LOVE IN MINE

LOVE IN MINE
PERTIKAIAN


__ADS_3

          Setelah kepergian Mona, Abrar dan Balqis semakin menunjukkan perasaan mereka masing-masing. Azlan tumbuh semakin menggemaskan dan pintar. Kini ia sudah bisa berjalan. Balqis dan Abrar sangat antusias dalam merawat Azlan menjadi anak yang pintar.. Hidup mereka begitu bahagia walaupun Abrar dan Balqis belum langsung menyatakan perasaan mereka. Kakek yang tau perasaan Abrar yang ingin mengejar cinta tulus Balqis, ingin merencanakan liburan untuk Abrar dan Balqis. Namun Balqis menolak karena mengingat Azlan yang masih membutuhkannya.


          Hari berganti, tak terasa Azlan sudah berusia 2 tahun. Kakek membuat pesta ulang tahun yang meriah di hotel termewah di kotanya. Lagi-lagi Abrar tergila-gila dengan kecantikan Balqis saat pesta ulang tahun Azlan.


Balqis yang menggunakan gaun pesta berwarna biru gelap dengan riasan tipis dan perhiasan yang simple membuat Balqis terlihat cantik nan anggun. Banyak mata pria yang melirik Balqis dan membuat Abrar jengkel.


“sialan…, mereka menatap Balqis ku..!!” umpat Abrar kesal kepada setiap pria yang terpesona akan Balqis.


Tak lama mata Abrar melirik seorang pria yang tidak lain adalah rekan bisnisnya dan sangat berpengaruh di kotanya. Nama pria itu Johan. Dia pebisnis yang terkenal dengan sikapnya yang pantang menyerah.


Parasnya yang tampan, bertubuh tinggi putih, dan dengan mulut yang sangat pandai mengambil hati wanita manapun.


Abrar melirik Johan yang sedang berjalan mendekati Balqis. Abrar tau sikap Johan yang tidak akan mendekati wanita jika ia tak menginginkannya. Namun Abrar masih diam, ia ingin melihat reaksi Balqis pada Johan.


Saat Johan menyapa Balqis yang sedang menyapa tamu yang lain.


“selamat malam nyonya Balqis.., perkenalkan aku Johan.., rekan bisnis tuan Abrar.” Sapa Johan pada Balqis.


“oohh..iya tuan…, terima kasih telah datang ke pesta ultah anak kami.” sahut Balqis tersenyum ramah.


Melihat reaksi Balqis yang tersenyum bersahabat kepada Johan, Abrar menjadi meradang. Ia cemburu melihat Johan mencium tangan Balqis saat menyapanya. Saat Balqis dan Johan semakin akrab dalam obrolan mereka, Abrar datang menghampiri mereka berdua.


“sayang.., kau terlihat akrab dengan tuan Johan..!” kata Abrar memanggil Balqis dengan kata sayang.


“apaan sih dia?? Manggil sayang??? Biar kelihatan mesra gitu di depan orang??” ucap Balqis dalam hatinya.


“tuan Abrar, aku sangat iri denganmu karena kau memiliki wanita yang sangat cantik.” Kata Johan membuat Abrar semakin meradang.


Namun Abrar menahan amarahnya.


“iya.., kau benar..!! aku sangatlah beruntung memiliki istri yang cantik seperti dia.” Sahut Abrar dengan tatapan yang tajam.


“sayang…, lebih baik kau istirahatlah..!! Azlan membutuhkanmu.” Kata Abrar pada Balqis.


Abrar berniat untuk menjauhkan Balqis dari Johan yang tiada hentinya menatap Balqis. Balqis pun menuruti perintah Abrar karena ia pun sudah sangat lelah dalam pesta itu. Balqis dengan ramah pamit kepada Johan.


“tuan Johan, aku gak percaya jika kau gak punya wanita cantik disisimu.” Kata Abrar pada Johan.


“ya.., aku memiliki banyak wanita cantik..namun tak secantik nyonya Balqis.” Ujar Johan dengan sengaja memancing amarah Abrar.


Tapi Abrar masih dapat menahan amarahnya.


“benarkah?? Aku memang sangatlah beruntung di bandingkan kau..” kata Abrar pada Johan.


“benar..!! Abrar lihat saja nanti, aku akan membuat keberuntunganmu berpihak padaku.” Ucap Johan dalam hatinya.


“aku sangat terobsesi dengan kecantikan Balqis yang terlihat alami…” ucapnya lagi dalam hati.


Johan sangat terobsesi dengan kecantikan Balqis. Johan yang terkenal dengan sikap pantang menyerah akan mengejar impiannya untuk mendapatkan Balqis. Sementara Abrar yang tau akan sikap Johan, membuatnya dilema. Apalagi ia melihat Balqis dengan cepat akrab dengan Johan.


Setelah acara pesta selesai, Abrar menemui Balqis di kamar yang akan beristirahat.


Abrar masih merasa kesal dengan sikap ramah yang diberikan Balqis kepada Johan.


“Balqis…” panggil Abrar dengan nada dingin.


“hhmm, besok aja ceritanya, aku capek banget..” sahut Balqis yang tak mau membuka matanya.


“Balqis…., aku ingin bicara denganmu.” Kata Abrar kesal dan menarik tangan Balqis dengan kasar.


“ckk.., apaan sih?? Kasar banget….” Kata Balqis kesal kepada Abrar.


“kenapa kau bersikap sangat ramah kepada Johan??” tanya Abrar.


“dia kan tamu, lagian dia kan rekan bisnismu.., ya wajar aja lah..” jawab Balqis.


“kau tersenyum sangat ramah padanya, sementara sikapmu terhadapku seperti ini..” ujar Abrar.


“apa sih..?? aku bilang dia kan Cuma tamu, wajar aja kalau aku ramah padanya.” Sahut Balqis mulai kesal.


“kenapa kau sangat marah?? Dia baik padaku, ya aku balas baik kan gak ada masalah.” Kata Balqis lagi.


“dengarkan aku, Balqis…!!” teriak Abrar mencengkram tubuh Balqis dengan kasar.


“kau istriku, kau wanitaku…!! Sampai kapanpun akan tetap begitu.” Kata Abrar marah pada Balqis.


Kemudian Abrar melemparkan tubuh Balqis dengan kasarnya ke ranjang. Balqis hanya bisa menangis kesal dengan sikap Abrar yang tetap kasar padanya. Lalu Abrar pergi keluar kamar menuju ruang kerjanya dengan penuh amarah dan cemburu.


“gak akan ada yang bisa merebut Balqis dariku.., dia milikku selamanya.” Ucap Abrar dengan amarah yang memuncak.


Disisi ranjang yang empuk, Balqis menangis kesal mendapatkan perilaku kasar dari Abrar.


Ia tak tau apa kesalahan yang ia perbuat, hingga Abrar kasar padanya.


“aku sangat mencintaimu…, tapi kau selalu saja menyakiti aku.” Ucapnya dalam tangisannya karena sedih dan kesal terhadap Abrar.


Malam itu, Abrar tidak tidur seranjang dengan Balqis. Abrar memilih untuk tidur di kamar lain agar ia tidak menyakiti Balqis saat dia sedang cemburu dan marah. Keesokan harinya, tidak ada tegur sapa di antara mereka berdua.


Balqis hanya sibuk dengan Azlan, dan Abrar pergi ke kantor tanpa sarapan. Balqis masih kesal dengan sikap Abrar padanya dan Abrar masih kesal akan cemburunya. Saat dikantor dan sedang meeting, pikiran Abrar tidak fokus.


Hingga ia meminta Rudi yang mewakilinya untuk meeting.


Abrar kembali ke ruanganya, dan duduk di sofa dengan perasaan galau.


“apa yang aku lakukan?? Kenapa aku marah pada Balqis..??” ucap Abrar menyesali perbuatannya.


“kalau aku terus bersikap seperti itu, maka Balqis akan membenciku.” Ucapnya lagi.


Kemudian dengan cepat, ia mengambil jas nya dan pulang untuk menemui Balqis agar bisa meminta maaf padanya.


Namun saat di perjalan pulang, ia melihat Balqis yang sedang berdiri di pinggir jalan dengan seorang pria yang Abrar pun mengenalnya yaitu Johan.


Dengan perasaan yang sangat marah Abrar melihat Balqis yang kembali tersenyum ramah kepada Johan.


“sialan…, apa yang mereka lakukan disana?? Apa mereka janjian??” kata Abrar marah melihat Balqis dan Johan.


Tak lama kemudian, Balqis dan Johan masuk ke sebuah café. Amarah Abrar pun kian memuncak.


Abrar memutuskan untuk menunggu Balqis pulang dirumah. Dengan perasaan yang campur aduk, Abrar menunggu Balqis dengan tidak sabaran di kamar mereka. Akhirnya Balqis pun kembali. Ia masuk ke kamar dan melihat Abrar yang sudah berdiri di hadapanya dengan wajah yang bengis.


“darimana saja kau??” tanya Abrar pada Balqis dengan sinis.


“aku dari panti asuhan, sudah lama aku gak berkujung kesana.” Jawab Balqis.


“apa kau yakin, bahwa kau ke panti tadi??” tanya Abrar lagi dengan nada kesal.


“iya…., kenapa sih??” sahut Balqis kesal.


“apa kau gak merasa bersalah karena kau sudah membohongi aku???” teriak Abrar kesal.

__ADS_1


“bohong apanya??? Aku tadi dari panti asuhan…” balas Balqis juga kesal.


“aku melihatmu bersama Johan tadi…!!!” teriak Abrar dengan pandangan mata yang penuh amarah.


“aku gak sengaja bertemu dengannya, dan dia mengajakku sekedar minum teh.” Ucap Balqis menjelaskan.


“berarti kau bohong padaku kan?? Kau bilang padaku kau ke panti tadi.” Ujar Abrar mencengkram tubuh Balqis.


“aku tadi memang pergi ke panti, setelah minum teh dengannya..” sahut Balqis. Tak dapat menahan amarahnya, Abrar mendorong tubuh Balqis dengan kasar ke ranjang dan menindihnya dengan kuat.


“kau dengarkan aku baik-baik.., aku benci kau berbohong padaku.” Kata Abrar dengan bengisnya.


“aku lebih membencimu lagi saat kau bersikap kasar padaku, Abrar…!!” teriak Balqis.


“aku gak tahan lagi hidup denganmu…, ceraikan aku…..!!!!” teriak Balqis lagi sambil menangis.


Mendengar kata cerai yang di lontarkan oleh mulut Balqis, Abrar menjadi gelap mata. Seketika ia melayangkan tangannya ke wajah Balqis. Tamparan keras di rasakan oleh Balqis dari tangan pria yang sangat ia cintai.


“jangan pernah ucapkan kata itu lagi, atau aku akan membunuhmu..” ancam Abrar.


“bunuh saja aku sekarang…, aku menantangmu…..!!!” sahut Balqis menatap Abrar dengan marah.


Kemudian Abrar melepaskan cengkramannya dari tubuh Balqis dan melangkah pergi meninggalkan Balqis yang menangis sejadi-jadinya di kamar. Abrar pergi ke bar bersama sahabatnya untuk mencari kesenangan.


“kau kenapa?? Apa kau bertengkar dengan kakek??” tanya Devan pada Abrar yang minum terlalu banyak.


“aku sangat ingin membunuh Johan, saat ini…!!” ucap Abrar memegang botol minuman.


“ada apa antara kau dengan dia??” tanya Devan terkejut.


“Johan mencoba merampas Balqis dariku.” sahut Abrar.


“apa??? Darimana kau tau??” tanya Aska.


“saat pesta ultah Azlan, dia melihat Balqis dengan mata yang sangat terobsesi kepada Balqis.” Jawab Abrar.


“aku tau apa yang ada di otaknya saat ini, dia pasti menginginkan Balqis.” Kata Abrar lagi.


“Johan bukan lawan yang mudah…, dia itu punya sikap pantang menyerah.” Sahut Romi.


“apa reaksi Balqis terhadapnya??” tanya Luky.


“Balqis wanita polos.., dia gak tau bahwa Johan mengincar dirinya.” Kata Abrar.


“dan dengan bodohnya aku, aku malah nyiksa Balqis saat aku cemburu melihat mereka bersama.” Sambung Abrar lagi menyesal.


“hei.., Abrar…!! Kenapa kau berbuat hal itu, itu akan membuat Balqis menjauhi mu.” Kata Luky.


“aku gak tahan melihat Balqis tersenyum ramah padanya..!!” ujar Abrar kesal.


“bahkan Balqis meminta cerai dari ku..” kata Abrar lagi yang membuat sahabatnya tercengang.


“Abrar, hentikan…!! aku sudah terlalu banyak minum..” kata Devan mengambil botol dari tangan Abrar.


“lepas…!! Jangan ganggu aku…” teriak Abrar marah saat botol minumannya di ambil.


“kau jangan bertindak bodoh, Abrar….!!” Teriak Devan seraya meninju wajah Abrar agar Abrar tersadar dari perbuatanya.


“dengarkan aku…!! Kalau kau gak mau Johan merebut Balqis darimu, pergi temui Balqis dan minta maaf lah padanya..” kata Devan lagi pada Abrar.


“Devan benar..!! buat Balqis nyaman denganmu.., agar dia gak jatuh ke kepelukan Johan.” Sambung Luky.


“masalah dengan Johan, kami pasti akan membantumu…!!” kata Romi.


“nyonya.., tuan abrar mabuk..” kata Rudi pada Balqis.


“iya.., terima kasih bantuanmu, Rudi.” Ucap Balqis yang langsung memapah Abrar masuk ke kamar.


Lalu Balqis meletakkan tubuh Abrar di ranjang dan membuka semua pakaian Abrar yang sangat bau minuman.


Abrar terus meracau tak karuan.


Awalnya Balqis tak menghiraukannya, Balqis terus bergegas membersihkan tubuh Abrar.


“Balqis…, aku sangat membencimu..!! karena kau selalu saja menentangku..” ucap Abrar meracau dalam keadaan mabuk.


Balqis hanya diam.


“Balqis….!! Aku akan membunuhmu jika kau menentangku lagi.” Ucap Abrar lagi.


Balqis masih diam tak mau menatap Abrar.


“kau wanita murahan.., kau pergi dengan Johan hanya dengan sekali bertemu.” Kata Abrar meracau yang membuat Balqis menangis.


Hatinya sangat perih mendengar Abrar mengatakan bahwa ia wanita murahan.


“aku membencimu Balqis…kau tak pantas untukku..” Abrar kembali mengucapkan hal yang sangat menyayat hati Balqis.


Setelah selesai membersihkan tubuh Abrar, Balqis pergi ke kamar Azlan dan tidur disana bersama Azlan.


Sambil menangis ia menatap wajah Azlan yang tengah tertidur pulas. Kata-kata Abrar selalu saja terngiang di telinganya.


“kau benar Abrar, aku memang tak pantas untukmu..” ucap Balqis menangis dengan sedihnya memeluk Azlan.


          Keesokan paginya, Abrar terbangun dari tidurnya dengan memegang kepalanya yang masih terasa sakit akibat mabuk. Ia melihat kesisi ranjang, namun tak melihat Balqis disana. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi padanya saat ia sedang mabuk. Berusaha keras ia mengingat dan ia pun akhirnya mengingat perkataannya untuk Balqis semalam.


“sial…, tanpa sengaja aku menyakiti hati Balqis.” Ujar Abrar yang kemudian bangkit dengan segera.


Abrar mencari Balqis ke kamar Azlan, namun tidak ada. Bahkan ia pun tak melihat Wirna di sana. Ia mencoba bertanya pada pelayan lain tentang keberadaan Balqis dan Azlan serta Wirna. Tak ada satupun pelayan yang tau dimana keberadaan mereka. Abrar kembali ke kamar dan mencoba menghubungi Balqis melalui telepon genggamnya. Namun semuanya sia-sia, Hp Balqis tidak dapat di hubungi.


“pergi kemana mereka sepagi ini??” tanya Abrar panik.


Kemudian ia menelpon supir pribadi Balqis. Dan ternyata Balqis membawa Azlan dan Wirna pergi kerumah kakek.


Dengan segera setelah Abrar membersihkan dirinya, ia langsung pergi menuju rumah kakek. Disana ia melihat kakek dengan wajah sangat kesal kepadanya.


“kek, aku mau bertemu dengan Balqis.” Kata Abrar pada kakek yang menatapnya kesal.


“untuk apa lagi kau menemuinya?? Kau ingin menyakitinya lagi, hah??” teriak kakek pada Abrar.


“kek.., ini urusanku dengan Balqis…” ujar Abrar.


“kau  tau, Balqis datang kesini, dengan mata yang sembab..!!” kata kakek pada Abrar.


“apa yang kau lakukan padanya..??” tanya Kakek marah pada Abrar.


“kek, semalam aku mabuk…!! Aku gak sengaja mengatakannya wanita murahan.” Sahut Abrar.


Seketika kakek menampar wajah Abrar dengan kesal.

__ADS_1


“beraninya kau menghina dirinya?? Apa kau tau apa yang kau lakukan??” teriak kakek kesal pada Abrar.


“kek, aku sudah katakan, aku gak sengaja mengatakannya, aku sedang mabuk…” kata Abrar.


“pergi kau…!! Jangan coba-coba untuk menyakiti Balqis lagi.” Usir kakek pada Abrar.


“kek, aku ingin bertemu dengan Balqis..!! aku akan menjelaskan semuanya.” Ujar Abrar.


“dulu aku sudah katakan padamu, jika kau menyakitinya aku akan membawanya jauh darimu.” Kata kakek.


“kek, mengertilah aku saat ini..!!” kata Abrar.


Tanpa menghiraukan kekesalan kakek terhadap dirinya, Abrar menerobos masuk dan menuju kamar yang biasanya Balqis tempati. Disana ia melihat Balqis yang menagis saat menggendong Azlan.


“Wirna.., bawa Azlan keluar sebentar…” perintah Abrar pada pengasuh Azlan.


Setelah Wirna keluar membawa Azlan, Abrar mendekati Balqis yang masih menangis.


“mau apa lagi kau denganku???” tanya Balqis dengan kesal pada Abrar.


“Balqis…, maafkan aku..!! semalam aku mabuk, dan aku gak tau apa yang aku katakan.” Jawab Abrar menggenggam tangan Balqis.


“pergilah…!! Aku gak mau bertemu denganmu lagi.” Ucap Balqis seraya menepis tangan Abrar.


“Balqis…ku mohon..!! aku gak sengaja mengatakan itu untukmu.” Kata Abrar.


“kau benar, aku memang gak pantas untukmu..!! maka dari itu aku ingin kita bercerai.” Sahut Balqis.


“apa kau bilang?? Sampai matipun, aku gak akan menceraikanmu.” Teriak Abrar.


“untuk apa mempertahankan semuanya..?? aku gak mau hidup denganmu lagi..!!” teriak Balqis.


“hubungan kita hanya sebuah perjanjian….!! Apa kau lupa???” kata Balqis yang memancing kekesalan Abrar.


“jadi selama ini kau hanya menganggap hubungan kita sebuah perjanjian???” bentak Abrar.


“iya…!! Aku bahkan gak pernah mencintaimu…gak ada cinta di antara kita..!!” ucap Balqis yang menyayat hati Abrar.


“dia bahkan tidak mencintaiku..” ucap Abrar dalam hatinya sedih.


“apa kau ingin bercerai denganku agar kau bisa pergi dengan Johan???” kata Abrar dengan luapan emosinya.


“itu bukan urusanmu….!!” Teriak Balqis.


“kalau itu yang kau inginkan…maka sampai matipun aku gak akan pernah melepaskanmu..” kata Abrar.


“aku akan membuat perhitungan dengannya,..antara aku dan dia akan mati.” Ucap Abrar lagi seraya meninggalkan Balqis di kamar.


Kakek melihat Abrar yang meninggalkan rumahnya dengan penuh luapan amarah. Kakek mengutus anak buahnya untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi pada Abrar. Hampir seminggu Balqis tinggal dirumah kakek. Kakek akhirnya mendapatkan informasi tentang masalah yang menimpa Abrar dan Balqis.


“ternyata karena Johan..!! dia memang bukan orang yang mudah di hancurkan.” Ucap Kakek.


Kemudian kakek menemui Balqis yang sedang bermain dengan Azlan di ruang tengah.


“Wirna, pergi bawalah Azlan ke kamar, aku akan berbicara dengan Balqis.” Perintah kakek.


“baiklah, tuan besar.” Sahut Wirna seraya menggendong Azlan membawanya ke kamar.


“nak.., apa kau kenal dengan Johan??” tanya kakek pada Balqis.


‘iya.., saat pesta ultah Azlan.” Jawabnya.


“apa kau akrab dengannya??” tanya kakek lagi.


“tidak.., aku hanya pernah minum teh bersamanya satu kali, itu pun tidak di sengaja.” Jawab Balqis.


“Johan bukanlah orang yang baik.” Kata kakek.


“apa maksud kakek??” tanya Balqis heran.


“Johan adalah pria yang di kenal dengan sikapnya yang pantang menyerah..!!” kata kakek.


“dan sekarang dia sedang terobsesi denganmu.., ia ingin merampsamu dari Abrar.” Kata kakek lagi.


“itu gak mungkin kek, mana mungkin ia tertarik denganku..” ujar Balqis.


“banyak wanita cantik di luar sana.., bahkan kami baru saja berkenalan.” Sambung Balqis tak percaya.


“apa kau tidak curiga dengan pertemuan kalian yang tidak di sengaja waktu itu??” tanya kakek mncoba membuka nalar Balqis.


“maksudnya??” tanya Balqis semakin bingung.


“Johan orang yang sangat sibuk, ia gak kan mungkin menyia-nyiakan waktunya untuk hal yang gak penting.” Kata kakek.


“Johan, membuntutimu dan membuat seolah-olah bertemu denganmu secara tidak sengaja.” Kata kakek lagi.


“dia terobsesi denganmu, Balqis…!!” sambung kakek meyakinkan Balqis.


Mendengar penjelasan kakek, Balqis baru menyadari bahwa dirinya telah di buntuti oleh Johan. Karena pada hari ia bertemu dengan Johan tanpa sengaja, saat Balqis keluar dari rumah tanpa supir pribadinya, ia melihat ada mobil yang seakan membuntutinya dari belakang. Balqis melihat dari kaca spion taksi yang ia tumpangi saat itu. Namun ia tidak menyadari bahwa Johan lah yang membuntutinya.


“menjauh lah darinya Balqis…!! Johan bukan orang yang mudah di kendalikan.” Kata kakek memperingatkan Balqis.


“baiklah kek, aku akan menuruti perkataanmu.” Sahut Balqis.


“nak…, aku ingin bertanya satu hal lagi denganmu.” Kata kakek pada Balqis.


“tapi aku mohon.., jawablah dengan jujr padaku.” Kata kakek lagi.


“apa kau mencintai Abrar????” tanya kakek pada Balqis.


Balqis hanya diam dan menundukkan wajahnya saat kakek melontarkan pertanyaan itu padanya.


“Balqis…, yakinlah pada hatimu, nak…” ucap kakek.


“iya kek.., aku sangat mencintainya..!! namun aku gak pantas untuknya, kek..” ucap Balqis sambil menangis.


“kenapa kau berkata seperti itu..?? kau wanita yang baik..kau ibu yang baik.” Sahut kakek.


“Abrar gak mencintaiku, kek..!! cintaku bertepuk sebelah tangan..” kata Balqis.


“apa kau sudah katakana padanya kalau kau mencintainya??” tanya kakek.


“belum kek.., biarlah aku simpan semuanya dalam hatiku..” jawab Balqis dengan derai air mata kesedihannya.


“sudah lah jangan menangis lagi..” kata kakek memeluk Balqis.


“ternyata mereka saling mencintai, namun belum mengungkapkan isi hati mereka.” Ucap kakek dalam hatinya.


“apa yang harus aku lakukan?? Anak muda jaman sekarang hubungannya sangat lah rumit.” Ucap kakek lagi dalam hatinya.

__ADS_1


Disisi lain, Abrar sangat merindukan Balqis. Namun hatinya masih tersakiti saat mendengar Balqis yang berkata bahwa dirinya tidak mencintai Abrar. Abrar merasa cintanya hanya bertepuk sebelah tangan kepada Balqis.


Dengan wajah yang penuh amarah, Abrar merencanakan sesuatu untuk membuat perhitungan kepada Johan yang berusaha merebut Balqis dari hidupnya.


__ADS_2