
“tuan muda, saya telah mendapatkan informasi tentang gadis itu sesuai dengan perintah anda.” Kata Rudi sambil menyerahkan dokumen berisi tentang identitas dan masalah yang sedang di hadapi Balqis.
“apa? Dia tinggal di panti asuhan?” ujar Abrar saat membaca isi dokumen itu.
“iya, tuan. Dan panti asuhan itu akan di bongkar jika mereka tidak membayar uang kepada pemilik tanah panti tersebut.” Ucap Rudi lagi.
“berapa harga tanah itu?” tanya Abrar.
“pemiliknya meminta uang 1 milyar, tuan.” Jawab Rudi.
“siapkan uangnya! Aku akan memberi perintah selanjutnya.” Kata Abrar dengan senyuman liciknya.
“Balqis, sebentar lagi kau akan berada di pelukanku.” Ucap Abrar dalam hatinya.
Saat sedang bekerja di toko kue, Balqis lebih banyak melamun yang kemudian di tegur oleh Lita yang khawatir olehnya saat malam itu di bar.
“syukurlah kau nggak apa-apa! aku khawatir banget dengan kejadian semalam di bar. aku dengar dari temanku katanya ada yang nyelamatimu, dan dia adalah tuan muda kaya raya. Beneran?” ujar Lita pada Balqis.
“iya sih, di selamatin dari pria jahat, malah jatuh ketangan pria bedebah! Sial banget aku.” Sahut Balqis kesal.
“maksud mu?” tanya Lita bingung.
“udah ah, aku malas ingat-ingat kejadian itu. aku lagi pusing ni, gimana caranya nyelamatin panti asuhan tempat aku tinggal! Pemilik tanahnya minta 1 M, dimana aku cari uang sebanyak itu?” kata Balqis frustasi.
“ya ampun, kau yang sabar ya. aku gak bisa bantuin untuk masalahmu kali ini.” Kata Lita yang bersimpati kepada Balqis.
Tak lama berselang, Abrar tiba dengan seorang wanita cantik, salah satu teman kencannya di depan toko kue sederhana milik Hendri dan tempat bekerja Balqis.
“tuan, sejak kapan kau makan kue di toko murahan ini?” tanya teman kencannya dengan perasaan jijik.
“jika kau tidak suka, pergi dari hadapanku.” Bentak Abrar yang menatap tajam wanita itu.
“baiklah, tuan. Aku akan menemanimu disini.” Ucap wanita itu dengan nada merayu sambil menggandeng tangan Abrar.
“selamat da……tang…..!” ucap Balqis yang kaget melihat Abrar masuk ke dalam toko kue.
“pria bedebah ini?” batin Balqis melihat Abrar.
Abrar tak memperdulikan tatapan tajam dari Balqis, ia masuk melewati Balqis dan duduk di meja pelanggan.
Lita menghampiri meja Abrar untuk melayani pelanggan.
“tuan, silahkan mau pesan apa? Hari ini kami menyediakan diskon harga untuk pelanggan yang datang secara berpasangan.” Kata Lita dengan ramah.
“panggil pemilik toko ini datang menemui aku.” Sahut Abrar dengan dinginnya.
“bbaaa…baiklah, tuan.” Kata Lita bingung.
Lantas datanglah Hendri menghampiri Abrar dengan ramah.
“tuan muda Abrar, selamat datang!” sapa Hendri yang mengenal Abrar sebagai orang terkaya di kota itu.
“aku akan membeli semua kue disini, asalkan Balqis menemaniku duduk disini.” Ujar Abrar kepada pemilik toko kue itu.
“panggil Balqis kesini.” Seru Hendri untuk memanggil Balqis.
Tak lama kemudian, Balqis datang menemui Hendri.
“bapak panggil saya?” tanya Balqi pada Hendri.
“tuan muda Abrar, ingin kamu duduk di sini melayaninya.” Perintah Hendri kepada Balqis.
“tapi pak,….”
“tidak ada tapi-tapi, kerjakan yang aku perintahkan.” Bisik Hendri pada Balqis seraya pergi meninggalkan meja Abrar.
“tuan, kau kan udah punya aku disini untuk menemanimu, kenapa tuan menginginkan gadis ini lagi? Dia bahkan tidak menarik seperti diriku.” Kata teman kencan Abrar sambil menatap Balqis yang masih mematung.
mendengar ucapan wanita kencannya, seketika Abrar menjadi marah.
“Rudi!” panggil Abrar.
“iya tuan?” sahut Rudi.
“lemparkan wanita jalang ini keluar!” Perintah Abrar yang langsung di kerjakan oleh Rudi menarik wanita itu dan melemparkannya keluar toko kue itu.
“ck, dasar, priam kejam.” Gumam Balqis yang terdengar oleh Abrar.
__ADS_1
“duduklah, Balqis, jangan buat aku marah.” Teriak Abrar kepada Balqis.
“siapa kau? Beraninya kau memerintah aku?” ucap Balqis melawan sikap arogan Abrar.
“Balqis, jangan buat aku tidak sabaran! duduklah, aku akan membantu mu keluar dari masalah yang sedang kamu hadapi.” Kata Abrar menahan kesalnya.
Balqis melihat dari kejauhan, Hendri sedang menatapnya.
“sial! dari pada aku kehilangan pekerjaan, lebih baik aku turuti saja kemauan pria bedebah ini.” Umpat Balqis dalam hatinya.
Kemudian Balqis duduk di samping Abrar. Dan tak lama kemudian kue pesanan Abrar datang.
“suapi aku!” seru Abrar pada Balqis.
“kau bukan anak kecil lagi, dan kau punya dua tangan, apa kau….”
“suapi aku, atau kau akan di pecat dari sini?” Ancam Abrar yang memotong omongan Balqis.
Mau tak mau Balqis menuruti perintah Abrar demi tak di pecat dari pekerjaannya.
“aku tidak mau bertele-tele denganmu, aku akan memberikan penawaran yang bagus untukmu.” Ucap Abrar pada Balqis.
“jika kamu mau menjadi wanitaku, aku akan membayarmu 1 Milyar dan memberikan kemewahan yang di dambakan oleh semua wanita di dunia ini.” Kata Abrar yang membuat Balqis dongkol.
“simpan uangmu, aku bukan pelacur!” ujar Balqis sambil bangun dari tempat duduknya.
“jika kau berubah pikiran dan ingin menyerahkan dirimu padaku, datanglah kerumahku. Kau masih ingat kan?” ucap Abrar.
“jangan bermimpi kau, pria bedebah!” umpat Balqis semakin marah.
“hahahahhahaha.” Abrar tertawa melihat kemenangan yang sudah di pastikan berpihak padanya.
Seminggu pun berlalu, batas waktu yang diberikan sang pemilik tanah telah habis. Bu Arsih dan pihak panti asuhan yang lain semakin cemas, karena mereka tidak memiliki uang untuk membayar tanah panti itu.
“ya tuhan, bagaimana ini? Bagaimana nasib anak-anak ini?” batin Balqis sedih.
Kemudian ia teringat akan tawaran dari Abrar, dan seketika ia menepiskan pikirannya itu.
“aku gak mungkin menjual diriku, kepada pria bedebah itu! Tapi dengan cara apa lagi aku menyelamatkan panti ini, sementara aku berhutang banyak dengan panti ini.” Ucap Balqis semakin galau.
Disisi lain, kakek Abrar sebagai penguasa dari harta kekayaan, terus merongrong Abrar untuk menikahi gadis pilihannya yang bernama Mona. Abrar dan Mona tumbuh bersama dari kecil. Mona mencintai Abrar, namun Abrar tak pernah memiliki perasaan apapun terhadap Mona.
“aku tidak mencintai Mona, aku sama sekali tidak tertarik dengannya, kek!” ujar Abrar kesal.
“kalau begitu, menikahlah dengan wanita yang kau sukai. Selama dia gadis yang baik, aku akan merestui kalian.” Sambung kakek yang tetap pada pendiriannya untuk melihat Abrar menikah.
“jika kau belum menikah saat aku tiada, kau tidak akan mendapatkan sepeser harta kekayaanku.” Ancam sang kakek yang tak kalah liciknya dari sang cucu.
Tak lama kemudian, Rudi datang menghampiri Abrar dan berbisik kepadanya yang membuat Kakek curiga.
“baiklah aku akan pergi sebentar.”ucap kakek dusta sambil beranjak dari kursi dengan bantuan tongkatnya.
“bawa dia keruangan ku!” Seru Abrar pada Rudi.
Disisi ruangan, kakek melihat seorang gadis yang mengikuti langkah Rudi dan masuk kedalam ruang kerja Abrar. Dengan bergegas kakek berdiri di depan pintu untuk menguping percakapan Abrar setelah kepergian Rudi.
“akhirnya, kau menemui aku! Apa kau sudah bersedia menjadi wanita ku?” tanya Abrar dengan menikmati kemenangannya.
“tuan, aku mohon bantulah aku! Aku memerlukan uang 1 Milyar untuk menyelamatkan panti asuhan dimana tempat aku tinggal. Aku mohon tuan.” pinta Balqis memohon pada Abrar yang membuat kakek terkejut mendengarnya.
“aku akan memberikan mu uang 1 M, asalkan kau mau menjadi wanitaku untuk selamanya.” Kata Abrar.
“tapi tuan, aku bukan pelacur! Aku mau menuruti semua perintahmu, tapi jangan jadikan aku wanita simpananmu. Aku bukan pelacur.” Ujar Balqis menangis karena merasa direndahkan oleh Abrar.
Seketika hati Abrar sakit mendengar ucapan Balqis. Sebenarnya ia hanya ingin membalas kebaikan Balqis yang sudah menyelamatkan nyawanya waktu itu, tapi disisi lain ia juga ingin memiliki Balqis sebagai wanitanya.
“tolong lah aku tuan, aku rela menjadi pelayanmu seumur hidupku, tapi jangan jadikan aku wanita pelacur.” Ucap Balqis dengan sedihnya.
“siapa yang akan menjadikanmu pelacur, hah?” tanya Abrar kesal.
“Abrar, dasar anak kurang ajar kau!” Teriak kakek yang tiba-tiba masuk membuat Abrar dan Balqis kaget.
“nak, apakah kau memerlukan uang untuk membantu panti asuhan?” tanya kakek iba pada Balqis.
“ck, si tua Bangka ini pasti akan menggagalkan rencanaku.” Gumam Abrar kesal.
“ii…iya tuan.” Jawab Balqis gemetar.
“jangan takut, aku gak sekejam cucu sialanku itu. Aku akan mengurus semuanya asalkan kau mau menikah dengan cucu sialanku ini dan membuatnya berubah menjadi pria yang baik.” Bisik kakek kepada Balqis.
__ADS_1
“maaf tuan, tidakkah ada cara yang lain?” pinta Balqis yang menolah menikah dengan Abrar.
“ini hanya permintaan dari seorang kakek tua yang merindukan kehadiran cicit dari cucu sialan itu! ku mohon, menikahlah dengan cucu sialanku itu, maka aku akan mati dengan bahagia jika ajalku datang.” Kata kakek lagi memohon dengan tatapan mata yang memelas kepada Balqis.
Di tempat duduknya, Abrar hanya bisa penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh kakek dan Balqis.
Sesekali ia berusaha menguping, namun ia tak dapat mendengarnya dan itu membuatnya sangat kesal.
“ba..baiklah, tuan! demi panti asuhan itu aku bersedia.” Ucap Balqis menangis.
“hoorreeee!” teriak kakek senang yang membuat Abrar dan Balqis kaget.
“baiklah, nak. Sekarang kau pulang lah dulu, aku akan mengutus orang-orangku mengurus semuanya di panti
asuhan itu.
Balqis bergegas pulang, dan saat ia tiba di panti asuhan, semuanya telah beres. Pemilik tanah mengalihkan hak tanahnya atas nama Balqis. Semua orang dan anak-anak di panti sangat senang dan berterima kasih kepada Balqis, tanpa mengetahui beban apa yang akan di hadapi Balqis setelah pengorbanannya itu.
Disisi lain.
“kakek, kenapa kakek selalu saja mengacaukan rencanaku? kakek selalu saja mencampuri urusanku.” Ujar Abrar kesal.
“dasar anak bodoh! Aku ini sudah membantumu. Kau itu terlalu bodoh mengahadapi seorang gadis seperti dia, untuk menjadikannya wanitamu saja, kau tak bisa. Bahkan kau kalah dengan ku yang sudah tua ini, aku bisa meyakinkannya dengan menjadikannya istrimu!” kata Kakek yang membuat Abrar kaget dengan trik yang di mainkan oleh kakeknya itu.
“dia gadis yang baik, walaupun kau mampu membawa gunung, dia tetap tidak akan menjual harga dirinya. Gadis seperti itu harus di jebak dengan cara yang jitu, agar dia bisa berlari ke kepelukan laki-laki. Dasar kau ini, kerjamu hanya bisa menikmati tubuh wanita saja, tapi mendapatkan hati seorang gadis saja kau tak mampu.” Ujar Kakek yang menjatuhkan harga diri cucu sematawayangnya itu.
“ya, baiklah! Aku mengaku kalah dengan kakek. Jadi kapan dia akan menjadi milikku?” tanya Abrar tak sabaran.
“berikan dia waktu 1 bulan, untuk mempersiapkan dirinya menjdi bagian dari dari hidupmu. Dasar anak gak sabaran! jawab kakek yang kemudian beranjak pergi meninggalkan rumah mewah milik Abrar itu
“aku pastikan sebelum 1 bulan, dia akan jadi milikku selamanya.” Gumam Abrar menyusun rencana.
setelah kepulangan Balqis, Abrar menyusun rencana untuk mendapatkan Balqis secepat mungkin.
ia tak sabar menunggu hingga 1 bulan lamanya. lantas ia meminta pendapat dari Rudi asisten pribadinya.
"aku harus menyusun rencana agar bisa mendapatkannya dengan segera, tapi bagaimana caranya? apa kau bisa menyarankan sesuatu, Rudi?" tanya Abrar.
"tuan, lebih baik memberikannya beberapa hadiah untuknya. umunya semua wanita menyukai kemewahan." jawab Rudi.
"kau benar juga! semua wanita yang mendekatiku, selalu menginginkan kemewahan dariku, dia pasti begitu juga! hehehehehehe." ujar Abrar sambil terkekeh licik.
"baiklah, besok kirimkan semua kemewahan untuknya! agar dia dengan segera jatuh ke kepelukanku.." kata Abrar lagi memberikan perintah kepada Rudi.
keesokan harinya pun, Rudi mengantarkan hadiah yang banyak untuk Balqis. Mulai berbagai baju bermerk, tas mahal, sepatu yang indah, dan juga perhiasan yang yang mewah, semuanya di persiapkan oleh Abrar untuk Balqis. Semua anak di panti heboh melihat begitu banyak hadiah yang dikirimkan untuk Balqis.
"ada apa ini?" tanya Balqis pada Rudi.
"ini hadiah dari tuan Abrar untuk anda nona." sahut Rudi.
"bilang pada majikanmu, aku gak sudi terima apa pun darinya!" ujar Balqis dengan kesal.
"tapi nona, tuan Abrar tidak suka di bantah." kata Rudi.
"aku bilang gak mau!" teriak Balqis semakin kesal.
"ya, Tuhan, wanita ini keras kepala! aku pasti akan di bunuh oleh tuan Abrar, kalau semua hadiah ini ku bawa kembali." ucap Rudi dalam hatinya.
"nona, tolong lah jangan persulit pekerjaanku, tuan Abrar pasti akan marah nanti." kata Rudi pada Balqis.
"baiklah, sekarang kau pulanglah...biarakan semua hadiah ini disini..." ucap Balqis.
"baiklah, nona...!! aku permisi." ucap Rudi beranjak pergi.
tak lama kemudian, Balqis mengirimkan kembali semua hadiah ke rumah Abrar, dengan secarik kertas bertulis pesan untuk Abrar. saat Abrar melihat hadiah tersebut dikirim kembali padanya, ia langsung geram. ia pun membaca pesan dari Balqis untuknya.
"hei, pria bedebah! kau salah alamat, jika mengirimkan semua hadiah itu untukku, aku bukan seperti wanita-wanita kencanmu yang selalu di sampingmu untuk meminta harta kekayaanmu, jangan mimpi, tuan bedebah yang sok ganteng!" tulis Balqis pada pesannya untuk Abrar.
"aaaakkkhhh, dasar cewek mesum! beraninya kau menantangku." teriak Abrar kesal kepada Balqis.
__ADS_1