
Seperti malam biasanya, Balqis mengunjungi anak-anak panti untuk membacakan dongeng sebelum tidur. Setelah semua anak tertidur dengan lelap, air matanya menetes. Ia tidak rela harus meninggalkan anak panti yang disayanginya itu.
“besok, kehidupan baru menantiku. Entah apa yang akan terjadi.” Isaknya pelan.
“aku bahkan belum siap meninggalkan orang-orang yang ada disini.” Ucapnya lagi dalam kesedihan.
"aku pasti akan sangat merindukan kalian semuanya." ucap Balqis yang tak mampu membendung air matanya.
saat dirinya sedang menangis, seketika Revan bangun dan mengusap air matanya.
"kakak, kenapa kau menangis? apa pria bodoh itu menyakitimu?" tanya Revan dengan wajahnya yang polos.
"tidak sayang, dia sangat baik padaku, pergilah tidur..ini sudah malam..." sahut Balqis menghentikan tangisannya.
"kakak, jika kau tak mencintainya kenapa kau harus menikah dengannya? kau harus menikah dengan pangeran yang kau cintai..." kata Revan lagi.
"kenapa kau berbicara seperti itu? apa kah kau sudah menjadi pria yang dewasa sekarang? dasar anak nakal!" seru Balqis tersenyum dan menggelitik tubuh Revan.
"hahahaha, kakak berhentilah, itu sangat geli." kata Revan kegelian.
"jika kau menikah dan tinggal dengan pria itu, aku pasti akan sangat merindukanmu kak..." kata Revan yang membuat mata Balqis berkaca-kaca.
"benarkah? aku juga akan sangat merindukanmu! tapi aku akan tetap berusaha agar aku dapat bertemu denganmu disini setiap hari." kata Balqis memeluk tubuh Revan sambil menangis.
"kakak, jangan menangis lagi." ucap Revan pada Balqis.
Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Pernikahan Abrar dan Balqis diadakan dengan sangat mewah namun tertutup. Abrar dan Balqis kini menjadi sepasang suami istri. Saat pesta dimulai yang secara tertutup itu, banyak orang-orang asing yang dipandangi oleh Balqis. Kehidupan orang-orang kelas atas. Abrar tak henti-hentinya menatap Balqis, sehingga Balqis risih dengan tatapan Abrar.
“berhenti menatapku.” bisik Balqis agar tak kedengaran oleh para tamu yang memandangi mereka berdua.
"kenapa kau melarangku? tanya Abrar menahan kesal.
"karena kau membuatku risih dengan tatapanmu itu." jawab Balqis.
“hei, apa kau lupa? kau milikku sekarang, jadi terserah aku dong.” balas Abrar tersenyum menang.
“bersiaplah malam ini, aku akan membuatmu mendesah hebat di bawahku.” Bisik Abrar di telinga Balqis dengan tatapan mesum.
“hhhmmmppp!” balas Balqis kesal memalingkan wajahnya.
"menyebalkan sekali dia! astaga, entah dosa apa yang aku lakukan sehingga aku harus menerima takdirku untuk menjadi istrinya" ucap Balqis kesal melihat Abrar.
Mendengar perkataan Balqis, Abrar hanya tertawa puas. ia sangat senang mengganggu Balqis yang kini telah menjadi istrinya yang sah. Kemudian Abrar menyapa para tamu yang lainnya, sedangkan Balqis istirahat di ruang rias.
“ya tuhan, aku lelah sekali.” Gumam Balqis sambil duduk di sofa.
“matilah aku malam ini, dia pasti akan memperkosaku.” Ucap Balqis dalam hati tentang Abrar.
"pria itu sangat pemaksa, dia pasti akan memperkosa aku, hhaaaiihhh..." kata Balqis menghela nafas.
Tak lama kemudian, kakek masuk mencari Balqis.
“nak, ternyata kau disini.” Seru kakek pada Balqis.
“kakek mencarimu kemana-mana, aku lelah sekali.” Ujar kakek lagi.
“ada apa kek? aku beristirahat disini...aku juga sangat lelah.” sahut Balqis.
“aku ingin bicara denganmu, ini tentang masa depan kalian berdua.” Jawab kakek.
“aku sudah tua, ajalku pasti sudah dekat.” Kata kakek lagi dengan raut yang sedih.
“kakek, kenapa kakek bilang begitu?” ucap Balqis menguatkan kakek.
“aku tau kau belum mencintai cucu sialanku itu, tapi ini hanya permintaan terakhirku sebelum aku mati.” Ucap kakek dengan tampang memelas.
“berikanlah aku cicit dari rahimmu itu, aku hanya ingin menggendongnya sebelum aku mati.” Sambung kakek lagi dengan wajah yang memelas.
Balqis hanya menunduk terdiam mendengar permintaan Kakek.
“aku tau kau gadis yang baik, kau pasti mau memenuhi permintaanku ini.” Bujuk Kakek.
“baiklah, aku akan pergi menyapa tamu yang datang, kau istirahlah disini.” Kata kakek lagi.
Balqis galau mendengar permintaan Kakek.
Dia iba melihat kakek yang memohon padanya, namun ia tidak mencintai Abrar yang selalu saja mengganggunya.
"bagaimana ini? melihat wajah kakek, aku tak sampa hati. tapi kalau aku mengingat wajah Abrar yang selalu saja membuat ku kesal, rasanya aku ingin mati saja setelah menjadi istrinya." kata Balqis.
Setelah acara pernikahan selesai, Abrar dan Balqis kembali kerumah. Abrar menolak untuk bermalam di hotel tersebut, namun kakek tak kehilangan akalnya, ia juga menyiapkan kamar pengantin di kamar utama di rumah Abrar. kamar itu dihiasi dengan sangat indah. Sesampainya di rumah, Abrar dan Balqis membersihkan diri mereka masing-masing. Abrar mandi di kamarnya, sedangkan Balqis mandi di kamar utama yang menjadi kamar pengantin mereka. Selesai mandi, Balqis membuka lemari pakaian yang telah disiapkan olehnya.
Ia terkejut dengan wajah yang memerah, saat ia melihat pakaian tidur yang disiapkan untuknya adalah pakaian tidur yang sangat tipis dan sexy yang dapat memancing birahi pria manapun melihatnya.
“Semua baju tidurnya seperti ini.”ucap Balqis yang masih mengenakan kimono mandinya.
"apa aku harus mengguanakan pakaian ini? bahkan aku pun malu melihat diriku dengan mengenakan pakaian ini." kata Balqis lagi membanting pintu lemarinya.
Tiba-tiba Abrar masuk dan melihat Balqis yang baru selesai mandi. Balqis langsung menatapnya dengan wajah yang sangat kesal.
“hei, ada apa? Kenapa kau menatapku begitu?” tanya Abrar bingung.
"apa di otakmu hanya pikiran mesum saja, hah?" tanya Balqis pada Abrar.
__ADS_1
“kenapa kau menyiapkan pakaian tidur yang menjijikan ini, hah?” ujar Balqis sangat kesal.
Abrar melihat semua pakaian tidur yang ada di lemari. Semuanya memang terlihat sangatlah sexy. Bukan dia yang menyiapkannya, namun kakek yang menyuruh orang-orangnya menyiapkan segalanya.
"ini pasti kerjaan kakek." kata Abrar dalam hati sambil memijat dahinya dengan kesal.
“dasar tua bangka, sialan!” umpat Abrar dalam hatinya lagi pada kakeknya.
"pakai lah, aku memang menyiapkannya untukmu agar aku bisa bersemangat melihat tubuhmu." kata Abrar pada Balqis.
"dasar kau gila! aku bisa mati kesal menjadi istrimu..." sahut Balqis.
“apa salah nya jika kau memakainya, toh cuma aku yang lihat.” Kata Abrar dengan pandangan mesumnya kepada Balqis.
“aku gak mau!” ujar Balqis kesal.
“baiklah, kalau dilihat-lihat kau sangat sexy jika pakai kimono mandi itu.” Kata Abrar mulai mendekati Balqis.
“aku akan lebih gampang membukanya, hehehe…” sambung Abrar lagi
“mau apa kau?” tanya Balqis mundur saat Abrar mendekatinya.
"aku akan memperkosamu!" jawab Abrar sambil terkekeh.
"jangan dekati aku..." teriak Balqis.
“ini malam pengantin kita, sayang! Apa kau sudah pikun?” ujar Abrar padanya.
“aaaaakkkkkhh! teriak Balqis yang langsung melompat ke atas ranjang untuk menghindari Abrar.
“oohh, ternyata kau yang sudah gak sabaran sekarang, kau langsung melompat ke atas ranjang tanpa aba-aba dariku, hehehehehe.” Ucap Abrar melihat Balqis di atas ranjang.
Abrar langsung menerkam Balqis bagaikan singa menerkam mangsanya. Balqis berteriak histeris saat Abrar memeluk dan mencium bibirnya dengan paksa. saat tangan Abrar menggerayangi tubuh Balqis, Balqis membelalakkan matanya dan berusaha menolak tubuh Abrar.
“tu..ttu..tunggu dulu..!!” teriak Balqis pada Abrar.
“ada apa lagi sih?” tanya Abrar kesal.
“kita udah menikah, aku suamimu sekarang dan kau harus melayaniku sebagi istri yang baik.” Kata Abrar tidak sabaran.
Sebenarnya saat Abrar masuk kedalam kamar pengantin ia hanya ingin mengganggu Balqis saja. ia ingin membuat Balqis kesal padanya. namun saat ia mencuim bibir Balqis dan merasakan mainsnya bibir Balqis, Abrar jadi lupa diri. dan dia malah jadi berubah pikiran.
“tu..tung..tunggu, aku tau maksudmu, tapi tolonglah bersabar sedikit, aku belum siap.” Ucap Balqis menolak Abrar.
“pppffftt, dulu kau menciumku, sekarang kau bilang kalau kau belum siap.” Gumam Abrar dalam hati.
“jadi maksudmu, aku harus menunggu lagi untuk segera memakanmu,hah?” teriak Abrar berpura-pura kesal.
“kumohon, bersabarlah sedikit…!!” pinta Balqis memelas.
“kapan?” tanya Abrar tidak sabaran.
“aku juga gak tau.” Jawab Balqis ragu.
“kalau kau masih ragu-ragu dan gak tau kapan, maka malam ini saja aku akan melahapmu...” ujar Abrar menggertak Balqis.
“oke, baiklah…mungkin dalam satu atau dua tahun?” kata Balqis yang bernegosiasi dengan Abrar.
“apa? Kau mau buat aku mati kesal, hah?” teriak Abrar.
“aku gak mau selama itu, aku mau kau sekarang juga.” Ujar Abrar lagi.
“Abrar, ku mohon! Aku tau kau pria yang baik.” Ucap Balqis mencoba membujuk Abrar.
“aku bukanlah pria yang baik, aku pria bedebah seperti yang kau julukan untuku.” Sahut Abrar.
"ku mohon." pinta Balqis.
"aku gak mau, Balqis, aku mau sekarang juga." sahut Abrar lagi.
“ku mohon Abrar!” ucap Balqis dengan tampang manis seperti anak kucing yang menggemaskan.
“sial, wajahnya manis sekali saat memohon seperti ini.” Ucap Abrar dalam hatinya.
"tampangnya membuat aku jadi gak berdaya! haaaaahhhh, menyebalkan!" umpat Abrar dalam hatinya lagi.
“kalau dulu kau tidak menyelamatkanku, maka aku akan segera memakanmu.” Katanya lagi dalam hatinya.
"baiklah ku berikan kau waktu satu minggu..." ucap Abrar sambil melepaskan pelukannya dari Balqis.
"apa kau sudah gak waras? satu minggu itu terlalu cepat bagiku..." sahut Balqis kesal.
"aku mau setengah tahun..." sambung Balqis.
"ENGGGAAAKKKKKKK............" teriak Abrar kesal.
"ya sudah kalau begitu setahun saja sekalian....!!" ujar Balqis kesal di bentak Abrar.
"kau jangan memancing kesabaranku lagi, Balqis, atau ku bunuh kau!" ancam Abrar yang kewalahan menghadapinya.
“baik lah, ku beri kau waktu satu bulan, setelah itu layani aku sebaik mungkin sampai aku puas.” Ujar Abrar melepaskan Balqis.
“dihitung mulai malam ini, jadi kau punya sisa waktu 29 hari lagi.” Kata Abrar lagi.
"apa? Abrar waktu sebulan itu masih terlalu cepat untukku..." kata Balqis.
__ADS_1
“jangan membantahku lagi, atau ku perkosa kau malam ini juga.” Ancam Abrar.
"dasar monster pemaksa!" gumam Balqis sewot.
Kemudian Abrar berbaring disebelah Balqis yang masih duduk dengan menggunakan pakaian kimono mandinya. Abrar merasa sangat kelelahan menjalani pesta pernikahannya yang diadakan secara mewah namun tertutup. Balqis juga mulai merasakan kantuknya. Ia juga sangat kelelahan, dan akhirnya ia juga merebahkan tubuhnya di ranjang yang sama dengan Abrar. Sisa 29 hari lagi, Balqis hanya pasrah pada keputusan Abrar. Keesokan harinya, Kakek datang mengujungi Abrar dan Balqis yang sebagai pengantin baru. Setelah makan siang, kakek mengajak Abrar bicara di ruang tamu.
“bagaimana semalam? Apakah dia akan hamil?” tanya kakek nyeleneh.
“mana mungkin secepat itu.” Teriak Abrar kesal.
“lagian, semalam aku tidak menyentuhnya.” Gumam Abrar.
“dasar bodoh kau!” Umpat Kakek mengetuk kepala Abrar dengan tongkat.
“apakah kau ini suka dengan sejenis? sehingga kau tak menyentuhnya semalam?” tanya kakek kesal.
“apaan sih? Aku ini pria normal.” Jawab Abrar yang tak mau kalah.
“lantas mengapa kau tidak menyentuhnya?” tanya kakek.
“aku bahkan sudah menyiapkan pakaian tidur yang sangat sexy di lemarinya.” Ujar kakek lagi.
“sudah ku duga, pakaian tidur itu pasti kerjaan kakek.” Kata Abrar nyolot.
“ck, dasar!” ucap Abrar berdecak kesal.
“sudah, kakek tenang saja, sebentar lagi aku akan memberimu cicit.” Teriak Abrar lagi.
“segera berikan aku cicit, atau ku coret namamu dari daftar alhi warisku.” Balas kakek kesal.
“bodo!” sahut Abrar tak perduli.
Seminggu sudah pernikahan mereka, Abrar banyak menghabiskan waktunya untuk pekerjaannya. sedangkan Balqis sering mengunjungi panti asuhan membawakan makanan serta perlengkapan yang ia beli dari kartu yang diberikan Abrar untuknya, untuk anak-anak di panti asuhan. mati-matian Balqis meminta izin kepada Abrar agar diberikan kebebasan keluar rumah sekedar untuk pergi ke panti asuhan.
Malam kian larut, mata Balqis seakan belum terpejam. Ia memandangi sebuah kalender yang penuh dengan coretan tanda silang untuk menandakan waktu tiba ia melayani Abrar sebagai istri yang baik. Begitu juga dengan kalender yang ada di ruangan kantor Abrar, ia juga menandai kalendernya.Walaupun sudah menikah, Abrar masih tetap berkumpul dengan sahabat-sahabatnya di bar tempat biasa mereka bertemu. Mereka sekedar melepas lelah setelah seharian bekerja.
“dimana Devan?” tanya Abrar pada Aska.
“lagi dinas! dia ada jadwal operasi malam ini.” Jawab Aska.
“gimana perjalanan rumah tangga mu setelah menikah, apa menyenangkan menikah?” tanya Luky.
“biasa aja.” Jawab Abrar singkat.
“gimana malam pengantin mu, Seru kah?” tanya Luky kepo.
“seru banget! Makanya kalian menikah lah, biar tau rasanya.” Jawab Abrar lagi.
“kalau urusan meniduri wanita itu udah hal yang biasa kan bagi kalian, apanya yang seru?’ tanya Romi pemalu yang anti sama cewek.
“hahahaha, makanya kau jangan anti cewek. nikmatilah tubuh wanita sesekali.” Ujar Luky sambil mencium wanita yang menemaninya.
“iiihhh, tuan nakal banget!” Seru wanita itu pada Luky.
Tak lama kemudian, munculah wanita Favoritnya Abrar sebagai teman kencannya, yaitu Gladis.
Ia membawakan minuman untuk Abrar dan kemudian duduk di sampingnya.
“kau tidak merindukanku?” tanya Gladis dengan manja pada Abrar.
“tidak!” jawab Abrar menatap sinis.
“ayo lah, aku akan lebih memuaskan dari pada istrimu.” Seru Gladis memeluk Abrar.
“bila perlu, aku rela melahirkan anakmu dari rahimku.” Bisik Gladis merayu Abrar.
“berhentilah bermimpi, dan pergilah dari hadapanku.” Bentak Abrar seraya mendorong tubuh Galdis dengan kasarnya.
“ada apa denganmu?” tanya Gladis kesal menatap Abrar.
“pergilah! Jangan sampai aku membunuhmu.” Teriak Abrar mengusir Gladis.
Gladispun pergi dengan kesal terhadap Abrar yang biasanya tergoda oleh rayuan mautnya.
“sialan, semenarik apa sih istrinya itu? Bisa-bisanya Abrar menolakku.” Kata Gladis kesal.
“kalau aku tidak bisa merayu Abrar lagi, aku akan jatuh miskin.” Katanya lagi.
“aku harus mencari cara agar Abrar, berpaling padaku lagi.” Ucap Gladis.
Setelah bersenang-senang dengan sahabatnya, Abrar kembali kerumah. Ia mandi dan tidur di ranjang yang sama dengan Balqis. Ia melihat Balqis tertidur dengan nyenyak.
“dasar cewek mesum, beraninya dia tidur tanpa menungguku.” Ucap Abrar dalam hati.
Saat ia baru saja berbaring, tiba-tiba Balqis memeluknya tanpa sadar. Ia juga mengigau seakan memeluk boneka teddy bear yang sangat besar.
“oohh, teddy bearku yang empuk, Kau besarr sekali!” Igaunya dalam tidurnya yang nyenyak.
“cewek sialan! Kau bilang aku teddy bear?” gumam Abrar dongkol.
“hehehe, tunggu aku. Dalam waktu dekat aku akan memakanmu.” bisik Abrar di telinga Balqis.
“dasar teddy bear mesum, beraninya kau mencium telingaku.” Igaunya lagi saat tidur.
Kemudian, Abrar dan Balqis tidur sambil berpelukan dengan sangat lelapnya.
__ADS_1