
Semua orang berbahagia mendengar kabar gembira itu, kecuali Balqis. Ia masih cemas akan bayi yang akan dilahirkannya. Ia khawatir dengan sikap Abrar yang kasar. Apalagi saat mengetahui ia sedang hamil, Abrar seakan tak perduli dan langsung kembali ke kantor pikirnya.
"yang aku khawatirkan akhirnya terjadi....!!" ucap Balqis.
“hhhaaahh…., sudah lah…!! ini juga anakku…” ucapnya lagi mengelus lembut perutnya.
Lalu ia kembali istirahat di kamarnya dan menuruti perkataan Devan sebagai Dokter.
Disisi lain, Abrar duduk di ruangan kantornya. Ia gelisah dan terus berfikir apa yang akan ia lakukan setelah tahu bahwa ia akan memiliki anak. Dalam telinganya hanya terngiang kata “AKU AKAN PUNYA BAYI”. Wajahnya langsung merah merona karena perasaan bahagianya. Tak lama ia berdiam diri di ruangannya, ia langsung memanggil Rudi untuk ikut dengannya.
Sore hari Balqis mendengar suara berisik di ruang bawah. Saat ia keluar ingin melihatnya, ia kaget dengan banyaknya barang-barang kebutuhan bayi yang di angkut dengan truk dan di letakkan di ruang tengah.
“banyak sekali???????? siapa yang membeli ini semua???" ucap Balqis melihat semuanya memenuhi ruangan.
“apa masih kurang?? Aku akan beli lagi nanti.” Sahut Abrar.
seketika Balqis terperanjat melihat Abrar yang sangat antusias membeli semua perlengkapan bayi.
"apa kau yang membeli semua ini???" tanya Balqis.
"tentu saja...., aku akan menjadi ayah...dan anakku tak boleh kekurangan apapun." sahut Abrar.
"katakan padaku..., apa ini masih kurang??" tanya Abrar.
“ini bahkan terlalu banyak…!!” kata Balqis.
“jika ada yang kau butuhkan bilang saja padaku.” Ujar Abrar.
“hey baby boy, apa kau masih lapar di dalam sana?? Ingat jangan sakiti mami mu ya.” Ucap Abrar mengelus perut Balqis yang membuat Balqis tersipu malu.
“dari mana kau tau dia laki-laki???” tanya Balqis melihat tingkah konyol Abrar.
“kalau aku bilang laki-laki, ya laki-laki…!!” kata Abrar masih dengan ego nya.
“ck, dasar kau..!!” umpat Balqis kesal.
“hei…, kau mau kemana??” tanya Abrar melihat Balqis melangkah pergi.
“aku lapar, mau cari makanan di kulkas.” Sahutnya.
“pelayan…., pergi belanja buah-buahan yang banyak.” Perintah Abrar.
“jangan biarkan kulkas kosong.” Katanya lagi.
“baik tuan.”seru pelayan.
“ck, terlalu lebay….!!” Gumam Balqis.
Setelah mengetahui dia akan memiliki bayi, Abrar sibuk mengurusi semuanya untuk Balqis. Bahkan ia menyiapkan kulkas besar di kamar yang berisikan buah-buahan segar. Saat Balqis bangun tidur ia melihat kulkas di dalam kamar.
“kenapa bisa ada kulkas disini??” ucap Balqis bingung dan berpaling melihat Abrar yang memeluknya.
“Abrar, bangunlah….!!” Kata Balqis menggoyang tubuh Abrar.
“ck, aku masih ngantuk…!!” sahut Abrar masih menutup matanya.
“bangunlah sebentar…” kata Balqis.
“ada apa cewek mesum, kata Devan kita gak boleh bercinta saat kau hamil muda.” Kata Abrar dengan tatapan mesum.
“apaan sih?? Aku mau tanya kenapa ada kulkas di kamar ini??” ucap Balqis kesal.
“ini kulkas untukmu, isinya buah-buahan.” Sahut Abrar masih terus memeluk Balqis.
“kenapa??” tanya Balqis bloon.
“agar kau gak naik turun tangga ke dapur, kau harus tetap banyak istirahat di kamar.” Balas Abrar.
Kkkrrriiiuuukkk……..suara perut Balqis.
“apa baby boy ku lapar???” tanya Abrar yang langsung duduk memegangi perut Balqis.
“tentu saja.., rahangku sampai sakit karena terus mengunyah makanan…..” jawab Balqis.
"bersabarlah....!! baby boy kelaparan..., jadi kau harus memberinya makanan yang banyak agar dia cepat keluar dan melihat aku yang tampan ini sebagai ayahnya..." ujar Abrar dengan percaya dirinya yang berlebihan.
"terlalu banyak wanita yang menyanjung dan memujimu, sehingga kau jadi lupa daratan...!!" umpat Balqis.
"aku memang tampan....!! baby boy pasti akan sangat tampan sepertiku...hehehehe..." sahut Abrar yang terus memuji dirinya sendiri.
"hhhaaiiiihhh....., sudah lah...!! berbicara dengannya tetap saja akan kalah..." gumam Balqis memalingkan wajahnya.
“apa kau mau makan sesuatu??” tanya Abrar pada Balqis.
“hhhuuhh, apa kau akan mengizinkanku makan mie instant kesukaanku???” ujar Balqis sewot.
“apa kau minta ku hajar, hah?? Makanlah makanan yang bergizi.” Teriak Abrar kesal.
“dia kan bayimu juga, kenapa kau selalu mementingkan dirimu saja.” balas Abrar lagi.
Mendengar ucapan Abrar, Balqis tersadar bahwa ia harus menjaga bayi yang ada di dalam rahimnya itu. Bagaimanapun juga itu adalah bagian dari dirinya.
“baiklah…aku ingin makan kue strawberry saja.” Kata Balqis yang hendak keluar kamar.
“kau mau kemana?? Aku akan suruh pelayan membuatnya.” Ujar Abrar melarang Balqis keluar kamar.
“kau istirahat saja disini.” Katanya lagi.
“ya sudah, cepatlah aku lapar..., jangan lupa bawakan aku porsi yang besar.” Sahut Balqis.
__ADS_1
"ck..., kau sangat rakus ternyata..." kata Abrar.
"kau lupa aku makan buat berdua?????" teriak Balqis kesal.
"iya......!!! akan ku bawa kue sebanyak yang kau mau....., dasar kau..." umpat kesal Abrar berbalik pada Balqis.
Tak lama kemudian, pelayan datang dengan membawa ku strawberry untuk Blaqis dan sarapan untuk Abrar. Mereka makan di kamar. Karena hari libur, Abrar menemani Balqis di kamar.
“aaahh…, aku bosan.” Ucap Balqis sambil memalingkan wajahnya dari tv.
“aku kan menemanimu kenapa kau masih bosan??” sahut Abrar sambil menatap layar laptopnya.
“ck…, apaan, bahkan kau sibuk sendiri.” Gumam Balqis.
“baiklah, aku akan sungguh-sungguh menemanimu disini, hehehe.” Ujar Abrar tersenyum nakal.
“apa…apa yang akan kau lakukan??” tanya Balqis melihat Abrar mendekatinya.
Tanpa menjawab Abrar langsung menyergap tubuh Balqis dan menciumnya.
“tu..tunggu dulu, apa kau lupa ucapan Devan???” kata Balqis menahan serangan Abrar.
“aku gak akan melakukannya sampai kesitu, aku hanya mencium tubuhmu saja.” Jawab Abrar yang terus mencium.
“ayolah, Abrar…!! Nanti kau kebablasan…!!” ucap Balqis menolak.
“Abrar…., kalau kau begini, kau akan menyakiti bayiku.” Kata Balqis lagi.
“ini bayiku juga, bukan hanya bayimu.” Ujar Abrar tak mau kalah.
“hhhhmmppp…..!!” sahut Balqis memalingkan wajahnya.
"ngomong-ngomong.., kau hamil tapi kenapa tidak seperti wanita hamil pada umumnya yang mual dan muntah-muntah??? kau hanya selalu makan dan makan...." kata Abrar.
"asal kau tau saja..., sebelum aku hamil aku juga sering mual dan muntah..." sahut Balqis.
"kenapa????" tanya Abrar dengan wajah tololnya.
"aku mual karena melihat wajahmu setiap hari.....!!!" jawab Balqis dengan gamblangnya yang membuat Abrar kesal.
"apa wajah tampanku ini seperti kotoran.., hah??? sampai-sampai kau mual melihatku..." teriak Abrar kesal.
"ck....., iya.....!! terus kenapa?? kau mau marah padaku, hah???" balas Balqis berteriak.
"kau memancing kesabaranku, Balqis......!!!!" ujar Abrar yang kemudian dengan tiba-tiba mencium paksa Balqis hingga membuatnya tak bisa bernafas.
"hehehe......, itu hukuman untukmu karena membuat ku kesal..." kata Abrar setelah puas mencium Balqis.
"hhhmmmpppp.........." sahut Balqis memalingkan wajahnya dari Abrar dengan kesal.
Berjam-jam, Abrar dan Balqis berada di dalam kamar. Mereka mulai mersa kebosanan. Mereka bergerak kesana kemari dan bahkan berganti posisi duduk berkali-kali untuk menghilangkan kejenuhan, namun tetap saja merasa bosan.
“hhhaaahh…, aku sangat bosan.” Ucap Balqis menghela nafas.
“apa kau tidak mendengar perkataanku tadi, hah???” kata Abrar mengepal tangannya kesal.
“berhentilah mengurungku di sini. Aku bosan.” Teriak Balqis.
Kemudian, Abrar menelpon Devan.
“Devan, apakah Balqis boleh pergi jalan-jalan??” tanya Abrar pada Dokter pribadinya.
“tentu saja, ibu hamil tidak boleh stress, itu akan mempengaruhi bayinya.” Jawab Devan.
“jangan lupa bawa ia periksa ke dokter kandungan yang aku bilang.” Sambungnya lagi.
“iya baiklah.” Sahut Abrar.
Lalu Abrar menutup teleponnya.
“baiklah, aku akan membawamu jalan-jalan. Tapi ingat kau gak boleh lelah.” Ucap Abrar pada Balqis.
“hhuuhh, aku kan ingin jalan-jalan sendirian.” Gumam Balqis sewot.
“kalau kau pergi tanpaku, lebih baik kau di kamar saja.” Teriak Abrar kesal.
“ya sudah, baiklah. Daripada aku mati kebosanan disini.” Ujar Balqis.
Abrar dan Balqis pun pergi jalan-jalan mall. Mereka makan siang dan melihat-lihat. Saat melintasi toko perlengkapan bayi, langkah Abrar terhenti. Ia menarik tangan Balqis dan mengajaknya masuk kedalam untuk berbelanja keperluan bayi lagi.
“Abrar, barang yang kau beli saja sudah banyak banget, kau mau beli lagi??” tanya Balqis.
“tentu saja, bayiku tidak boleh kekurangan apapun.” Jawab Abrar.
“ini juga bayiku, bukan hanya bayimu.” Balas Balqis sewot.
“gak boleh membantahku, hari ini kita belanja lagi.” Ujar Abrar.
Mereka lalu pulang dengan bawaan belanjaan yang banyak di rumah kakek sudah menunggu di ruang tamu. Melihat mereka belanja banyak sekali keperluan bayi, kakek menjadi sangat bahagia.
“apa kalian tadi pergi belanja bersama??” tanya Kakek senang.
“iya.” Jawab mereka serentak.
“aku jadi tidak sabar menunggunya lahir.” Kata Kakek.
“nak, kau harus menjaga kesehatanmu dan juga bayimu.” Sambung kakek.
“ini bayiku, kek.” Seru Abrar.
“ini bayiku juga.” Sahut Balqis tak mau kalah.
__ADS_1
“diamlah…..!! ini bayi kalian berdua.” Teriak kakek.
“bisakah kalian akur, hah????” teriak kakek lagi.
“maaf kek.” Ucap Balqis.
"hhhaaiiihh...., kalian ini..." sahut kakek menghela nafas melihat pasutri aneh itu.
“baiklah nak..! cobalah lihat cucu sialanku ini, bahkan dia tak menyesal sedikit pun.” Kata kakek mengetuk kepala Abrar dengan tongkatnya.
“iya…iya…aku minta maaf.” Ucap Abrar gak ikhlas.
“apa kau sudah membawa istrimu ke dokter kandungan??” tanya kakek pada Abrar.
“nanti.., hari senin, ini kan masih hari sabtu..praktek dokter libur.” Jawab Abrar.
“ya sudah, kalian istirahatlah. Kakek mau bertemu teman lama.” Kata kakek beranjak pergi.
Tengah malam, saat Abrar tertidur lelap ia mendengar suara perut keroncongan Balqis.
Ia langsung membuka matanya dan duduk melihat Balqis yang sedang berbaring.
“apa bayiku lapar??” tanya Abrar pada Balqis.
“iya, hehehehe.” Sahut Balqis.
“baiklah, kau mau makan apa?” tanya Abrar.
“aku mau makan mie..” jawab Balqis.
“nggak akan ku berikan….!!!” Teriak Abrar.
“hhuuhh…, menyebalkan…!!” sahut Balqis.
“akan aku potongkan buah..untukmu.” ujar Abrar membuka kulkas.
Saat Balqis sedang makan buah, Abrar bertingkah konyol lagi sambil memegang perut Balqis.
“baby boy.., kau sangat rakus ya..!! kerjamu hanya makan saja di dalam sana.” Ucap Abrar.
“kalau kau sudah bosan di dalam sana, cepatlah keluar.” Sambungnya lagi.
“bisakah kau diam, Abrar…!! Konyol sekali…” kata Balqis merasa terganggu dengan tingkah konyol Abrar.
“bisakah kau membiarkan kami para lelaki berbincang-bincang, hah??” sahut Abrar tak mau kalah.
“tau darimana kau, kalau dia laki-laki…!! Astaga…” ucap Balqis.
“ini hasil dari perbuatanku, jadi aku yang lebih tau lah…” sambung Abrar.
"aku memang sangat tidak beruntung karena menikahi pria gila sepertinya..." gumam Balqis.
Tak terasa usia kandungan kini sudah mencapai 5 bulan. Abrar semakin perhatian pada kandungan Balqis walaupun perang dunia ketiga tetap terjadi di antara mereka. Abrar tidak pernah absen mengantarkan Balqis untuk cek kandungan ke dokter yang di rekomendasikan oleh Devan. Abrar yang tipe orang gak sabaran selalu bertanya kapan anaknya akan lahir. Hal itu membuat Balqis sering saja sewot menjawabnya.
saat di dalam ruang dokter kandungan.
"dokter.., kapan dia akan lahir??" tanya Abrar untuk yang kesekian kalinya.
"usia kandungannya masih 5 bulan..., jika kau tak sabaran..kau bisa dengarkan detak jantungnya.." kata Dokter.
kemudian, Abrar pun mendengar suara detak jantung anaknya itu. Abrar dan Balqis sangat terharu saat mendengarnya.
"dokter dia laki-laki atau perempuan???" tanya Abrar.
"sayang sekali..., saat di USG posisinya selalu membelakangi..., jadi yang terlihat hanya punggungnya saja..., kita tidak bisa melihat jenis kelaminya.." jawab Dokter.
"aaakkkhh...., kenapa kau selalu saja membalikkan tubuhmu setiap kali di USG...?? dasar kau anak nakal...." ujar Abrar kesal karena tak dapat mengetahui jenis kelamin anaknya tersebut.
"belum lahir saja..., dia sudah membuatku frustasi..!!" gumam Abrar dalam hatinya.
Dirumah Kakek juga tak kalah dengan Abrar, selalu saja tidak sabaran menanti kelahiran cicit yang diidamkannya itu. Kakek juga memberikan hadiah yang banyak untuk cicitnya. Bahkan kakek juga memberikan banyak perhiasan milik mendiang istrinya kepada Balqis.
“ini semua hadiah buatmu.” Kata kakek memberikan semua perhiasan.
“kek, kenapa kakek memberikan sebanyak ini?? Aku bahkan gak suka pakai perhiasan.” Ujar Balqis menolak.
“tidak mengapa, simpanlah…!! Ini semua sudah menjadi milikmu.” Ucap kakek lagi.
“tapi, kek ini terlalu mahal. Ini semua berlian.” Balqis tetap menolak.
“kalau kau menolak, aku akan bersedih.” Ancam kakek.
“baiklah..” sahut Balqis terpaksa menerimanya.
Malam harinya, Abrar pulang dari kantor dan langsung membersihkan diri. Setelah itu dia berbincang lagi dengan bayinya yang masih dalam kandungan.
“anak papi, apa kau hari ini bahagia??” tanya Abrar sambil meneglus perut Balqis.
Balqis hanya menatap Abrar yang sedang berbincang dengan bayinya yang belum lahir.
“ya tuhan, kenapa aku memiliki perasaan yang aneh saat aku melihat Abrar??” ucapnya dalam hati.
“hatiku sangat bahagia bila ia mengelus perutku dan menempelkan kepalanya di perutku.” Batinnya lagi.
“ya tuhan, jangan sampai aku jatuh cinta denganpria gila ini.” Kata Balqis lagi dalam hatinya.
Kemudian Abrar curi-curi pandang pada Balqis.
“seandainya saja Balqis benar-benar mencintaiku, mungkin aku akan lebih bahagia lagi.” Ucap Abrar dalam hatinya.
“bayiku, setelah kau lahir semoga kau bisa menyatukan kami.” batin Abrar lagi mengelus perut Balqis.
__ADS_1
Sebenarnya mereka saling mencintai, tapi tidak mau mengakui.