
Jaraknya sangat jauh padahal ia hanya perlua masuk ke dalam rumah.
Rupanya saat itu juga bibi Laura dan paman Dani sedang dalam perjalanan, tak hanya itu kakek toko antik dan Vincent pun juga dalam perjalanan. Mereka menggunakan mobil tapi berbeda jalan.
Malam itu rupanya kakek mendapat peringatan dari sosok gadis cantik bergaun putih saat dirinya masih berada di toko antik.
Hujan deras itu juga menyebabkan tokonya mati lampu, tepat pada saat itu uang koin di mejanya jatuh ke lantai. Ia mengambilnya sembari membungkuk saat tubuhnya tegak kembali seorang gadis cantik berkulit putih berdiri di hadapannya.
Wajahnya pucat pasi, namun segera gadis itu mengeluarkan suara dan peringatan pada si kakek.
"Seharusnya rumah itu tidak ada! Boneka itu akan mengambil satu jiwa diantara mereka."
"Lili. Dia ada dalam boneka itu." Lanjutnya yang masih terdengar ambigu.
"Rusak ritualnya, bunuh boneka itu dengan darah keturunannya." Setelah itu ia menghilang dalam sekejap.
Kakek terdiam, wajahnya gemetar kembali ia mengingat keluarga Bell dan boneka yang ia berikan pada gadis kecil itu. Segera ia memanggil Vincent dan juga seorang pendeta mereka pun kini dalam perjalanan ke kediaman Bell.
Jane ketuk-ketuk pintu itu namun tidak ada jawaban, ia lalu berteriak dengan sangat kencang...
"HANA!!"
Viandra dan Agam sontak terkejut keduanya membuka jendela melambaikan tangan ke arah Jane berharap Jane dapat melihat mereka.
Setelah Jane melihat mereka, segera ia mencari sesuatu yang mungkin bisa membuat kaca itu pecah.
Para biarawati semakin cepat membacakan ayat-ayat mereka, Viandra merasa geram ia mencoba mendekati lingkaran yang di buat mereka berharap ia bisa menolong adik-adiknya. Tapi ia tidak bisa! Ada penghalang yang membuatnya tak bisa masuk ke dalamnya.
Pranggg
Kaca jendela pecah dan sebuah batu besar masuk ke dalam rumah, Jane masuk ke dalam lubang kaca hingga tangannya harus terluka saat memegang pecahan kaca samping.
Jane menghela nafas saat ia lihat nenek buyutnya berada paling utama, rupanya wanita tua itulah nenek Jane yang berada dalam mimpinya.
"Hentikan! Jangan lakukan ini pada anak-anak ku!"
Nenek mendongakkan kepalanya dengan mengeluarkan suara patah tulang.
__ADS_1
Krek
"Hana tidak akan selamat." Ucapnya sembari tersenyum. Di belakang nenek ada gadis cantik bergaun putih tatapannya sayu dan tidak hidup sama seperti dulu sebelum ia mati.
"Tidak akan! Anak-anak ku pasti selamat!"
Tepat di luar sana dua mobil datang dengan kecepatan tinggi, bergegas orang di dalamnya keluar dan berusaha masuk ke dalam.
"Siapa mereka?" Tanya Agam dalam suara yang kecil.
Mereka berteriak memanggil nama Jane membuat Jane yang mendengar itu dari dalam tersentak. Sedang si nenek berubah semakin jahat, iblis merasukinya dengan wajah yang sangat menyeramkan.
Pendeta, Vincent, paman Dani segera berlari memencar melewati pintu belakang dan pintu samping. Di dobraknya pintu-pintu itu dengan susah payah. Hingga saat mereka sudah masuk semua pendeta terkejut melihat lingkaran iblis.
Iblis itu langsung menatapnya, matanya melotot sangat mengerikan.
Pendeta mulai membaca ayat-ayatnya, namun semakin ia bacakan semakin nyaring juga bacaan para biarawati.
Dari belakang bibi Laura dan kakek menghampiri mereka, melihat banyaknya orang yang datang membuat sang iblis murka ia keluarkan teriakan yang begitu nyaring hingga menghempaskan semua orang yang ada.
Vincent masih bisa menahan diri ia berlari ke arah Vian dan Agam. Ia lalu berteriak ke Jane memberitahukan bagaimana cara menyelamatkan anak-anaknya.
"Rusak ritualnya, bunuh boneka itu dengan darah keturunannya."
Ayat-ayat yang dibacakan para biarawati melemahkan bacaan pendeta. Hingga ia pun meminta bantuan pada ketiga laki-laki lainnya agar membaca ayat yang ia ucapkan.
"Kemari kita harus saling berpegangan tangan." Titah Vincent saat melihat tatapan yang diberikan oleh sang pendeta.
Mereka mulai membacanya bersama-sama.
"Viola, Reva Rava, Hana ikuti kami." Jane mulai berteriak ke arah mereka yang ada di lingkaran.
Susuah payah mereka mengikuti bacaan itu dengan suara rintihan yang kesakitan, tali yang mengikat itu benar-benar sakit seperti ada ratusan pecahan kaca dan aoi yang panas.
Dalam sela-sela ruang sempitnya, bibi Laura juga ikut membaca dengan hati terus berdo'a agar semuanya selamat.
Mereka akhirnya saling membuktikan kekuatan do'a masing-masing, sedang iblis itu tersenyum mengejek seolah para manusia sedang berangan-angan saja agar selamat.
__ADS_1
Di samping itu paman Dani di ruang perpustakaan, sebuah buku tiba-tiba saja terjatuh membuat paman Dani membuka lembaran buku itu. Sekilas ia temukan satu jawaban nama iblis yang tadi muncul di lingkaran itu.
Appolion, malaikat jurang maut yang berkuasa atas para korbannya. Pintu tiba-tiba terbuka seolah ada orang yang membantu mereka.
Bergegas paman Dani keluar dan menghampiri pendeta, membuka lembaran itu tepat di hadapan sang pendeta.
"Appolion, iblis yang menguasai korbannya! Pergilah ke neraka, jangan ganggu kami! Tempat mu bukan di sini!"
Tepat setelah namanya di bacakan iblis itu bergerak tak karuan tersiksa akan sesuatu, Vincent lalu berteriak pada Jane.
"Jane darahmu."
Jane tersentak, ia lalu mengambil pecahan kaca yang ada di lantai. Ia sobek telapak tangannya hingga keluar darah, rusaklah lingkaran itu setelah terkena darah Jane. Para biarawati mulai berteriak kesakitan begitu pun dengan tali yang mengikat anak-anak Jane.
"Arghhhhh...."
"Akhhh..." Viola, si kembar, menangis kesakitan tangan mereka berdarah-darah seperti daging yang terkenal kobaran api.
Semua hantu menghilang dalam sekejap, namun tidak dengan nenek yang masih ada dengan tubuh ambruk di lantai terdengar juga suara rintihan yang sangat kecil.
Akan tetapi saat semuanya sedang diam mengamati tiba-tiba saja nenek berlari menghampiri Hana yang diam tanpa berbicara satu kata pun. Melihat hal itu Jane bergegas menghalang dnegan tubuhnya.
Alhasil ialah yang di cekik, Vincent segera menarik tubuh Hana sedang Jane bersusah payah melepaskan tangan itu dari lehernya.
Saat pendeta ingin membantu, tubuhnya malah terhempas jauh seolah iblis itu tak ingin ada orang yang membantu.
Satu hal yang Jane ingat. Bunuh boneka itu dengan darah keturunannya.
Saat itu juga Jane merobek nadi di pergelangan tangan kirinya, pecahan kaca di tangannya itu menjadi pisau yang tajam. Di arahkan nya tangan kiri yang menetes darah itu tepat di atas kepala boneka Lili.
"Arghhhhh." Nenek berteriak dengan tubuhnya yang perlahan-lahan terbakar api panas.
Tak hanya itu boneka Lili pun perlahan-lahan terbakar oleh api tanpa ada yang menyulutnya. Jane yang sudah terlepas dari cekikan nenek segera tubuhnya ambruk ke tanah.
Viola dan Reva berteriak histeris sedang yang lainnya segera mengangkat tubuh Jane dan yang lainnya mendorong rak dengan cepat. Paman Dani menyelamatkan sang isteri yang terhimpit barang-barang, untungnya bibi Laura selamat.
Dan itulah akhirnya...
__ADS_1