
"De, bangun dek udah sore."
Pluk pluk pluk
Rava menepuk-nepuk punggung Hana agar terbangun sampai beberapa kali tepukan barulah Hana mengerjap-ngerjap lalu bangun.
Rava yang melihat Hana sudah bangun itu pun segera berbalik namun alangkah kagetnya ia saat menemukan sebuah boneka tepat di samping dinding sembari duduk di kursi menghadap ke arahnya dengan tatapan yang tajam.
"Puji Tuhan." Refleks Rava menyentuh dadanya yang berdebar-debar.
"Mm, ada apa kak?" Tanya Hana yang sedang mengucek matanya.
"Gak, gakpapa cuma kaget liat boneka itu si di simpan di sana." Ujar Rava menunjuk boneka tersebut dengan dagunya.
Hana pun melirik ke bonekanya, ia merasa heran kenapa boneka itu bisa ada di sana karena ia merasa ibunya meletakkan boneka itu di sampingnya. Namun Hana berfikir mungkin saja ibunya juga yang memindahkan boneka itu.
"Ibu mungkin yang menyimpannya di sana." Kata Hana sembari turun dari ranjang.
Mendengar itu Reva mendelik ketakutan sambil berkata "Bonekanya serem, beli di mana sih?" Tanya Rava sesaat mereka berdua keluar dari kamar.
"Dari toko antik." Jawab Hana.
"Pantesan serem." Timpal Rava.
Di balik itu ternyata percakapan mereka berdua seolah di dengar oleh boneka itu.
Reva masih belum selesai mandi dikarenakan gadis itu malah bermain dengan gelembung sabun yang dibuatnya. Kamar mandinya kecil, hanya sebatas shower, bak mandi, kaca untuk berkaca lalu toilet.
Sembari Reva bermain gelembung di bak mandi tiba-tiba saja kerudung hitam terlintas lewat kaca. Reva yang sadar akan hal itu segera berhenti bermain, jantungnya mulai berdetak kencang dan segera menyelesaikan mandinya secepat mungkin.
Rava dan Hana menunggu di sofa sambil berbincang-bincang.
"Udah di kasih nama belum bonekanya?" Tanya Rava.
"Belom." Jawab Hana sambil menggeleng.
"Tapi bonekanya bilang mau di kasih nama Lili." Lanjut Hana.
__ADS_1
"Bonekanya bilang gitu?" Tanya Reva keheranan dan juga bingung.
Hana hanya mengangguk saja karena setelah itu Reva keluar dari kamar mandi tergesa-gesa dengan raut wajah yang sedikit ketakutan.
"Ada apa? Kok lu ketakutan gitu sih?" Rava segera bertanya saat Reva sudah ada di dekat mereka masih dengan menggunakan handuk saja.
Reva yang ingin bercerita pada Rava malah tidak jadi saat melihat Hana ada di sana.
"Gak, gakpapa kok cuma kedinginan." Ucap Reva segera pergi ke kamarnya.
Setelahnya Rava mengajak Hana untuk mandi, dengan telaten Rava memandikan Hana sembari mereka berdua bercanda di dalam sana.
"Kak, kak Rava suka apa kalau di sekolah?" Tanya Hana, Rava yang tak terbiasa dengan Hana yang aktif membuatnya agak sedikit bersemangat untuk lebih mendekatkan diri dengan adiknya.
"Suka olahraga, Reva juga sama dia malahan suka Voli ya kalau kakak sih basket atau badminton." Jelas Rava.
Setelah itu mereka pun melanjutkan mandinya dan kini di kamarnya Reva terlihat suasana cerah dengan warna putih serta gambar-gambar sportif tertempel di dinding. Semua lampu di nyalakan agar ruangan menjadi terang, karena rasa takutnya masih ada walau sedikit mereda.
Di sela-sela dirinya sedang memakai baju tiba-tiba ketukan pintu kamar terdengar sebanyak tiga kali.
Tok Tok Tok
"Darah lho tuh anyir banget." Terdengar suara Rava dari luar, Reva yang merasa tidak haid pun segera menjawab dengan nada yang sedikit kesal.
"Apaan sih! Orang aku gak haid kok."
Setelah itu tak terdengar lagi jawaban dari Rava namun malah terdengar suara kaki yang menuruni tangga lantas Reva berfikir kalau Rava sudah pergi dari sana.
Pakaian pun sudah selesai di pakai, waktunya Reva keluar dari kamar untuk menonton tv akan tetapi saat dirinya membuka pintu tiba-tiba saja bunyi nada dering alarm dari hpnya terdengar dan menyala.
"Ish kenapa nyala sih?! Masih jam 4 udah alarm aja nih hp, di ganti lagi nadanya. Ck." Decak Reva kesal. Berpikir yang Mengganti jam alarm dan nadanya adalah Rava karena memang kembarannya itu kadang memakai hpnya untuk mengisi tugas.
Sesaat dirinya keluar lagi-lagi kejadian aneh menimpanya dan melihat pintu kamar Hana yang ada di depannya terbuka sendiri menampakkan seisi ruangan yang gelap dengan boneka Hana yang kini sedang duduk menatapnya tepat ke arah luar kamar.
Melihat boneka seram itu menatapnya dengan wajah senyum mengerikan, Reva berlari ke bawah tanpa berteriak sedang jantungnya kembali berdetak kencang seolah-olah akan segera copot dari dadanya.
Untungnya ada Rava dan Hana yang baru keluar dari kamar mandi, lagi-lagi Rava terheran dengan ekspresi pucat Reva serta wajah takutnya yang benar-benar terlihat jelas.
__ADS_1
"Ada apa Re? Muka lho pucet lagi kayak tadi, ada apa sih sebenernya?"
Kali ini Reva mulai menjelaskan apa yang terjadi padanya sampai-sampai ia ketakutan parah seperti ini.
"Itu, pintu kamarnya Hana tiba-tiba aja kebuka sendiri terus juga bonekanya serem banget bisa-bisanya duduk ngadep pintu." Jelas Reva dengan nafas yang tersengal-sengal.
Rava dan Hana saling bertatap keduanya sedikit terkejut dan juga heran.
"Gak Re, bonekanya ngadep kasur duduknya juga di Deket dinding." Sanggah Rava.
"Hah?!"
Di saat mereka sedang ribut tentang boneka itu tiba-tiba saja terdengar pintu di banting dengan keras.
Braaaakkkk
Mereka bertiga kaget seketika bersama-sama mereka menatap ke arah tangga atas sana. Reva yang sudah ketakutan bertambah takut hingga matanya berlinang.
"Re, sini." Rava langsung menyuruh Reva untuk berdiri di belakangnya sekalian menjaga Hana bersamanya.
"Kita bareng-bareng ke sana, jagain Hana Re!"
Reva mengangguk cepat dan langsung memegang erat lengan Hana di sampingnya, kemudian Rava memimpin jalan dan berjalan di depan. Ia ambil barang apapun yang ada di meja untuk jaga-jaga.
Perlahan-lahan mereka menaiki tangga bersiap menyingkap sesuatu di balik atas sana sesudah di ujung tangga paling atas Rava bersiap-siap bersama barang di tangannya yaitu raket nyamuk.
Dengan hati-hati Rava membuka engsel pintu lalu mendorong pintu hingga terbuka lebar, di sana memang gelap akan tetapi jendela luar terbuka sedang di luar sana ada angin yang menyeruak masuk ke dalam kamar.
Lantas Rava pun menghela nafas berfikir kalau itu semua karena angin, secepatnya ia tutup jendela itu lalu menyalakan semua lampu yang ada di kamar dan setelahnya ia temukan boneka itu persis saat ia lihat sebelumnya.
"Gak ada apa-apa Re, cuma mungkin ada angin dan bonekanya juga ada di sana." Tunjuk Rava pada boneka Lili yang ada di dekat dinding.
Reva menganga tak percaya, apa benar ia salah lihat tadi?! Tapi, tidak mungkin ia halusinasi. Ia pun berusaha menanyakan kembali kejadian-kejadian aneh yang menimpanya selain ini.
"Gue serius Rav, tadi gue lihat boneka itu ada di sini." Jelas Reva sambil mempraktekkan cara Lili duduk di ranjang menghadap pintu yang terbuka.
"Pintunya tiba-tiba terbuka lalu si boneka itu ngeliat ke arah gue kayak gini dan gue lari, saat itu juga kalian berdua keluar dari kamar mandi. Percaya sama gue Rav." Reva mulai menatap Rava dengan penuh harapan akan percaya padanya.
__ADS_1
"Iya oke, gue mau percaya sama lho tapi liat Re, bonekanya ada di sana bukan di sini."
Reva terdiam karena memang buktinya tidak ada.