
Abrar tiba di korea dini hari dengan kondisi yang sangat tidak karuan.
Pakainnya sangat kumal karena dia belum mandi seharian akibat sibuk mencari Balqis.
“cepat sekali kau datang…???” sapa Ibu melihat Abrar yang sudah tiba dirumah.
“Ibu…, dimana Balqis..???” tanya Abrar dengan raut wajah yang lelah.
“ada di kamarnya…., mandilah dulu setelah itu pergilah ke kamar Balqis…, tapi ingat jangan membangunkannya…karena dia juga lelah dengan kondisinya yang sedang hamil..” kata Ibu.
“ibu tenang saja, Balqis itu tidur seperti kerbau…., suara gledek pun tidak akan bisa membangunkannya…” sahut Abrar sambil melangkah pergi untuk membersikan diri.
“hehehe…., semua anak-anakku kalau tidur memang seperti kerbau sama persis seperti ayahnya…!! Hhhaahh…., aku sangat merindukan mendiang suamiku…” gumam Ibu.
Setelah selesai mandi Abrar pun masuk ke kamar Balqis yang sedang tidur menyamping.
Abrar langsung memeluk dan mencium pundak Balqis yang sedang tertidur lelap.
“akhirnya aku menemukanmu, sayang…!! Aku sangat lelah dan panik saat kehilanganmu….” Ucap Abrar yang juga terlelap tidur di sisi Balqis.
Keesokan paginya Balqis terbangun namun ia belum membuka matanya.
Ia merasa telapak tangannya menyentuh sesuatu yang keras dan mengendus bau tubuh yang sangat familiar di hidungnya.
“apa aku sangat merindukan pria jahat itu, sampai-sampai aku mencium aroma tubuhnya di kamar ini….!!” gumam Balqis yang belum menyadari Abrar menatapnya dari tadi.
“siapa yang kau bilang pria jahat itu..???” tanya Abrar pada Balqis.
“tentu saja…, si Abrar brengsek itu….” Sahut Balqis yang masih enggan membuka matanya.
“benarkah dia brengsek…???” tanya Abrar lagi.
“tentu saja…, dia mengkhianati aku dengan,……….” Ucapan Balqis terhenti dan membelalakan matanya melihat Abrar yang tersenyum padanya.
“kau……, kenapa kau ada disini…???” tanya Balqis tersentak kaget melihat Abrar.
Balqis pun duduk dan melihat sekeliling kamarnya untuk memastikan bahwa dia benar berada di korea.
“aku pasti sedang bermimpi…..” ucap Balqis dalam hatinya sambil menutup matanya.
Saat Balqis menutup matanya, Abrar malah mencium bibir Balqis dengan paksa yang membuatnya susah bernafas. Balqis mendorong tubuh Abrar dengan sekuat tenaganya.
“apa kau ingin membunuhku, hah..???” teriak Balqis.
“Balqis…, aku merindukanmu…” sahut Abrar.
“kau jahat….., dasar pengkhianat…!! Setelah melahirkan nanti aku pasti akan membunuhmu dan si jalang Mona itu…” ujar Balqis kesal.
“kau salah paham padaku, Balqis…” ucap Abrar yang masih tenang menatap Balqis yang penuh amarah.
“mati aja kau sana……!!! Aku tidak percaya padamu lagi…pria bedebah….” Teriak Balqis seraya menjambak rambut Abrar karena jengkel.
“aduh……, kepalaku sakit…., Balqis….!!!” Teriak Abrar.
“cepat kembali sana ke negaramu….” Sambung Balqis yang masih menjambak rambut Abrar dengan kuat.
“aaakkkhhh……, ibu….!! Anakmu seperti singa…..” teriak Abrar hingga terdengar Ibu yang berada di kamar.
“astaga……, anak dan menantuku sangat merepotkan aku….” Ujar Ibu yang kemudian menghampiri mereka.
“Balqis….., hentikan……!!! Kenapa kau memperlakukan suamimu seperti itu..???” teriak Ibu yang membuat Balqis langsung melepaskan tangannya dari rambut Abrar.
“Ibu……, Balqis menjambak rambutku…” kata Abrar berlindung di belakang ibu.
“ck…., kenapa kau jadi pria selembek ini dihadapan istrimu…” bisik Ibu pada Abrar.
“ck…., anakmu seperti singa kalau sedang marah…” sahut Abrar.
“Ibu….., aku ingin bercerai dengan pria jahat itu…..” teriak Balqis kesal.
“aku tidak akan pernah menceraikanmu…, Balqis…!!” balas Abrar berteriak pada Balqis.
“aku tidak perduli padamu lagi…, dasar kau pria bedebah….” Sahut Balqis lagi.
“setelah bercerai anak-anak akan ikut padaku…” sambung Balqis lagi.
“Azlan dan anak yang ada di rahimmu itu adalah anakku….” Kata Abrar.
__ADS_1
“mereka anak-anakku…..” ujar Balqis.
Ibu yang berada di tengah-tengah mereka sangat pusing dengan pertengkaran keduanya.
“DIIIIAAAAAAAAMMMMMMMMMM……….!!!!!!!!” Teriak Ibu.
Abrar dan Balqis langsung terdiam saat Ibu berteriak.
“tidak ada yang boleh bercerai dan anak-anak itu adalah anak kalian berdua….” Teriak Ibu lagi sambil memukul kepala Abrar dan Balqis.
“ck…., ibu kenapa sih memukulku juga…?? Aku kan anak Ibu…” gumam Balqis.
“dasar kau anak bodoh….!!! Abrar tidak bersalah…..” sahut Ibu.
“apa maksud ibu..??” tanya Balqis.
“hei…, menantu bodoh….!! Cepat berikan rekaman CCTV itu pada Balqis…” kata Ibu pada Abrar.
Abrar pun memberikan rekaman CCTV itu kepada Balqis.
Balqis melihat isi rekaman itu dan sangat terkejut melihat Mona yang menjadi dalang dari permasalahan tersebut.
“jadi ternyata ini perbuatan Mona…” ujar Balqis sangat terkejut.
“kau saja yang tidak percaya pada cintaku…” sahut Abrar memukul lengan Balqis karena gemas.
“aduh…., sakit bodoh….” Teriak Balqis mengusap lengannya.
Abrar langsung duduk dan ngambek saat Balqis mengetahui semua yang terjadi.
“Ibu……” ucap Balqis.
“selesaikan masalahmu…, makanya jadi istri itu harus pintar…” sahut Ibu beranjak pergi meninggalkan mereka berdua.
“mampus lah aku…., Abrar sepertinya ngambek….” Ucap Balqis dalam hatinya menatap Abrar yang duduk membelakanginya.
Sesegera mungkin Balqis memeluk tubuh Abrar dari belakang untuk membujuknya.
“Abrar……, my lovely….., apa kau marah padaku…???” tanya Balqis mencoba membujuk Abrar.
“hehehe….., iya deh….aku minta maaf…waktu itu kan aku sangat kesal karena aku pikir kau selingkuh dengan Mona….!! Kan si Monyet Nakal (kepanjangan dari Mona) itu memang mengincarmu….” Ucap Balqis.
Kemudian Abrar membalikkan tubuhnya menghadap Balqis.
“makanya kalau jadi istri itu yang pintar….!! Kau seharusnya mencari tau kebenarannya dulu jangan main kabur aja….!! Apa kau tau aku sangat panik saat mengetahui kau kabur dari rumah…????” ujar Abrar sambil menyentil jidad Balqis hingga memerah.
“iya…., aku tau aku salah….” Gumam Balqis mengelus jidadnya.
“maaf…….” Ucap Balqis sambil berlinang air mata penuh penyesalan.
“sudahlah……., semuanya sudah berakhir….” Ucap Abrar memeluk tubuh istrinya itu.
Balqis terus menangis karena merasa bersalah setelah membuat Abrar panik dan khawatir padanya.
“jangan menangis lagi….., kau harus menjaga kesehatanmu dan bayi kita….” Kata Abrar menenangkan Balqis.
“aku mau pulang….” Ucap Balqis.
“kenapa terburu-buru..?? aku masih sangat lelah dari kemarin…” sahut Abrar.
“Azlan pasti merindukan aku…” ucap Balqis.
“semenjak dia menyukai gadis yang ada di kelasnya, dia tidak pernah merindukanmu lagi….” Ujar Abrar yang membuat Balqis semakin sedih.
“hhhuuuuwwwaaaaaa…………., anakku begitu cepat melupakan aku saat jatuh cinta pada seorang gadis….” Kata Balqis nangis Bombay.
“cepat atau lambat kita pasti akan ditinggalkan oleh anak-anak kita setelah mereka dewasa….!! Berbesar hati lah….” Ucap Abrar.
Di ruang favoritnya, Ibu sedang duduk sambil menikmati teh hijau kesukaannya.
Tak lama kemudian HP nya berdering.
“ada apa..??” tanya Ibu saat mengangkat teleponnya.
“nyonya…, semuanya sudah beres….!!!” Sahut anak buahnya.
“pastikan semuanya di kerjakan dengan rapi….!!” Ucap Ibu lagi.
__ADS_1
“baik nyonya…” sahut anak buahnya lagi seraya memutuskan sambungan teleponnya.
Setelah beberapa hari di korea, Abrar dan Balqis kembali ke tanah air dan pulang kerumah untuk beristirahat setelah beberapa jam melalui perjalanan.
Saat hendak menutup matanya, Abrar mendengar suara teriakan Balqis yang berdiri sambil memegang HPnya.
“Balqis…., ada apa..???” tanya Abrar panik.
“Abrar lihatlah berita yang ada di internet ini…” kata Balqis menyodorkan HPnya.
Abrar membelalakan matanya saat membaca berita yang tersebar di internet tentang kematian Mona di salah satu apartemennya.
“apa-apaan ini…?? Mona mati…???” ujar Abrar terkejut.
“dia mati bunuh diri…., apa itu benar…???” tanya Balqis seakan tak percaya tentang berita itu.
“beberapa hari yang lalu dia masih terlihat di kantorku…, kenapa sekarang dia mati…??? Apa yang terjadi ini…??” ucap Abrar semakin bingung.
Abrar pun menghubungi Luky yang tempat tinggalnya berdekatan dengan Mona.
“Luky…, apa berita tentang Mona itu benar…???” tanya Abrar.
“iya sobat…., Mona ditemukan tewas bunuh diri di kamarnya…” jawab Luky.
“astaga…..!!! ada apa dengannya…???” tanya Abrar lagi.
“entahlah…., tidak ada yang mencurigakan dengan kematiannya sehingga polisi menyatakan dia bunuh diri..” sahut Luky lagi.
“mayatnya telah di berikan pada keluarganya di itali..” sambung Luky lagi.
“baiklah.., terima kasih infonya…” ucap Abrar dan lalu mematikan sambungan teleponnya.
“apa…apa benar berita itu…????” tanya Balqis pada Abrar.
“iya benar…., Mona mati bunuh diri di apartemennya…” jawab Abrar.
“astaga…..” ucap Balqis terduduk lemas mendengarnya.
“aku tak percaya dengan kematian Mona yang tragis seperti itu…!!” kata Balqis.
“lebih baik dia mati kan…???” sahut Abrar.
“apa maksudmu, Abrar…??” tanya Balqis.
“apa kau tidak ingat perbuatan ayahnya pada keluargamu dan perbuatanya selama ini padamu…???” kata Abrar.
“iya…., tapi aku hanya tidak percaya dengan kematiannya yang begitu tragis…” sahut Balqis.
“baguslah dia mati…, jadi aku tidak perlu repot-repot untuk menghabisinya, karena telah mengusik kehidupan pernikahan kita…” ucap Abrar memeluk Balqis untuk menenangkannya.
Semua orang yang mengenal Mona sangat terkejut dan tak menyangka mendengar kematian Mona yang sangat tragis dengan cara membunuh dirinya sendiri.
Padahal kenyataannya adalah Mona tewas dibunuh oleh anak buah Ibu Balqis karena kesal telah mengusik kebahagiaan rumah tangga anaknya itu.
Zidan yang berada di itali terkejut mendengar kematian Mona.
Ia langsung menghubungi Ibunya yang berada di korea.
“ibu…, apa kau sudah mendengar kematian Mona..???” tanya Zidan.
“ooohh…., benarkah dia mati…???” sahut Ibu pura-pura terkejut.
“iya…, kabarnya dia mati karena bunuh diri di apartemennya di Indonesia..” kata Zidan lagi.
“baguslah…., musuh kita satu persatu telah mati menghabisi dirinya sendiri…” ucap Ibu.
“apa kau telah membuat keluarga Jordan melarat..????” tanya Ibu.
“sudah…..!! aku sudah menjatuhkan perusahaanya dan membuat mereka jatuh miskin…” sambung Zidan.
“sebentar lagi kita pasti akan mendengar kematian Jordan di penjara….” Kata Ibu.
“iya…., kita tunggu saja..” sahut Zidan.
Zidan pun menutup teleponnya dan sangat puas telah membalas semua perbuatan Jordan yang telah membunuh ayahnya dan menjauhkan Balqis dari mereka selama puluhan tahun.
“Jordan…, bagaimana pun caranya kau harus mati…!! Hutang nyawa harus di bayar nyawa…!! Dulu kau menjauhkan adikku dari keluargaku.., sekarang balasan untukmu Mona telah jauh darimu dan keluargamu….” Gumam Zidan yang duduk di balkon kamarnya menatap keluar.
__ADS_1