
Keesokan paginya, Zidan telah menunggu untuk sarapan bersama di ruang makan.
Satu persatu mereka muncul dengan kondisi yang memprihatinkan.
Zidan yang berwajah sangat segar kebingungan saat melihat wajah Abrar, Balqis, Clara dan juga Devan yang sangat lelah hingga kantung mata mereka tampak menghitam akibat kurang tidur. (ya iya lah…., ena-ena mulu..kapan tidurnya..??)
“hei…, kalian kenapa…??? Seperti zombie saja…” tanya Zidan kebingungan.
“aku masih ngantuk…” ucap Balqis yang bersandar pada bahu Abrar.
“ayo kita tidur lagi…., nanti saja sarapannya…” sahut Abrar beranjak pergi meninggalkan ruang makan bersama Balqis.
“aku juga sangat lelah…, semalam….!!!” Kata Clara.
“memangnya apa yang kau lakukan sampai-sampai kau lelah seperti ini..??” tanya Zidan.
“aku olahraga semalam….., karena aku terlalu banyak makan di rumah Johan…” sahut Clara dusta.
“pergilah tidur setelah kau sarapan…” kata Zidan.
“hei…., Devan…!!! Kenapa kau malah tidur di meja makan….????” Teriak Zidan.
“aku sangat lelah karena di tindas oleh adikmu….” Ucap Devan sambil menunjuk kearah Clara.
“apa maksudmu…, hah..???” tanya Zidan.
“eeemmm….., kakak.., semalam Devan menemaniku berolahraga jadi dia pasti sangat lelah…, hehehehehe………” sahut Clara kembali membohongi kakaknya.
“ck…., pergilah kalian tidur sana….!! Ada-ada saja tingkahnya…” gumam Zidan yang melanjutkan sarapannya dan kemudian pergi untuk mengurusi bisnisnya di itali.
Mereka pun tertidur sangat lelap hingga senja sore hari.
Zidan yang baru saja pulang dari urusannya, mendapati rumah sangat sunyi hanya ada para pelayan yang menyambut kepulangannya.
“dimana mereka…???” tanya Zidan pada salah seorang pelayan.
“mereka semua masih tertidur, tuan..!!!” jawab pelayan itu.
“apa mereka bangun saat makan siang..??” tanya Zidan lagi.
“tidak…, mereka tertidur dari pagi hingga sekarang…” jawab pelayan itu.
“astaga…., apa mereka semua mati di kamarnya…., tidur dalam keadaaan perut yang kosong….” Kata Zidan.
“siapkan makan malam….” Perintah Zidan pada pelayannya.
“baik, tuan.” Sahut pelayan itu dengan sopan.
Malam harinya pun, mereka makan bersama di ruang makan. Wajah mereka sudah sangat segar.
“kak…, besok aku akan kembali ke Indonesia…” kata Balqis pada Zidan.
“kenapa cepat sekali kau kembali..?? aku masih ingin dekat denganmu..” kata Zidan.
“hei…, apa kau lupa Balqis sudah punya anak..???” tukas Abrar.
“kak…, Azlan pasti sangat merindukan aku…” kata Balqis.
“baiklah…., kapan-kapan aku yang akan mengunjungimu…” kata Zidan.
“gak terima tamu….!!!!” Sahut Abrar yang membuat Zidan jengkel.
“dasar ipar kurang ajar…..!!!!” umpat Zidan.
“hehehehe……, bercanda….!!” Sahut Abrar tertawa puas berhasil membuat Zidan kesal.
“kak…, aku ikut dengan Devan ya…!! Devan juga akan kembali besok…” kata Clara.
“apa kau minta ku bunuh, hah….????” Teriak Zidan kesal pada Clara.
“hhuhh…., dasar…!! Tukang marah….” Gumam Clara.
“Clara…, aku pasti akan sering-sering menemuimu di sini..” kata Devan.
“oohhh…., so sweet……..!!!!!” sahut Clara sangat bahagia mendengar perkataan Devan.
“ck…, dasar lebay….!!” Ujar Zidan.
“kak…, jangan kelamaan jomblo…, nanti jiwa siriknya tambah meningkat loh….” Kata Balqis.
“diam kau…” ujar Zidan sewot.
“hahahahaha…………………” sahut Balqis tertawa puas meledek Zidan.
Keesokan harinya, Zidan dan Clara mengantar Balqis, Abrar serta Devan di bandara.
Zidan yang terus memeluk Balqis, seakan tak rela untuk jauh-jauh dari Balqis lagi.
“hei…, Zidan….!! Kapan kau akan melepaskan Balqis, hah..??? pesawatnya udah mau berangkat……” teriak Abrar menarik tubuh Balqis agar terlepas dari Zidan.
“hhhuuhhuuhhuu……., aku pasti akan merindukanmu..” kata Zidan pada Balqis.
“iya kak…., kau kan bisa bertemu denganku lagi nanti..” kata Balqis.
“cepatlah….., drama korea apa ini…..” teriak Abrar yang tak sabaran.
Kemudian Zidan pun melepaskan kepergian Balqis dengan rasa yang sangat haru dan menyedihkan.
Sementara si Clara tetap saja tenang melambaikan tangannya kepada Devan yang juga membalas lambaian tanganya.
“kak…, aku ke toilet dulu ya…!! Kalau aku lama kembali…, berarti kakak pulang saja duluan…oke…” kata Clara yang langsung berlari pergi meninggalkan Zidan yang masih fokus pada Balqis.
Setelah pesawat yang ditumpangi Balqis terbang, Zidan berniat menunggu Clara di dalam mobil di parkiran.
Hampir dua jam lamanya Zidan menunggu Clara yang katanya tadi mau ke toilet.
Dengan rasa yang tak sabaran Zidan bertanya pada anak buahnya.
“dimana Clara..???” tanya Zidan.
“nona Clara ikut berangkat bersama tuan Devan dan yang lainnya.” Jawab anak buahnya tersebut.
“apa…??? Kenapa kau diam saja dari tadi…hah???” teriak Zidan.
“saya bingung melihat tuan dari tadi diam disini, karena kata nona Clara dia sudah berpamitan pada tuan tadi…” kata anak buahnya ketakutan.
“Claarrraaaaa………….!!!!!!!! Awas saja kau nanti…………….” Teriak Zidan kesal karena merasa di kelabui oleh adiknya.
Di dalam pesawat.
“hai….., Balqis…Abrar…..!!!!” sapa Clara sambil menggandeng tangan Devan.
“eeehhh……., buuussseeeeeeeettttt……….!!! Kenapa kau ada disini..???” ujar Abrar kaget melihat Clara.
“aku kabur……..hahahahahahahaha……………!!!!!!!!!!!!!!” seru Clara tertawa girang.
“bagaimana dengan kakak..??? apa dia tidak akan marah..??” tanya Balqis.
“itu urusan gampang…..!!! kak Zidan selalu kalah padaku….heheheheh…..” sahut Clara.
“terserah kau…., aku gak ikut-ikutan….” Ujar Balqis.
Setibanya mereka di Indonesia, Abrar dan Balqis di sambut oleh langkah kaki yang sangat merindukan mereka berdua, yaitu Azlan yang datang bersama dengan kakek.
Sementara Devan dan Clara yang sudah duluan pulang ke apartemen sehingga tak sempat bertemu dengan kakek dan Azlan.
“mami…., papi…..!!!” kata Azlan.
__ADS_1
“Azlan….., mami sangat merindukanmu, sayang…” kata Balqis.
“dimana adikku…??? Kata kakek mami dan papi pergi untuk buat adik…., mana adikku..???” tanya Azlan yang membuat Abrar dan Balqis bengong.
“hehehehe………, adiknya masih ada di dalam perut mami…” kata Balqis asal bicara.
“hei…, kenapa kau membohonginya..??” tanya Abrar.
“lantas aku harus jawab apa, bodoh…???” ujar Balqis.
“kalau begitu…, aku mau telepon om Devan, agar membelah perut mami…, jadi adikku bisa keluar dan bermain denganku…” kata Azlan.
“kenapa kau berkata sekejam itu, nak…?? Andai kau tau isi di perutku ini hanyalah mi instant…., kau pasti akan sangat kecewa..” ucap Balqis dalam hatinya.
“Azlan…, ayo kita pulang….!! Mami dan papi mu pasti sangat lelah…” kata kakek.
Kemudian mereka pun pulang ke rumah dan beristirahat karena kelelahan di perjalanan.
Di apartemen Devan, Clara yang baru saja selesai mandi mendapat telepon dari Zidan.
“nomor yang anda tuju salah…., silangkan ketik ulang nomor tujuan anda….” Ucap Clara saat mengangkat telepon dari Zidan.
“Clara……, jangan coba-coba mengelabui aku lagi….!! Beraninya kau kabur dengan dokter bedah itu…., hah?????” teriak Zidan kesal pada Clara.
“kakak…., aku mencintai Devan…., aku bisa mati kalau jauh darinya…” ucap Clara.
“ck…, kalau ibu tau…kau pasti akan di gantung olehnya…” ujar Zidan.
“kak…., kalau ibu sampai tau aku tinggal bersama Devan, maka kau juga akan di gantung oleh ibu…!! Kau lupa ibu menyuruhmu untuk menjagaku…????” kata Clara membuat Zidan mati kutu.
“aaakkkhhhh……., dasar adik kurang ajar………!!!!” umpat Zidan.
“kak…, jadi supaya ibu gak tau…kau harus apa..????” tanya Clara.
“iya…baiklah…!! Kau berada disana jangan lupa bujuk terus si Balqis agar mau bertemu dengan ibu…” kata Zidan yang akhirnya mengalah pada Clara.
“oke…….!!!!!!” Sahut Clara.
Tak lama kemudian, Devan masuk yang juga baru saja selesai mandi di kamar mandi bawah.
“kau bicara dengan siapa..??” tanya Devan pada Clara.
“kak Zidan..” sahut Clara.
“dia pasti sangat murka…” kata Devan.
“tenang saja…., semuanya sudah clear…!!! Selagi aku bersamamu, aku akan terus membujuk Balqis untuk bertemu ibu…” kata Clara yang menggantungkan tangannya ke leher Devan.
Kemudian mereka saling berciuman dengan mesra.
“sayang…, hari libur nanti aku akan memperkenalkanmu pada keluargaku…!! Aku ingin segera menikahimu…” kata Devan.
“tapi aku takut….” Kata Clara.
“takut kenapa..???” tanya Devan.
“aku takut setelah bertemu denganku, nanti orang tuamu tidak setuju dengan hubungan kita.” Ucap Clara.
“aku tak peduli walaupun itu terjadi…..!! aku akan tetap menikahimu walaupun tanpa restu dari keluargaku…” kata Devan yang sudah menggilai Clara.
“aku sangat mencintaimu, Devan…” ucap Clara.
“aku juga sangat mencintaimu, Clara…” balas Devan.
Beberapa hari setelah kepulangannya dari itali, Abrar kembali ke kantornya dan berkutat dengan pekerjaannya yang sedikit tertunda.
Saat sedang fokus pada layar laptopnya, Romi menghampirinya dengan membawa sebuah kartu undangan pernikahan.
“hei…, bro…!! long time no see….” Sapa Romi pada Abrar.
“aku sibuk mengurusi pernikahanku…” sahut Romi.
“aaaaapppaaaaaaaa…??????????????????” seru Abra terkejut.
“kau…kau….si anti cewek…, mau menikah..????” tanya Abrar.
“iya…., ini undanganya…hehehehe….” Jawab Romi sambil menyodorkan undangan mewah kepada Abrar.
Dengan cepat Abrar membuka kartu undangan tersebut.
“kau dan Melda…?????” tanya Abrar lagi semakin terkejut.
“hehehe….., aku kebablasan saat memulainya…, jadi dia hamil…makanya aku akan segera menikahinya…” ujar Romi penuh kejujurannya.
“hhaaahh…., mataku seakan berkunang-kunang….!! Aku mau pingsan rasanya…” kata Abrar.
“aku tak percaya…., kau yang tidak pernah menyentuh wanita selain ibumu, bisa menghamili Melda..???” tanya Abrar.
“hei…., aku pria normal….!! Tentu saja aku bisa menghamili wanita…” sahut Romi.
“hahahahahahahaha………….!!! Selamat lah pokoknya…., akhirnya kau menyentuh wanita juga..” ucap Abrar pada Romi.
Semua sahabat dekatnya di berikan kartu undangan perniakah oleh Romi.
Dan semua sahabatnya pun terkejut mendapat kabar baik itu, bahkan si raja playboy yaitu Luky sampai pingsan di tempat saat menerima undangan dari Romi yang akan menikah mendahuluinya.
Sepulang dari kantornya, Abrar langsung menemui Balqis yang sedang bersantai menonton serial drakor kesukaannya.
“Balqis…, Romi akan menikah loh….” Kata Abrar.
“apa…???? Si anti cewek itu menikah..???” teriak Balqis terkejut.
“hei…, kau terlalu sepele dengannya…, dia bahkan sudah menghamili calon istrinya itu…” kata Abra yang sedang bergosip dengan Balqis di atas ranjang mereka.
“astaga……!! Aku tak percaya mendengarnya…” sahut Balqis.
“hehehe…., aku dengar Luky sampai pingsan saat tau Romi akan menikah..” kata Abrar sambil tertawa geli.
“hahahaha……, sampai segitunya si gila itu…!!” ujar Balqis.
“Luky pingsan karena, kaget, dia si raja playboy belum menikah malah si anti cewek yang mendahuluinya…” sambung Balqis lagi.
“hei…., kau kapan hamilnya…??” tanya Abrar pada Balqis.
“apa kau bisa sabar…??? Mana aku tau kapan aku akan hamil…, dasar…” umpat Balqis kesal.
“kalau begitu…, kita harus sesering mungkin melakukannya…, agar kau cepat hamil anak yang kedua…” kata Abrar.
“hampir setiap malam kau menindasku…., apa itu gak cukup…??” teriak Balqis.
“gak…..” sahut Abrar langsung mendekap tubuh Balqis.
Saat Abrar mencium paksa Balqis, terdengar suara ketukan pintu dan teriakan Azlan.
“mami….., mami………..!!!!!!!!!” panggil Azlan.
Kemudian Balqis membuka pintunya dan Azlan langsung nyelonong masuk sambil membawa bantal guling lalu naik ke atas ranjang.
“hei…., kau belum tidur…???” tanya Balqis.
“aku tidak bisa tidur….!! Aku mau tidur dengan mami…” kata Azlan sambil memeluk pinggang Balqis.
“hei….., kembali ke kamarmu sana…..!! kau mengganggu saja…” ujar Abrar yang membuat Azlan kesal.
__ADS_1
“papi udah pergi honeymoon dengan mami berhari-hari di itali…., sekarang gentian dong aku tidur dengan mami…” ucap Azlan.
“gak bisa…!!” sahut Abrar tak mau mengalah pada anaknya.
“sayang…, kau kan sudah besar…dan kau sudah memiliki kamarmu sendiri…!! Kau harus menjadi anak yang baik…” kata Balqis membujuk Azlan.
“ck…., baiklah….” Sahut Azlan melompat turun dari ranjang tidur orang tuanya.
Azlan pun melangkah keluar kamar orang tuanya tersebut dengan kesal.
“ck…, lihat saja…!! Besok kalian tidak akan mendapatkan senyuman dariku…, menyebalkan…” umpat Azlan dalam hatinya.
Keesokan paginya, Balqis dan Abrar sedang sarapan bersama.
Tak lama kemudian Azlan turun bersama dengan pengasuh setianya yaitu Wirna.
Wajah Azlan tampak kesal melihat kedua orang tuanya tersebut.
“Azlan…., anak mami….sini nak…, sarapan dulu…” ucap Balqis pada Azlan.
“hhhmmppp…………” sahut Azlan memalingkan wajahnya dan pergi begitu saja tanpa menghiraukan Balqis dan Abrar yang menatapnya bingung.
“kenapa dia..???” tanya Balqis.
“pppffttt….., dia kesal karena semalam tidak bisa tidur denganmu…” sahut Abrar tersenyum lucu melihat tingkah anaknya itu.
“eeehhh….., masih kesal karena semalam….!! Astaga…anak itu…persis seperti dirimu..” ucap Balqis pada Abrar.
“dia itu keras kepala sepertimu…, enak saja malah menyalahkan aku..” sahut Abrar tak terima.
“dia itu kan hasil dari kecebongmu…, ya pasti nurun dari sifatmu…” ujar Balqis mulai kesal.
“tapi dia lama menetap di dalam rahimmu…, sudah pasti sifat keras kepalanya itu nurun darimu…” sahut Abrar ikut kesal.
“ck…, kau ini selalu saja tidak mau di salahkan…” kata Balqis.
“kau juga….” Ujar Abrar.
Kemudian Balqis pergi meninggalkan Abrar di ruang makan untuk mengejar Azlan yang sedang ngambek.
“Azlan…, anak mami kenapa??? Masih marah sama mami..???” tanya Balqis pada Azlan yang duduk kesal di ruang bermainnya.
“mami itu Cuma sayang sama papi saja…, tidurnya juga selalu dengan papi…” ucap Azlan.
“jadi maksudmu aku harus tidur dengan pria-pria lain selain papimu…, gitu..???” ucap Balqis dalam hatinya.
“sayang…., kan papi itu pasangannya mami…jadi mami tidurnya sama papi…” kata Balqis.
“mami dan papi sayang sama Azlan…., sayang banget…” kata Balqis lagi membujuk anak kesayangannya itu.
“semalam aku ingin tidur dengan papi dan mami saja gak boleh…, sayang apanya…??” tukas Azlan.
Tak lama kemudian Abrar datang ikut membujuk Azlan.
“hei…, jagoan papi….!! Apa kau tidak ingin memiliki adik…???” tanya Abrar.
“aku sangat ingin memiliki adik, aku ingin bermain dengannya…, aku bosan harus bermain dengan pengasuh Wirna terus…” ujar Azlan.
“kalau begitu…., kau tidak boleh mengganggu saat mami dan papi di kamar….!” Kata Abrar.
“kenapa…???” tanya Azlan.
“karena adik itu akan muncul kalau mami dan papi sering masuk ke dalam kamar dan berlama-lama didalam sana…” jawab Abrar.
“hhaaahhh……., Abrar memang sangat konyol…” ucap Balqis dalam hatinya.
“benarkah…??? Kalau begitu aku tidak akan mengganggu mami dan papi lagi kalau sedang berada di dalam kamar….!!!” Kata Azlan dengan polosnya.
“anak baik….” Ucap Abrar.
“sekarang papi dan mami masuk saja ke kamar…, biar adikku cepat muncul…..” ujar Azlan yang membuat Abrar bersemangat menindas Balqis.
“siap…bos….!!!! Karena ini adalah hari libur, maka papi dan mami akan terus berada di dalam kamar hehehehehehe……” Seru Abrar yang langsung menyeret Balqis.
“Azlan…., kenapa kau tidak berpihak sedikitpun padaku yang melahirkanmu…., nak..” ucap Balqis dalam hatinya.
Devan dan Clara telah bersiap untuk pergi mengunjungi kerumah orang tua Devan yang tinggal tak begitu jauh dari apartemen miliknya.
Sesampainya di rumah itu, Clara sangat gugup dan sesekali Devan mencoba untuk menenangkan Clara.
“ayah…ibu….!! Apa kabar…???” sapa Devan pada kedua orang tuanya itu.
“dasar anak kurang ajar…., baru sekarang kau datang mengunjungi kami, hah..???” teriak ayahnya.
“hei…, tenanglah…jaga kesehatanmu…” ucap ibu Devan penuh kelemah lembutan.
“ayah…aku sangat sibuk…” kata Devan.
“hei…., siapa wanita cantik itu..??” tanya ayah pada Devan saat melihat Clara tersenyum padanya.
“itu menantu ayah….” Sahut Devan.
“apa…????? Kau sudah menikah dengannya…?????” teriak ibu dan ayah secara serentak yang membuat Clara kaget.
“hehehehe…, maksudku segera menjadi menantu…” sambung Devan.
“hhhaahhh……, kau membuat kaget kami saja….” Ucap ibu menghela nafas lega.
“Clara…, ini ibu dan ayahku….!!” Ucap Devan memperkenalkan orang tuanya pada Clara.
“halo om…, tante…. Apa kabar…” sapa Clara dengan sopan.
“jangan panggil begitu…., kalau kau sudah di bawa kesini oleh Devan.., maka kau adalah anak menantu kami…!!” kata ayah.
“iya…, panggil aku ibu dan panggil juga ayah padanya…” kata ibu menyambut baik Clara.
“ayo duduk lah disampingku…” kata ibu lagi pada Clara.
“dan kau anak sialan…., berlutut di hadapanku….kau tidak boleh duduk sebelum aku menyuruhmu duduk….” Teriak ayah pada Devan
“ck…, iya baiklah….” Sahut Devan yang kemudian berlutut di ahadapan ayahnya.
“wajahmu sangat familiar…., kau seakan mengingatkan seseorang padaku…” kata ibu pada Clara.
“dia kembarannya Balqis…, istrinya Abrar…” sahut Devan.
“apa…???? Kembar….????” Lagi-lagi ayah dan ibu kompak berbicara.
Kemudian Devan dan Clara menceritakan kejadian yang sebenarnya pada ayah dan ibu.
“berarti ayahmu adalah Aleindra…, pengusaha yang terkaya di itali itu…???” tanya ayah pada Clara.
“iya…, nama ayahku Aleindra…” jawab Clara.
“aku sangat mengenal ayahmu…, dia sangat tekun dalam berbisnis dan dia tidak pernah mencurangi siapapun…!! Namun sikapnya yang terlalu baik itu lah yang membuat orang-orang berlaku licik padanya…” kata ayah.
“nak…., aku yakin suatu saat pembunuh ayahmu akan segera tertangkap….” Kata ayah lagi pada Clara.
“iya….semoga saja..” sahut Clara.
“ayah…., kakiku kesemutan…..!! aku harus duduk…” kata Devan.
“tidak boleh….., biar saja kau di situ selamanya…” kata ayah.
Ibu dan Clara menertawakan Devan yang habis-habisan dihukum oleh ayah karena terlalu sibuk hingga lupa menjenguk kedua orang tuanya.
Hati Clara merasa sangat lega saat kedua orang tua Devan menerimanya dengan sangat baik dan hangat.
__ADS_1