
Saat sudah di kamar, Abrar menghempaskan tubuh Balqis di atas ranjang. Sewaktu Abrar hendak menerkamnya, Balqis pun berteriak.
“stop….!!” Teriak Balqis.
mendengar teriakan Balqis, Abrar langsung berhenti bagaikan patung dengan pose akan menerkam Balqis di ranjang.
“apa lagi sih?” teriak Abrar kesal setengah mati.
“eemmm…, bagaimana kalau aku mandi dulu?” ujar Balqis.
“gak perlu, tubuhmu udah cukup wangi.” Sahut Abrar gak sabaran.
"tapi aku harus mandi...!!" ucap Balqis lagi.
"aku bilang gak ya gak......!!! bandel banget sih jadi cewek..." ujar Abrar kesal.
“tapi aku gerah, dan kau sedikit bau.” Ucap Balqis yang membuat Abrar malu.
"kau pasti belum mandi kan?? masa iya seorang Abrar bercinta dalam kondisi bau??" ucap Balqis lagi yang membuat Abrar semakin malu.
Ia lupa setibanya saat dirumah, Abrar belum mandi.
“baiklah, bagaimana kalau kita mandi bersama??” kata Abrar dengan pandangan mesumnya.
“nggak perlu…” teriak Balqis yang lompat turun dari ranjang menuju kamar mandi.
Abrar hanya tertawa lepas melihat Balqis yang ketakutan saat akan dimakannya. Abrar kemudian beranjak dan mandi di kamar yang lainnya. Tak lupa Abrar menyuruh pelayan untuk menyiapkan gaun pengantin sexy yang pernah ia beli saat membeli gaun pengantin mereka waktu itu. Abrar memang sudah merencanakannya saat membelinya. lalu Abrar menuliskan sebuat pesan singkat dalam kertas kecil dan di letakkan di atas gaun itu di ranjang.
“pakai gaun ini, jika kau menolak..aku akan menghabisimu.” Ancam Abrar dalam tulisannya.
setelah selesai mandi, Balqis menuju ranjang dan melihat ada sebuah gaun yang sepertinya ia pernah melihatnya.
ia pun meraih gaun pengantin sexy tersebut dan mulai mengingatnya.
"sepertinya aku pernah melihat gaun pengantin ini...tapi dimana ya?? coba aku ingat-ingat dulu.." ucap Balqis berpikir keras.
"ooohhh....astaga....!! ini kan gaun pengantin yang pernah aku coba waktu itu...!! kenapa ada disini???" kata Balqis heran.
"eeehh..., tunggu dulu...!! apa Abrar yang membelinya tanpa sepengetahuanku waktu itu???" Balqis lagi-lagi berpikir heran.
"ooohh...ya Tuhan..., gaun ini kan sangatlah terbuka...gaun ini sangat sexy...!! hampir semua bagian tubuhku bisa terlihat kalau memakai ini..." teriak Balqis yang sepenuhnya mengerti rencana Abrar.
"kertas apa ini???" gumama Balqis yang kemudian membaca pesan singkat dari Abrar.
Dan saat Balqis membacanya, tubuhnya langsung bergetar dia takut akan benar-benar di bunuh oleh Abrar.
Mau tak mau lagi-lagi ia menuruti keinginan Abrar walaupun dalam hatinya ia mengumpat Abrar habis-habisan.
"ternyata dia sengaja membelinya waktu itu...." ujar Balqis kesal.
lalu Balqis terpaksa mengenakan gaun pengantin tersebut dengan di bantu para pelayan. pelayan yang membantu Balqis senyum-senyum saat melihat Balqis mengenakan gaun itu karena hampir sebagian tubuhnya terpampang jelas.
"heii..., jangan senyum-senyum begitu.....!! aku sebenarnya malu memakai gaun ini." ucap Balqis menahan rasa malunya.
"nona..., kau sangat cantik....!! mata tuan Abrar pasti tak berkedip melihat penampilanmu ini." sahut salah satu pelayan.
"sudah lah..., kalian ini terus saja meledekku...!! pergilah....." ucap Balqis sedikit kesal.
kemudian para pelayan keluar kamar Balqis sambil tersenyum dan berbisik di luar.
"semoga dengan kejadian malam ini..., akan terdengar suara tangisan bayi dirumah ini.." ucap pelayan itu berbisik.
"ya..., semoga saja..., tuan Abrar dan nona Balqis akan segera punya momongan dalam waktu dekat ini.." sahut pelayan lainnya.
di dalam kamarnya, Balqis terus saja menggerutu Abrar yang memaksanya menggunakan gaun itu.
“ck....., baju ini sangatlah vulgar, aku saja malu melihatnya.” Gumam Balqis berdiri di depan cermin.
tak lama kemudian, Abrar nyelonong masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
“apa kau sudah siap, sayang???” ucap Abrar yang tiba-tiba masuk.
Saat melihat Balqis yang mengenakan gaun tersebut, mata Abrar terbelalak, melihat kemolekan tubuh Balqis.
Abrar memang pernah melihat Balqis mencoba gaun itu, namun kali ini ia seakan tak mampu mengedipkan matanya untuk melihat Balqis yang berdiri di hadapan cermin. Balqis menahan rasa malunya karena Abrar melihat semua lekuk tubuhnya yang indah. Abrar semakin berhasrat melihat ekspresi Balqis yang malu terhadapnya.
Kemudian Abrar mendekatinya yang masih berdiri di depan cermin. Dengan sigap Abrar menerkam dan melumat bibir Balqis dengan lembut. Tubuh Balqis bergetar saat kedua tangan Abrar menjalar kemana-mana. Abrar menyadari bahwa Balqis tak nyaman. Lalu Abrar mengangkat tubuh Balqis ke atas ranjang dan melumat habis tubuh Balqis. sambil terus menciumi bibir dan turun ke leher, tangan Abrar meraih gaun yang di pakai oleh Balqis.
Abrar mencoba untuk melucuti gaun tersebut dari tubuh Balqis. dengan berusaha susah payah ia mencoba melepaskan gaun itu, namun gaun itu terlalu rumit sehingga susah untuk di buka. Abrar yang mempunyai sifat tak sabaran langsung kesal dengan gaun itu.
"aaakkkkhhh.........!!! kenapa gaun ini susah sekali di lepaskan dari tubuhmu???" teriak Abrar kesal setengah mati.
"apa kau menggunakan lem saat memakainya???" kata Abrar lagi pada Balqis.
"kau yang suruh aku memakai gaun ini...., mana aku tau kalau gaun ini susah di lepas..." gumam Balqis seraya memalingkan wajahnya dari tatapan Abrar.
"sialan.......!! aku menyesal membeli gaun ini waktu itu..." teriak Abrar lagi dengan kesal.
"hahhahaha......senjata makan tuan......!!!! rasakan........., biar kau mati kesal karena ini..." ucap Balqis dalam hatinya.
"aku harus bisa melepaskan gaun sialan ini.....!!" ujar Abrar yang terus saja berusaha.
Saat Abrar yang sedang bertempur dengan gaun tersebut agar bisa terlepas dari tubuh Balqis, Balqis melihat ekspresi Abrar langsung tertawa geli. ia tak sanggup menahan tawanya saat itu.
"hahahahahaha.........!! wajahmu sangat lucu.....!! aku tak sanggup menahan tawaku..." kata Balqis sambil tertawa geli.
"kurang ajar.......!! kau malah tertawa saat aku sedang dongkol karena gaun sialan ini..., hah???" teriak Abrar yang tak sabaran dan langsung merobek gaun tersebut dengan kuat.
"yyyaaahh...., gaunnya jadi rusak....!! sayang sekali..." ucap Balqis melihat gaunnya sudah terlepas dari tubuhnya.
"kau gak perlu khawatir..., aku akan membelikan 1000 gaun yang seperti itu kalau kau mau..." sahut Abrar.
"ooohhh...., aku ralat perkataanku tadi....!! aku gak akan pernah membelikanmu gaun sialan itu lagi..." sambung Abrar yang dengan segera melahap tubuh Balqis.
Dengan hasrat yang menggebu-gebu, Abrar melumat habis tubuh Balqis yang kini polos tanpa sehelai benangpun. Abrar sangat suka membenamkan wajahnya pada dada Balqis yang besar. tangan Abrar terus bermain-main di bagian bawah Balqis yang membuat Balqis mendesah hebat. Balqis tak dapat menahan desahannya saat Abrar yang sangat lihai dan berpengalaman dalam bercinta melumat habis tubuhnya.
Desahan nikmat akhirnya keluar dari mulut Balqis yang merem melek saat bercinta dengan Abrar. Awalnya Balqis sangat lah kaku merasakan serangan Abrar, namun dengan kelihaiannya Abrar mampu membuat Balqis nyaman dan mendesah hebat. tak lama tubuh Balqis mengejang diiringai desahan panjang dari mulut Balqis. Abrar menyadari Balqis telah mencapai puncaknya saat itu.
Malam masih panjang, tubuh mereka di banjiri oleh keringat, nafas mereka terengah-engah. Desahan silih berganti terdengar jaelas keluar dari bibir mereka. Tiba saatnya Abrar menghentakkan senjatanya ke liang kenikmatan milik Balqis, Balqis menjerit kesakitan.
“aakkkhhh….., sakit…!!” teriak Balqis mendesah.
“tenang sayang, sebentar lagi kau akan menikmatinya lagi.” Bisik Abar di telinga Balqis.
Kemudian Abrar bergerak lembut agar Balqis tak kesakitan karena ini pengalaman pertamanya. Bercak darah keperawanan Balqis menetes di seprai ranjang. Abrar masih terus menikmati gerakannya, sedangkan Balqis terus mendesah dengan hebatnya sambil meremas kain seprai dan bantal. Tak lama kemudian, erangan keduanya menggema di kamar tersebut karena mereka sama-sama mencapai puncaknya.
Nafas mereka masih ngos-ngosan, Balqis terkulai lemas penuh keringat. Abrar mencium kening Balqis dengan lembut seraya melepaskan dirinya dari tubuh Balqis, dan berbaring di samping Balqis sambil memeluknya.
Abrar tak pernah menyangka bahwa ia akan mendapatkan kenikmatan yang sungguh luar biasa dari Balqis. Abrar memang banyak memiliki wanita yang siap berkencan dengannya, namun ia tak pernah merasakan sensasi yang luar biasa pada tubuh wanita manapun kecuali Balqis. Abrar menikmati dengan puas dari tubuh Balqis.
Karena lelahnya, mereka pun tertidur dengan ditutupi sehelai selimut tebal. Abrar terus memeluk Balqis sampai pagi.
Keesokan paginya, Balqis bangun namun ia enggan membuka matanya. ia merasakan sedikit aneh dengan sentuhan tangannya. ia terus meraba-raba sambil mengernyitkan dahinya. ia penasaran dengan apa yang di sentuhnya, lalu ia membuka matanya perlahan. Balqis terkejut melihat tubuh telanjang yang sedang mendekapnya di ranjang. ia berusaha mengingat apa yang terjadi padanya semalam. lalu Balqis membelalakkan matanya, ia kaget melihat Abrar berada di sampingnya tanpa pakaian dan ia juga melihat dirinya tanpa pakaian.
__ADS_1
"apakah semalam aku dan Abrar." ucap Balqis dalam hatinya mengingat kejadian semalam bersama Abrar.
Seketika menyembul rona merah di pipinya menahan rasa malunya mengingat kejadian semalam.
“apa kau ingin lagi?” ucap Abrar yang sedari tadi menatapnya sambil tersenyum.
“aku suka dadamu yang besar.” Sambung Abrar sambil melihat dada Balqis.
“dasar kau mesum!” teriak Balqis memukul wajah Abrar dengan bantal.
“aku gak mau!” Teriaknya lagi.
“tapi aku mau, sayang!” sahut Abrar.
Abrar yang langsung menerkam tubuh Balqis dan memaksanya untuk bercinta lagi. Balqis tak kuat melawan, akhirnya ia pasrah dalam genggaman Abrar. Mereka bercinta hingga Abrar puas menikmati setiap inci tubuh Balqis.
setelah puas menikmati tubuh Balqis, Abrar memulai aktifitasnya seperti biasa. Ia menyuruh Rudi melacak keberadaan Fadel untuk membuat perhitungan dengannya karena telah berani mengusik kehidupan pribadinya.
Sementara Balqis masih sering mengunjungi panti dan terkadang berkunjung kerumah kakek sekedar untuk menemaninya makan siang.
“kakek, apa hari ini kakek sehat?” sapa Balqis mengunjungi kakek.
“aku sudah tua, beginilah keadaanku..” sahut kakek yang duduk di sofa ruang tengah rumahnya.
“hari ini aku akan menemani kakek makan siang..” ujar Balqis dengan ramah.
“aku masak makanan kesukaan kakek.” Katanya lagi memperlihatkan makanan yang dibawa.
“kau sangat baik, kebetulan Abrar juga akan makan siang disini setelah dari kantornya.” Ucap kakek.
“nak, apa kau sudah mencintai Abrar??” tanya kakek yang membuat Balqis malu.
“mampus lah aku, aku harus jawab apa ini??” gumamnya dalam hati.
“tidak masalah jika kau belum mencintainya, aku paham.” Kata kakek sedih.
“ayo kita makan siang, kakek sudah lapar.” Ajak kakek pada Balqis.
Kemudian kakek dan Balqis pun makan siang bersama. Tak lama muncul lah Abrar di rumah kakek dari kantornya.
“kakek, sehat hari ini??” sapa Abrar yang langsung duduk di samping Balqis.
“jika kau memberikan ku cicit maka aku akan menjadi muda kembali.” Sahut kakek sewot.
“ck, bisakah sabar sedikit saja, hah??” kata Abrar kesal.
“mana mungkin baru sekali bercinta langsung hamil…!!” katanya lagi.
Seketika wajah Balqis memerah menahan malunya di depan kakek karena mendengar omongan Abrar yang
menyinggung kejadian semalam.
“ooh, ternyata dia sudah tidur dengan Balqis, baguslah..hehehe.” ucap kakek dalam hati senang.
“maka dari itu sering-seringlah kalian bercinta, agar aku segera punya cicit.” Kata Kakek.
“apa kau dengar, kelinci kecilku, apa yang kakek perintahkan??” bisik Abrar pada Balqis.
“tunggu aku nanti malam, aku akan segera mengirimkan gaun tidur yang indah untukmu...!! dan kau harus memakainya, hehehehe....” Katanya lagi berbisik.
"hhhhmmmmppp....." sahut Balqis memalingkan wajahnya dengan kesal terhadap Abrar.
“aa..aku gak akan pulang malam ini...aku akan menginap dirumah kakek malam ini.” Ujar Balqis mencari alasan kepada Abrar.
“boleh ya, kek??” tanya Balqis pada kakek.
mendengar persetujuan dari kakek untuk Balqis, Abrar menjadi kesal menatap kakek. ia merasa kakek menghambat rencananya pada Balqis malam ini. kakek yang mengerti tatapan Abrar langsung berkata pada Abrar sang cucu tunggalnya.
"Abrar..., kau juga harus menginap di sini malam ini....., kau sudah lama tidak menginap dirumah kakek." kata kakek pada Abrar.
"uuhhukkk.....uuhuukk....." Balqis tersedak saat mendengar perkataan kakek.
"baiklah....., kalau kakek sangat memaksa....!!!" sahut Abrar.
"dasar cucu sialan.....!! biasanya kau tidak pernah mau untuk menginap disini..!! karena ada Balqis kau langsung setuju denganku...!! tapi tak apa...aku akan segera punya cicit.....hihihihihiihi....." ucap kakek dalam hatinya.
setelah selesai makan malam Abrar pun kembali ke kantornya. di ruang kantornya, ia menyuruh Rudi untuk menyiapkan gaun tidur untuk di kirimkan kepada Balqis di rumah kakek. sore harinya, Rudi datang dengan membawa sebuah kotak untuk Balqis.
"nona..., ini ada kiriman dari tuan Abrar untuk nona." ucap Rudi pada Balqis.
"iya...terima kasih ya Rudi." ucap Balqis ramah kepada Rudi sang asisten Abrar.
kemudian Balqis naik ke kamarnya, dan melihat isi kotak yang di kirim oleh Abrar untuknya. saat melihatnya isi kotak tersebut, rona merah tersembul begitu saja di pipi Balqis. Balqis mengangkat isi kotak tersebut yang ternyata baju tidur "lingerie" berwarna merah dan sangat tipis.
"bisa-bisanya dia mengirimkan pakaian ini untukku." teriak Balqis sambil melemparkan lingerie itu dengan kesal.
lalu HP Balqis berbunyi, tanda ada pesan masuk dan itu pesan dari Abrar.
"pakai hadiah yang aku berikan....., kalau tidak kau akan mati....!!" tulis Abrar dalam pesan singkatnya di HP Balqis.
"dia selalu saja memaksaku..." teriak Balqis lagi kesal pada Abrar.
Malam harinya, setelah makan malam, Balqis berbaring di kamarnya sambil menatap jam dinding yang ada di kamarnya itu. ia telah menggunakan lingerie yang di berikan Abrar padanya, namun ia menutup tubuhnya lagi dengan selimut hingga lehernya.
“sialan......!! kenapa aku merasa jam itu berputar dengan cepat...??" ujar Balqis terus menatap jam dinding itu.
Tak lama pelayan mengetuk pintu kamar Balqis dan membawa secerek air untuk Balqis. pelayan itu meletakkan air itu di meja samping ranjang.
"nona..., ada yang kau inginkan lagi???" tanya pelayan itu.
"tidak..., terima kasih,.." sahut Balqis.
setelah pelayan itu pergi, Balqis merasa haus dan meminum segelas air yang di bawa oleh pelayan itu. Setelah meminumnya, tak lama kemudian Balqis merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya. Ia merasa sangat panas di sekujur tubuhnya yang membuat dirinya tak nyaman. karena merasa kepanasan, ia melepaskan selimut itu dari tubuhnya.
kemudian Abrar pun tiba di rumah kakek, ia langsung mandi dan bergegas menemui Balqis untuk melancarkan rencananya kepada Balqis. saat masuk ke dalam kamar, Abrar melihat Balqis menggeliat sambil berbaring di atas ranjang dengan menggunakan lingerie yang dikirimnya. Abrar sangat terpukau melihat lekuk tubuh Balqis dengan lingerie itu, di tambah lagi Balqis yang menggeliat di atas ranjang membuat Abrar semakin menggebu-gebu.
“sayang, ternyata kau sudah tidak sabar, hehehe.” ucap Abrar terkekeh licik menatap Balqis.
"tolong aku! aku merasa sangat aneh pada tubuhku.." sahut Balqis lirih menggigit bibirnya.
Abrar yang mendengar perkataan Balqis, langsung menatap pupil mata Balqis yang sudah melebar.
"kau kenapa, Balqis? apa kau mabuk?" tanya Abrar.
lalu Abrar mencium bibir Balqis, dan Balqis pun langsung membalas sambil memeluk Abrar. maksud si Abrar mencium Balqis untuk mengetahui apa ada bau alkohol pada Balqis.
"dia tidak minum alkohol.....!! gumam Abrar seraya melepaskan diri dari Balqis.
"Balqis...., kau kenapa??? apa yang terjadi padamu???" tanya Abrar mulai panik.
“entahlah.., aa..aku kepanasan.” Jawab Balqis terengah-engah.
“apa kau minum sesuatu tadi??” tanya Abrar.
__ADS_1
“aku minum segelas air yang dibawakan pelayan.” Jawabnya sambil menunjuk kearah air di sampingnya.
Abrar langsung keluar dan menanyakannya kepada pelayan yang baru saja membawakan air untuk Balqis.
pelayan itu akhirnya membuka mulutnya setelah mendapat ancaman dari Abrar. Ternyata ulah sang kakeklah yang memberikan ramuan di air tersebut untuk membuat tubuh Balqis bergairah.
“dimana kakek sekarang??” bentak Abrar pada pelayan itu.
“tuan besar pergi keluar entah kemana.” Jawab pelayan itu.
Abrar kemudian menelpon kakeknya.
“kek, apa yang kau lakukan???” tanya Abrar kesal.
“aku ingin cicit, apa kau dengar aku????” teriak sak kakek kesal karena ulahnya ketauan.
“itu hanya ramuan biasa, gak akan mencelakai tubuh Balqis.” Kata kakek menjelaskan.
“sudahlah, aku sedang sibuk.” Katanya lagi mematikan telepon.
“sialan, dasar tua bangka….!!!” Umpat Abrar untuk kakeknya.
Abrar bergegas kembali masuk ke kamar Balqis, dan melihatnya yang duduk diranjang sambil menangis.
“apa kau baik-baik saja sekarang???” tanya Abrar.
“entah lah tubuhku tidak nyaman…!! Hhhuuuuhhhhhuuu…” jawab Balqis menangis.
“peluk aku, cepat………!!!!!” Teriak Balqis pada Abrar.
Abrar mengikuti apa yang di perintahkan oleh Balqis padanya. Saat Abrar memeluk tubuh Balqis, tiba-tiba Balqis menjilati telinganya dan juga lehernya. Otomatis membuat Abrar langsung bergairah.
Abrar tak tahan di buatnya. Sesekali Balqis juga mencium bibirnya dengan manis. Abrar menjadi gelap mata, ia tak tahan dengan gairahnya kala di dekat Balqis.
“baiklah, cewek mesum…!! Kau sendiri yang memulainya.” Bisik Abrar pada Balqis.
Terjadilah malam ena-ena yang awalnya tidak diinginkan Balqis namun sangat diinginkan Abrar. Dan semua itu karena ulah sang kakek yang mendambakan seorang cicit dari cucu tunggalnya itu.
Keesokan paginya, Balqis bangun dengan kepala yang sedikit pusing. Ia kaget melihat dirinya yang tidak mengenakan selehai pakaianpun. Dan yang lebih mengagetkannya lagi, ia melihat Abrar yang berbaring santai sambil menatapnya.
“aaaakkkhhhh……..!!!!” teriak Balqis melihat Abrar yang tersenyum mesum.
“selamat pagi cewek mesum…!!” sapa Abrar pada Balqis.
Balqis kaget mendengar perkataan yang di lontarkan oleh Abrar padanya. Ia seperti pernah mendengar kata itu untuk dirinya. Ia mencoba mengingat kejadian malam itu saat ia menyelamatkan seorang pria dari kejaran musuhnya.
“kau…apakah kau pria itu???” tanya Balqis pada Abrar.
“tentu saja..kau yang menciumku waktu aku di kejar musuhku.” Jawab Abrar.
“jadi kau yang…….” Ucap Balqis berhenti.
“dasar berengsek….!!! Aku menyelamakanmu dari kematian tapi kau……”
“tenang lah sayang,..” ujar Abrar menahan semua pukulan dari Balqis yang menyerangnya kesal.
“aku menolongmu, tapi apa balasanmu....kau selalu saja membuatku kesal..!!” teriak Balqis.
“apa kau lupa, hah?? Aku juga pernah menolongmu.” Balas Abrar dongkol.
“saat kau akan di perkosa di dalam bar?? apa kau ingat wanita pikun?? Teriak Abrar kesal pada Balqis.
“ya udah, berarti kita impas..” gumam Balqis sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.
“kenapa kau menutupinya?? Aku suka lihat dadamu saat kau telanjang.” Teriak Abrar kesal.
“gak puaskah kau memakan tubuhku semalam???” balas Balqis.
“dasar kau…!! Aku malu, kau menatapku seperti itu.” Sambungnya lagi.
“aku suamimu…, jadi terserah aku.” Kata Abrar semakin sewot.
“cepat buka selimutnya…aku mau lihat…!!” teriak Abrar menarik selimut Balqis.
“aku gak mau…!! Aaakkkkhh….singkirkan tanganmu!” teriak Balqis.
Tarik menarik terjadi di antara mereka. Tidak ada yang mau mengalah. Abrar terus saja memaksakan kehendaknya, dan Balqis terus berusaha melawannya. Mereka tidak sadar kalau kakek sedang menguping aksi mereka dari balik pintu kamar.
“hehehe…., rencanaku berhasil dan sebentar lagi aku akan memiliki cicit.” Kata kakek sambil tertawa puas.
Seminggu kemudian, Abrar berhasil menemukan jejak Fadel dari pencarian Rudi. Mereka menyusun strategi untuk menghancurkan Fadel beserta anak buahnya. Rencana telah matang, anak buah Abrar telah dikerahkan untuk menyerang tempat persembunyian Fadel. Anak buah Fadel mati terbunuh oleh serangan yang di lancarkan anak buah Abrar. Saat Fadel ingin melarikan diri lagi, ia tertangkap oleh Rudi. Dan akhirnya Fadel di bawa kesebuah gudang yang siap untuk menyiksanya. Atas perintah Abrar, Fadel di siksa habis-habisan oleh anak buah Abrar. Dalam telepon genggamnya, Abrar memerintahkan anak buahnya untuk menghabisi Fadel.
“habisi dia…!!” perintah Abrar yang tidak sengaja terdengar oleh Balqis saat melintasi ruang kerja Abrar.
Seketika tubuh Balqis gemetar, ia menyadari betapa bengis dan kejamnya Abrar, saat ada yang mengusik dirinya.
“siapa orang itu, hingga ia harus di habisi oleh Abrar???” ucap Balqis berdegik ngeri saat mendengarnya.
“apakah itu Fadel???” gumamnya lagi. Kemudian karena sangking takutnya, ia berlari masuk ke kamar dan menyelimuti dirinya hingga ke kepala.
Tak lama kemudian, ia melihat sosok Abrar yang masuk ke kamar dan langsung mendekapnya di ranjang. Tubuh Balqis bergetar, ia merasakan dekapan Abrar seakan menghentikan nafasnya.
“Abrar, kau menyakitiku..!! aku sesak…” ucap Balqis padanya.
“jadilah istri yang penurut…!!” balas Abrar dengan nada dingin yang makin membuat Balqis takut.
Balqis hanya diam ketakutan, namun tak lama tangisan Balqis pecah memenuhi ruang kamar. Abrar tau bahwa Balqis mendengarkan pembicaraannya dengan Rudi di telepon. Abrar tak menyukai orang menguping pembicaraanya, makanya ia menghukum Balqis seperti itu. Saat mendengar suara tangisan Balqis, ia tersadar bahwa ia menyakiti istrinya itu.
“Balqis dengarkan aku, aku benci orang yang suka menguping.” Kata Abrar.
“jadi, jangan lakukan lagi..!!” ucap Abrar lagi.
“aku tidak sengaja mendengarnya, aku tadi hanya ingin menemui mu.” Sahut Balqis.
“saat aku berdiri di depan pintu, aku mendengar semuanya.” Sambungnya lagi sambil menangis.
“maaf…hhhhhuuwwwwwaaaaaaaaa…..!!” teriak Balqis semakin nyaring menangis.
“berhentilah menangis….!!!” Bentak Abrar kesal.
“apa aku boleh tanya padamu??” ucap Balqis yang seketika berhenti menangis karena di bentak Abrar.
“apa kau membunuh Fadel???” tanya Balqis.
“itu bukan urusanmu, kau tidak perlu tau.” Sahut Abrar kesal.
“aku kan hanya ingin tau aja, kenapa kau begitu marah, menyebalkan.” Ujar Balqis sewot.
“IIYYAA…!! Aku membunuhnya..kau puas??” teriak Abrar.
“kenapa??” tanya Balqis yang membuat Abrar bertambah kesal.
__ADS_1
“diamlah, atau aku akan memperkosamu sampai pagi.” ancam Abrar sambil menahan kesalnya.
Balqis langsung terdiam mendengar ancaman Abrar padanya. ia langsung memejamkan matanya berupaya untuk tidur. Mereka pun terlelap dalam tidurnya malam itu setelah lelahnya bertengkar.