LOVE IN MINE

LOVE IN MINE
AKU KEMBAR????????


__ADS_3

Abrar dan Balqis sedang melahap makan malamnya di sebuah restoran di itali.


Zidan dan Clara mengamati mereka berdua dari kejauhan.


Clara seakan tak sabar untuk memeluk saudara kembarnya itu.


Dengan ponselnya ia mengirimkan sebuah chat pada Abrar.


“hei…., ayo cepat tumpahkan minuman ke baju Balqis…., agar dia pergi ke toilet…” kata Clara dalam pesannya.


Saat membaca pesan dari Clara, Abrar menjadi kesal.


“dasar wanita yang gak sabaran…….!!!!!!!!” Umpat Abrar dalam hatinya.


“kau sabar dulu….., Zidan yang akan memulainya….” Balas Abrar.


Clara membaca pesan Abrar, yang membuat Clara kesal dan membanting HP nya ke meja.


Zidan yang sedang memperhatikan Balqis, terkejut saat melihat reaksi Clara yang kesal.


“kenapa kau…???? Hipertensi….?????” Tanya Zidan.


“cepatlah….., mainkan peran kakak….!!! Aku sudah tak sabar ingin memeluk kembaranku…” ucap Clara.


“iya…, baiklah…” kata Zidan.


Zidan pun berjalan menuju meja Abrar dan Balqis.


Zidan memainkan perannya sebagai rekan bisnis Abrar, agar Balqis tidak kesal atau pun marah dengan Zidan yang sebenarnya adalah kakak kandung dari Balqis.


“Abrar…., tak menyangka akan bertemu denganmu disini…” ucap Zidan.


“ya…, kau benar….!!! Sudah puluhan tahun kita tidak bertemu bukan….” Sahut Abrar.


“ck…., lebay banget…” gumam Zidan dalam hatinya.


“apa dia istrimu…????” tanya Zidan menunjuk Balqis.


“iya…., kenalkan namanya Balqis…!! Dia istriku yang tercinta…” sahut Abrar.


“nona…, kau sangat cantik…” kata Zidan bersalaman mencium tangan Balqis.


“untung saja kau kakak kandungnya…, kalau kau pria hidung belang sudah ku bunuh kau disini…” ucap Abrar dalam hatinya kesal melihat Zidan mencium tangan Balqis.


“senang berkenalan denganmu…” kata Zidan pada Balqis.


“iya…, tuan…!! Aku juga senang berkenalan denganmu…” sahut Balqis tersenyum ramah.


“apa aku boleh gabung duduk bersama kalian..???” tanya Zidan.


“gak boleh…” sahut Abrar dengan wajah sewotnya.


Kemudian Balqis menendang kaki Abrar, memberikan kode.


“tentu saja…, tuan…!! Kau boleh duduk di sini..” sambung Balqis.


“hehehehe……, nona kau sangat cantik bahkan kau juga sangat baik hati…!! Tidak seperti pria jahat yang di sampingmu itu…” kata Zidan.


“apa…???” tanya Balqis.


“ooohh…., tidak aku hanya bercanda…” sahut Zidan.


Lalu dengan sengaja, Zidan menumpahkan air ke gaun Balqis, hingga gaunnya kotor.


“maaf…., aku tak sengaja…” kata Zidan.


“tidak apa-apa…, aku akan membersihkannya di toilet…” sahut Balqis yang beranjak pergi ke toilet.


Clara yang memperhatikan dari tadi, langsung bergerak cepat mengikuti Balqis dari belakang.


“sekarang giliranku….” Kata Clara.


Balqis yang sedang berdiri di depan cermin di dalam toilet sibuk membersihkan gaunnya.


Clara masuk dan berdiri tepat di samping Balqis.


Tak lama Balqis pun melirik ke cermin dan kaget saat melihat bayangan dirinya menjadi dua di dalam cermin.


“aaaaakkkhhhhhh………, kenapa bayanganku di cermin ada dua..??? apa cermin ini di design sangat canggih…???” ujar Balqis yang belum menyadari keberadaan Clara.


“hhaaaiiihhh….., ternyata kembaranku sangat bodoh…!!!!” gumam Clara sambil tepok jidad.


“aakkkhh….., bayanganku bisa bergerak sendiri….dan berbicara sendiri…!!! Pasti toilet ini ada hantunya….” Ujar Balqis lagi dengan reaksinya yang sangat konyol.


“hei……, siapa yang kau bilang hantu…????” tanya Clara pada Balqis.


Balqis pun menoleh kearah Clara yang berdiri tepat di sampingnya.


“kau…….., siapa kau..????? kau pasti dedemit…yang menyeruapi wajahku kan..????” kata Balqis ketakutan pada Clara.


“astaga…..!! dia bilang aku dedemit…??? Apa itu dedemit…????” tanya Clara yang tak tau menau tentang budaya bahasa Indonesia karena dia di besarkan di korea.


“ssii….sssiiapa kau…????” tanya Balqis.


“hei…hei…., tenanglah…!! Aku ini saudara kembarmu…” jawab Clara.


“apa..???? saudara kembar…??? Apa maksudmu..???” tanya Balqis semakin bingung.


“lihatlah ke cermin…., kita itu kembar identik…!! Kalau kau sakit, aku juga pasti sakit…” kata Clara yang membuat Balqis bertambah bingung.


Tak lama kemudian, pandangan Balqis menjadi buram.


Brruukk


Tubuh Balqis jatuh pingsan tergeletak di lantai toilet.


Clara panik saat melihat Balqis yang tak sadarkan diri.


Ia langsung meminta bantuan pada Zidan dan Abrar untuk membawa Balqis pulang ke vila yang Abrar sewa.


Abrar menghubungi Devan untuk memeriksa keadaan Balqis yang masih tak sadarkan diri.


Devan memeriksa keadaan Balqis yang tergeletak lemas di ranjang.


Balqis sudah sadar saat Devan memberikan aroma yang menyengat untuk membangunkan Balqis.


Clara terus memandangi Devan yang sangat gagah dalam profesinya itu.


“aku jadi ingin sakit selamanya…, agar Devan tetap di sampingku sebagai dokter….” Ucap Clara dalam hatinya.


Zidan memperhatikan Clara yang tergila-gila apda Devan.


“ck…., dia jatuh cinta pada si Devan….!!! Astaga……., adikku yang satu ini memang tidak bisa menyembunyikan perasaannya pada setiap pria yang dia sukai….!! Makanya dia selalu saja di permainkan oleh pria…” gumam Zidan dalam hatinya melihat Clara yang tiada henti menatap Devan.


“dia sudah sadar….!! Balqis…., apa kau ingat aku…???” tanya Devan pada Balqis.


“tentu saja…, kau si dokter konyol….” Sahut Balqis.


“sayang….., dimana yang sakit…??? kau tidak apa-apa…???” tanya Abrar sangat khawatir pada Balqis.


Tanpa menjawab pertanyaan Abrar, Balqis kembali menjerit saat dirinya melihat Clara yang berdiri sedang menatap Devan.


“hantu……………………!!!!!!!!!!!!!!!!” teriak Balqis sembari menutup matanya.


Teriakan Balqis, mengagetkan Clara dan membuyarkan lamunannya saat menatap Devan.


“sayang…, tenanglah….disini tidak ada hantu…” kata Abrar mencoba menenangkan Balqis yang ketakutan melihat Clara.


“hei…., apa wajahku seperti hantu…??? Kenapa kau ketakutan saat melihatku…??” ujar Clara pada Balqis.


“aku ini saudara kembarmu…” ucap Clara lagi.

__ADS_1


“Abrar…, aku takut….!! Kenapa wajahnya sangat mirip denganku..?? dia….dia pasti hantu…” ucap Balqis memeluk Abrar.


“sayang….!! Tenanglah…., ini Clara saudara kembarmu….” Kata Abrar.


“apa maksudmu Abrar…??? Kau lupa aku di besarkan di panti asuhan..??” ujar Balqis.


“Abrar…., biar aku yang akan menjelaskan pada Balqis…” kata Zidan.


Lalu Abrar dan Devan keluar kamar untuk memberikan waktu luang agar Zidan dan Clara dapat menjelaskan semuannya pada Balqis.


“eemm…, Balqis….!! Mungkin ini kedengaran sedikit konyol bagimu…, namun ini semua adalah kenyataanya…” ucap Zidan.


“aku adalah kakak kandungmu…, dan Clara adalah saudara kembarmu…” ucap Zidan lagi.


“iya…., kata ibu aku yang duluan lahir loh…., beda 15 menit…” sahut Clara memegang tangan Balqis.


Kemudian Zidan menceritakan semuanya pada Balqis di mulai dari peristiwa yang sangat menyedihkan itu saat mereka kehilangan ayah dan saat Balqis di culik dan di buang di sebuah panti asuhan.


“aku tak percaya dengan omongan kalian berdua…” ujar Balqis pada Zidan dan Clara.


“Balqis….., ibu sangat merindukanmu…” kata Clara.


“jangan sebut dirinya…., aku membenci orang yang menelantarkan aku…” sahut Balqis penuh amarah.


“Balqis…., tapi bukan ibu yang menelantarkanmu….!!” Ucap Clara lagi.


“diam……, aku tak mau dengar……” teriak Balqis.


“Balqis…., ibu pasti sangat sedih jika dia melihatmu seperti ini…” kata Clara.


“keluarlah….., aku ingin istirahat sekarang…” kata Balqis mengusir Zidan dan Clara.


“tapi Balqis…, aku sangat merindukanmu…” ucap Clara sambil menangis.


“pergi………!!!!!!!” teriak Balqis.


“ayo…., Clara kita beri waktu padanya…” kata Zidan.


“tapi kak…., sudah 20 tahun lebih aku terpisah dengannya….!! Aku ingin memeluknya…” ucap Clara yang terus menangis sedih.


“Clara…., dengarkan kakak…..!!! Balqis hanya perlu waktu…., yang penting dia sudah tau kalau kita saudara kandungnya…” kata Zidan menenangkan Clara.


“tapi kak…, bagaimana dengan ibu..???” tanya Clara.


“kita bicarakan nanti saja..” sahut Zidan.


Setelah Zidan dan Clara keluar dari kamar Balqis, Balqis nangis sejadi-jadinya.


Ia tak percaya kalau akan bertemu dengan keluarganya.


Selama ia di besarkan di panti asuhan, ia tak pernah berkhayal akan memiliki saudara kandung apa lagi saudara kembar.


Saat ia kecil, ia selalu menangis saat melihat teman sekolahnya memiliki orang tua dan mendapatkan kasih sayang dari ibunya.


Abrar masuk ke dalam kamar untuk menenangkan Balqis.


“sayang….., tenanglah….” Ucap Abrar memeluk Balqis.


“aku kembar……!!!” kata Balqis dalam tangisannya.


“iya…., itu lah kenyataan yang harus kau hadapi, Balqis….” Kata Abrar.


“aku sangat membenci dia…” kata Balqis.


“siapa..???” tanya Abrar.


“ibu…” sahut Balqis.


“sayang…., dia tidak bersalah….!! Kau di culik dan di buang ke panti asuhan itu…” kata Abrar.


“bagaimana aku harus mempercayai cerita itu, Abrar…????” teriak Balqis kesal.


“Balqis…., pikirkan dan dengarkan aku baik-baik…!! Saat Zidan menceritakan semuanya padaku…, aku juga tidak percaya padanya…!! Namun saat aku melihat Clara dan foto ibumu…., mereka sangat mirip denganmu…terlebih lagi saat Zidan mengetahui tanda yang ada di bokongmu itu….!!!” Kata Abrar menjelaskan.


“apa..??? mereka melindungiku..???” tanya Balqis.


“iya….!! Balqis…., Zidan dan Clara adalah keluargamu…!! Dan ibumu tidak jahat seperti yang kau pikirkan….!! Jika dia ibu yang jahat, kenapa hanya kau yang di buang..??? kenapa Clara atau Zidan juga di telantarkannya..???” ucap Abrar.


“Abrar…., untuk saat ini aku sangat hancur….!!! Aku masih bingung dengan semua ini…” kata Balqis yang masih saja menangis.


“sudah lah…., tenangkan dirimu…dan pikirkan lah baik-baik apa yang aku katakan tadi padamu…” ucap Abrar terus memeluk Balqis untuk menenangkannya.


Di taman vila, Zidan mengajak Clara untuk pulang kerumah mereka.


“Clara.., ayo kita pulang…!! Ini sudah larut malam.” Ajak Zidan.


“gak mau…, aku mau disini saja…, dekat dengan saudara kembarku..” sahut Clara.


“kau jangan keras kepala…, ayo kita pulang…, dan berikan Balqis waktu untuk berpikir..” ujar Zidan.


“aku bilang gak mau….!!!” Teriak Clara.


“Clara………..!!!! apa sekarang kau membangkang padaku..????” teriak Zidan kesal pada Clara.


“aku hanya ingin dekat dengan Balqis…., aku hanya ingin itu sekarang,…kakak jangan menghalangi aku…” teriak Clara.


“kau………” Zidan yang kehabisan kata-kata hanya bisa diam menatap Clara yang menangis.


“Zidan…, sudahlah….!! Biarkan dia menginap disini malam ini..” kata Abrar yang tiba-tiba muncul.


“bagaimana keadaan Balqis..??” tanya Zidan.


“dia sedang tertidur sekarang…, tak perlu khawatir….aku akan mengatasinya nanti..” kata Abrar.


“baiklah…, aku pulang dulu….!!” Ucap Zidan.


“Clara…, masuklah…., kau tidur di kamar tamu…” kata Abrar.


“nanti aku masuk…, aku masih mau disini…” sahut Clara.


“terserah kau….” Ujar Abrar yang kemudian melaangkah masuk ke dalam vila.


Saat Abrar masuk kedalam Vila, ia berselisih jalan dengan Devan yang kebetulan menginap disana untuk berjaga-jaga pada kesehatan Balqis.


“hei…., temani wanita keras kepala itu….!! Dia sedang menangis…” kata Abrar pada Devan.


“kenapa harus aku, sih…???” ujar Devan.


“dia menyukaimu….., cepat pergi sana…” sahut Abrar.


“dari mana kau tau, dia menyukai aku..???” tanya Devan.


“dia sudah mengakuinya sendiri saat aku bertanya padanya…” jawab Abrar.


“baiklah….., hehehehehe………” sahut Devan senang mengetahui Clara menyukai dirinya.


Devan pun melangkah menuju tempat dimana Clara sedang duduk dan menangis.


Ia melihat Clara yang masih menangis sambil menatap foto ibunya.


“eehheemm…., sedang apa kau disini larut malam begini..?? kau bisa sakit…, nanti..” kata Devan.


“aku sedih karena Balqis membenciku…” sahut Clara dengan tangisannya yang memecahkan kesunyian malam.


Kerana tangisan Clara, Devan langsung duduk di sampingnya untuk menenangkan Clara.


“hei…, tenanglah…!! Aku kenal Balqis…, dia tidak semudah itu membenci orang…., apalagi kau saudara kembarnya…!! Balqis hanya butuh waktu untuk menerima kenyataan…” kata Devan.


“aku sangat mengkhawatirkan ibuku….!! Dia pasti sangat sedih jika tau Balqis sangat membenci dirinya…” ucap Clara.


“apakah ini foto ibumu..???” tanya Devan melihat ponsel Clara.

__ADS_1


“iya…, dia ibuku…” sahut Clara.


“kalian sangat mirip ya…??” ucap Devan.


“tentu saja…, dia kan ibuku…, wajar saja kalau orang tua mirip dengan anaknya.” sahut Clara.


“tapi Zidan tidak mirip dengan kalian….!! Apa Zidan anak angkat…???” ujar Devan yang membuat Clara kesal.


“apaan sih…???” sahut Clara.


“hehehehe….., bercanda kok…!!! Senyum dong….!! Kau terlihat cantik jika tersenyum…” ucap Devan pada Clara yang membuat wajahnya merah merona.


“dasar kau….., pria pandai merayu wanita…” kata Clara.


“hehehe……., dalam kalut seperti ini, apa kau ingin aku peluk, Clara..???” tanya Devan dengan wajah konyolnya.


Plak………


Suara tamparan di wajah Devan.


“dasar….., brengsek…..!!!!!!” umpat Clara pada Devan sambil bergegas masuk ke dalam vila.


Devan masih tak percaya ada wanita yang berani menamparnya.


Ia masih duduk terdiam sambil mengelus pipinya yang masih panas akibat tamparan keras yang di berikan oleh Clara.


“Clara……, kau sungguh menarik….!!!! Aku akan menjinakkanmu…..hehehehehe….” ucap Devan yang juga berlari masuk ke dalam vila.


Abrar yang sejak tadi mengamati Devan dan Clara dari jendela kamar hanya bisa tepok jidad melihat reaksi sahabatnya setelah ditampar Clara.


“dasar bodoh…..!!! ditampar cewek kok malah bahagia…..!! piye……????” ucap Abrar.


Keesokan paginya, Clara masuk ke dalam kamar Balqis untuk membawakan sarapan.


Abrar dan Devan sedang sarapan di ruang makan.


“Balqis….., kau sudah bangun….!! Ini aku bawakan sarapan untukmu…” kata Clara.


“kenapa kau masih disini..??? bukankah aku menyuruhmu untuk pergi semalam..??” tanya Balqis kesal.


“ya terserah aku lah…..” sahut Clara.


“apaan sih…??? Ini tempatku dan suamiku…” teriak Balqis.


“ini juga tempat saudara kembarku dan iparku….” Teriak Clara tak mau kalah.


Terjadilah perang saudara antara Balqis dan Clara lantaran tak ada yang mau mengalah, sehingga suara teriakan mereka berdua terdengar di telinga Abrar dan Devan.


“sedang apa mereka…????” tanya Devan pada Abrar.


“pasti sedang bertengkar….” Jawab Abrar.


Kemudian dengan melangkah cepat Abrar dan Devan menghampiri saudara kembar itu yang sedang adu mulut.


“hei…hei…., ada apa dengan kalian…??? Pagi-pagi sudah bertengkar…” ujar Abrar.


“dia yang mulai duluan…..!!!!” Balqis dan Clara serentak berbicara dan saling menunjuk dengan raut wajah yang sewot.


“pppffffttt……., perang saudara nih….” Gumam Devan.


Tak lama kemudian, terdengar suara mobil Zidan yang datang ingin menjemput Clara pulang.


“itu si Zidan….” Ucap Devan pada Abrar.


Balqis dan Clara mulai bertengkar kembali dan adu mulut tidak ada yang mau mengalah.


Abrar dan Devan sangat pusing melihat keduanya yang sedang adu mulut tersebut.


“ada apa ini…??? kenapa kalian bertengkar…???” tanya Zidan pada kedua adiknya tersebut.


“dia yang mulai…..!!!!” lagi-lagi si kembar saling tunjuk.


“keluar dari kamar ini cepat……!!!!!!!!!!!” teriak Zidan yang membuat Clara dan Balqis ketakutan dan menurutinya.


“apa mereka sudah sarapan..??” tanya Zidan pada Abrar.


“belum…” sahut Abrar.


Zidan memerintahkan si kembar duduk di meja makan sambil berhadapan dan menyuruh mereka berdua makan.


Zidan duduk di antara keduanya. Abrar duduk di samping Balqis, dan Devan duduk di samping Clara.


Di meja makan pun Clara


dan Balqis juga saling melontarkan kata-kata pedas.


“ck…, dasar kau menyebalkan…” umpat Balqis pada Clara.


“kau yang menyebalkan….” Balas Clara mengumpat Balqis.


“DDDIIIIIIAAAAAAMMMMMMMMMMMM………..!!!!!!!!!!!!” teriak Zidan lagi pada kedua adiknya tersebut.


“makan sarapan kalian……..!!!” bentak Zidan lagi yang membungkam mulut kedua adiknya.


Beberapa menit kemudian, mereka pun selesai menyantap sarapannya.


“haaaahhh…., kenyang…..!!!!” lagi Balqis dan Clara serentak mengucapkan perkataan mereka.


“apaan sih ikut-ikutan aja…” ujar Balqis gak senang.


“kau yang ikut-ikutan…” balas Clara.


Balqis dan Clara kembali adu mulut di meja makan. Abrar yang melihat Zidan sudah kewalahan menghadapi kedua adiknya tersebut hanya tersenyum di atas penderitaan Zidan.


Sedangkan Devan masih menatap Clara yang kesal pada Balqis.


Devan terus menatap Clara akibat tamparan yang di berikan oleh Clara padanya.


Seakan membuat Devan jatuh cinta pada Clara sejak kejadian itu.


Untuk memisahkan keduanya yang sedang adu mulut, Zidan memaksa Clara untuk pulang dan Abrar menyeret tubuh Balqis masuk kembali ke dalam kamar.


“hhhuuuhhh….., aku sangat kesal dengan wanita itu…” ujar Balqis.


“hahahaha……” sahut Abrar tertawa melihat Balqis kesal.


“kenapa kau malah tertawa, hah??? Apa wajahku mirip pelawak…???” tanya Balqis semakin kesal.


“kau tidak menyadarinya….!! Saudara kembar itu ada yang terlihat sangat kompak…, dan ada juga yang terlihat tidak akur tapi tetap saling menyayangi satu sama lain…” jawab Abrar.


“aku gak sayang sama si Clara sinting itu….” Gumam Balqis.


“suatu saat kau pasti akan menyayanginya, Balqis…” ucap Abrar dalam hatinya sambil terus menatap Balqis.


Di sisi Zidan yang berada di tengah perjalanan pulang bersama Clara.


“hhuuhh….., dasar Balqis gila….!!! Di omongin malah nyolot…., menyebalkan sekali dia…” umpat Clara kesal.


“hei…., dia adikmu…., mengalah lah sedikit…” sahut Zidan.


“ck…., apaan sih….!! Kakak udah gak sayang aku lagi setelah bertemu dengan Balqis..???” tanya Clara.


“kata siapa..??? akau menyayangi kalian berdua…!! Kalau aku kesal, aku akan memarahi kalian berdua….!! Gak ada yang aku beda-bedakan..” kata Zidan.


“aku rindu padanya…, tapi dia malah membenci aku…!! Aku sedih….” Ucap Clara.


“bersabarlah…..!! hanya itu kunci untuk mendapatkan hati Balqis agar dia mau menerima kita…” kata Zidan.


“ya sudah lah……” sahut Clara.


Zidan memeluk Clara yang masih terlihat sedih setelah pulang dari vila Abrar.

__ADS_1


Zidan mengerti bahwa Clara sangat ingin dekat dengan Balqis saat ini.


__ADS_2