LOVE IN MINE

LOVE IN MINE
UMPATAN BALQIS


__ADS_3

          Balqis memasak makanan untuk Abrar dengan perasaan yang sangat kesal, karena Abrar yang terus mencuri ciuman darinya. Namun Abrar sangat senang melihat wajah Balqis yang kesal padanya. Abrar menatap wanita yang sedang memasak di dapur rumahnya. Selama ini jangankan untuk melihat wanita memasak di dapurnya, bahkan ia sangat jarang duduk di ruang makan. Abrar lebih suka makan di luar ketimbang dirumahnya, karena hanya dirinya lah yang duduk makan di ruang makan rumahnya.


"ini makananmu, sudah siap!" kata Balqis dengan wajah yang masih kesal.


"kenapa ada dua piring?" tanya Abrar sambil menatap Balqis dengan kesal.


"aku lapar juga jadi aku masak untuk dua porsi.." teriak Balqis.


lalu Abrar mengambil piring yang lebih besar dan menuangkan semua makanan menjadi satu.


"apa-apaan kau ini?" tukas Balqis semakin kesal kepada Abrar.


"aku mau kita makan sepiring berdua! belajar lah romantis denganku, sebentar lagi kau akan menjadi istriku." sahut Abrar yang tak perduli tatapan jengkel Balqis.


"astaga, seenak jidatnya saja dia!" ucap Balqis dalam hatinya.


"aku jadi gak nafsu." gumam Balqis sambil beranjak pergi.


"kalau kau berani pergi, aku akan menyuruh anak buahku untuk membongkar panti asuhan itu!" ancam Abrar pada Balqis.


"apa kau lupa, uang 1 Milyar itu berasa dari harta kekayaan keluargaku?" ujar Abrar lagi yang membuat Balqis semakin dongkol padanya.


"dasar sialan! dia selalu saja mengancamku." umpat Balqis dalam hatinya.


lalu Balqis kembali duduk di kursi makannya.


"suapi aku." perintah Abrar pada Balqis.


"apa kau bayi?" teriak Balqis mati kesal kepada Abrar.


"cepat suapi aku!" bentak Abrar.


"ck, makan nih!" teriak Balqis sambil menyuapi Abrar dengan wajah yang sewot.


melihat Balqis yang semakin kesal dengannya, Abrar semakin merasa senang. ia suka melihat wajah Balqis yang kesal kepadanya.


 


          Esok harinya, Balqis bangun kesiangan dikarenakan ia tak bisa tidur semalam. Ia tak terbiasa tidur di kasur yang bukan miliknya, walaupun kasur itu sangat empuk jauh lebihh empuk dari miliknya yang ada di panti asuhan. Saat ia membuka mata, ia melihat Abrar yang berdiri di hadapannya.


“udah bangun, hah? Dasar pemalas!” ucap Abrar.


“ngapain kau ada di kamarku? Keluar!” teriak Balqis melempari Abrar dengan bantal.


“ini rumahku, jadi terserah aku dong.” sahut Abrar.


“ayo cepat turun, sarapan!” ujar Abrar lagi.


“aku gak mau, aku mau pulang!” sahut Balqis.


“oohh, gitu? Kalau kau gak mau makan sarapanmu, aku akan memakanmu.” Ucap Abrar dengan wajah yang begitu jahatnya.


Balqis berdegik ngeri saat Abrar mengancamnya dan hal itu terlihat jelas di mata Abrar kalau Balqis takut pada ancamannya.


“hahahahha, cepat turun!” perintah Abrar.


Setelah selesai sarapan, Abrar menunggu di dalam mobil, untuk mengajak Balqis pergi membeli perlengkapan pernikahan.


“kenapa aku sangat senang bila melihat dia kesal?


“bahkan aku seakan ingin sekali terus mengganggunya..” ucap Abrar.


Setelah beberapa jam, Abrar tak kunjung melihat Balqis keluar dari pintu depan. Ia mulai kesal karena telah terlalu lama menunggu Balqis. Ia berinisiatif masuk kerumah menemui Balqis.


“dimana Balqis?” tanya Abrar pada pelayan.


“setelah selesai sarapan, nona pergi keluar dari pintu belakang.” Jawabnya.


“sialan, dia melarikan diri!” teriak Abrar kesal.


          Ternyata saat Abrar menunggu di dalam mobil, Balqis bersembunyi dan mencari kempatan untuk kabur. Dan saat Abrar masuk kedalam rumah, saat itu lah Balqis kabur dari rumah Abrar dan pulang ke panti asuhan dimana ia tinggal. Abrar tak kehilangan akal, ia tahu dimana dia dapat menemui Balqis selain di toko kue tempatnya bekerja. Abrar tiba di halaman panti asuhan. Ia melihat banyak anak-anak yang sedang bermain. Kemudian ia masuk kedalam dan menemui bu Arsih untuk menanyakan Balqis.


“maaf, tuan siapa?” tanya bu Arsih.


“saya, Abrar..calon suaminya Balqis.” Jawab Abrar.


“apa tuan cucunya pak Cahyadi (kakek) yang membeli tanah ini?” tanya bu Arsih lagi.


“iya, betul. Saya mau menemui Balqis.” Sahut Abrar.


“baiklah, ikuti saya.” Ucap bu Arsih.


Kemudian, mereka berjalan menuju ke tempat Balqis yang biasanya sedang bermain dan membacakan cerita untuk anak-anak panti asuhan. Balqis tak menyadari, bahwa Abrar sudah berada di hadapannya.


“lalu, sang putri cantik pun, menikah dengan pangeran dan membawanya ke istana.”


“mereka hidup bahagia…TAMAT.” Kata Balqis membacakan cerita.


“kakak, apa suatu saat kau akan menikah dengan pangeran?” tanya salah seorang anak.


“tentu saja, aku akan menikah dan hidup bahagia dengan pengeran yang tampan.” Jawabnya.

__ADS_1


“apa kau akan memiliki anak dengannya?” tanya anak itu lagi.


“iya! Aku akan memiliki anak yang banyak dengan pengeran tampan itu.” Kata Balqis sambil mencubit pipi anak itu.


“siapa pengeranmu? Apa dia benar-benar tampan?” tanya anak lainnya.


“aku pengeran yang akan menikah dengan kakak Balqis.” Sahut Abrar tiba-tiba.


Seketika Balqis kaget melihat Abrar yang berdiri di hadapannya.


“dan aku juga akan membuatkan anak yang banyak untuknya.” Sambung Abrar lagi.


“bagaimana cara membuatnya?” tanya anak lainnya kepada Abrar.


“tentu saja, dengan menikah dan tidur bersama, lalu……….”


“hentikan!” teriak Balqis dengan wajah memerah menahan malu.


Kemudian Balqis menarik Abrar menjauhi anak-anak.


“apa kau gak malu, dengan ucapanmu?” tanya Balqis kesal.


“kenapa? Aku kan hanya menjelaskan.” Jawab Abrar.


“pada anak usia 5 tahun, hah?” ucap Balqis kesal.


“apa salahnya? toh, nanti juga mereka tumbuh dewasa.” Ujar Abrar.


“dasar kau!” umpat Balqis kesal dengan sikap Abrar.


“ayo pergi, aku kesini untuk menjemputmu membeli gaun pengantin.” Kata Abrar.


“aku gak mau.” Ucap Balqis.


“kenapa kau selalu membuat ku kesal, hah?” teriak Abrar.


“pria bodoh, jangan bentak kakak Balqis ku!” ucap Revan kepada Abrar.


“hei, bocah! Siapa kau?” tanya Abrar menatap Revan.


“aku Revan, aku heronya kakak Balqis. Kalau kau jahat dengan kakak Balqis akan aku tembak kau.” Jawab


Revan sambil menodongkan pistol mainanya ke arah Abrar.


“pppffffttt, pistol mainan!” ujar Abrar tertawa geli.


“hei, bocah! jika kau heronya berarti aku penjahatnya.”


“dan aku akan memperkosanya sampai dia benar-benar tidak sanggup menahannya.” Bisik Abrar di telinga Balqis.


Balqis menahan diri untuk tidak mengumpat Abrar di depan Revan.


"kakak, apa yang di katakan padamu? kenapa dia berbisik padamu?" tanya Revann dengan polosnya.


"eeemm, dia hanya bilang kalau kau sudah dewasa kau akan menjadi pria yang tampan." jawab Balqis mendustai anak kecil.


"hei, seharusnya kau berkata jujur padanya! kau tidak boleh mengajarkannya berbohong." kata Abrar dengan senyuman mesumnya.


"dasar **** tengik kau......!!!" lagi-lagi Balqis mengumpat Abrar yang senang mengganggunya.


“cepatlah…., aku menunggumu di mobil.”


“ku peringatkan kau, jangan berani kabur lagi dari ku.” Ancam Abrar yang melangkah dan masuk kedalam mobil.


“Revan, kakak pergi dulu ya. Ingat kau harus menjadi anak yang baik saat aku pergi.” Kata Balqis pada Revan.


Balqis pun meminta izin pada bu Arsih untuk pergi berasama Abrar.


          Setibanya di toko pakaian yang terkenal dan termewah di kotanya, Abrar menyuruh pelayan untuk memberikan gaun yang paling bagus untuk Balqis. Balqis pun mencoba hampir semua gaun yang di rekomendasikan, namun tak ada yang cocok di mata Abrar.


“jelek! Ganti yang lain.” Kata Abrar.


“Abrar, bisa kah kau gak menggangguku sehari saja?” ujar Balqis yang kesal.


“tapi gaun itu gak cocok denganmu. Cepat ganti.” Bentak Abrar.


Tak lama kemudian, Balqis keluar dengan gaun yang lain yang terlihat sangat sexy dan vulgar.


“ini saja! Ucap Abrar dengan tatapan matanya yang mesum memandangi tubuh Balqis.


“aku gak suka! Aku mau ganti yang lain.” Ujar Balqis malu dengan tatapan mata Abrar.


“tapi aku suka melihat kau pakai gaun yang ini! biar saat malam pertama kita, aku gak susah payah untuk membukanya.” Kata Abrar dengan senyuman jahatnya.


“dasar kau gila!” umpat Balqis masuk untuk mengganti gaun yang lain.


“pppffftt, Aku sangat suka melihatnya kesal.” Gumam Abrar tertawa.


Tak lama kemudian, Balqis keluar dengan gaun yang sangat indah di pakainya. Mata Abrar seakan tak bisa berkedip melihat Balqis yang bagaikan bidadari dengan gaun itu.


“gimana penampilanku?” tanya Balqis.

__ADS_1


“bagus! Yang ini saja.” Jawab Abrar dengan wajah merah merona di pipinya.


Saat Balqis mengganti pakaiannya, Abrar mengatakan pada pelayan butik untuk membungkus gaun pernikahan yang sexy tadi tanpa sepengetahuan Balqis. Ia memiliki rencana untuk memaksa Balqis mengenakannya saat mereka sudah menikah nanti. Abrar kemudian mengkhayal tentang Balqis yang menggunakan gaun sexy itu dan merayunya dengan sangat menggoda. Abrar tersenyum-senyum sendiri saat mengkhayalkan itu.


“dasar gila!” umpat Balqis melihat Abrar yang tersenyum sendiri.


“dasar kau!” sahut Abrar yang membalas umpatan Balqis.


Saat berada di tengah jalan, tiba-tiba Balqis minta di turunkan. Ia ingin pergi bekerja di toko kue tempat pak Hendri.


“berhenti..aku turun disini aja.” Kata Balqis.


“gak boleh.” sahut Abrar yang membuat sopirnya galau.


“aku mau turun, aku mau kerja.” Ujar Balqis lagi.


“sudah berapa kali aku katakan padamu, kau jangan bekerja lagi! aku orang kaya, calon istriku gak boleh bekerja di luaran sana...." teriak Abrar kesal.


“tapi aku harus bantu bu Arsih membiayai panti.” Ucap Balqis ngeyel.


“urusan panti aku udah atur semuanya, mereka gak akan kekurangan apapun.” Kata Abrar yang mulai kesal.


“ini untukmu.” Seru Abrar memberikan sebuah kartu pada Balqis.


“Pergilah berbelanja sesuka yang kau mau.” Ucap Abrar lagi.


“aku gak butuh.” Ujar Balqis.


“kalau kau gak mau, aku akan bilang sama kakek kalau kau gak mau terima ini.” Ancam Abrar.


“bisa gak, kau itu gak pakek nama kakek untuk mengancam aku?” teriak Balqis kesal.


“terserah!” sahut Abrar yang udah pusing menghadapi Balqis yang kersa kepala.


“turunkan aku disini.” Teriak Balqis pada sopir.


“enggak!” Bentak Abrar.


“kau ikut pulang bersamaku, sampai hari pernikahan kau akan terus tinggal dirumahku.” Ucap Abrar lagi.


“aku mau pergi kerja!” teriak Balqis yang memancing emosi Abrar.


“kalau kau masih ingin tetap bekerja di luaran sana, akan ku bakar semua tempat yang mempekerjakanmu .” Ancam Abrar dengan wajahnya yang bengis.


Melihat wajah Abrar yang bagaikan monster itu, Balqis menjadi takut dan tak berani memberontak lagi.


“ikut aku pulang, jangan buat aku marah.” Ujar Abrar lagi.


          Balqis hanya pasrah karena paksaan Abrar yang ingin membawanya pulang untuk tinggal bersama Abrar sampai hari pernikahan. setibanya dirumah, Balqis langsung masuk ke kamarnya. dengan kesal ia membanting pintu kamarnya yang membuat semua pelayan terkejut. Abrar sangat kesal melihat sikap Balqis yang keras kepala. Abrar sudah sangat pusing menghadapi Balqis. di dalam kamarnya Balqis duduk di sisi ranjang dengan kesal.


"aku sangat menyesal pernah di selamatkan olehnya di dalam bar waktu itu.." kata Balqis.


"karena kejadian itu, aku jadi terperangkap disini dengannya." kata Balqis lagi.


"ibu Arsih pasti sangat mencemaskan aku. aku mau menghubungi ke panti juga pakai apa? HP ku sudah di buang denganya. aaakkkhh, sial!" sambung Balqis lagi frustasi.


tak lama kemudian Abrar masuk ke kamarnya dengan membawa sebuah kotak dan memberikannya ke pada Balqis yang masih menatapnya dengan kesal.


"ini, ambilah!" kata Abrar pada Balqis.


"untuk apa kau berikan HP itu padaku, aku mau HP milikku, kembalikan HP ku!" sahut Balqis.


"HP mu itu sudah jadul. ini HP keluaran terbaru dan sangat canggih, aku belikan untukmu sebagai ganti HP mu yang sudah aku buang." kata Abrar menahan kesalnya.


"ya sudah, sini Hp nya aku mau hubungi bu Arsih dulu..." ucap Balqis.


"aku sudah katakan pada bu Arsih tadi, kalau kau akan tinggal disini denganku dan dia menyetujuinya." kata Abrar.


"aku gak percaya denganmu!" ujar Balqis.


"dasar wanita pembangkang!" umpat Abrar yang seakan habis kesabaran menghadapi Balqis.


"menurut lah denganku, atau ku perkosa kau malam ini juga...." ancam Abrar pada Balqis.


          Mendengar ancaman Abrar, sontak membuat Balqis berdegik ngeri. lalu Abrar keluar kamar Balqis dengan senyuman puas karena berhasil membuat Balqis menuruti kemauannya walaupun dengan cara mengancam dirinya. Balqis yang melihat senyum kemenangan Abrar, berteriak kesal sambil melemparkan bantal ke arah Abrar dan mengenai pintu kamar. Abrar merebahkan tubuhnya di ranjang kamar miliknya yang bernuansa hitam dan putih.


Abrar tertawa senang saat mengingat kembali wajah kesal Balqis yang mengumpat dirinya.


"kenapa kau begitu membuatku tergila-gila Balqis???? aku gila karena ciumanmu, karena wajah mu saat kau kesal padaku..., dan aku gila karena menghadapi wanita yang keras kepala sepertimu...hahahaha...." kata Abrar tertawa senang.


"aku tak sabar menanti saat-saat kau bersamaku setiap harinya setelah kau menjadi istriku." ucap Abrar lagi yang sebenarnya ia tak menyadari bahwa telah jatuh hati dengan Balqis.


Di dalam kamarnya, Balqis kembali berguling kesana kemari tak bisa tidur.


"haaaahh...., aku bisa mati kesal karena gak bisa tidur di ranjang yang bukan milikku..." kata Balqis yang kemabli duduk di ranjangnya.


lalu ia turun dan melangkah ke arah jendela kamarnya. ia melihat suasana halaman rumah yang sangat indah saat terkena sinar lampu taman. ia memandangi setiap sudut perkarangan yang terlihat jelas dari jendela kamarnya.


"mimpi apa aku bisa berada di dalam istana yang besar ini? halaman yang indah! hanya saja sang pangerannya malah si pria menyebalkan itu, dia selalu menggangguku..." ucap Balqis memandang keluar jendela.


"tak apa lah..., aku merasa kan kekesalaku setiap harinya jika aku menikah dengan pria bedebah itu..., asalkan anak-anak di panti asuhan tak kekurangan apa pun lagi sekarang...!! aku akan sangat merindukan mereka jika aku benar-benar akan tinggal disini selamanya dengan pria bedebah itu." ucap Balqis lagi.

__ADS_1


seakan kantuknya telah datang, Balqis pun merebahkan tubuhnya kembali di ranjang. ia memaksakan dirinya untuk tidur nyenyak.


__ADS_2