
Si kembar khawatir saat melihat raut wajah syok Hana, Reva melihat lorong di sana karena Hana terus melihatnya dari tadi.
"Hana kamu gakpapa? Tadi ada apa?" Segera Reva dan Rava mengecek tubuh Hana takut kalau ada sesuatu yang membahayakan.
Di saat itu juga paman Dani datang yang tadinya sedang sibuk berada di garasi, paman Dani segera bertanya-tanya apa yang terjadi. Begitu pun dengan Viola yang mempercepat mandinya dan keluar setelah itu.
Rava segera mengambil air minum memberikannya agar menenangkan Hana, di usapnya juga punggung gadis kecil itu. Lain hanya dengan Viola yang masih memakai handuk keluar menemui mereka takut ada apa-apa pada Hana namun ia agak sedikit kaget melihat sorot mata Lili ke arahnya.
"Ada apa-apa ini ada apa?" Tanya Viola yang malah di tatap sekilas oleh mereka yang ada di sana.
"Kami juga belum tau kenapa soalnya Reva sama Rava lagi pemanasan di luar, kak Viola lagi mandi." Jelas Reva.
Paman Dani pun mulai menenangkan mereka semua, ia tak mungkin bertanya pada Hana yang sepertinya masih kaget.
"Tapi kalau di liat dari ekspresi Hana..." Reva mengantungkan ucapannya sebelum akhirnya ia pun melanjutkan kembali.
"Itu kayak Reva yang baru pertama kali liat setan."
Satu kalimat yang berhasil membuat yang lainnya terkejut, sedikit tak masuk akal tapi memang itu yang Reva rasakan seperti yang ia alami sebelumnya.
Rava yang mendengarnya hanya diam, karena pengalaman mereka bertiga nyaris hampir sama mendapatkan semua kejadian horor dan sulit di percaya.
Paman Dani tak bisa berkata-kata lagi, kini ia hanya bisa menghentikan pembicaraan mereka kali ini. Biarlah yang lalu berlalu, pikirnya.
"Sudah sudah jangan dipikirkan lagi. Hana, lupakan kejadian yang kamu alami tadi, kalau memang kamu liat hantu lupakan saja karena mereka cuma bisa menakut-nakuti tidak dengan menyakiti." Paman Dani mulai memberikan nasihat penuh maknanya lagi.
Dari luar suara klakson mobil berbunyi menandakan kalau istrinya dan juga Jane baru pulang. Tak ada yang harus di perbincangkan kalau anak-anak masih ada di sini, mereka akhirnya bersiap-siap menyibukkan diri seolah tak terjadi apa-apa.
Apalagi Laura yang menceritakan berbagai kejadian seru di perjalanan mereka sebelumnya, seperti menceritakan adanya pasar malam, toko makanan dan lain-lain.
Si kembar mandi bergiliran sedang Viola sudah bersiap-siap memakai baju seragam. Mereka sebenarnya tahu kalau orang dewasa itu sedang menyembunyikan permasalahan mereka, padahal anak pun juga berhak tahu apalagi ini menyangkut ayahnya.
Jam 7 kemudian
__ADS_1
Agam dan Viola sudah siap berangkat, sedangkan si kembar dan Hana sedang menunggu paman Dani yang akan mengantar mereka ke sekolah.
"Paman Tante kami berangkat." Seru Agam bersiap pergi dari sana.
Laura, Jane dan yang lain melambai tak lupa mengingatkan keduanya untuk berhati-hati.
"Hati-hati di jalan." Ujar Jane seraya menarik senyum simpulnya padahal wajahnya terlihat sangat lelah dan lesu.
Mereka berdua pun pergi dari sana sedang paman Dani siap dengan mobilnya akan pergi ke tempat kerja.
Singkat waktu anak-anak pun sudah berada di sekolahnya masing-masing, dan kini di sekolah dasar tempat Hana. Teman-temannya yang ada di sana mulai menatapnya aneh, beberapa berbisik kecil padanya sedang Hana menunduk sambil memeluk Lili.
Tatapan Lili yang sembari tersenyum itu memang terlihat sangat indah akan tetapi di balik itu sepertinya tidak.
Saat Hana sudah berada di kelas pun teman-temannya mulai bertanya padanya, mereka mengerumuni Hana yang sebenarnya takut dnegan keberadaan mereka yang sangat banyak.
"Hana ayahmu kenapa?"
"Kalau polisi gimana? Mereka terlihat keren di Vidio."
"Haha dia terus diam pasti karena takut."
Masih ada ujaran-ujaran lainnya yang menyakiti hati Hana, hingga Hana pun mulai berteriak kencang pada mereka semua membuat suasana hening seketika.
"TIDAK!! DIAMLAH!!"
Hana akhirnya pergi dari sana pergi sejauh-jauhnya dari kelas, gadis kecil itu mulai merenung di taman sekolah yang masih sepi karena belum waktunya istirahat.
Bel berbunyi menandakan kelas pertama masuk, tapi Hana tetap di taman duduk di ayunan sambil meletakkan Lili di pangkuannya.
Guru yang sadar Hana tidak ada segera pergi mencarinya setelah teman-temannya memberitahu kalau Hana lari pergi keluar.
Guru cantik dan ramah itu menemukan hana di ayunan tapi netranya malah terpaku pada seorang gadis kecil yang berdiri di belakang Hana. Wajahnya datar dan matanya melihat dalam-dalam ke arah Hana yang ada di belakangnya.
__ADS_1
Guru merasa aneh hingga saat dirinya hendak menghampiri Hana suara asing berbisik di belakangnya.
"Jangan Mendekat!!"
Guru kaget refleks ia berputar dengan jantung yang mulai berdetak kencang. Hana tersadar dengan sang guru yang ada di dekatnya. Namun anehnya guru tak menemukan siapapun di belakangnya, itu kosong melompong.
Kembali ia berbalik melihat Hana di ayunan dan gadis yang di belakangnya itu pun sudah tidak ada.
Setelahnya guru bergegas menghampiri Hana membujuknya untuk masuk ke kelas, dan setelah beberapa menit kemudian Hana berhasil di bujuk dan mereka pun kembali ke kelas.
Namun mereka tak sadar kalau di belakang mereka di paling belakang sana seorang wanita tua menatap keduanya dengan tatapan datar.
Lain halnya dengan Reva dan Rava, di sekolah mereka berdua berhasil menutup mulut mereka yang berani membicarakan ayahnya yang tersebar di video. Si kembar yang kebetulan sedikit terkenal di sekolahnya mampu mengatasi masalah yang ada.
Bantuan dari sohib sekolah membuat mereka kebal akan hujatan-hujatan yang ada.
Serta di sisi lain Viola dengan percaya diri melangkahkan kakinya yang sudah sehat masuk ke dalam sekolah, mengabaikan orang-orang yang berbisik tepat di depannya.
Bino dan Caca yang jelas-jelas sudah menjadi musuh bebuyutan Agam dan Viola, mereka beradu mulut sejenak lalu berakhir dengan kemenangan Agam dan Viola.
"Buah gak jatuh dari pohonnya bener gak sih sayang." Bino mulai berbicara pada Caca sedang dalam perkataannya itu ada maksud yang tersembunyi.
"He'em iyah, kalau bapaknya ja*lang ya pasti anaknya juga ja*lang." Timpal Caca dengan nada yang menggelikan.
Viola yang sedang berjalan melewati mereka pun berhenti berbalik dan menatap keduanya dengan sinis. Mulai dari kaki hingga rambut Viola terkekeh melihat penampilan Caca.
Caca yang di tatap seperti itu mulai goyah, ia terlihat mulai terpancing hingga akhirnya Agam menimpali ucapan mereka berdua tadi.
"Barang murah emang cepet rusak, Bino lho urus tuh cewe lo yang penampilannya kayak kupu-kupu malam. Ck." Sindir Agam sembari melihat seragam Caca yang terlihat ketat dan menampilkan lekuk tubuhnya.
"Bino...." Rengek Caca.
Bino diam lalu ia segera menyingkirkan tangan Caca yang menggelantung di tangannya, sedang ia menatap sinis ke arah Viola dan Agam yang santai berjalan ke arah kelas.
__ADS_1