
Agam datang ke rumah pagi itu tepat saat semuanya masih sedang menyantap sarapan mereka, Agam dengan motor Vario kuning miliknya segera membunyikan klakson di depan rumah keluarga Bell.
Melihat ke sana kemari tapi di rumah itu kosong dan gelap, hingga ia pun berteriak memanggil nama Viola sampai-sampai suaranya di dengar satu kompleks.
"VIOLA INI GUE AGAM, LO DIMANA?"
Viola tersedak makanan mendengar seseorang memanggil namanya dengan begitu kencang, ia terbatuk-batuk karena nasi goreng yang ia kunyah tadi kini tersangkut di tenggorokannya.
Reva segera menepuk-nepuk punggung Viola membantunya minum, bisa bahaya kalau orang tersedak di biarkan bisa-bisa mati karena batuk.
"Dia ngapain sih teriak gitu, uhuk uhuk." Umpat Viola sembari dirinya segera pergi keluar menemui Agam.
Agam yang melihat Viola keluar dari rumah tetangganya langsung turun dari motor dan menghampirinya.
"Lu stress ya?! Teriak-teriak gitu di sini! Malu-maluin nama gue aja Lo, noh tetangga pada ngintip di jendela." Benar saja, orang-orang di rumah lain kini sedang mengintip dari kaca rumahnya masing-masing.
Setelah mereka ketahuan barulah mereka menutup kembali kaca rumah mereka.
Sedang Agam sepertinya tak peduli akan hal itu, ia malah memeluk Viola dan berkata sendu kalau dirinya sangat khawatir padanya.
"Vi! Lo Napa sih gak jawab chat gue? Gue khawatir Ama lho Vi, puluhan kali gue calling dan lho tega-teganya gak jawab satu pun."
"Ish apaan sih lebay." Viola menyingkirkan tubuh Agam yang sedang memeluknya.
Kali ini ekspresi Agam berubah ia mulai dingin sedingin es.
"Gue kan udah bilang! Kalo lho ada masalah ngomong ke gua jangan di pendem sendiri!" Agam mulai meninggikan suaranya seolah ia kesal dan sedang meluapkan kemarahannya.
"Gue tau masalah yang di Ig di WhatsApp, jangan kira lho bisa ngatasi itu sendiri. Pokonya kalau ada apa-apa bilang ke gue Vi! Gue ini sahabat lho. Dan sekarang lho mau sekolah gak hari ini? Tanya Agam dengan nada yang mulai menurun.
"Sekolah lah kalau gak pasti semua orang ngira gue ngehindar." Viola mulai menyilangkan kedua tangannya seakan sudah siap melawan netizennya di sekolah nanti.
Melihat semangat Viola yang seperti itu tiba-tiba Agam mengusap rambut Viola sembari ia tersenyum padanya.
"Bagus, gue juga bakal bantu lho kalau-kalau mereka ngebuli. Gue pulang dulu, nanti gue jemput jam 7." Setelah itu Agam kembali menaiki motornya lalu pergi memutar jalan pulang ke rumah.
__ADS_1
Viola diam tak mengucapkan satu kata pun hingga Agam menghilang dari pandangannya di jalan itu. Lantas ia pun kembali masuk ke rumah dan menyantap kembali masakannya.
Di samping itu Agam ternyata menepi di pinggir jalan memanggil bala bantuannya.
"Yo ada apa Gam?" Sapa seseorang di seberang sana.
"Gue minta sama lho buat jagain Viola kalau gue gak ada? Kasih pelajaran untuk mereka yang berani macam-macam sama Viola."
"Hukumannya sama gak cewe cowo?" Tanya orang itu.
"Terserah Lo tapi jangan sampai ada yang ngelaporin!" Ujar Agam memberi peringatan.
"Asiap, jangan lupa transfer kayak kemarin." Segera orang itu menerima perintah Agam dengan suara yang berbunga-bunga. Karena dirinya akan mendapatkan uang dari Agam kali berhasil melakukan semua tugasnya.
"Ya." Dengan jawaban singkat yang diberikan Agam pada orang itu akhirnya panggilan pun berakhir.
Rupanya kemarin pun Agam meminta bantuan pada anak buah khususnya itu yang kerjanya sangatlah profesional, kemarin pun ia meminta agar menghentikan hujatan-hujatan yang di berikan kepada Viola dan mengancam mereka yang berani berkomentar pedas apalagi menyebarkan video ayahnya.
Sehingga Viola yang mulai membuka hpnya pun segera terkejut dengan notifikasi penuh permintaan maaf dari mereka yang sebelumnya menghujat dan menghinanya.
Bahkan Viola masih tak percaya dengan semua itu, suasana hatinya kini mulai baik kembali dan ia lebih ceria dan semangat sekarang.
Berbeda dengan Reva dan Rava yang tak memiliki orang dalam seperti kakaknya Viola.
"Kak Viola kenapa sih senyum-senyum sendiri?" Bisik Reva pada kembarannya Rava. Pandangannya tetap ke arah Viola yang bersiap-siap untuk mandi.
"Gak tau, tanya aja sendiri."
Setelah itu Rava bangkit dan pergi keluar merenggangkan tubuhnya dan memulai pemanasan, kegiatan itu sering ia lakukan agar menjaga tubuhnya tetap atletis.
Reva mulai mengalihkan pandangannya ke Hana yang diam tak mengatakan apa-apa, gadis kecil itu fokus menonton film anak-anak di tv sedang bonekanya masih ada bersamanya.
Reva terkejut dengan bola mata boneka itu yang seakan menatapnya dengan lekat memberi arti di dalamnya.
"Kak?" Panggil Hana membuyarkan lamunan Reva yang lama melihat boneka Lili.
__ADS_1
"Ya?"
"Di panggil sama kak Rava di luar." Ucap Hana karena memang Reva tidak mendengar teriakan Rava tadi.
"Oh oke." Segera Reva bangkit dan pergi menghampiri Rava.
Setelah Reva pergi dari sana Hana kemudian meletakkan Lili lalu menyandarkannya ke dinding, rupanya Hana tak selalu menginginkan Lili ada di pelukannya. Hana kembali fokus melihat tv di depannya.
Akan tetapi tiba-tiba saja suara langkah kaki terdengar dari lorong samping sana tepat mengarah di depan mata Lili. Istilahnya Lili sedang menghadap lorong itu sedangkan televisi ada di samping kiri Lili dan Hana ada di samping kanannya.
Suara langkah kaki itu terdengar oleh Hana, sorot mata Hana mulai berfokus pada lorong itu. Tiba-tiba seorang wanita berambut keriting terurai panjang menutupi wajahnya mulai berjalan ke arah Hana.
Pelan dan sangat pelan wanita itu berjalan ke depan, yang tadinya hanya suara langkah kaki yang terdengar kini malah suara bisikan yang terdengar darinya.
"Lili Lili." Panggil wanita itu dengan nada yang sangat menyeramkan membuat siapa saja yang mendengarnya pasti merinding.
Dan tiba-tiba saja dari arah belakang sosok Lili berbisik di telinga Hana menyuruhnya untuk segera memeluk boneka itu.
"Hana peluk aku."
Hana menurut dan mulai memeluk kembali boneka Lili sedang kini mereka berhadapan dengan wanita keriting itu. Sosok Lili yang tadi di belakangnya hilang seketika seolah pergi dari sana setelah perintahnya di laksanakan.
Hana tak berteriak, tak tak sedikit pun karena gadis kecil itu masih tak tahu apa-apa, lugu dan tak mengerti kalau di yang ada di depannya saat ini adalah hantu yang sangat jahat.
"Lili apa dia jahat?" Tanya Hana dengan polosnya.
Dan tiba-tiba saja suara dari sosok Lili kembali terdengar di telinga kanannya sebelumnya di telinga kiri.
"Iya Hana dia hantu yang jahat, haruskah aku membunuhnya lagi agar tak mengganggumu?" Bisiknya.
Hana diam tak menjawab karena ia tak mengerti dengan ucapan sosok Lili padanya.dan saat itu juga dinding lorong yang ada di sana pun tiba-tiba retak hingga mengeluarkan suara.
Dan tiba-tiba saja wanita berambut keriting itu berlari cepat ke arah Hana menampakkan diri menunjukkan wajahnya yang mengerikan. Sontak hal itu membuat Hana ketakutan dan berteriak sangat kencang. Sedang wanita itu di tarik oleh sesuatu dari belakang menyakiti rambut wanita itu hingga menjerit kesakitan.
Hana melihat di ujung lorong itu seorang wanita berbadan tinggi berbaju hitam tertutup layaknya seorang biarawati sedang menjambak kuat rambut hantu itu.
__ADS_1
Saat Reva dan Rava masuk karena mendengar teriakan Hana saat itu juga dua sosok itu menghilang.