. Dan pada akhirnya ia hanya bisa menyiapkan sarapan untuk mereka.


"Kak Viola mau sekolah?" Tanya Reva sembari menatap Viola yang tidak menatapnya balik, gadis itu fokus melihat ke layar televisi lalu menjawab singkat.


"Iya." Benar-benar Viola sedang berada dalam mood yang tidak baik-baik saja, gadis itu kini tak lagi menjaga penampilannya yang selalu terlihat cantik tapi tidak sekarang ini.


Rambutnya berantakan, wajahnya lesu tubuhnya semakin kurus serta semangat hidup yang menurun. Reva memahami keadaan kakak itu karena ia pun juga sama seperti itu.


"Rav, mau sekolah gak lu?" Tanya Reva sambil memukul pelan paha Rava yang kebetulan duduk di sampingnya sambil menatap tv di depannya.


"Iya, kan sekarang belum libur jadi harus tetep sekolah." Jelas Rava.


Reva menghela nafas karena ia sebenarnya malas untuk pergi ke sekolah hari ini apalagi pikirannya kini sudah mulai memprediksi bagaimana teman-temannya di sekolah menatapnya dengan hina.


"Kalo gue males sekolah Rav, tau sendiri kan kita baru di timpa musibah temen-temen juga udah pada tau kejadian kemarin bisa-bisa kita berdua dapet hujatan." Kini Reva mulai mengungkapkan isi hatinya dengan wajah menunduk ke bawah.


Paman Dani yang sekilas mendengar ucapan Reva segera menghampiri mereka semua, memberikan nasehat serta semangat yang menggelora.


"Gitu doang takut! Berani dan harus lawan, kalau memang kalian semua kuat tidak mungkin hanya karena satu hujatan kalian langsung mundur." Ujar Paman Dani sembari menyediakan sarapan di tengah-tengah mereka duduk.


"Kalau kalian tidak percaya diri maka pasti mereka semakin menjadi-jadi. Buktikan! Kalau kalian itu tak mudah ditindas, singkirkan ucapan mereka dari telinga kalian! Sekali-kali jadi anak nakal di sekolah kalau di suruh orangtuanya panggil, paman yang akan datang."

__ADS_1


Dengan penuh percaya diri paman Dani busungkan dadanya meyakinkan mereka agar terus berani dan percaya diri.


Semua orang pun berdecak kagum melihat semangat paman Dani yang begitu menggebu-gebu membuat mereka akhirnya termotivasi hingga senyum mereka di wajah pun perlahan terlihat menghiasi suasana suram sebelumnya.


__ADS_2