
Bibi Romlah menjenguk paling awal dari yang lainnya, ia sangat menyayangkan kejadian seperti biasa di alami oleh keluarga Bell. Ia terus berdo'a yang terbaik untuk temannya Jane.
Bibi Romlah juga awalnya akan menemani Jane di rumah sakit akan tetapi mengingat ia juga punya anak-anak di rumah jadi ia tidak bisa melakukan itu. Alhasil Bibi Laura lah yang mengajukan diri untuk menemani Jane, biar anak-anak Jane pulang ke rumah.
"Kalian bisa jaga diri bukan? Ingat! Selalu bersama dan jangan terpisah." Bibi Laura memberi nasihat pada anak-anak Jane, dan segera mereka menganggukkan kepalanya bersama-sama.
Sore itu juga mereka pun kembali ke rumah, Viandra memakai mobilnya sedang yang lain memakai mobil. Tak hanya itu Agam juga rupanya ikut bersama mereka dari belakang berniat menginap malam ini. Viandra mengijinkan, selama ornagtua Agam juga mengijinkannya.
Malam itu kembali terasa mencekam seolah memang suasana rumah itu memberikan aura yang menyeramkan.
"Ada yang aneh kalau menurut Reva." Reva memulai pembicaraannya di tengah-tengah semua orang duduk di hamparan karpet di ruang tv.
Lantas semua orang melirik ke arahnya, Reva terdiam sejenak sebelum akhirnya ia menjelaskan ucapannya.
"Dulu rumah kita baik-baik aja, semua tentram aman dan damai. Tapi, semenjak ada boneka itu keluarga kita udah gak sama lagi kayak dulu."
"Reva.." Kata Viola dengan penuh penekanan.
"Itu bener kak! Dari awal juga Reva udah curiga sama boneka itu." Tunjuk Reva pada Lili.
"Rumah ini juga aneh! Emang bagus, luas dan juga mewah tapi harganya gak sebanding dengan semua ini." Lanjutnya.
Saat itu juga dari lantai dua yang tak ada suara apapun kembali terdengar suara barang-barang jatuh. Hal itu membuat mereka serentak mendongak ke lantai atas.
"Apaan tuh?" Seru Agam.
Viandra bangkit, lebih dulu ia naik tangga di ikuti yang lainnya. Taku kalau ada pencuri lagi. Viola dengan Hana berada di belakang Viandra, si kembar depan Agam yang berjalan paling belakang.
Saat itu tidak ada siapa-siapa walau sudah di cek ke sana kemari, dan pada akhirnya mereka semua kembali ke lantai bawah.
"Gak ada apa-apa." Ucap Viandra.
"Terus tadi suara apa?" Tanya Viola
"Udah udah jangan mikirin yang aneh-aneh, palingan suaranya dari atap." Jawab Vian menebak-nebak saja.
Tepat jam 7 malam di luar hujan deras dnegan suara petir yang menggelegar memberikan suasana di rumah itu semakin seram dan kelam. Mereka semua tidur di ruang tv dengan selimut dan bantal sudah tersedia di karpet.
Karena hujan tv pun tidak di nyalakan. Viandra pun akhirnya menyuruh mereka semua untuk tidur. Pemuda itu takut hal mengerikan terjadi pada mereka di malam itu.
"Sekarang tidur, hujan gede di luar gak boleh begadang." Titah Vian pada adik-adiknya.
"Iya kak." Serentak ketiganya menjawab.
Satu jam kemudian, Agam Viola dan Viandra masih terjaga. Mereka berbincang-bincang mengenai segala hal, dari mulai perkuliahan Viandra. Kisah Agam dan Viola, serta masa kecil mereka bertiga.
Di saat perbincangan mereka terdengar lucu hingga semuanya tertawa. Hujan dan petir terdengar di luar sana, yah sedari tadi hujan deras belum juga reda. Hingga...
Tuk
Semua lampu mati mengehentikan suara tawa mereka bertiga.
"Hah?! Mati lampu?" Terdengar suara Viola yang kaget.
Agam segera menyalakan lampu senter hpnya, segera Viola dan Vian pun menyalakan nya juga.
"Vio ada lilin gak di rumah? Lampu lain mungkin?" Tanya Viandra.
"Ada, di kamar ibu nomor tiga di meja." Jelas Viola.
__ADS_1
Viandra bangkit hendak naik ke lantai dua sana, ia juga mengajak Agam untuk ikut bersamanya ke atas sana.
"Gam lho ikut sama gua, Vio jaga di sini bisa kan?"
Viola mengangguk sambil mengangkat senter hp miliknya, Agam bangkit dan mulai mengikut Vian ke atas. Setelah sampai di depan pintu kamar ibu, Viandra membukanya dan melihat jendela kamar yang terbuka terbawa angin dan hujan masuk ke dalam sana.
"Tutup jendelanya Gam." Ucap Vian sedang ia mencari lilin dan lainnya di kamar itu.
Petir menggelegar hebat menampakkan siluet di ruang gelap itu, dan sekejap dari pojok dinding kamar ada seorang wanita bergaun putih berdiri dalam diam.
Duarrrrr
"Cepet gam tutup pintunya." Sembari Vian merogoh apa pun yang ia dapat.
"Iya iya." Jawab Agam lalu menutup rapat jendel tersebut tak lupa ia tutup juga gordennya.
Samping itu di lantai bawah
Viola sedikit merasa takut dengan menjaga ketiga adiknya yang tertidur lelap. Tepat setelah mendengar petir menggelegar, senter hpnya tiba-tiba mati di saat itu juga di belakang tubuhnya sebuah angin menerpa dirinya.
Vio panik tapi ia tak bisa mengeluarkan suaranya sama sekali, seolah ada yang menyangkut di tenggorokannya. Ia pukul-pukul hp miliknya supaya kembali menyala. Namun nihil, suara langkah kaki dari belakang menghentikan pergerakannya.
Nafas Vio sudah tak beraturan, ia beranikan diri membelokkan kepalanya ke belakang dengan pelan-pelan. Wajahnya gemetar sedang langkah kaki itu semakin lama semakin terdengar sangat dekat.
Viola arahkan senter tidak menyala itu ke depan sana....
Tak Tak Tak
Tangan Vio gemetar ketakutan, saat senter kembali menyala alangkah terkejutnya ia melihat sesosok wanita tersenyum ke arahnya. Viola menjerit
"Aaaaaaa...."
"VIO." Teriak Agam, dengan cepat ia keluar dari kamar berlari menuruni tangga dan meninggalkan Vian yang berada di belakangnya.
Lain halnya di rumah sakit saat ini
Jane bermimpi, dirinya berada satu ruangan dengan seorang wanita tua yang bule wajahnya.
"Nenek buyut." Panggil Jane pada wanita tua itu.
"Jane." Ucap nenek itu memanggil nama Jane dengan lembut.
"Nenek moyangmu ini sudah melakukan kesalahan besar." Lanjutnya.
"Maksudnya Nek?" Tanya Jane tak paham dengan ucapan nenek.
"Pesugihan!" Satu jawaban dari nenek membuat Jane membulatkan matanya lebar-lebar.
"Semua tumbal itu, masuk ke dalam boneka. Dan mereka yang mengorbankan diri menjadi pengikut setia iblis itu, dan sekarang iblis itu ingin keluar dari wujud bonekanya. LILI."
Tepat setelah itu, dari belakang nenek sepasang tangan mengerikan menyentuh bahunya menarik cepat tubuh nenek ke belakang. Jane berteriak hingga ia tak sadar ia terbangun dari mimpi tersebut.
Bibi Laura yang mendengar teriakan itu segera memanggil dokter, tak lama kemudian dokter dan para sister segera menuju ke ruang pasien. Tapi Jane tidak ada!
Bekas infusan itu sudah tergeletak di sana, ada banyak darah di lantai menunjukkan jejak perginya Jane.
"Pasien pergi keluar." Seru dokter pada para susternya.
"Di luar hujan bagaimana bisa Jane pergi begitu saja." Ucap Laura, ia segera menelpon suaminya yang ada di rumah memberitahunya kalau Jane pergi setelah bangun dari tidur.
__ADS_1
Saat itu Jane tertatih-tatih mencari taksi, untungnya ada taksi yang lewat dan pengemudinya adalah Kakek tua.
"Nyonya seperti anda sedang tidak sehat." Ucap sopir itu.
"Cepat! Bawa aku ke alamat...." Jane memberitahu alamat rumahnya sedang bibirnya pucat pasi sembari tangannya menyentuh dada.
Kembali di kediaman Bell.
Agam kini memeluk Viola yang menangis ketakutan, ia menepuk-nepuk punggung Viola dan mengusap kepalanya agar gadis itu tenang.
"Hei hei tenang."
Ketiga adik Viola hanya bisa melihatnya menangis tanpa menanyakan apa pun, seolah mereka tak berani bertanya apa yang terjadi pada kakaknya tersebut. Lain halnya dengan Vian, pemuda itu terhenti di awal tangga karena telinganya mendengar sesuatu.
Suara orang-orang sedang berbisik, tak hanya satu suara saja yang terdengar tapi banyak. Vian berbalik mengarahkan senternya ke sumber suara hingga betapa terkejutnya ia melihat biarawati-biarawati menunduk ke bawah sambil mengucapkan ayat-ayat.
Mereka keluar dari kamar nomor tiga, melihat hal itu Viandra bergegas turun ke bawah sana. Cepat-cepat ia menyuruh yang lain pergi dari rumah itu.
"Kita semua harus pergi dari sini, cepat!!" Vian berteriak pada semuanya.
"Kak ada apa?" Tanya Agam, namun ia terhenti dan semua orang mendongak bersamaan ke arah tangga sana bertepatan dengan senter Vian yang menyorot ke sana.
"Hantu." Ucap Reva tanpa sadar.
Viandra kembali berteriak pada mereka "Cepat!! Kita pergi dari sini."
Bergegas semua orang berdiri berlari mengikuti Viandra ke pintu depan sana. Namun tiba-tiba saja rak besar di dinding sana bergerak dengan sendirinya menutup rapat pintu seolah menghadang mereka pergi keluar.
Brakkk
Semua panik sesaat siluet kembali menerangkan rumah itu, memperlihatkan para biarawati yang sudah berada di anak tangga.
"Lili." Ucap Hana mengingat dirinya meninggalkan Lili di ruang tv sana. Viandra maju paling depan, menyembunyikan adik-adiknya di belakang.
Para biarawati itu berjalan ke sebuah tempat kosong, mereka membentuk lingkaran. Viandra dan yang lain hanya bisa melihat itu dalam diam, ia mencoba mencari pintu lain yang mungkin bisa keluar.
"Jendela." Viandra mulai melihat ke arah jendela sebelah kanan mereka.
Mendengar hal itu Agam segera pergi ke jendela yang di tunjukkan Vian, dari depan san tepatnya ruang TV seorang wanita tua berjalan sembari memeluk Lili di belakangnya ada anak-anak kecil dan juga seorang wanita cantik bergaun putih.
Matanya melotot tajam ke arah Vian dan yang lain. Melihat itu Vian semakin berani, ia membantu Agam memecahkan jendela kaca yang rupanya sudah di ganti oleh polisi ke kaca yang lebih kuat.
"Sial." Umpat Vian.
Semakin dekat wanita itu ke arah mereka, namun rupanya ia berjalan ke arah lingkaran sana. Lalu, di letakkan Lili di tengah-tengah mereka sedang hantu anak-anak dan gadis cantik mulai berdiri di belakang para biarawati.
"Hihi Haha..." Tiba-tiba suara anak kecil terdengar di langit-langit sana seolah ada anak perempuan yang sedang berlarian.
Petir terus menggelegar dan hujan semakin lama semakin deras.
"Aaaaaa..." Teriakan nyaring seorang wanita membuat orang-orang menutup telinga mereka merasakan gendang telinga akan hancur kalau tidak di tutup.
Naas rupanya itu hanyalah tipu muslihat saja, setelah suara nyaring itu terhenti lampu kembali menyala akan tetapi semua orang sudah berada dalam genggaman para tentara. Tubuh mereka seolah terikat oleh sesuatu yang menyakitkan hingga suara rintihan kesakitan terdengar di sana.
Kecuali Vian dan Agam, mereka tidak terikat sama sekali. Vian melotot melihat ke arah lingkaran yang adik-adiknya juga ikut dalam lingkaran tersebut terutama Hana yang duduk di tengah-tengah lingkaran berhadapan dengan boneka Lili.
"HANA!!"
Kembali dengan Jane, setelah taksi berhenti di depan jalan rumahnya, Jane segera berlari membuka pagar sekuat tenaga ia mengayunkan tangannya agar larinya itu cepat. Sepanjang jalan, ia menangis memikirkan anak-anaknya teringat akan mimpi itu.
__ADS_1
"Kumohon bertahanlah."