LOVE IN MINE

LOVE IN MINE
IBU MENGENALNYA


__ADS_3

Beberapa bulan telah berlalu setelah kelahiran putra dan putri dari Clara dan Balqis.


Ibu kembali ke korea dan Zidan kembali ke itali untuk mengurus segala bisnisnya yang tertunda.


Clara yang sangat antusias merawat putra pertamanya itu di bantu oleh ibu mertuanya.


Sedangkan Balqis di bantu oleh beberapa pengasuh yang di bayar oleh Abrar agar Balqis tidak kelelahan dengan anak-anaknya yang masih kecil itu.


Bahkan si kembar Melia dan Melani yang masih berusia 6 bulan sudah memiliki kamar tidur sendiri dan di temani oleh pengasuh-pengasuhnya.


Itu dilakukan agar Abrar mempunyai kesempatan untuk mengganggu Balqis.


“Abrar…..” ucap Balqis.


“hhheemmm…..” sahut Abrar.


“lepaskan aku…., aku ingin melihat kedua putriku…” kata Balqis.


"mereka juga putriku..." sahut Abrar.


"kau sebaiknya mengatakan kedua putri kita..., bukan kah begitu..???" sambung Abrar.


"iya..., putri kita..." ucap Balqis.


"lepaskan aku..., Abrar...." ucap Balqis lagi.


“aku gak mau…!!” sahut Abrar yang tak mau melepaskan dekapannya pada Balqis.


“ayolah….., kau juga akan pergi ke kantor kan..???” ujar Balqis.


“hari ini aku libur…” ucap Abrar.


“apa maksudmu..??? ini masih hari selasa…” kata Balqis.


“apa kau lupa…, aku bisa merubah hari di kalender itu menjadi hari libur untukku…!! Karena aku adalah pemilik perusahaan..!! Rudi sudah mengurus semuanya….” Kata Abrar.


“kau sangat suka menindas Rudi….!! Berikanlah Rudi waktu libur agar dia bisa bersenang-senang dengan kekasihnya…” kata Balqis.


“Rudi itu tidak punya kekasih….” Sahut Abrar.


“itu karena kau selalu membuatnya sibuk…, makanya dia tidak punya kekasih…” ujar Balqis.


“hehehe……, Rudi menyukai gadis yang masih duduk di bangku sekolah…” kata Abrar.


“apa maksudmu..??? apa kau pikir Rudi adalah pedofil..???” ujar Balqis.


“ck…, kau ini…!! Gadis itu anak SMA, Rudi bertemu dengannya saat di bar…” kata Abrar.


“darimana kau tau..??” tanya Balqis.


“aku ini tau segalanya tentang bawahanku….” Ucap Abrar.


“jadi apa menurutmu, Rudi akan menikahi gadis itu setelah dia lulus sekolah..???” tanya Balqis penasaran.


“apa kau sangat senang bergosip di pagi hari…???” ujar Abrar yang membuat Balqis kesal.


“kau duluan yang mengajakku bergosip……!!!! Dasar kau…….” Teriak Balqis kesal.


“hehehehehe………” sahut Abrar hanya tertawa melihat Balqis kesal.


Di korea ibu sangat mencamaskan nasib Zidan yang sangat betah menjomblo setelah putus dari kekasihnya beberapa tahun yang lalu.


Ibu memutuskan untuk pergi ke itali untuk menemui Zidan disana.


Setelah melakukan perjalanan yang sangat panjang, Ibu telah tiba di itali dirumah yang menjadi tempat dimana pernah ada kebahagiaan bersama mendiang suaminya itu.


“Ibu….., kau datang…??? Kenapa tidak bilang padaku kalau ibu ingin bertemu denganku, jadi aku bisa datang ke korea…” kata Zidan.


“tak apa….!! Ibu juga merindukan rumah ini…” kata Ibu.


“Zidan…., apa kau masih mencintai Raisa…???” tanya Ibu kepada Zidan tentang mantan kekasihnya itu.


“ibu…., kumohon jangan mulai lagi dengan perkataan itu…” ucap Zidan.


“aku hanya heran melihatmu yang masih betah dengan statusmu yang jomblo itu…!! Kau ingatlah usiamu sudah berapa..”kata Ibu.


“iya…, ibu…, tapi aku belum menemukan wanita yang pantas untukku…” sahut Zidan.


“apa kau masih mencintai Raisa..???” tanya Ibu lagi.


“ck…, ibu…” sahut Zidan.

__ADS_1


“jawab ibu…, Zidan…” tegas Ibu.


“tidak….” Jawab Zidan dusta.


“aku tau kau berkata tidak…, namun hatimu belum bisa melupakan wanita yang telah mengkhianatimu itu….!!! Lupakan Raisa…., dia tidak pantas untukmu….” Kata Ibu.


“Ibu akan mencarikan gadis yang baik untukmu…” sambung Ibu lagi.


“ibu…., aku tidak mau….” Sahut Zidan.


“jangan pernah membantahku….” Kata Ibu yang membuat Zidan tidak bisa berkata lagi.


Selama beberapa hari Ibu berada di itali, Zidan terus sibuk menemani Ibu berbelanja keperluan Ibu selama di sana. Zidan dan Ibu sedang berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan di itali.


Saat Zidan sedang berada di toilet, Ibu bertemu dengan seorang gadis belia yang menjadi anak dari teman lama Ibu.


“apa kau Isabel…??” tanya Ibu pada gadis belia itu dalam bahasa itali.


“iya…, tante mengenalku..???” tanya gadis belia itu dalam bahasa itali juga.


“kau putri dari tuan Aftur kan..???” tanya Ibu lagi.


“iya…., tante juga kenal dengan ayahku..??” kata gadis belia itu lagi.


“tentu saja…, aku adalah teman lama dari orang tuamu…!! Apa kabar dengan orang tuamu…, apa mereka baik..??” kata Ibu.


“iya…, orang tuaku baik-baik saja…” jawab gadis itu lagi.


“nak…, apa kau masih sekolah…??? Kau sangat manis…” ucap Ibu.


“aku masih SMA…., tapi aku sekolah di Indonesia dan tinggal dengan kakekku disana..” jawab gadis itu.


Kemudian Zidan datang menghampiri Ibu yang sedang asik mengobrol dengan Isabel.


Saat Zidan melihat gadis yang berbincang dengan Ibu, dia sangat terkejut melihatnya begitu pula dengan gadis itu yang sangat terkejut melihat Zidan.


“kau………..!!!!” lagi-lagi mereka serentak berbicara.


“hei…., bocah sedang apa kau di itali..?? dasar bocah liar…..” kata Zidan.


“hei…, om-om mesum….!! Aku juga heran mengapa bisa terus saja bertemu dengan orang yang paling menyebalkan disini…” ujar Isabel kesal pada Zidan.


“kalian saling kenal…???” tanya Ibu.


“hehehehe……, kalian sangat serasi ya…!! Menjawab pertanyaan saja sangat kompak…” kata Ibu.


“apa ibu mengenal bocah ingusan ini..???” tanya Zidan.


“dia ini anak dari tuan Aftur.., sahabat ayahmu….!!!” Jawab Ibu yang membuat Zidan tercengang karena bocah ingusan yang ia benci itu bukan anak dari keluarga sembarangan.


“tante…., aku permisi dulu ya…!! Ibu pasti cemas jika aku pulang terlambat nanti..” kata Isabel.


“baiklah…., titip salam buat orang tuamu ya, sayang…” ucap Ibu.


“baiklah tante…” sahut Isabel sambil melangkah pergi dan sengaja menabrakkan lengannya ke lengan Zidan.


“aaww……, dasar bocah ingusan…….!!!” Umpat Zidan pada Isabel.


“hei…., kenapa kau sangat kesal padanya….?? Dia itu gadis yang sangat manis kan..??” kata Ibu.


“ck…, wajahnya memang manis kebule-bulean…., tapi sifatnya sangat tidak sopan….” Ujar Zidan.


“apa kalian pernah bertemu…??” tanya Ibu kepo.


“iya…., waktu di Indonesia….” Jawab Zidan.


Lalu Zidan pun menceritakan semuanya pada Ibu saat bertemu pertama kali dengan Isabel, namun Zidan tidak menceritakan bahwa ia pernah mencuri ciuman dari Isabel, takut di gampar Ibu.


Di kediamannya Abrar dan Balqis sedang berkumpul dengan anak-anaknya di ruang bermain.


Mereka sangat bahagia melihat ketiga anaknya tumbuh sehat dan sangat lincah saat bermain.


“sayang…, aku sangat bahagia bisa bertemu denganmu saat malam itu…, saat aku terluka dan kau menolongku dengan menciumku…” kata Abrar memeluk Balqis.


“iya…., aku sangat tak menyangka pertemuan itu membuat kita memiliki hubungan yang bahagia seperti ini…, kita memiliki anak-anak yang manis…” ucap Balqis.


“manis seperti dirimu…, I Love You….” Ucap Abrar.


“I Love You Too…, Hubby…!!” sahut Balqis saling berciuman dengan Abrar.


“tidak ada lagi orang yang akan mengusik cinta kita…” kata Abrar.

__ADS_1


Balqis membalas Abrar hanya tersenyum manis dan menatapnya penuh cinta.


Tiba-tiba HP Balqis berdering ternyata Zidan menghubunginya.


“apa kabar kak…?? Lama tidak menghubungi aku..” kata Balqis.


“aku baik…, bagaimana dengan kalian disana…??” tanya Zidan.


“kami disini juga baik-baik saja…!! Kak, kapan kau akan mengunjungi keponakanmu lagi…?? Sudah setengah tahun ini kau tidak pernah berkunjung kesini lagi..” ucap Balqis.


“setelah urusanku di itali selesai, maka aku akan mengunjungi kalian bersama Ibu…!! Ibu sekarang ada di sini bersamaku…” ujar Zidan.


“benarkah…??? Kalau begitu titip salam ya buat ibu.., kami sangat merindukannya…” kata Balqis.


“ngomong-ngomong dimana Abrar…???” tanya Zidan.


“hei Zidan…., menikahlah segera….!! Dunia hampir kiamat…., apa kau tidak ingin punya keluarga..???” tanya Abrar merampas HP dari tanga Balqis.


“ck…, dasar ipar kurang ajar….!!! Aku menyesal bertanya tentang keadaanmu…!!” sahut Zidan kesal.


“ayolah…., jangan sampai Azlan mendahului dirimu untuk menikah nanti…” sambung Abrar lagi sengaja membuat Zidan jengkel.


“mati aja kau sana…., Abrar….” Umpat Zidan langsung mematikan sambungan teleponnya dengan kesal.


“hahahahaha….., dia sangat kesal…..” ucap Abrar tertawa puas membuat Zidan jengkel.


“kau selalu saja membuat kakakku kesal….” Ujar Balqis.


“aku mengatakan itu supaya dia gencar mencari pasangan, apa kau mau melihat Zidan terus-terusan menjomblo…???” tanya Abrar.


“tentu saja tidak….” Sahut Balqis.


“kata ibu…, kakak pernah patah hati dengan seorang wanita…, namanya Riska..” kata Balqis lagi.


“aku tau itu…” sahut Abrar.


“kau taru darimana…??” tanya Balqis heran.


“dari ibumu…” jawab Abrar.


“ibu juga mengatakannya padamu..??” tanya Balqis.


“hei…, aku ini menantu favoritnya…, bahkan aku lebih dekat dengan ibumu dari pada kau…” ucap Abrar.


“kapan Zidan dan Ibu akan berkunjung kesini..??” tanya Abrar.


“entah lah…, kata kakak tunggu urusannya di itali selesai dia akan kesini..” jawab Balqis.


“ck…, Zidan itu gila kerja…!!” sahut Abrar.


“apa kau tau apa yang menjadi urusan terbesar Zidan di itali..???” tanya Abrar.


“apa..??” tanya Balqis heran.


“nanti kau juga akan mengetahuinya…, cepat atau lambat…” sahut Abrar yang membuat Balqis semakin bingung.


Karena yang dia tau Zidan selalu sibuk dengan urusan bisnisnya di itali.


Di balkon kamarnya, Zidan duduk sendirian bersantai menghirup udara malam di itali yang sejuk.


Dia mengenang seseorang yang pernah singgah di hatinya.


Masih membekas semua kenangan yang telah dialaminya bersama orang tersebut.


“dimana kau sekarang…?? Kenapa aku tidak pernah bisa bertemu denganmu…?? Aku hanya ingin tau kenapa kau pergi meninggalkan aku tanpa aku menyadari kesalahan apa yang aku perbuat selama ini..??” gumam Zidan dalam hatinya dengan pandangan kosong menatap jauh.


Tiba-tiba lamunannya buyar saat sebuah tangan lembut hinggap di pundaknya.


“kau sedang memikirkan apa..???” tanya Ibu.


“tidak…., aku hanya ingin menghirup udara segar malam ini..” sahut Zidan.


“nak…., jangan pikirkan wanita itu lagi…!! Dia tak pantas untuk kau tunggu…” ucap Ibu.


“Ibu…., ayolah…!! Aku tidak ingin berdebat denganmu…” ujar Zidan.


“aku Ibumu…, aku sangat tau apa yang sedang menggoyahkan hatimu saat ini…!! aku hanya ingin yang terbaik untuk anak-anakku….!! Aku tak ingin melihat anakku bersedih karena di sakiti oleh siapapun…” kata Ibu.


“Ibu…., aku masih mencintainya….!! Aku mencintai Raisa…” ucap Zidan penuh dengan kegalauannya.


“Zidan…, sudahlah…!! Mungkin kau sangat lelah selama ini…” sambung Ibu memeluk putra satu-satunya itu.

__ADS_1


Zidan meletakkan kepalanya di pangkuan Ibu, ia sudah lama tidak merasakan pelukan dan elusan lembut dari wanita yang sudah melahirkannya itu karena terlalu sibuk dengan urusannya membalaskan kematian ayahnya.


“Raisa…, aku berharap kau tidak akan pernah kembali bertemu dengan anakku…bahkan di akhirat sekalipun….” Ucap Ibu dalam hatinya.


__ADS_2