LOVE IN MINE

LOVE IN MINE
TERLEPAS


__ADS_3

Malam semakin mencekam disaat Balqis yang terus di paksa oleh Johan untuk menurutinya.


Saat tiba di pelabuhan, dengan kesal Johan masih harus menunggu beberapa menit untuk persiapan perjalanan.


Balqis melihat sebuah kapal besar nan mewah yang di miliki Johan.


“itu kapalnya.., sebentar lagi kita akan bersenang-senang di sana.” Ucap Johan pada Balqis.


“lepaskan aku…!! Aku gak sudi pergi denganmu…” teriak Balqis.


Balqis terus berupaya agar terlepas dari cengkraman Johan yang mencengkramnya dengan kuat.


Tak lama kemudian, anak buah Johan menghampiri mereka.


“tuan, kapalnya siap berlayar..” ucapnya.


“baiklah…, ayo Balqis..!! kehidupan bahagia kita menanti di eropa.” Kata Johan.


Balqis terkejut ketika Johan mengatakan bahwa Johan benar-benar akan membawanya pergi jauh dari Abrar. Dengan perlawanan yang sangat kuat, Balqis terus menahan dirinya untuk tidak menaiki kapal itu.


Namun Johan tetap saja memaksanya dengan sekuat tenaga untuk membawa Balqis menaiki kapal tersebut.


“lepaskan aku…aku gak mau pergi denganmu, bajingan..” teriak Balqis pada Johan.


“aku membencimu…” umpat Balqis dengan amarah pada Johan.


“aku gak perduli, kau milikku sekarang…” bentak Johan pada Balqis.


Dengan kesunyian malam ketika itu terdengar suara tembakan yang bertubi-tubi.


Johan menoleh dan melihat rombongan Abrar telah sampai ketempatnya.


“sialan…, bagaimana mereka bisa tau kalau aku disini??” ujar Johan kesal.


“Balqis…, cepat naik ke kapal…!!” teriak Johan.


“aku gak mau…” tolak Balqis seraya menendang adik kecilnya Johan yang membuatnya meringis kesakitan.


Johan gelap mata.


Lalu dengan kerasnya Johan memukul wajah Balqis dan menariknya naik ke kapal.


“jalankan kapalnya…” teriak Johan memerintahkan anak buahnya.


Rombongan Abrar baku tembak dengan anak buah Johan di pelabuhan malam itu.


Lagi-lagi Johan harus merelakan anak buahnya yang mati di habisi oleh rombongan Abrar yang menyerang mereka dengan membabi buta.


Di atas kapal, Balqis mendengar suara tembakan yang memekakkan telinganya.


Johan pun menyeretnya masuk ke kabin kapal.


“kau diam disini…, aku akan menghabisi Abrar…!” kata Johan pada Balqis.


“kau tidak akan bisa menghabisinya…!!” teriak Balqis.


Saat Johan berbalik badan untuk pergi meninggalkan Balqis.


Balqis melihat sebuah property yang terbuat dari batu.


Balqis mengambilnya dan langsung menghantamkannya ke tengkuk kepala Johan dengan kuat.


“aaakkkhh….!! Apa yang kau lakukan Balqis…” teriak Johan kesakitan.


Tanpa memperdulikan teriakan Johan, Balqis langsung berlari keluar kabin dan berusaha kabur dari kapal itu. Namun saat sedikit lagi ia hampir menuruni anak tangga kapal, Johan menangkapnya.


Johan menyeretnya kembali naik ke atas kapal.


“Abrar…….!!!!!” Teriak Balqis dengan suara yang keras.


Abrar mendengar teriakan Balqis, namun terlambat kapal mulai berjalan menjauh.


Balqis melihat Abrar dari atas kapal dengan menangis.


Abrar panik melihat kapal yang sudah bergerak menjauh.


Ia tidak tau lagi apa yang akan diperbuatnya tanpa Balqis di hidupnya.


Balqis terus menangis dalam dekapan Johan yang memaksa dirinya berada di sisi Johan.


“Abrar aku mencintaimu….” Ucap Balqis dalam hatinya sambil menangis menatap Abrar.


“hahahahaha…..Balqis menjadi milikku…” teriak Johan kepada Abrar.


Mendengar perkataan yang memuakkan di telinganya, Balqis pun meradang.


“lebih baik aku mati…, dari pada aku jauh dari Abrar….” Ucapnya dalam hati.


Dengan kuat Balqis menggigit tangan Johan, sehingga Johan teriak kesakitan.


Darah mengalir dari tangan Johan akibat gigitan dari Balqis.


Balqis pun terlepas dari cengkraman Johan.


Ia berlari ke sisi kapal dan langsung melompat terjun kedalam air laut yang dingin malam itu.


Melihat tindakan yang di ambil oleh Balqis, Abrar berteriak dan bertambah panik melihat Balqis yang terjun kelaut. Johan pun melakukan hal yang serupa.


Ia berteriak histeris melihat Balqis terjun ke laut.


Melihat Balqis yang terjun ke laut, dengan segera ia pun terjun ke laut tanpa memikirkan apapun lagi.


Devan berteriak melihat Abrar yang melompat ke laut.


Semua sahabatnya tau bahwa Abrar memiliki trauma yang berat saat kecil.


Abrar trauma pernah nyaris tenggelam saat jatuh kedalam danau.


Sejak saat itu, Abrar tidak berenang lagi.


Saat Johan ingin lompat ke laut, tembakan secara bertubi-tubi menghampirinya.


Johan di tarik oleh anak buahnya untuk masuk ke dalam kabin kapal.


“kenapa kau menghalangiku, hah??” teriak Johan kesal kepada anak buahnya.


“tuan…, kau bisa mati bila tetap disana..mereka menembakimu.” Sahut anak buahnya.


“lebih baik aku mati, daripada aku harus kehilangan Balqis.” Bentaknya kesal.


Disisi lain Balqis yang berupaya berenang ke tepi melihat Abrar yang terjun ke laut.


Balqis teringat kakek pernah bercerita kepadanya bahwa Abrar trauma akan tenggelam di danau.


Balqis sangat jago dalam berenang.


Dengan cepat ia berenang menyelamatkan Abrar yang terjun ke laut.

__ADS_1


Dalam keadaan gelap, Balqis terus berusaha mencari Abrar.


Akhirnya ia melihat Abrar yang berada di dalam air laut. Balqis menangkap tubuh Abrar dan membawanya ke tepi pelabuhan.


Sahabat Abrar dengan sigap membantu menarik tubuh Abrar yang pingsan.


Dan Balqis pun di tarik oleh Aska untuk naik dari air laut.


Kapal Johan berlalu menjauh dari pelabuhan.


Kapal Johan melaju tanpa Balqis di dalamnya.


Akhirnya Balqis berhasil lepas dari tangan Johan yang terobsesi dengannya.


Abrar dab Balqis di bawa kerumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan.


Setelah 2 jam pingsan akhirnya Abrar sadar.


Abrar terbangun melihat Devan di hadapannya.


“Devan.., dimana Balqis???” tanya Abrar pada Devan dengan cemas.


“sudah pergi ke eropa dengan Johan.” Jawab Devan mengelabui Abrar.


“apa???????” teriak Abrar yang langsung turun dari ranjang rumah sakit.


“hei…, kau mau kemana Abrar????” ujar Devan panik melihat Abrar keluar kamar rumah sakit.


Tanpa memperdulikan Devan, Abrar terus berlari keluar kamar.


Saat itu Balqis sedang berjalan menuju ruang kamar Abrar.


Balqis ingin melihat kondisi Abrar.


Tanpa memperhatikan jalannya, Abrar dan Balqis saling bertabrakan.


“kalau jalan bisa gak sih pakai mata???” teriak Abrar yang tak menyadari Balqis lah yang di tabraknya.


“kau yang buta karena menabrakku..” balas Balqis yang juga tak menyadari bahwa Abrar di hadapanya.


Kemudian mereka saling tatap.


“Balqis….!! Kau….” Ucap Abrar melihat Balqis di hadapannya.


“Abrar…, kau sudah sadar..” sahut Balqis melihat Abrar.


“kata Devan kau…..” kata Abrar yang kemudian tersadar bahwa dirinya di bodohi oleh Devan.


“Devaaaaaannnn…………!!!!!!!” teriak Abrar kesal.


Devan berlari mencari tempat persembunyian agar tak di bunuh oleh Abrar karena kesal.


Sahabat yang lainnya hanya tertawa melihat adegan pasutri yang penuh dengan dramatis.


Didalam kapalnya yang mewah, Johan mengamuk habis-habisan karena gagal membawa Balqis bersamanya.


Ia hanya bisa menenggak minumannya di dalam kabin kapalnya dengan sangat frustasi.


“Balqis….sampai aku mati, aku akan tetap berusaha membawamu pergi jau dari Abrar.” Ucap Johan dengan penuh luapan amarahnya.


Akhirnya Abrar kembali ke dalam kamarnya di rumah sakit. dengan di temani oleh Balqis dan sahabatnya yang lain, Abrar duduk di ranjang.


“Abrar sikap heroikmu sangat mengesankanku..., saat kau melompat ke laut.” Ucap Luky meledek Abrar.


“diamlah…..” sahut Abrar malu dengan tindakan bodohnya.


Abrar terkejut saat tau bahwa Balqis menyelamatkan dirinya saat di laut.


Rona merah di pipi Abrar tak mampu ia sembunyikan dari sahabat yang meledeknya habis-habisan.


“dasar bodoh.., gak bisa berenang tapi malah lompat…” gumam Balqis yang terdengar oleh Abrar.


“kau yang dulu melompat ke laut.., buat aku panik saja..” sahut Abrar kesal kepada Balqis.


“aku lompat karena ingin terlepas dari psikopat itu..” balas Balqis.


“tak ku sangka kau malah ikutan melompat….!!” Sambung Balqis.


“itu karena aku ingin menyelamatkanmu…!!” teriak Abrar.


“kau tidak bisa berenang.., gimana mau menyelamatkan aku...!! kalau kau mati bagaimana nasib Azlan??” ujar Balqis.


Romi, Aska dan Luky hanya tertawa geli melihat Balqis dan Abrar kembali berseteru.


“mari kita tinggalkan pasutri yang gila ini…” ajak Luky kepada yang lainnya keluar kamar.


Kemudian mereka pergi meninggalkan ruang kamar Abrar di rumah sakit.


sementara Abrar dan Balqis tetap saja melanjutkan perang dunia mereka seperti biasanya.


Dirumah kakek tak mengetahui apa-apa.


Ia melihat kamar Balqis kosong dan mencari Azlan di kamarnya. Namun ia tak menjumpainya.


“kemana mereka???” tanya kakek bingung.


“apa Abrar membawa mereka pergi tanpa sepengetahuan dariku??” teriak kakek kesal.


“Abrar……..!!!! dasar cucu sialan kau…!! Kau bawa cicitku pergi.” Umpat kakek yang tak mengetahui apapun.


Cuma satu malam Abrar menetap dirumah sakit.


Esok paginya ia langsung membawa Balqis pulang kerumah.


Padahal Devan melarangnya, namun Abrar tak menggubrisnya sedikitpun.


Devan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Abrar yang bersikap keras.


Sampai dirumah, kakek langsung menyambutnya dalam keadaan kesal.


Saat kakek melihatnya dari dekat, tampak bekas memar di wajah Abrar.


“kau kenapa?? Kenapa wajahmu lebam begitu???” tanya kakek khawatir pada Abrar.


“aku gak apa-apa kek, hanya terjadi kekacauan di jalan semalam..” jawab Abrar menyembunyikan kejadian itu pada kakek.


“wajah Balqis juga memar…!! Ada apa ini???” tanya kakek semakin bingung.


“kek.., hanya kejadian kecil..jangan di besar-besarkan.” Ujar Abrar.


“baiklah…!! Aku akan berhenti bertanya soal wajah kalian yang lebam itu.” Sahut kakek.


Tak lama kemudian muncul Azlan dengan jalan yang tertatih tatih.


“anak mami…!!” seru Balqis pada Azlan.


Melihat lebam yang ada di wajah Balqis dan Abrar, Azlan langsung menangis ketakutan.

__ADS_1


Ia melihat wajah kedua orang tuanya yang sangat aneh dengan lebam-lebam itu.


Apalagi saat melihat wajah Abrar yang penuh dengan luka lebam, Azlan menjerit ketakutan.


"hantu............" teriak Azlan dengan celatnya melihat wajah Abrar dan Balqis yang memar-memar.


“kenapa dia??” tanya Abrar bingung.


“dia takut melihat wajah kalian yang lebam itu.” Ucap kakek.


"Azlan bilang kalian seperti hantu...., hahahahaha..........." kata kakek lagi tertawa geli.


Kakek kemudian membawa Azlan ke kamarnya.


Sedangkan Balqis yang nangis Bombay karena rindu dengan anak kesayangannya.


“kenapa kau menangis???” tanya Abrar melihat Balqis menangis Bombay.


“aku rindu anakku..” sahut Balqis.


“bukan hanya kau yang rindu.., aku juga..” ucap Abrar.


“karena melihat wajahmu, dia jadi takut menghampiriku..” ujar Balqis.


“apa hubungannya denganku..??” teriak Abrar kesal.


“karena kau berdiri di sebelahku, jadi dia takut menghampiriku.” Balas Balqis.


“ck…, dasar kau..!! selalu saja menyalahkan aku.” Kata Abrar berdecak kesal.


“hhhhmmmppp…………!!!!!!!!” balas Balqis pergi masuk ke kamarnya.


Kakek melihat Abrar dan Balqis dari sisi kamar Azlan.


“apakah mereka selalu bertengkar??” tanya Kakek pada Wirna.


“iya tuan besar..!! kami bahkan terbiasa dengan adegan itu setiap harinya.” Sahut Wirna.


“ya Tuhan.., kenapa pasutri itu selalu saja gila….” Ucap kakek menghela nafas.


Malam harinya, Abrar menunggu Balqis yang sedang menidurkan Azlan.


Setelah Azlan tertidur ia kembali ke kamarnya.


Disana ia melihat Abrar yang sedang duduk di sisi ranjang.


“Balqis…, cepat kemarilah…!!!” kata Abrar.


“ada apa??” tanya Balqis.


“berikan obat pada luka ku..!!” jawab Abrar sambil menyodorkan kotak obat.


Balqis pun menuruti perintah Abrar padanya.


Ia juga kasihan melihat luka-luka lebam yang ada di wajah Abrar karena menolongnya.


“kau seharusnya di rawat di rumah sakit..” kata Balqis sambil mengolesi obat.


“aku gak suka disana.., makanannya gak enak..” ujar Abrar menahan sakit.


“namanya juga rumah sakit mana ada yang enak,…” sahut Balqis.


“kalau mau enak tuh ya di hotel…, nyaman dan makanannya enak..” sambung Balqis lagi.


“diamlah..!! dasar cerewet…” ucap Abrar yang membuat Balqis kesal.


Karena kesal Balqis mengolesi obat di luka Abrar dengan kasar.


“aaakkkhh…., kenapa kau menekan luka nya???” teriak Abrar kesal pada Balqis.


“karena kau mengatakan aku cerewet tadi….!!!” Ujar Balqis terus menekan luka pada wajah Abrar.


“aaaaakkkhhhhh…………..!! dasar kau wanita gila…..” teriak Abrar kesakitan di tindas Balqis.


Balqis terus saja menekan-nekan luka lebam pada wajah Abrar.


Tanpa memperdulikan jeritan kesakitan Abrar.


Setelah puas menindas Abrar, Balqis tersenyum puas melihat ekspresi wajah Abrar yang kesal.


“hehehe…sekali-sekali aku menindasmu…” gumam Balqis.


Malam semakin larut, namun mata kedua pasutri itu belum bisa terpejam.


“Balqis….!!” Panggil Abrar.


“hhmm…” sahut Balqis.


“saat kau bersama Johan, apa saja yang dia lakukan padamu??” tanya Abrar kepo.


“mau tau aja…” sahut Balqis.


“aku serius bertanya padamu..” ujar Abrar.


“apa dia menciummu atau menyentuh asetmu yang besar itu??” tanya Abrar lagi.


“nggak….!! Johan walaupun psikopat gila, tapi dia gak mesum sepertimu.” Jawab Balqis.


“ck.., kau masih saja membelanya…” ujar Abrar kesal.


“kalau kau di culik lagi dengannya.., aku gak mau menyelamatkanmu.” Sambung Abrar merajuk.


Tau akan Abrar yang merajuk padanya, Balqis segera membujuk Abrar.


Bagaimanapun Abrar telah berusaha menolongnya waktu itu.


“terima kasih ya, Abrar…!!” ucap Balqis seraya mengecup lembut bibir Abrar.


Rona merah di pipi Abrar dan Balqis tersembul.


Seketika mereka berdua bersikap malu malu kucing.


“Cuma gitu doang??? Aku mempertaruhkan nyawaku untuk menolongmu waktu itu.” Ucap Abrar.


“jadi kau mau apa???” tanya Balqis sedikit jengkel.


“maksudku.., mungkin kau bisa membayarnya dengan tubuhmu???” sahut Abrar yang membuat Balqis semakin jengkel.


“apa kau lupa?? Aku juga menyelamatkanmu saat kau kelelap air di laut.” Teriak Balqis kesal.


“jadi kau ingin aku membayarnya, begitu???” tanya Abrar.


“baiklah.., aku rela membayarmu dengan tubuhku….” Sambung Abrar dengan senyuman mesumnya.


“cckk.., dasar kau pria bedebah……!!!” umpat Balqis kepada Abrar.


Mendengar dan melihat Balqis yang kesal kepadanya, Abrar hanya tertawa puas.

__ADS_1


Karena ia dapat mengganggu Balqis lagi setelah pertikaian panjang yang mereka alami setelah kehadiran Johan di antara mereka berdua.


__ADS_2