LOVE IN MINE

LOVE IN MINE
MENYATAKAN CINTA


__ADS_3

Seminggu telah berlalu setelah kejadian itu. Johan berada di eropa dengan perasaan yang hancur.


Ia kesal dengan dirinya yang tak bisa membawa Balqis bersamanya.


Tapi ia tetap akan berusaha untuk merebut Balqis dan membawanya jauh dari Abrar.


Johan mengutus anak buahnya untuk mengintai Balqis.


Ia ingin mengetahui setiap gerak gerik Balqis dan Abrar.


Di kediamannya, Abrar terus mengusik kehidupan Balqis.


Abrar terus mencari selah agar bisa mengungkapkan perasaanya.


Balqis masih kesal kala mengingat apa yang di ucapkan  Abrar untuk dirinya tak pantas baginya.


Balqis bersikap acuh kepada Abrar.


“Balqis…, setelah kejadian itu kau terus saja mengacuhkan aku…” kata Abrar kesal.


“kau kenapa???” tanya Abrar pada Balqis.


“Abrar, berhentilah…!! Aku sedang gak ingin bertengkar denganmu…” sahut Balqis terus saja mengacuhkan Abrar.


“tapi kau mengacuhkan ku…” teriak Abrar kesal.


“kau lupa kalau kau selalu saja menyakiti aku?? Bahkan aku gak pantas untukmu.” Teriak Balqis kesal.


“sial....., dia masih kesal dengan ucapanku waktu itu.” Ucap Abrar dalam hatinya


“apa kau gak bisa melupakannya??aku sedang mabuk..” kata Abrar.


“sudah lah Abrar.., aku bahkan gak ingin membahasnya lagi.” Ucap Balqis dengan raut sedih.


“jangan acuhkan aku lagi Balqis…aku suami mu…” bentak Abrar.


“Abrar…, mari kita bercerai…!! Aku muak menjadi istrimu…, kau selau berteriak, memaksa, dan bahkan kau sering bersikap kasar padaku..” teriak Balqis sangat marah.


“jangan ucapkan kata itu lagi padaku…atau aku akan membunuhmu…” teriak Abrar.


“ayo bunuh lah aku…!! Aku menantangmu….” Balas Balqis.


“kau…..!! beraninya kau menantangku….” Bentak Abrar gelap mata.


Lalu Abrar mencekik leher Balqis yang membuatnya susah bernafas.


Air mata Balqis mengalir menatap Abrar yang mencekik lehernya.


“aku mencintaimu Abrar…!! Aku bahkan bahagia bila aku mati di tanganmu..” ucap Balqis dalam hatinya.


Melihat air mata Balqis yang membasahi pipinya., Abrar tersadar dari apa yang di perbuatnya.


Ia langsung melepaskan tanganya dari leher Balqis.


“apa yang aku lakukan padanya…??” ucap Abrar dalam hatinya menyesal.


“Balqis…, maafkan aku…! Aku mohon maafkan aku..” ucap Abrar menyesal.


Balqis tak menjawab ia terus menangis terduduk di lantai.


Abrar terus memeluk tubuh Balqis yang menangis karenanya.


“kau selalu saja menyakiti aku…!! Aku gak tahan lagi bersamamu..” ucap Balqis sambil menangis.


“maafkan aku, Balqis…!! Aku khilaf…” sahut Abrar lirih.


“aku ingin cerai…!! Aku mohon ceraikan aku…” kata Balqis terus menangis.


Mendengar Balqis yang terus saja meminta cerai darinya, Abrar pergi meninggalkan Balqis.


Hati Abrar gundah, sebelum ia mengutarakan perasaannya Balqis malah ingin bercerai dengannya.


Malam itu Abrar pergi ke bar.


Ia duduk sendirian di sebuah sofa dengan beberapa botol minuman di meja.


Abrar sangat mabuk saat itu.


Tak sengaja Devan dan sahabat yang lain melihat Abrar.


Mereka pun menghampiri Abrar.


“hei..., Abrar?? Apa yang terjadi?? Kenapa kau jadi begini??” tanya Devan.


“pergilah…!! Jangan ganggu aku…!!” teriak Abrar yang sedang mabuk berat.


“dia sangat mabuk..!! panggil Rudi untuk mengantarkannya pulang.” Ucap Romi pada Devan.


“tunggu dulu..!! Abrar pasti sedang bertengkar dengan Balqis.” Kata Luky.


“dia gak mungkin jadi seperti ini…kalau bukan masalah hati..” sambung Luky lagi.


“kau benar…!! Dia pasti frustasi karena Balqis.” Sahut Devan.


“aku akan cari tau dari Rudi.., kalian urus lah Abrar dulu..” kata Aska.


Kemudian, Aska mencari Rudi di area parkiran bar tersebut.


Sementara sahabat yang lainnya membawa Abrar ke rumah kakek.


“Rudi…, apa kau tau yang terjadi antara Abrar dan Balqis??” tanya Aska.


“aku mendengar semuanya, tuan.” Sahut Rudi pada Aska.


Kemudian Rudi menceritakan semua yang terjadi di antara Abrar dan Balqis.


“apa?? Balqis minta cerai???” tanya Aska terkejut.


“iya tuan…!! Tapi tuan Abrar berusaha tidak menanggapinya.” Jawab Rudi lagi.


Di kediaman kakek, Abrar sedang tak sadarkan diri karena terlalu banyak minum.


Melihat kondisi Abrar, kakek menjadi berang.


Tak lama kemudian Aska datang dan menceritakan semua yang terjadi antara Abrar dan Balqis di ruang keluarga di rumah kakek.


“dasar gak tau diri.., dia selalu menyakiti Balqis..” kata kakek marah pada Abrar.


“kakek.., aku mohon..!! jaga tekanan darahmu…” ucap Devan sebagai dokter pribadi keluarga.


“aku sangat kesal dengan Abrar…!! Dia sangat bodoh…” sahut kakek masih kesal.


“kakek tenanglah….!! Kami akan mengurusnya..” kata Luky menenangkan kakek.


“aku akan membawa Balqis dan Azlan jauh darinya.” Ucap kakek.


“agar dia menyadari sakitnya kehilangan orang yang mencintainya.” Sambung kakek lagi.


“maksud kakek, apa Balqis mencintai Abrar???” tanya Luky terkejut.

__ADS_1


“iya…!! Balqis mengakuinya saat aku bertanya padanya tentang perasaannya.” Jawab kakek.


“hehehe…, ini aka lebih mudah untuk membereskan masalah ini.” kata Luky mendapatkan ide.


“kakek.., jangan jauhkan mereka jika kau ingin melihat mereka bahagia.” Sambung Luky.


Kemudian mereka berembuk melakukan sebuah rencana untuk menyatukan Abrar dan Balqis.


Mereka akan bertindak melalui Rudi untuk membohongi Balqis.


Devan dan Romi membawa Abrar yang masih tak sadarkan diri kerumah sakit.


Devan membawa Abrar masuk ke kamar rumah sakit.


kemudian ia menempelkan alat-alat rumah sakit di tubuh Abrar.


Devan memanfaatkan alat rumah sakit untuk mengelabui Balqis.


Rudi yang menerima


perintah dari Luky pun melancarkan aksinya. Ia tiba dirumah dan langsung


menemui Balqis malam itu. Rudi mengetuk pintu kamar Balqis yang sudah terlelap


tidur pada tengah malam itu.


Tak lama kemudian, Balqis keluar kamar dan melihat Rudi yang sudah berdiri di depan pintu.


“maaf, nyonya…!! Ada kabar buruk..” kata Rudi.


“ada apa, Rudi? Kabar buruk apa maksudmu??” tanya Balqis penasaran.


“tuan Abrar sekarang berada di rumah sakit.., ia mencoba melakukan bunuh diri.” Ujar Rudi.


“apaaa?????” teriak Balqis terkejut.


“iya nyonya…!! Tuan Abrar sedang sekarat di rumah sakit..” sahut Rudi lagi.


Mendengar perkataan Rudi, Balqis menjadi lemas.


Matannya berkunang-kunang.


Ia hampir saja jatuh pingsan mendapat kabar buruk yang menimpa Abrar.


“nyonya…kuatkan dirimu, nyonya..” ucap Rudi menenangkan Balqis.


“Rudi…, antarkan aku menemui Abrar…” pinta Balqis yang meneteskan air matanya.


“baik, nyonya..” sahut Rudi yang menampilkan garisan senyum di bibirnya di belakang Balqis.


“berhasil….” Ucap Rudi dalam hatinya.


Saat Balqis sedang bersiap-siap di kamar, Rudi mengirimkan pesan singkat pada Luky di dalam mobil.


Rudi mengirimkan pesan kepada Luky agar bersiap untuk melakukan tindakan selanjutnya.


Balqis menuju rumah sakit.


setibanya disana ia melihat raut wajah kakek dan sahabat Abrar yang sangat sedih.


Mereka berusaha memainkan perannya.


Balqis pun masuk melihat Abrar yang terbaring di ranjang rumah sakit.


Balqis melihat pergelangan tangan Abrar di perban.


Ia berpikir bahwa Abrar ingin mengakhiri hidupnya dengan menyayat pergelangan tangannya.


Tak lama kemudian kakek masuk untuk memainkan perannya.


“nak…, aku sangat sedih melihat Abrar yang tak berdaya seperti ini.” ucap kakek berlagak sedih.


“kakek…, maafkan aku..!! ini semua karena kesalahan aku..” kata Balqis menangis.


“entah apa yang ada dipikiranya, sehingga dia ingin mengakhiri hidupnya.” Kata kakek lagi.


“ini kesalahanku.., andai saja aku gak mengacuhkannya…ini gak akan terjadi.” Ujar Balqis menangis menyesali diri.


Lalu masuk sahabat yang lainnya.


“Devan…, gimana keadaan Abrar???” tanya Balqis sangat cemas.


“keadaannya sangat kritis…!! Kita hanya bisa menunggu keajaiban saja.” Jawab Devan dengan raut yang sedih.


“Balqis…, kami mohon..!! temanilah dia sebelum ajal menjemputnya.” Ucap Luky.


Mendengar perkataan Luky hati Balqis semakin hancur.


Semalaman ia tak tidur untuk menjaga Abrar yang terbarik di ranjang.


Ia terus menangis menyesali dirinya yang acuh kepada Abrar.


Pagi harinya, sebelum Abrar bangun, Devan melancarkan aksinya lagi kepada Balqis.


“Balqis…!! Pergi lah istirahat dan sarapan..” kata Devan membujuk Balqis.


“aku disini aja…!! aku bahkan gak ingin makan apapun.” Ucap Balqis dengan wajah sembab.


“tapi Abrar membutuhkan dirimu disini..!!” kata Devan.


“kalau kau gak jaga kesehatan, gimana kau akan merawat Abrar..??’ kata Devan lagi.


“Devan benar..!! kita bergantian akan menjaga Abrar…kau istirahat lah sebentar.” Ucap Romi.


“baiklah.., jika terjadi apa-apa padanya, panggil aku..” kata Balqis.


Kemudian Balqis beristirahat di ruang yang disediakan untuk menunggu pasien di rumah sakit.


Tak lama kemudian, Abrar terbangun dari tidurnya dan memegang kepalanya yang terasa nyeri akibat mabuk semalam.


Abrar terkejut melihat dirinya terbaring dirumah sakit dengan peralatan yang menempel di tubuhnya.


“apa-apaan ini????” kata Abrar.


“hei…, akhirnya kau sudah bangun…” kata Romi.


“ada apa ini?? kenapa aku berada dirumah sakit???” tanya Abrar bingung.


Kemudian Luky menjelaskan rencana mereka untuk mengelabui Balqis.


Mendengar rencana mereka Abrar sangat lah tertarik untuk ikut serta dalam permainan.


"hehehe....., aku akan join dengan kalian semua demi masa depanku bersama Balqis...." ucap Abrar tesenyum jahat.


Siang harinya, Balqis masuk ke dalam kamar Abrar.


Ia melihat Abrar yang belum sadarkan diri.


“bagaimana keadaannya?? Apa dia masih kritis???” tanya Balqsi pada Devan.

__ADS_1


“iya…, belum ada tanda-tanda keajaiban padanya.” Jawab Devan.


Tak lama Balqis duduk di samping Abrar, ia melihat Abrar membuka matanya.


“Abrar…!! Kau sudah sadar??” ucap Balqis sambil menggenggam tangan Abrar.


“kalian bicara lah.., kami akan keluar dulu..” ucap Luky.


Kemudian mereka meninggalkan Abrar dan Balqis berdua saja di dalam kamar itu.


Abrar pun melancarkan aksinya.


“Balqis…., wajahmu sembab…” kata Abrar terbata-bata sambil mengelus wajah Balqis.


“Abrar…, ku mohon maafkan aku telah mengacuhkanmu..” ucap Balqis lirih dalam tangisnya.


“jangan menangis…!! Aku yang salah karena menyakitimu.” Sahut Abrar.


“maaf kan aku Balqis…” ucap Abrar.


“mungkin aku akan mati dengan tenang jika kau memaafkanku…” ucap Abrar lagi.


“bertahanlah Abrar.., aku mohon…” ucap Balqis panik dalam tangisannya.


“aku mencintaimu, Balqis…!! Aku mencintaimu selamanya sampai aku mati.” Ucap Abrar mengungkap perasaanya.


Mendengar ucapan Abrar, seketika Balqis terkejut.


Ia tak menyangka ternyata Abrar selama ini mencintainya.


“kenapa dia diam saja???” ucap Abrar dalam hatinya mulai kesal.


“Balqis….!! Tak apa bila kau tak mencintaiku…,” kata Abrar.


“sekarang aku hanya ingin menyatakan perasaanku sebelum aku mati.” Ucap Abrar lagi terus memancing Balqis.


“Abrar…, ku mohon jangan ucapkan hal itu lagi..!! bertahanlah..” kata Balqis.


“aku mencintaimu Abrar…!! Aku juga mencintaimu…..” ucap Balqis yang akhirnya mengungkapkan perasaanya.


Mendengar pengakuan yang keluar dari mulut Balqis, Abrar langsung duduk di ranjangnya.


Balqis kaget melihat Abrar yang seketika duduk dengan gagahnya.


“apa…apa yang terjadi???” kata Balqis terkejut bingung melihat Abrar.


Tanpa menghiraukan wajah Balqis yang bingung, Abrar langsung mengangkat tubuh Balqis duduk di atas pangkuannya.


“Abrar…!! Kenapa kau tiba-tiba seperti ini???” tanya Balqis bingung.


“akhirnya kau mengakui perasaanmu padaku, hehehe…” ucap Abrar menang.


“apa maksudmu???” tanya Balqis masih bingung.


Kemudian sahabatnya masuk dan menceritakan semua rencana mereka kepada Balqis.


Semua sahabat Abrar tertawa puas karena berhasil menyatukan Abrar dan Balqis.


“hei…, walaupun kalian pasutri yang gila..tapi kami gak rela melihat kalian cerai.” Kata Luky.


“hahahahaha……..!! usaha kita gak sia-sia…” sahut Aska.


Balqis hanya diam menahan rasa malunya dan masih duduk di atas pangkuan dan dekapan Abrar.


“baiklah…..!! mari kita tinggalkan pasutri ini…” kata Devan.


Kini tinggal lah Abrar dan Balqis di dalam ruangan itu.


Balqis masih malu untuk menatap Abrar.


“hei…, tatapan lah mataku..., kenapa kau malu menatapku??” tanya Abrar.


“aku kan suamimu…” kata Abrar lagi yang membuat Balqis semakin malu.


“kau jahat padaku…” sahut Balqis sambil memukul tubuh Abrar.


“hehehe…!! Ayo katakan sekali lagi tentang perasaanmu..” kata Abrar.


“gak…, aku gak mau…” ucap Balqis.


“baiklah…, kalau kau gak mau….” Ujar Abrar yang langsung melahap bibir Balqis.


Mereka terhanyut dalam ciumannya.


Saat mereka berganti posisi di ranjang itu, Balqis tersadar bahwa mereka berada di rumah sakit.


“Abrar….!! Jangan lakukan itu di sini..” kata Balqis pada Abrar yang terus menciumi tubuhnya.


“kenapa, sayang..???” tanya Abrar.


“dasar bodoh…., ini di rumah sakit…!!” teriak Balqis pada Abrar.


“ck…, apa salahnya??? Rumah sakit ini kakek yang mendirikannya…” balas Abrar.


“aku gak mau…!! Aku mau pulang…!! Azlan merindukan aku..” kata Balqis.


“hei….!! Aku juga merindukanmu…” kata Abrar.


Balqis tak menghiraukan perkataan Abrar.


Ia terus beranjak pergi meninggalkan Abrar yang masih duduk sambil menatapnya.


“hehehehe….!! Dia malu-malu…” ucap Abrar senang mengetahui Balqis mencintainya.


Saat di perjalanan pulang, Balqis mengahajar Rudi habis-habisan.


Rudi hanya pasrah di hajar oleh majikannya.


Setelah puas menghajar Rudi, Balqis mengingat kembali yang terjadi dirumah sakit.


pipinya sangat memerah menahan rasa malunya.


Namun ia sangat bahagia, karena Abrar membalas cintanya.


Setibanya dirumah, Balqis langsung masuk ke kamarnya dan tidur dengan pulasnya.


Ia sangat lelah semalaman.


Matanya yang sembab akibat terlalu banyak menangis.


Kemudian, Abrar pulang dengan membawa barang belanjaan untuk Balqis.


Abrar membelikan banyak baju, sepatu dan tas bermerk ternama dan harganya sangat mahal.


Abrar menyuruh pelayan untuk meletakkan semuanya di dalam kamar.


Lalu ia melihat Balqis yang tertidur sangat pulas.


Abrar enggan mengganggu Balqis saat tidur.

__ADS_1


Karena ia tau Balqis tidak tidur semalaman.


Abrar pun hanya ikut berbaring dan memeluk Balqis hingga ia pun ikut terlelap.


__ADS_2