LOVE IN MINE

LOVE IN MINE
NERAKA BAGI BALQIS


__ADS_3

          Dipanti asuhan, Balqis merasa bahagia keran ia akhirnya dapat melewati masa sulit dan menyelamatkan anak-anak panti asuhan.  ia seakan bersemangat membantu keuangan untuk kebutuhan anak-anak di panti asuhan tersebut. ia semakin giat bekerja dan menghasilkan uang yang akan diberikan kepada bu Arsih. Dirumahnya, Abrar terus uring-uringan setelah membaca pesan dari Balqis yang seakan berani untuk menantangnya. Ia terus memikirkan bagaimana caranya untuk membuat Balqis jatuh ke kepulakannya dengan segera. Ia juga menghukum Rudi yang tak mampu membuat Balqis menerima hadiah darinya. Abrar semakin penasaran kepada Balqis yang menolaknya mentah-mentah. kalau bukan tanpa bantuan kakek, mungkin Balqis tidak akan bersedia untuk menikah dengannya.


"baiklah, Balqis! sepertinya aku harus memaksamu untuk jatuh ke kepelukanku." ucap Abrar yang memiliki siasat kepada Balqis.


Seminggu setelah perjanjian itu, tiada hari tanpa Abrar mengganggu hidup Balqis di sela-sela waktu kerjanya.


Abrar selalu mendatangi Balqis di toko kue milik Hendri yang mati kutu saat Abrar datang.


“silahkan, mau pesan kue apa?” tanya Balqis ramah pada pelanggan laki-laki muda.


“nona, bisa kah kau memberikan ku hatimu untukku? Aku sangat menyukai wajahmu yang cantik itu.” Jawab pelanggan laki-laki itu menggoda Balqis bercanda yang disertai gelak tawa oleh teman-temannya.


“maaf, hatiku tidak dapat dimiliki siapa pun.” Jawab Balqis sambil tersenyum manis.


“aku pemilik hatinya, cuma aku yang bisa memiliki hatinya!” seru Abrar yang tiba-tiba datang menghampiri laki-laki yang menggoda Balqis.


“hei, apa kau tidak dengar tadi, pelayan ini bilang, hatinya tidak dapa dimiliki siapapun.” ujar laki-laki itu lagi.


“kalau aku bilang, dia milikku, maka dia adalah milikku!” ucap Abrar dengan sinisnya sambil mengangkat kerah baju laki-laki itu.


“Rudi! Bereskan dia dan teman-temannya.” Perintah Abrar yang langsung dipatuhi oleh Rudi untuk menghajar dan menendang keluar mereka.


“apa kau udah gila? Kau membuat semua pelanggan takut, astaga!” kata Balqis kesal dengan sikap Abrar.


“aku sudah peringatkan padamu, jangan pernah bekerja lagi. Kau calon istri dari orang kaya raya, kau gak perlu bekerja lagi. Tinggal denganku sampai hari pernikahan, semuanya udah aku persiapkan untukmu dan kakek juga menyetujuinya.” Teriak Abrar pada Balqis.


“aku gak mau tinggal dengan pria sepertimu!” Teriak Balqis yang tak mau kalah.


“kau,kau menentangku, hah?” bentak Abrar kesal.


“kau lupa dengan perjanjian kita kah?” sambung Abrar lagi semakin kesal.


“perjanjianku dengan kakek, bukan dengan pria sepertimu!” Teriak Balqis yang membuat heboh seisi toko karena berani melawan tuan muda kaya raya itu yang terkenal kejamnya.


“aku bilang, kau harus tinggal dirumahku sekarang juga, apa kau dengar, hah?” ujar Abrar sambil menarik lengan Balqis dengan kasarnya.


“lepaskan aku!” teriak Balqis yang langsung di dorong oleh Abrar masuk ke dalam mobil.


“mau kau bawa kemana aku?” tanya Balqis dengan sengitnya.


“diam! jangan banyak bicara.” bentak Abrar yang sudah kewalahan menghadapi Balqis.


Sesampainya di rumah Abrar, ia langsung mengunci Balqis di dalam sebuah kamar yang mewah.


Balqis tiada henti-hentinya memaki-maki Abrar yang mau seenaknya sendiri.


“ya tuhan, kenapa dia selalu saja menyebalkan!” ucap Abrar yang kehilangan akal menghadapi sikap Balqis yang memberontak.


“dasar gadis mesum, kenapa dia lupa padaku sih? Dia sendiri yang membuat aku jadi gila karena ciumannya itu.” kata Abrar mengingat kejadian saat ia diselamatkan oleh Balqis.


          Malam harinya, bu Arsih mengkhawatirkan Balqis yang tak kunjung pulang, bahkan Hp nya juga tak dapat di hubungi. Di dalam kamar itu, Balqis terus-terusan menggedor-gedor pintu kamar dan berteriak memanggil Abrar, yang membuat Abrar geram.


“Abrar, keluarkan aku!” teriak Balqis.


Kemudian Abrar membuka pintunya, dan membawakan makanan untuknya.


“kenapa kau berteriak? Apa tenggorokanmu gak sakit, hah? Bentak Abrar pada Balqis.


“aku mau pulang, Bu Arsih pasti mengkhawatirkan aku.” Ucap Balqis geram.


“mana Hp ku?” tanya Balqis.


“sudah aku buang! Hp jadul begitu masih aja di pakai.” jawab Abrar.


“beraninya kau membuang Hp ku! teriak Balqis seraya menjambak rambut Abrar karena terlalu kesalnya.


“aduh, kurang ajar! Kenapa kau menjambak rambutku, hah? Dasar kau cewek…mes….” Lalu Abrar menahan ucapannya.


“apa? Bilang apa kau tadi?” tanya Balqis dengan penuh amarahnya.


“makan ini, sejak tadi kata pelayan kau tidak mau makan.” Kata Abrar lagi.


“aku gak sudi!” Ucap Balqis menolak.


“aku bilang makan, ya makan! Seru Abrar sambil memaksa Balqis untuk makan.


          Terjadilah pergumulan antara mereka hanya untuk memasukkan sesuap makanan kedalam mulut. Tak lama kemudian suapan itu masuk kedalam mulut Balqis dengan di sertai suara ngos-ngosan dari mulut Abrar yang lelah bergulat dengan Balqis. Mereka pun tergeletak di lantai, karena kelelahan.


“dasar, wanita gila! Tenagamu besar juga ternyata.” kata Abrar ngos-ngosan.


“kau yang gila, memaksaku makan dan tinggal disini dengan mu.” Sahut Balqis yang juga ngos-ngosan sambil mengunyah makanan yang ada dimulutnya.

__ADS_1


“bisakah kau tidak melawanku, hah?” teriak Abrar lagi.


“aku mau pulang!” Teriak Balqis sambil beranjak bangun.


Abrar berusaha untuk menghalanginya, namun tanpa sadar Balqis terpeleset dan tertindih oleh Abrar yang juga ikut jatuh di atas tubuh Balqis. Mereka diam sejenak saling menatap. Kemudian pintu kamar terbuka, dan kakek melihat apa yang terjadi pada Abrar dan Balqis.


“anak muda jaman sekarang, memang tidak sabaran ya?” kata kakek yang membuat Abrar dan Balqis langsung melompat bangun.


“kakek, ini bukan seperti yang kakek pikirkan.” ucap Balqis yang malu.


“tidak apa-apa kakek paham. kalian kan masih muda jadi masih mengebu-gebu. Kakek jadi ingat dengan masa muda kakek bersama mendiang neneknya Abrar…hhhhuhuhuhuhh….sayangku tunggu aku di surga.” Ujar kakek yang menangis Bombay.


“apa-apan dia?” gumam Abrar menatap kakeknya yang sedang mencari perhatian Balqis.


“nak, tinggalah disini beberapa hari, sebentar lagi kalian kan akan menikah, pergi lah bersama Abrar untuk membeli gaun pengantin.” Kata kakek lagi pada Balqis yang mengukir senyum di bibir Abrar.


“tapi kek, aku harus minta izin dulu kepada ibu Arsih.” Sahut Balqis yang tak punya pilihan lain kalau kakek yang memintanya.


“aku sudah bicara dengannya, dan dia sudah mengizinkanmu.” Kata kakek lagi yang membuat Balqis terkejut.


Sebenarnya Balqis tak menginginkan bu Arsih mengetahui perjanjiannya dengan kakek.


Kakek menatap Abrar yang senang dengan apa yang di dengarnya, bahwa Balqis akan tinggal beberapa hari dirumah Abrar dan pergi dengannya untuk membeli perlengkapan pernikahan.


Saat Balqis sedang beristirahat dikamarnya, kakek dan Abrar berbincang di ruang keluarga perihal mengenai Balqis dengan Abrar yang akan segera menikah.


“bagaimana kau bisa berkenalan dengannya?” tanya kakek pada Abrar.


“ck, mau tau aja!” ujar Abrar.


“kalau kau gak menceritakannya, aku gak akan membantu mu lagi untuk mendapatkannya.” Ancam kakek.


“dia pernah menyelamatkan aku dari kejaran orang-orangnya Fadel, jadi aku berhutang nyawa dengannya. Dan aku mau menjadikannya wanitaku hanya untuk melindunginya begitu saja!” Jawab Abrar.


“apa kau mencintainya?” tanya kakek lagi kepo.


“apaan sih? Kepo banget..” sahut Abrar dongkol.


“baiklah, aku gak akan membantumu lagi.” Kata kakek ngambek.


“ddiihh, beraninya cuma ngancam aku aja.” Gumam Abrar.


“apa kau bilang?” teriak kakek yang melayangkan tongkatnya ke kepala Abrar.


“hahahahaha, kau jatuh cinta rupanya. Segera berikan aku cicit, atau ku coret namamu dari ahli warisku.” Kata kakek yang melangkah pulang kerumahnya.


          Di tempat biasa, Abrar bertemu dengan sahabat-sahabatnya si dokter, Devan, si pemalu Romi, si playboy Lucky, dan si pintar Aska. Mereka biasa ngumpul di salah satu bar mewah khusus untuk orang-orang kelas atas seperti mereka.


“udah lama banget kau gak ngumpul dengan kita?” ucap Luky si playboy sambil merangkul dua wanita yang ada disampingnya.


“aku sibuk.” jawab Abrar ketus.


“kami dengar kau akan menikah, dengan Mona kah?” tanya Romi.


“bukan!” jawab Abrar.


“lalu siapa wanita yang akan kau nikahi itu?" tanya Aska.


“entar, kalian liat aja.” kata Abrar.


Tiba-tiba mereka di hampiri oleh seorang wanita yang pernah menjadi teman kencannya Abrar, bahkan wanita itu adalah wanita favorit Abrar. Abrar sering mengencaninya jika ia sedang penat dalam pekerjaannya.


“hai, Abrar, sudah lama aku tidak melihatmu, Apa kamu nggak kangen denganku?” ucap Gladis duduk di sebelah Abrar sambil merayu dengan wajah yang menggoda.


“tentu saja aku merindukan mu, sayang! temani aku malam ini.” Sahut Abrar merangkul pinggul Gladis.


“baik lah, aku akan memuaskanmu.” bisik Gladis di telinga Abrar.


Semua sahabat tak merasa aneh dengan pemandangan Abrar dan Gladis, mereka sudah terbiasa kalau Abrar memiliki banyak teman kencan, bahkan Gladis adalah salah satu teman kencan Favoritnya Abrar.


Dikamar yang mewah itu, Balqis berguling kesana kemari tak bisa tidur. Ia tak biasa dengan kamar yang bukan miliknya, walaupun tampak sangat mewah.


“dasar, kau Abrar sialan!” Umpat Balqis geram mengingat perilaku Abrar padanya.


Di dalam bar, seketika Abrar tersedak oleh makanannya, padahal ia makan dengan perlahan.


“uuhuk..uhuk..uhuk! siapa yang sedang mengumpat aku?sialan…” gumam Abrar.


Setelah meninggalkan bar, ia melajukan mobil mewahnya ke sebuah hotel tempat biasa ia kencan dengan Gladis. Mereka pun awalnya terhanyut oleh nafsu mereka berdua.


“aaahh, Abrar kau ganas sekali, sayang!” seru Gladis saat di ciumi oleh Abrar di atas ranjang.

__ADS_1


“aku sangat merindukanmu, wanita jalangku!” sahut Abrar sambil meremas dada Gladis dengan kencang.


"aaahh, aku selalu menyukai remasanmu!" ujar Gladis menikmati sentuhan Abrar.


Kemudian mereka mengubah posisi, Gladis yang sedang di atas tubuh Abrar dan hendak menciumi tubuh Abrar untuk memuaskannya. Seketika Abrar melihat wajah Gladis berubah menjadi wajah Balqis pada saat Balqis mencium Abrar saat menyelamatkan nyawanya. Abrar langsung menolak tubuh Gladis hingga terpental di lantai.


Pikiran Abrar menjadi aneh dan sikap Abrar kepada Gladis menjadi kasar.


“kau kenapa? Apa kau tidak suka dengan gerakanku?” tanya Gladis bingung dengan sikap Abrar.


“menjauhlah dariku!” Bentak Abrar sambil memakai semua pakaiannya.


Lalu Abrar menuliskan sebuah cek untuk Gladis dan meninggalkan Gladis yang masih terpaku akan sikap Abrar padanya. Ia bingung, padahal mereka belum melakukan lebih, masih pemanasan saja, tapi Abrar langsung pergi meninggalkannya. Dalam perjalanan pulang, Abrar masih bingung dengan pikirannya yang selalu di penuhi oleh Balqis. Ia tak mengetahui apa yang terjadi pada dirinya semenjak bertemu dengan Balqis.


          Sesampainya dirumah, ia langsung menuju dapur untuk minum air. Ia sangat haus. Namun tiba-tiba ia melihat ada seseorang yang membuka kulkas dalam kegelapan. Ia langsung menghidupkan lampu dapur.


“ternyata kau! Sedang apa kau tengah malam begini?” tanya Abrar pada Balqis yang kaget saat lampu menyala.


“aku lapar! Apa disini tidak ada mie instant?” sahut Balqis.


“jangan cari makanan sampah disini, sudah pasti gak ada! apa kau suka makan makanan sampah begitu, hah?” tanya Abrar lagi.


“mie instant itu paling baik menemani saat perut sedang gawat darurat! Itu yang paling mudah di olah.” jawab Balqis ketus.


“banyak alasan! Bilang aja kalau kau memang gak bisa masak, selain masak mie instant, pakek cari alasan segala” ujar Abrar sambil mengambil air minum di kulkas.


“jangan anggap remeh terhadapku!” Tukas Balqis dengan gedeknya sambil melangkah pergi meninggalkan Abrar.


“hei, kau mau kemana? Gak jadi makan? Katanya lapar…” tanya Abrar menghentikan langkah Balqis.


“udah eneg liat wajah mu itu!” jawab Balqis nyolot.


“tapi aku lapar, buatkan aku makanan!” kata Abrar yang lagi-lagi ingin mengganggu Balqis.


“suruh aja pelayanmu masak, kau kan orang kaya.” ucap Balqis menolak.


“tengah malam begini, mereka udah pada tidur, yang belum tidurkan kamu, jadi kamu aja yang masak.” Pinta Abrar sedikit kesal karena Balqis tetap saja menolak.


“kalau kau gak mau masak buat aku, berarti kau memang gak bisa masak. Akui aja lah!” Sambung


Abrar lagi.


“bodo!” Sahut Balqis yang tetap aja gak peduli pada Abrar sambil naik keatas untuk masuk ke kamar.


“aduh, sakit banget!” teriak Abrar yang menghentikan langkah Balqis.


“aaaahhh…..aaawww, sakit banget perut aku!” teriak Abrar berpura-pura.


“ka..kau kenapa?” tanya Balqis panik.


“mungkin karena aku kelaparan, jadi asam lambung aku kambuh.” jawab Abrar yang berpura-pura sakit.


“oke! aku masak makanan dulu. Hadeeeehh….merepotkan banget dia…” kata Balqis menuju ke dapur dan memasak makanan untuk dirinya dan Abrar.


Saat Balqis sedang memasak, Abrar terpana melihat kecantikan Balqis saat sedang berada di dapur.


“lama banget sih?” ucap Abrar yang memang hobi membuat Balqis kesal.


“kalau mau cepat, bantuin dong! Pantatmu nempel mulu di situ.” Ujar Balqis sewot.


“iya, bawel banget sih jadi cewek.” sahut Abrar yang ikut memotong sayuran.


“gimana sih, motong sayur aja gak bisa.” kata Balqis yang membuat Abrar dongkol.


“iya lah, ini kan kerjaan perempuan mana mungkin pria setampan aku akan memasak di dapur.” Jawab Abrar dengan kesal.


“asal kau tau ya, di luar sana banyak koki-koki tampan dan bahkan lebih tampan darimu. Pede banget kau, bilang dirimu tampan…” sahut Balqis tak mau kalah.


“hhhuuuhhhh! Galak banget sih jadi cewek, dasar.” Umpat Abrar kalah dengan serangan Balqis.


“kupas bawang aja deh.” perintah Balqis.


“aku gak mau!” tolak Abrar.


“kau mau nya apa sih?” tanya Balqis semakin kesal.


“ini yang aku mau!” Abrar langsung melumat bibir Balqis dengan paksa.


Balqis tak mampu melawan kuatnya cengkraman Abrar terhadap tubuhnya.


“cepat siapkan makanannya..” perintah Abrar yang puas mencium Balqis.

__ADS_1


Balqis sangat kesal saat Abrar mencuri ciumannya. Sambil memotong-motong sayuran dengan pisau, Balqis terus saja ngedumel.


__ADS_2