LOVE IN MINE

LOVE IN MINE
PERTEMUAN PERTAMA


__ADS_3

          Aktifitas dimulai. Seorang gadis berusia 21 tahun mencoba peruntungannya dalam mencari pekerjaan dengan ijazah SMA. Ia adalah seorang gadis sederhana yang di besarkan di sebuah panti asuhan. Gadis itu bernama “Balqis”. Ia di letakkan di depan pintu gerbang panti asuhan saat ia masih bayi. Balqis gadis berambut panjang dengan kulit yang putih kemerah-merahan. Tubuhnya kecil langsing, namun ia gadis yang penuh semangat dan ceria. Anak-anak yang ada di panti asuhan sangat menyukai Balqis yang sering membacakan cerita untuk mereka.


Ia menyusuri jalan kota untuk mencari pekerjaan, agar dapat membantu keuangan panti asuhan yang sedang sekarat.


“Permisi! pak, apa di sini sedang memerlukan pegawai?” tanya Balqis dengan pemilik toko kue yang bernama Hendri.


“Iya! Kau mau bekerja disini? Upahmu satu juta perbulan, dan setiap harinya kau akan mendapatkan uang lima puluh ribu asalkan kau mau bekerja dari mulai jam 10 pagi hingga jam 10 malam. Kau mau?” tanya Hendri lelaki paruh baya kepada Balqis.


“Iya, pak. Saya mau!” Jawab Balqis senang.


“Baiklah, kau bisa mulai bekerja sekarang.” Sambung Hendri.


          Balqis pun bergegas mengganti pakaiannya dengan memakai pakaian khusus pekerja toko kue tersebut. Disana ia berkenalan dengan seorang gadis bernama Lita, yang juga bekerja di toko kue itu. Balqis sangat senang berteman dengan Lita yang ramah terhadapnya. Balqis bekerja dengan rajin setiap harinya yang membuat Hendri senang memperkerjakan Balqis di toko kuenya.


          Malam harinya, Balqis pulang dari pekerjaannya menyusuri  gang sempit untuk memotong jalan agar cepat sampai ke panti asuhan. Seketika langkahnya berhenti saat melihat sesosok pria yang tergolek lemas dengan luka yang parah di kepalanya. Balqis mencoba mendekati pria itu.


“tuan, apa yang terjadi denganmu?” tanya Balqis gemetar.


“aku di kejar oleh musuh-musuhku saat aku sedang sendirian, tolonglah aku!” ucap sang pria menahan rasa sakitnya.


          Kemudian, Balqis mendengar suara derap kaki berlari menuju ke arah mereka. Ia melihat puluhan orang berpakaian preman dan bersenjata sedang celingak celinguk mencari seseorang. Balqis langsung sigap mengetahui siapa yang mereka cari. Tak ada cara lain, Balqis langsung menindih tubuh pria itu dan menciumnya, seolah mereka adalah pasangan yang sedang bercinta di gang tersebut. Wajah sang tertutupi oleh tubuh Balqis.


“ya tuhan, apa aku sudah gila? Ciuman pertamaku.” Batin Balqis.


“dia tidak ada disini! Disini hanya ada sepasang kekasih yang sedang berbuat mesum! Ayo cepat cari di tempat lain, temukan dia, dan bawa dia kepada bos!” Ujar seseorang dari mereka. Kemudian mereka semua pergi ke tempat yang lain.


“maafkan aku tuan, aku gak punya cara yang lain.” ucap Balqis yang langsung cepat-cepat bangun dari tubuh pria tersebut.


“apa kau sungguh wanita yang mesum?” tanya pria itu yang bernama Abrar.


“aku hanya ingin menolongmu, dasar kau gak tau diri!” Umpat Balqis kesal.


“cepat tolong bawa aku pergi dari sini.” Kata Abrar berusaha bangun dan di papah oleh Balqis mencari tempat yang aman.


Tak lama kemudian, orang-orang Abrar pun datang untuk menyelamatkan Abrar dari para musuhnya.


“terima kasih nona, telah membantu tuan muda dari kejaran musuh.” Kata Rudi sang asisten pribadi sekaligus Bodyguard Abrar.


“iya, tuan.” Jawab Balqis ketakutan melihat orang-orangnya Abrar dengan tubuh yang besar dan perawakan yang seram dengan menggunakan jas serba hitam.


Kemudian Balqis pulang ke panti asuhan dengan sangat lelahnya.


“Balqis, apa kamu sudah tidur?” tanya ibu Arsih pemilik panti asuhan yang sudah menganggap Balqis sebagai anak kandungnya sendiri.


“belum kok bu! aku baru saja selesai mandi.” Jawab Balqis.


“oh iya, ini ada sedikit uang untuk tambahan biaya panti. Walaupun Cuma sedikit tapi ini halal kok, bu.” Kata Balqis menyodorkan gaji pertamanya bekerja di toko kue.


“gak usah, nak! Kamu udah capek bekerja seharian ini uang mu, gunakanlah untuk keperluanmu.” Ucap bu Arsih menolak.


“gak apa-apa ibu, anggap aja ini balas budi ku karena udah dibesarkan di panti ini. Kalau gak ada panti ini mungkin aku udah mati kedinginan di luar sana karena orang tua ku yang gak menginginkanku.” Kata Balqis.


“kamu memang gadis yang baik.” Ucap bu Arsih mengelus lembut rambut Balqis.


          Disisi lain, Abrar yang sedang terbaring di kamarnya, dan sedang di tangani oleh seorang dokter pribadi yang tak lain adalah sahabatnya saat sekolah, meringis kesakitan saat kulit kepalanya sedang di jahit akibat luka benda tajam.


“luka mu ini cukup parah, kenapa gak di rawat saja dirumah sakit?” tanya  Devan sang dokter pribadi Abrar.


“aku gak suka rumah sakit! kalau aku kerumah sakit, untuk apa aku pekerjakan kau dengan gaji yang besar?” ucap Abrar dengan sinisnya.


“kau itu bodoh! dirumah sakit banyak alat yang cangih dan obat-obatan yang bagus, aku jadi gampang ngerawat luka mu. Dasar, manusia es!” Umpat Devan yang berbalik kesal kepada Abrar.


“lagian kau ngapain sih keluar tanpa Rudi di samping mu? kau mau mati konyol, secara musuh-musuh mu pada ngincar dirimu.” tanya Devan lagi.


“bukan urusanmu!” Jawab Abrar kesal.


“udah selesai! Istirahat lah, dan minum obat yang udah resepkan pada Rudi.” Sambung Devan dengan senyuman konyolnya yang membuat Abrar agak jijik.


“apa kau itu seorang pria yang suka sesama jenis? Kenapa kau menebarkan senyuman jelekmu itu sama aku?” teriak Abrar yang membuat Devan tertawa terbahak-bahak.


“coba cerita sama aku, gimana caranya kau bisa lari orang-orangnya Fadel? Secara kan mereka banyak?” tanya Devan penasaran.


“awalnya aku bisa lawan, namun jumlah mereka semakin banyak. aku hanya bisa lari dan bersembunyi dengan luka di kepala ku. Terus ada seorang gadis yang nolong aku..makanya aku selamat.” Jawab Abrar menjelaskan.


“wow, gadisnya cantik gak?” tanya Devan yang sifat playboy nya mencuat.


“wajahnya cantik sih! Tubuhnya kecil, tapi ukuran dadanya besar.” Jawab Abrar mengingat wajah Balqis.

__ADS_1


“wuihh, enak banget tuh kalau di mainin dadanya!” seru Devan yang seketika berubah menjadi buaya darat.


“tapi dia cewek mesum! Dia nyium aku dengan alibi supaya wajah ku gak terlihat dengan orang-orangnya Fadel keperat itu.” Ujar Abrar.


“hahahahaha, kau ciuman dengannya?” tanya Devan yang kaget dengan ucapan Abrar.


“gimana rasanya?” Tanya Devan kepo.


“manis! hehehehe.” jawab Abrar dengan senyuman jahatnya.


“bajingan kau! kau bilang dia cewek mesum, tapi ciumannya kau bilang manis. Dasar kampret!” Umpat Devan sambil beranjak meninggalkan rumah Abrar.


Setelah kepergian Devan, Abrar mencoba mengulang ingatannya tentang Balqis yang mencium bibirnya tadi.


“manis! bibirnya sangat manis!” ucap Abrar sambil menjilati bibirnya sediri mengulang rasa ciuman Balqis, gadis yang baru pertama kali bertemu dengannya.


 


          Beberapa bulan telah dijalani Balqis menjadi pekerja di toko kue milik Hendri. Namun ia merasa uang gajinya tak bisa mencukupi biaya tambahan untuk panti asuhan tempat tinggalnya itu. Ia berniat untuk mencari uang tambahan lainnya dengan bekerja di tempat lain dengan bantuan Lita yang bekerja di sebuah bar mewah dengan gaji yang sangat besar.


“sepulang dari toko, kita akan pergi ke bar, aku bekerja disana udah dua bulan. Dan gajinya lumayan besar. Kerjanya Cuma melayani tamu untuk minum doang!” kata Lita yang mengajak Balqis untuk bekerja disana.


“aku gak berani ah, kalau nemani laki-laki minum! aku takut entar di sangkain pelacur.” ujar Balqis menolak.


“aku dengar disana lagi dibutuhkan pekerja cewek pengantar minuman. Kalau kau mau entar aku bilang sama bos ku.” Kata Lita lagi.


“ya udah deh, kalau Cuma antar minuman doang sih gak apa-apa kali ya.” ucap Balqis yang menerima tawaran kerja dengan Lita.


          Lalu Balqis pun bekerja mencari uang tambahan menjadi cewek pengantar minuman di bar tempat Lita bekerja. Pakaiannya lumayan terbuka, dengan rok mini yang ketat. Semua di jalani Balqis hanya untuk mencari uang tambahan agar anak-anak panti asuhan bisa makan dan bersekolah.


“Balqis, cepat kau antarkan minuman ini keruangan VVIP di atas, jangan buat pelanggan menunggu lama!” Perintah Bos nya.


“baik bos!” seru Balqis yang membawa botol minuman keruangan VVIP.


Balqis pun mengetuk pintu dan masuk dengan membawa sebotol minuman. Dengan gugup ia berjalan dengan hati mendekati para tamu dari kelas atas. Sepasang mata jahat tertuju pada kemolekan tubuhnya yang menggunakan rok mini ketat.


“halo, gadis yang cantik, apa kau mau menemaniku malam ini? Aku akan membayar mu lebih jika kau setuju.” Ucap pria itu sambil menyentuh rambutnya.


“maaf, tuan! Saya hanya kesini untuk mengantarkan minuman ini saja, saya bukan pelacur.” Sahut Balqis yang menolak dengan nada ketakutan.


“jangan jual mahal denganku! kau tau banyak wanita yang ingin tidur denganku, secara gratis. Kau beruntung jika aku membayarmu.” Kata pria itu lagi dengan kesal.


“berani sekali kau berteriak dengan ku, hah?” teriak pria itu marah.


          Pria itu langsung memaksa Balqis untuk ikut dengannya, namun Balqis berusaha untuk melepaskan diri darinya dengan menghantamkan botol minuman itu ke kepala pria itu. Seketika pria itu roboh dengan bersimbah darah dikepalanya. Pria itu lantas menyuruh anak buahnya menyergap Balqis. Balqis berteriak. Suara kegaduhan terdengar hingga keluar ruangan.


“ribut sekali didalam?” kata Devan saat melintasi ruangan itu dengan Abrar.


“paling juga mereka saling membunuh karena mabuk.” sahut Abrar yang tak peduli.


“tolong!” teriak Balqis yang terdengar oleh Devan dan Abrar.


“kau dengar kan, suara cewek minta tolong?” tanya Devan yang berhenti di depan pintu ruangan itu.


“itu bukan urusan kita jangan campuri urusan orang lain.” Ujar Abrar yang tetap tak peduli.


“tolong aku! tolong, siapa aja tolong aku!” terikan Balqis yang meronta-ronta di telinga Abrar yang membuatnya langsung menendang pintu itu.


Terkejutnya Abrar, ia melihat Balqis, seorang gadis yang telah menolongnya saat itu.


“apa? Itu kan si cewek mesum.” ujar Abrar dalam hatinya.


“lepaskan gadis itu!” teriak Abrar dengan tatapan tajamnya kepada orang yang hendak memperkosa Balqis.


“tu…tuan Abrar!” Ucap pria jahat yang hendak memperkosa Balqis dengan nada ketakutan saat melihat Abrar berdiri di hadapannya.


“cepat lepaskan gadis itu, atau ku potong tanganmu karena telah menyentuhnya!” Teriak Abrar lagi yang sontak membuat pria itu gemetar ketakutan.


          Orang-orangnya Abrar memukuli pria jahat itu dengan sangat kejinya. Abrar dan Devan melihat Balqis yang sudah pingsan karena ketakutan hendak di perkosa. Pakaiannya tak lagi utuh, telah di robek-robek oleh pria jahat itu. Abrar langsung menutupi tubuh mungil Balqis dengan jas nya dan mengendong membawa Balqis pergi dari bar itu. Sesampainya dirumah, Abrar memerintahkan pelayan untuk mengganti pakaian Balqis. Devan memeriksa kondisi Balqis yang masih tak sadarkan diri.


“dia gak apa-apa! Mungkin dia hanya syok karena hendak di perkosa, makanya dia pingsan.” Kata Devan kepada Abrar.


“syukur lah, kalau begitu.” Ucap Abrar.


Devan kaget mendengar perkataan Abrar yang seakan menaruh simpati pada seorang gadis biasa, karena Devan tau Abrar adalah seorang pria yang dingin, dan tak pernah menaruh simpati pada siapapun walaupun kepada teman kencan wanitanya.


“apa kau menyukai gadis ini, hah?” tanya Devan dengan senyuman meledek Abrar.

__ADS_1


“dasar, setan kau!” umpat Abrar berlalu keluar kamar dan disusul oleh Devan yang tertawa geli.


Setelah beberapa jam kemudian, Balqis tersadar dari pingsannya. Dia kaget mengingat dirinya akan diperkosa di bar.


“akhirnya kau sadar juga!” ucap Abrar yang menunggu Balqis siuman di sisi kamar.


“si…siapa kau? Dan dimana aku?” tanya Balqis ketakutan.


“ck, gadis ini lupa denganku!” ujar Abrar dalam hatinya kesal.


“kau ada di rumahku, aku menyelamatkanmu saat kau mau di perkosa di bar.” Jawab Abrar.


“kau siapa? Aku mau pulang!” Kata Balqis yang masih saja ketakutan.


“kau gak perlu tau siapa aku! Yang jelas aku sudah menyelamatkanmu tadi.” Ujar Abrar dengan nada


sinisnya.


“terima kasih tuan, tuan udah menyelamatkan aku tadi.” Ucap Balqis.


“hanya berterima kasih aja kah? Kau tidak mau membalas kebaikanku?” tanya Abrar dengan wajah mesumnya memandangi dada Balqis.


“maksudmu?” tanya Balqis lugu.


“ya misalnya, kau bisa membalas kebaikanku dengan tubuhmu itu.” Ucap Abrar yang langsung membuat Balqis mendidih kesal.


“dasar, kau pria mesum! Kau sama aja seperti orang-orang yang ada di bar itu. Aku mau pulang.” Ujar Balqis yang kemudian berlari mendekati pintu dan berusaha melarikan diri, namun sia-sia saja, Abrar telah mengunci pintunya.


“hahhaha, kau mau melarikan diri setelah aku berbuat baik padamu, hah? Ujar Abrar yang hanya ingin bermain-main dengan Balqis.


“lepaskan aku, dasar pria bodoh! Kau jahat!" teriak Balqi kesal kepada Abrar yang tertawa puas melihat tingkah Balqis yang memaki dirinya.


“kalau kau mau kunci ini, kau harus menciumku dulu!” kata Abrar sambil tersenyum nakal.


“aku gak sudi!” sahut Balqis.


“baiklah, jika kau ingin bermalam dengan ku di kamar ini, hehehhe.” kata Abrar lagi dengan licik sambil menunjukkan kunci kamar itu.


“dasar brengsek! Bedebah kau!” umpat kekesalan Balqis yang membuat Abrar tertawa senang.


“ayo lah, cium doang. setelah itu kau akan aku lepaskan.” Ucap Abrar memberi penawaran.


“ibu Arsih pasti sedang khawatir denganku, aku harus mencari cara agar keluar dari rumah pria bedebah ini.” Ucap Balqis dalam hatinya.


          Ia lalu berjalan menuju ke arah Abrar yang sedang menunggunya sambil memainkan kunci pintu kamar itu. Perlahan namun pasti, Balqis berniat merebut kunci itu, namun saat dirinya sudah dekat dengan Abrar, Abrar langsung menyambar tubuhnya dan melumat bibir Balqis dengan rakusnya sehingga Balqis tak bisa bernafas. Balqis menjerit saat tangan Abrar menyentuh dada besarnya itu, dan dengan sekuat tenaga ia merebut kunci yang ada di tangan Abrar dan menolak tubuh Abrar. Kemudian ia lari keluar kamar dan pulang dengan tergesa-gesa.


“heemm, manis sekali, aku suka ciumannya. Hehehehe.” Kata Abrar yang memandangi Balqis dari jendela kamar yang berlari keluar rumah dengan ketakutan.


“cewek mesum, sekarang kau hanya milikku!” ujar Abrar dalam hatinya.


“Rudi, cari tau informasi tentang gadis tadi. Secepatnya kau beri tahu aku.” Perintah Abrar yang tersobsesi dengan Balqis.


“baik tuan!” Sahut Rudi yang mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari tau indentitas Balqis.


Sesampainya di panti asuhan, Balqis hanya bisa mengumpat Abrar dengan sebutan Pria bedebah.


Ia kesal karena Abrar menciumnya dengan paksa dan menyentuh dadanya.


“dasar kau pria bedebah!” Umpat Balqis sambil berjalan menuju kamarnya.


          Saat itu ia mendengar perbincangan ibu Arsih dengan pemilik tanah panti asuhan itu. Pemilik tanah itu ingin mengambil alih tanah dan menjualnya dengan harga yang tinggi. Balqis bingung dan khawatir bagaimana dengan nasib anak-anak panti nantinya jika panti asuhan ini di bongkar.


“aku punya penawaran bagus, jika ibu Arsih ingin panti ini tetap ada. Berikan aku uang 1 milyar, dan aku akan alihkan tanah ini menjadi milikmu. Dan anak-anak panti asuhan ini akan terselamatkan.” Kata pak Kamal kepada Bu Arsih.


“tapi, tuan, aku tidak memiliki uang sebanyak itu. Bahkan untuk biaya anak-anak disini aja, masih kurang! tolonglah kasihani anak-anak panti ini.” Pinta bu Arsih kepada pak Kamal.


“aku gak perduli! Aku pewaris dari tanah ini, dan yang aku butuhkan hanya uang. Aku beri kau satu minggu, jika kau tidak memberikanku uang 1 milyar, maka akan aku bongkar panti asuhan ini.” Kata pak Kamal yang kemudian pergi meninggalkan panti asuhan itu.


Ibu Arsih hanya bisa menangis mengkhawatirkan nasib anak-anak panti.


“ibu, jangan nangis lagi. Balqis akan cari uang apapun caranya supaya anak-anak panti gak akan kehilangan rumahnya.” Ujar Balqis berjanji pada bu Arsih.


“sudah lah, nak. 1 milyar itu banyak sekali. Kamu mau dapat uang dari mana? Lebih baik kamu tidur dan kita akan pikirkan lagi besok.” Kata bu Arsih kepada Balqis.


Sebelum tidur, seperti biasa Balqis menemui kamar anak-anak panti yang sudah di anggapnya seperti adiknya sendiri. Ia sedih melihat wajah-wajah anak-anak panti yang polos itu saat tertidur lelap.


“ya tuhan, beri aku jalan keluar untuk membantu bu Arsih menyelamatkan panti ini. Hanya ini rumah kami.” Doa Balqis sambil mengelus wajah salah seorang anak panti yang sangat di sayanginya yaitu Revan yang beusia 5 tahun.

__ADS_1


Revan anak yang manis, dia suka bermanja-manja dengan Balqis setiap harinya.


Ia juga menyayangi Balqis seperti kakaknya sendiri.


__ADS_2